Ada sosok yang selalu bikin aku tersenyum setiap kali muncul di halaman novel romance bestseller—Pak Tua Herman dari 'The Notebook' karya Nicholas Sparks. Karakternya yang lembut tapi penuh tekad, membaca kembali kisah cintanya sendiri kepada sang istri yang mulai pikun, itu bikin hati meleleh. Ga cuma jadi narator, dia adalah personifikasi kesetiaan yang jarang banget ditemuin di kehidupan nyata. Aku suka cara Sparks nggak cuma bikin dia jadi 'pembaca pasif', tapi juga aktor utama dalam flashback yang bercerita tentang bagaimana cinta bisa menembus waktu dan penyakit.
Yang bikin lebih dalam, konfliknya realistis banget. Di satu sisi, ada frustrasi karena sang istri nggak lagi mengenalinya, tapi di sisi lain ada dedikasi tanpa syarat buat tetap menemani. Itu ngebuktiin bahwa cinta bukan cuma soal memorabilia, tapi juga tindakan sehari-hari. Aku sering mikir, jangan-jangan popularitas 'The Notebook' justru datang dari karakter Pak Tua Herman ini—orang biasa yang melakukan hal luar biasa dengan cara yang sederhana.