Seumur Hidup Terlalu Lama
Akhirnya, dengan nada gusar Arya berkata, “Besok sore. Jam empat. Kamu punya waktu satu jam bersama Vivi. Tidak bisa lebih.”
Uma menghela napas lega meski kesal. Ia benci mendengar kata Vivi. “Terima kasih.”
Arya tidak membalas. Panggilan berakhir dengan suara klik dingin.
Uma menatap layar ponsel yang gelap, perasaan bercampur antara lega dan perih. Meski jalan untuk bertemu Adek terbuka, ia tahu tantangan sesungguhnya masih menanti. Tapi ia tidak akan putus asa. Ia akan bekerja keras agar bisa bisa sepenuhnya bersamanya.