Malam Terakhir di Singgasana
Dia bagaikan Tuhan dengan kekuatan tak terbatas, bercanda memperhatikan monyet yang hendak melompat di telapak tangannya.
Monyet itu mengira dia telah menempuh jarak yang sangat jauh, tetapi ketika menoleh ke belakang, dia masih berada di gengamannya.
Sia-sia!
Semua sia-sia!
Dia memucat, mundur selangkah demi selangkah, lalu berbalik dan bergegas kembali ke jalan yang tadi dia tempuh.
Dia tahu akan terpeleset dan jatuh, tetapi dia tak peduli lagi. Sekalipun dia akan hancur berkeping-keping jika jatuh seperti ini, itu lebih baik daripada ditawan olehnya.