Kejamnya Mulut Suamiku
Bilkis29Wanita KuatMandiriCinta Setelah MenikahPenyesalan
Matahari pagi baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela kamar yang kacanya sudah mulai berdebu. Rina mengerjap pelan, mengusap sisa kantuk dari matanya, namun rasa lelah yang terasa di sekujur tubuhnya tak kunjung hilang. Sudah tiga tahun ia menikah dengan Dimas, lelaki yang dulu ia anggap sebagai pelindung dan harapan hidupnya, namun kini berubah menjadi beban terberat yang harus ia pikul sendirian.
Dimas duduk di tepi kasur, wajahnya masam seolah dunia ini selalu berbuat salah padanya. Ia tidak pernah mau bekerja. Setiap kali Rina mengajaknya mencari pekerjaan, jawabannya selalu sama: "Pekerjaan apa yang ada di sini? Semuanya rendah dan tidak pantas untukku." Padahal, banyak tetangga yang bekerja sebagai buruh, pedagang, atau tukang ojek demi menafkahi keluarga. Dimas lebih suka duduk di rumah, merokok, dan menunggu uang datang entah dari mana.
"Kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur.
Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja, kemarin aku pulang larut malam dari tempat kerja."
"Alasan saja!" Dimas menggebrak meja kecil di samping kasur, membuat barang-barang di atasnya bergetar. "Kerja, kerja, tapi uangnya tidak pernah cukup. Kamu yang tidak pandai mengatur uang, ya kan? Atau mungkin kamu menyembunyikannya di belakangku?"
"Tidak, Mas... semua uang yang aku dapatkan aku berikan kepadamu dan untuk kebutuhan rumah," jawab Rina lemah. Gajinya sebagai buruh jahit memang tidak seberapa, namun ia berusaha sekuat tenaga agar kebutuhan dasar terpenuhi. Tapi Dimas selalu saja tidak puas. Uang yang ia berikan seringkali habis untuk rokok atau nongkrong bersama teman-temannya, dan saat uang habis, ia kembali marah-marah, menyalahkan Rina karena tidak memberi lebih banyak.