Pulau Belitung, khususnya Desa Gantung, menjadi panggung utama dalam 'Laskar Pelangi'. Andrea Hirata menggambarkan lokasi ini dengan begitu hidup—kita bisa merasakan debu merah jalanan, panasnya matahari, dan semangat anak-anak yang belajar di sekolah reyot SD Muhammadiyah. Latarnya bukan sekadar tempat, tapi karakter sendiri yang membentuk kisah. Ada pantai dengan pasir putih, tambang timah yang jadi sumber nafkah warga, hingga rumah-rumah kayu sederhana. Aku sendiri pernah mengunjungi Belitung dan terkejut betul setting novelnya akurat: suasana pedesaan yang hangat meskipun miskin, laut biru yang kontras dengan kehidupan berat para tokoh.
Yang menarik, Hirata menjadikan Belitung sebagai simbol resistensi. Di balik keindahan alamnya, ada ketimpangan ekonomi dan sistem pendidikan yang nyaris runtuh. Setting ini justru memperkuat pesan novel tentang mimpi yang tumbuh di tanah tandus. Aku selalu terharu membayangkan bagaimana Lintang dan kawan-kawan bersepeda pulang pergi melewati jalan berbatu, atau bagaimana mereka memandang langit malam penuh bintang—seolah-olah alam menjadi satu-satunya hiburan mereka.