Mengikuti Kata Hati
“Kau akan berangkat ke Selandia Baru besok. Apa kau masih bisa pergi dalam keadaan lemah begini?”
Tatapanku tetap teguh saat aku menjawab, “Pa, aku bisa.”
Tiba-tiba, Xavier masuk, membawa seikat mawar merah favoritku.
“Paman, apa yang kalian bicarakan?”
Mengingat kata-kataku sebelumnya, papa pun berbohong, “Nggak apa-apa. Hanya menanyakan kondisinya.”
Xavier pun mengangguk, tidak lagi curiga, lalu berbalik untuk meletakkan mawar itu di vas.