ISTRIMU TERNYATA SULTAN
Dia belajar cara memegang gelas wine tanpa menumpahkannya (gagal 3 kali), cara memotong steak tanpa bunyi sreet-sreet, dan yang paling sulit: Kelas Sastra.
Rangga duduk di pojokan kafe, memegang pulpen mahal dan buku catatan kulit. Dia harus menulis puisi untuk Berlin.
"Oke, Rangga. Lo bisa," gumamnya pada diri sendiri. "Arya bisa bikin lukisan titik doang laku miliaran. Gue harus bisa bikin kata-kata yang bikin Berlin meleleh."
Rangga mulai menulis. Coret. Tulis lagi. Coret lagi.