Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Meu Filho Usou Sua Vida Para Meu Marido Ver Meu Cadáver

Meu Filho Usou Sua Vida Para Meu Marido Ver Meu Cadáver

Depois de ser empurrada escada abaixo pela queridinha do meu marido, morri de parto no canto da escada do hospital particular da família Moreira. Antes de morrer, meu filho de seis anos chorou, implorando para que seu pai me salvasse. Na primeira vez, Davi Moreira apenas riu com desprezo: — Sua mãe ficou esperta, hein? Usando a criança para bancar a coitadinha e me enganar. E, dito isso, afastou a mão do menino sem nenhuma piedade e foi embora. Na segunda vez, meu filho disse que eu não parava de sangrar. Davi respondeu com impaciência no rosto: — Que exagero... Foi só um aborto espontâneo. Nada demais. Ela que gosta de drama! Depois de expulsar o menino, ele ainda ordenou aos médicos que nnguém deve cuidar de mim. — A culpa é minha por tê-la mimado demais. Sem sofrer, ela nunca vai aprender. Na última vez, meu filho se ajoelhou diante da amante dele, batendo a cabeça no chão, suplicando por mim. Davi explodiu de raiva e mandou os seguranças jogarem o menino, todo machucado, para fora do quarto, enquanto todos riam dele. — Se ousar incomodar a recuperação da Marina mais uma vez, mando sua mãe embora da família Moreira e você nunca mais vai vê-la! Meu filho rastejou até mim, deixando um rastro de sangue no chão. Dessa vez, você conseguiu. Nossos corpos estão frios. Nunca mais nos verá nesta vida.
Baca
Tambahkan
Meet Sweety Girl

Meet Sweety Girl

Sweetia
Berbeda dari gadis kebanyakan, dia terbilang unik. Hidupnya tidak ada kata repot. Apa yang ingin dia lakukan, akan dilakukan. Apa yang tidak, tentu tidak akan dilakukan. Disaat teman seusianya sibuk mempercantik diri dengan berbagai brand dan merek skincare, dia tidak. Dia lebih memilih mengoleksi berbagai macam makanan dan cemilan untuk perut rampingnya. Iya, sekalipun ia memiliki porsi makan yang cukup banyak dan berbagai cemilan yang selalu dia stok, tubuhnya tidak gemuk, bahkan cenderung kurus. "Ehe... Makan aja banyak, badan kering kerontang!" begitulah ungkapan yang sering dia dengar dari teman-temannya. Tapi dia tidak pernah ambil pusing, dia justru bangga dan akan menjawab "Banyak yang mau jadi aku, makan banyak tapi badan tetap kurus". Bukan hanya banyak makan tapi tubuh kurus yang menjadi karakteristiknya, kulitnya yang gelap cenderung coklat juga sering menjadi bahan ledekan teman-temannya. "Minum susu putih, biar putihan dikit kau", "Suntik putih dulu kau, biar gak hitam". Saat pernyataan-pernyataan seperti itu dia dengar, dia hanya diam. Sesekali mungkin dia akan menanggapi dengan nada sedikit bercanda "Kalian buta ya, kulitku ini coklat muda. Hitam dari mana coba?" Meski dalam hati, tentu dia merasa tidak percaya diri. Standar kecantikan 'memiliki kulit putih' membuatnya merasa tidak cantik. Tapi sebenarnya dia manis, hm.. tidak-tidak, kata manis bukan penghibur untuk mereka yang memiliki kulit dengan tona gelap. Dia benar-benar manis, di mata orang yang tepat. Dan lagi, bukan dia tidak berusaha untuk memiliki kulit yang cerah, bahkan mencoba cara instan dia pun pernah.
Romansa
1.8K DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Accidente y Boda Exprés con el CEO

