Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian
Suamiku, Roni Jatmiko, yang menggunakan kornea mataku, memaksaku berlutut dan menirukan suara anjing. Putriku yang di dalam tubuhnya berdetak jantungku, dengan lantang berkata bahwa aku tidak pantas menjadi ibunya.
Sebelum jantung buatan di tubuhku berhenti berdetak, aku menelepon suamiku. Namun dia justru membentak aku dengan dingin, “Luna, bisakah kamu berhenti buat keributan?! Kalau memang mau mati, pergi saja jauh-jauh! Aku tidak mau mengurus mayatmu!”
Saat itu, di tengah hamparan salju, aku hanya bisa menutup satu-satunya mata kiriku yang tersisa.
Kemudian, suami yang tak pernah mencintaiku itu menggali keluar bola matanya sendiri.
Putri yang tak mau mengakui aku itu berkali-kali mencoba bunuh diri, hanya demi bisa menemuiku sekali saja.
Namun aku ... sudah tak lagi menantikan cinta dari mereka.