Pesugihan Genderuwo
Kali ini, dia tahu tidak ada jalan untuk bernegosiasi dengan makhluk itu.
“Ingat ini, Bagas… kamu adalah aku, dan aku adalah kamu!”
Bagas mengerutkan kening, merasa tidak nyaman mendengar kata-kata itu. Ucapan yang sama telah berulang kali disampaikan oleh Genderuwo, tetapi dia tidak pernah benar-benar memahami maksudnya.
“Apa maksudmu?! Jelaskan!” teriak Bagas dengan nada putus asa.
Namun, Genderuwo itu hanya tertawa keras, suara tawanya menggema seperti guntur yang menggelegar. Kabut hitam tebal tiba-tiba memenuhi ruangan, membuat Bagas sulit bernapas.