MENYESAL MENDUAKANMU
Senyumku lenyap seketika saat menyadari wanita itu bukanlah dirinya.
"Maaf, Mbak. Saya salah orang," ucapku dengan senyum hambar.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa," ucapnya lalu pergi setelah melihat seorang pria melambai padanya dari balik kaca mobil.
Aku mengembuskan napas kasar, kemudian melangkah lesu menuju pintu taman lainnya. Orang-orang percaya Karin sudah tiada, begitu juga dengan Bu Wati dan anak-anak panti. Entah kenapa, perasaanku selalu mengatakan kalau Karin masih hidup. Namun, perasaan itu tak kuceritakan pada siapa pun karena tidak mau dibilang tidak waras.