Puisi angkatan 45 itu seperti ledakan emosi mentah yang langsung menusuk jantung. Kalau dibandingkan dengan angkatan sebelumnya yang lebih terikat pada struktur dan romantisme alam, angkatan 45 justru membawa kegelapan, keputusasaan, dan semangat memberontak. Chairil Anwar dengan 'Aku' atau 'Diponegoro' itu contohnya—kata-katanya pendek tapi penuh tenaga, seperti pisau. Mereka menolak keindahan semu, lebih memilih kebenaran kasar tentang perang, kematian, dan identitas bangsa yang sedang lahir.
Yang bikin menarik, puisi-puisi ini seringkali multitafsir. Misalnya, 'Karawang-Bekasi' karya Khairil Anwar bisa dibaca sebagai elegri untuk pejuang, tapi juga kritik sosial. Angkatan 45 juga pionir dalam menggunakan bahasa sehari-hari dengan cara puitis, jauh sebelum itu jadi tren. Dulu sempat kontroversial karena dianggap 'kotor', tapi justru itu kekuatannya.