Aku selalu merasa dunia fiksi paling kuat adalah yang bikin aku lupa kalau itu bukan ‘nyata’—dan itu biasanya berawal dari aturan simpel yang konsisten.
Dari pengalamanku nulis dan nge-DM buat temen, langkah pertama yang kulakukan adalah tentukan satu atau dua konsep inti: itu bisa sistem magis yang punya batasan jelas, teknologi yang langka, atau iklim ekstrem yang memaksa perilaku tertentu. Setelah itu, aku bangun konsekuensi langsungnya: kalau ada sihir yang bisa menghidupkan benda, siapa yang pegang kekuasaan? Bagaimana ekonomi, hukum, dan kepercayaan masyarakat berubah? Membuat peta kasar dan beberapa catatan sejarah juga sering ngebantu supaya semua elemen punya koneksi; sejarah jangka panjang buat alasan kenapa kota itu ada dan kenapa kastil runtuh.
Aku selalu menghindari info-dump. Cara favoritku adalah menyelinapkan detail lewat dialog, barang kecil, dan rutinitas sehari-hari tokoh: wangi rempah di pasar, lagu anak-anak yang menyinggung nama raja lama, atau ritual minum teh yang menunjukkan kasta. Contoh yang sering kukagumi adalah bagaimana 'Dune' bikin ekologi jadi karakter sendiri, atau bagaimana 'The Lord of the Rings' terasa luas karena mitologi dan bahasa yang konsisten. Intinya, jangan lupa sisi manusiawi—kebiasaan, nilai, ketakutan—karena dunia sekaya apapun nggak berarti kalau karakternya datar. Akhirnya, selalu uji dunia itu lewat karakter: jika pilihan tokoh terasa natural dalam setting, berarti worldbuildingmu berhasil. Aku senang lihat dunia yang kurancang hidup saat karakter mulai melanggar aturan yang kubuat—itu momen paling memuaskan.