Accidente y Boda Exprés con el CEO

De camino a ver a mi novio, que seguía haciendo horas extras, sufrí un fuerte accidente de tránsito. Lo llamé decenas de veces, pidiéndole ayuda, pero no respondió ni una sola vez. A lo lejos, el edificio de su empresa seguía iluminado, con las luces encendidas, como si nada hubiera pasado, y la desesperación terminó por devorarme. Cuando desperté en el hospital, vi una publicación de una subordinada suya: “¿Qué hacer cuando tu jefe te regaña en plena madrugada?” La imagen mostraba el reflejo de ambos en el vidrio de una puerta. La cercanía entre ellos era tan evidente que claramente había cruzado los límites de una relación laboral normal. Sin darme por vencida, volví a llamar a Alfonso González. Esta vez, por fin contestó. Con la voz quebrada, apenas logré decir: —Alfonso, tuve un accidente de auto. —Paula, ando ocupado —respondió con frialdad—. Haré que mi asistente se encargue, ¿de acuerdo? Sé buena, ¿sí? Cuando termine este viaje de trabajo, regresaré para acompañarte. Intenté seguir hablando, pero su grito interrumpió todo: —¡Bárbara! ¿Te vas con una sola maleta? ¿Y entonces por qué traes tres? ¿Piensas irte de vacaciones o qué? Bárbara Garza era la nueva pasante que Alfonso acababa de contratar. Miré el teléfono. La llamada ya se había cortado, y las lágrimas ya estaban secas en el rostro. Luego marqué otro número: —Acepto el matrimonio arreglado.
Baca
Tambahkan
Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang

Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang

Alya Sebastian mulai menjalin kasih dengan Justin Fabian di usia 20 tahun. Pada usia 22 tahun, mereka mengikat janji seumur hidup. Setelah lima tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Meski mendapat tekanan besar dari Keluarga Fabian, Justin tetap berbisik bahwa dia mencintai Alya. Saat itu, semua orang mengatakan bahwa Alya adalah orang terpenting bagi Justin. Alya pun memercayai Justin tanpa ragu sedikit pun. Sampai akhirnya, kabar tentang anak haram Justin terbongkar. Hari itu, Justin berlutut seharian penuh di tengah guyuran hujan lebat. Justin berkata, "Malam itu cuma kecelakaan. Davina mencekokiku obat. Aku kira, Davina itu kamu. Alya, seumur hidupku, aku cuma mencintaimu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku." Alya memercayai ketulusan cinta suaminya, lalu menerima usulan Keluarga Fabian untuk mengambil anak tersebut dan mendepak ibunya. Namun, kemudian, saat Davina Ganendra tinggal di kediaman Keluarga Fabian untuk menjaga kandungannya, pria yang mengatakan akan terus mencintainya, rela meninggalkan rapat internasional demi menemani Davina. Bahkan, ketika gairah mereka berdua sedang memuncak dan hanya kurang satu langkah terakhir, Justin langsung mencampakkan Alya begitu saja demi menemani Davina sepanjang malam, saat Davina di balik pintu berkata bahwa dia takut gelap. Alya menyadari perubahan pada diri Justin. Untuk pertama kalinya, Alya menyodorkan surat cerai kepada Justin. Hari itu juga, Justin memotong pergelangan tangannya di kamar mandi sambil masih mengenakan cincin kawin. CEO dengan kekayaan senilai ratusan miliar itu hanya menuliskan satu kalimat pada surat wasiatnya: [Kalau nggak bisa menua bersama Alya, lebih baik aku mati saja.] Kali kedua, saat Alya baru saja angkat bicara, Justin langsung mematikan telepon dari Davina. Justin membawa Alya mengunjungi kembali setiap tempat yang pernah mereka datangi saat pacaran dahulu, lalu Justin mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya seumur hidup ini. Akan tetapi, sekali, dua kali, tiga kali … lama-kelamaan, sikap Justin mulai berubah menjadi acuh tak acuh. Pada kali ke-99, mereka bertengkar hebat. Saat Alya pergi membawa koper-kopernya, Justin tidak lagi mengejarnya untuk memohon ampun seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya. Justin berkata, "Alya itu cuma terlalu dimanja. Sekalipun sudah bertengkar berkali-kali, kapan dia benar-benar mau cerai? Tunggu saja. Setelah beberapa hari, pikirannya menjadi tenang, dia pasti akan pulang dengan sendirinya." Namun, Justin tidak tahu, bahwa Alya sudah meninggal dunia pada malam hujan saat Alya pergi dari rumah itu .... Saat kembali membuka mata, Alya ternyata kembali ke hari di mana dia pertama kali mengetahui bahwa Justin memiliki anak di luar nikah ….
Baca
Tambahkan
O Casamento Destinado a Outra

