Suami Adikku Memuja Rahimku
Matanya yang gelap terus menelanjangi penampilanku, seolah sedang menghafal setiap inci tubuhku.
"Gaun ini..." Shaka melangkah maju. Satu lututnya bertumpu di atas kasur, mengikis jarak hingga panas tubuhnya mengepung indra penciumanku. Jemarinya yang panjang menelusuri garis bahuku yang terbuka, membuat bulu kudukku meremang hebat. "Sangat pas untukmu, Sekar. Merah selalu menjadi warnamu. Berani, tapi juga terlihat sangat menggoda untuk dilepaskan."
Aku menelan ludah, suaraku nyaris hilang. "Mas Shaka..."