Menulis Ulang Takdir
Aroma wiski yang tajam menguar dari napasnya, namun tatapannya tetap tajam, menusuk tepat ke dalam manik mata Lyra.
"Kau selalu punya pilihan, Lyra. Selalu," desis William, suaranya rendah namun mengandung tekanan yang luar biasa. "Kau bisa meneleponku. Kau bisa membiarkan tim IT Kaelum mengambil alih sistem itu. Tapi kau memilih untuk menjadi pahlawan dengan cara kembali pada pria itu. Kau menikmati fakta bahwa hanya kau dan dia yang memiliki rahasia kode itu, bukan? Sebuah ikatan yang tidak bisa kusentuh, sebuah ruang di mana aku tidak diizinkan masuk."