O Casamento Destinado a Outra

Meu marido e eu éramos as duas pessoas que mais se odiavam neste mundo. Ele me odiava por tê-lo arrancado da mulher que amava. E eu o odiava porque seu coração permanecia ocupado por outra. Durante oito anos de casamento, as palavras que mais trocamos não foram de amor, nem de dever, mas maldições. Contudo, no dia em que a cidade caiu, tudo mudou; as bandeiras inimigas já eram visíveis além do portão interno. Ele cavalgou à frente e tomou a estrada, colocando seu corpo entre o inimigo e a minha fuga. — Viva — disse ele calmamente. Então ele ergueu sua lâmina e não olhou para trás. As flechas vieram como chuva. Enquanto elas o perfuravam, ele virou a cabeça uma vez, apenas uma vez. Depois disso, seu corpo bloqueou a estrada, e nada passou. — Se houver outra vida… que Vossa Alteza me conceda a misericórdia de pertencer a ela. Naquela noite, com a cidade em ruínas e o povo morto ou em fuga, subi na torre mais alta do palácio. Eu saltei. Quando abri meus olhos novamente, fui até o rei. — Os reinos do norte exigem uma noiva real — eu disse. — Eu irei. Nesta vida, serei eu a cruzar a fronteira. Em minha vida anterior, ele morreu acreditando que havia falhado com ela. Desta vez, não permitirei que esse arrependimento exista. Assumirei o casamento destinado a ela. Carregarei a coroa destinada a exilá-la. Caminharei em direção a um futuro que ela nunca deveria ter que suportar. Deixe que ela fique. Deixe que ele a proteja. Deixe que ele viva sua vida acreditando que finalmente cumpriu sua promessa.
Baca
Tambahkan
Rechazó el marcaje, yo subí de Alfa

Rechazó el marcaje, yo subí de Alfa

La primera decisión que tomé tras renacer fue rechazar el rito de marca con mi compañero Alfa, Ethan. En mi vida anterior, cuando Ethan intentó aplazar nuestra ceremonia de unión por trigésima segunda vez, lo amenacé invocando las leyes sagradas de la Diosa de la Luna. Al final, Ethan cedió. Para apaciguar mi furia, juró que nada volvería a interrumpirnos. Sin embargo, esa misma noche murió Ivy, su amante Omega. Desde aquel instante, Ethan me odió con cada fibra de su ser. Cuando le confesé que estaba esperando cachorros, me ahogó en las aguas gélidas del Mar del Norte. —Tú y la abominación que llevas dentro merecen morir por lo que le pasó a ella. Me escupió las palabras mientras me hundía la cabeza bajo el agua. Morí sumida en la desesperación. Pero al abrir los ojos, me encontraba de nuevo frente al altar. Ethan lucía impaciente. —A Ivy le duele el pecho... Tenemos que posponer la ceremonia de unión otra vez. Esperaba que le suplicara. En lugar de eso, me desabroché el collar ceremonial y se lo arrojé a la cara. —Ve con ella. Yo me largo. Ethan hizo una mueca de desprecio. —Deja el drama. Sin mi aroma, vas a regresar arrastrándote de rodillas en una semana. No sabía que, una hora más tarde, yo estaría tocando a la puerta de su enemigo mortal: Damon, el Tirano del Norte. Cuando publiqué una foto luciendo el anillo del Alfa Winterborn en mi dedo, con la leyenda “Un Alfa Mejor”, Ethan enloqueció...
Baca
Tambahkan
Esposa no Vapor: A Verdade que Ele Quis Esconder

Esposa no Vapor: A Verdade que Ele Quis Esconder

A queridinha de infância do meu marido, a doce e intocável Carla, sofreu queimaduras com água fervente. E, como castigo pelo que ele acreditava que eu tinha feito... Ele me trancou viva dentro de uma câmara de vapor, pequena demais pra eu sequer me mexer. Aumentou o fogo ao máximo. — A dor que a Carla sentiu, você vai sentir mil vezes pior! — Ele gritou, com os olhos cheios de ódio. Presa naquele espaço sufocante, o ar ficou pesado, quase impossível de respirar. O calor queimava por dentro, como se estivesse me cozinhando viva. Eu chorava, implorava por piedade: — Eu vou morrer! Por favor, me tira daqui! Mas ele... Ele apenas segurou Carla nos braços e saiu sem olhar pra trás. — Fica tranquila. Você não vai morrer... Mas só assim vai entender o que ela passou. Meus gritos de desespero ecoavam abafados dentro da câmara. A água borbulhava sob meus pés, lançando respingos ferventes contra minha pele. A dor era insuportável. Minha voz foi sumindo... Engolida pelo calor. Enquanto isso, ele curtia uma viagem internacional com Carla, sorrindo como se nada tivesse acontecido. Uma semana depois, ao voltar, lembrou de mim como quem se lembra de uma encomenda esquecida: — Aquela vagabunda já deve ter aprendido a lição. Podem soltá-la. O que ele não sabia... É que dentro daquela câmara abafada, onde a água já tinha secado e o vapor cessado, o que restava de mim... Já estava sendo devorado por vermes.
Baca
Tambahkan
Nyonya, Tuan Presdir Sedang Mencari Putrinya

Nyonya, Tuan Presdir Sedang Mencari Putrinya

Flora hancur. Ia pergi membawa luka dan sebuah rahasia besar—bahwa ia tengah mengandung anak Nathan yang kini berusia empat bulan dalam kandungannya. Tak ingin anaknya tumbuh dalam lingkungan penuh kebencian, Flora memilih untuk diam dan menghilang. Ia pindah ke sebuah desa terpencil bersama neneknya yang bernama Marlina, yang kini sudah rentan berusia 72 tahun, lalu melahirkan seorang bayi perempuan cantik dan manis yang ia beri nama Nayla, dia putih bermata khas seperti ayahnya. Flora Andini, seorang wanita yang kini berusia 24 tahun dan tubuh mungil itu harus membesarkan Nayla dengan penuh kasih sayang, menjalani kehidupan sederhana sebagai petani, meskipun hidup dalam keterbatasan, namun damai. Tiga tahun berlalu. Kehidupan Flora tampak tenang meski sering kali dihimpit kesulitan ekonomi. Nayla, putrinya, tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan manis. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan masa lalu. Perusahaan Marshall Group membuka sebuah proyek besar di dekat desa tempat Flora tinggal. Nathan turun langsung untuk meninjau proyek tersebut dan tanpa sengaja ia melihat Flora bersama Nayla. Seketika hatinya terusik—wajah Nayla terlalu mirip dengannya. Terlalu familiar untuknya. Didorong oleh rasa penasaran yang besar, Nathan meminta asistennya untuk melakukan penyelidikan. Hasil penyelidikan itu mengguncang hatinya: Nayla adalah anak kandungnya. "Nayla anakku, bukan anakmu! Ia bukan bagian dari keluarga Marshall!” seru Flora di malam itu, setelah Nathan mengembalikan Nayla yang sempat menghilang selama hampir 24 jam. Peristiwa itu membuat Flora dan neneknya panik bukan main. “Dia anakku, Flora! Kau tak bisa terus mengelak!” Nathan membalas dengan nada tinggi. “Bagaimanapun, darahku mengalir di tubuh Nayla. Ia adalah darah dagingku!”
Romansa
560 DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
My CEO Ex-Husband's Regret: Chasing His Dying Wife Back

My CEO Ex-Husband's Regret: Chasing His Dying Wife Back

"Alex... help… please…" I tried to whisper, but no sound came out. I saw them, Alexander had his arms wrapped around Sophia, who was clutching him like her life depended on it. She was pressed against his chest, her face buried in his neck, and she wasn't letting go. "Don't look at her," Sophia whispered loudly. "You'll only make yourself sick with guilt. This isn't your fault. She did this to herself by being dramatic." That's when I heard the scream. "Oh my God! Mrs. Sterling!" Rosa, one of our housemaids, came rushing into the dining room. "Mrs. Sterling, what happened to you?" Rosa dropped to her knees beside me, her hands fluttering over my body like she didn't know where to start. "You're bleeding! There's so much blood everywhere!” I was bleeding? I couldn't feel anything below my waist anymore, but when I managed to glance down, I saw the dark stain spreading across my dress. "Mr. Alexander!" Rosa shouted, her voice cracking with an anger I’ve never seen in her before. She looked ready to commit murder. Did I look that bad? “Your wife is dying! How can you do this to her? How can you stand there holding another woman while your wife bleeds to death on the floor?!" Rosa snarled. "Rosa, lower your voice," Alexander snapped, but I could hear something different in his tone. Uncertainty. "Take Ivy to the hospital and stop making a scene, or you'll be looking for another job." Rosa shot back, tears streaming down her face. "¡Sos un bueno para nada! What kind of man are you?" I was going to die. Right here on my dining room floor, wearing my mother's blood-stained dress while my husband comforted another woman.
Romance
9.117.5K DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Ku Balas Kematian Anakku

Ku Balas Kematian Anakku

Sinopsis Dentuman keras mengguncang jalanan. Jeritan manusia, suara klakson yang memekakkan telinga, dan bau logam terbakar bercampur dalam kekacauan yang mengerikan. Amira tersentak sadar, kepalanya berdenyut hebat, darah hangat mengalir dari pelipisnya. Namun, itu semua tidak ada artinya. Yang lebih penting—yang lebih menyesakkan—adalah tubuh mungil di sampingnya. "Amanda... Sayang... bangun..." Suara Amira bergetar, tangannya gemetar saat menyentuh wajah pucat putrinya. Ada darah di dahinya, napasnya lemah, terlalu lemah. Dengan panik, Amira merogoh ponselnya, menekan nomor suaminya. Nada sambung. Satu kali. Dua kali. Tidak diangkat. "Reza, angkat! Tolong!" Tangisnya pecah, putus asa. Lalu, sirene ambulans terdengar. Harapan menyala di dadanya saat ia melihat seseorang berlari ke arah tim medis. "Reza..." bisiknya, nyaris tak percaya. Tapi langkah suaminya bukan menuju dirinya. Mata Amira mengikuti langkah tergesa-gesa itu. Di seberang sana, seorang wanita terbaring di atas tandu, wajahnya pucat. Di sampingnya, seorang anak laki-laki juga terluka. "Reza... tolong selamatkan anak kita..." suara wanita itu lirih, namun cukup menusuk telinga Amira. Dunia Amira seakan berhenti. Anak kita? Jantungnya mencelos, perih yang tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu, kalimat berikutnya menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. "Aku harus menyelamatkan mereka," suara Reza penuh kepanikan. Amira ingin berteriak. Ingin memanggil nama suaminya. Ingin memohon. Tapi ambulans itu melaju, membawa Reza pergi. Meninggalkannya. Meninggalkan Amanda. Di saat putrinya berjuang antara hidup dan mati, pria yang seharusnya menjadi pelindung mereka justru memilih wanita lain. Air mata Amira jatuh, bercampur dengan darah yang mengalir di pipinya. Hatinya hancur. Bukan hanya karena pengkhianatan. Tapi karena hari itu, ia menyadari... Nyawa mereka tak lebih penting dibandingkan cinta terlarang suaminya.
Rumah Tangga
101.1K DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
1
...
4344454647
...
49
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status