Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Tunjukkan Pesonamu, Nina!

Tunjukkan Pesonamu, Nina!

Gumamnya. "Lha, ini," Bagas memperlihatkan ponselnya kepada Nina, "Martabak spesial pakai telor bebek." "Sejak kapan kamu chatan sama bapak?" "Semenjak aku kenal bapak kamu," Ujar Bagas enteng.
106.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai tell and show
Baca
+Pustaka
Agnia dan Cermin Pecah

Agnia dan Cermin Pecah

Uap napasku mengepul di udara dingin. Sebagai penulis, aku selalu diajarkan: Show, Don't Tell. Jangan katakan karaktermu itu bersih, tapi tunjukkan apa sabun yang dipakainya. Jangan katakan karaktermu itu manis, tapi tunjukkan apa camilan tengah malamnya. Aku membuka ikatan simpul mati plastik itu dengan hati-hati, seolah sedang membedah mumi kuno. Isinya tumpah ke atas tanah.
793 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai tell and show
Baca
+Pustaka
Khasfi Maulana Ahsan
Mau komen takut digigit... Hihi... Tapi keren, untuk pembuka peran sama karakter masing masing tokoh enak dimengerti. Nggak banyak Basa basi juga dalam pengenalan tokoh... Semangat Thor, udah aku masukin rak ya, mau buat referensi juga... Hihi, lancar terus Thor....
Na_Vya
Hola! Author ada cerita baru nih, genk's! Tapi baru bisa dibaca di web ya, hihii... Soalnya lagi pengajuan kontrak. Doain, semoga lulus dan cepet publish. Kalo kalian mau baca silakan cari Judulnya. Simpanan Tunangan Tuan Presdir, ya say ... mamacih......
Baca Semua Ulasan
REVEAL

REVEAL

Tasha dengan tenang bisa pulang dan ia memberi pesan kepada Rasen dan Eleena. Entah kenapa takdir bisa sehebat itu menemukan mereka, namun, Tasha berpesan untuk selalu saling menjaga antara mereka berdua. Tasha berpesan untuk saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing entah apapun itu. Dan terakhir Tasha berpesan untuk tidak mencari tau lagi siapa dalang pembunuhan dirinya dan saudari kembarnya.
106.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 134 kali sebagai tell and show
Baca
+Pustaka
Tes

Tes

Aura Lika 12268
Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test Test
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai tell and show
Baca
+Pustaka

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ini hal yang sering kusampaikan ke teman-teman penulis muda: tunjukkan, jangan beri label emosi. Teknik 'show don't tell' pada dasarnya meminta kita mengganti kata-kata yang memberi penilaian langsung—seperti 'dia sedih', 'dia marah', atau 'suasana tegang'—dengan detil konkret yang bisa dirasakan pembaca lewat pancaindra dan tindakan. Contohnya sederhana tapi ampuh: daripada menulis 'Ia marah', tulis 'Gelok cangkir kopi pecah di telapak tangannya; napasnya seperti ditarik-paksa.' Itu langsung memaksa pembaca merasakan tensi, bukan sekadar diberitahu soal emosi.

Salah satu trik favoritku adalah memanfaatkan tubuh, dialog yang bermuatan, dan pilihan kata kerja aktif. Tubuh karakter adalah indikator emosi yang jujur: tangan yang gemetar, bahu yang mengendur, atau pandangan yang menghindar. Dialog harus menyampaikan subteks—apa yang tidak dikatakan sering lebih menyakitkan. Daripada menulis 'Mereka berselisih', ciptakan barisan dialog pendek yang saling memotong, disertai jeda dan tindakan kecil (menyeka meja, menutup jendela) untuk menunjukkan ketegangan. Juga, pilih kata kerja yang kuat: 'mendayung' lebih menggambarkan usaha daripada 'bergerak cepat'.

Jangan lupa suasana dan objek; setting bisa menjadi refleksi emosi tanpa perlu penjelasan. Misal, ruangan berdebu, lampu berkedip, atau bau oli yang menempel pada jaket bisa memberi konteks ekonomi, nostalgia, atau ancaman. Teknik simbolik sederhana—semenit rekaman anak yang dulu tertawa di radio yang kini mati—dapat memberi lapisan makna pada adegan tanpa narasi ekstra. Saat mengedit, cari kalimat yang berisi kata sifat umum (lelah, sedih, bahagia) lalu tanyakan: 'Bagaimana aku membuat pembaca merasakan itu tanpa menyebutnya?' Dan lalu tambahkan detail sensorik.

Akhirnya, latih POV dan batas informasi: tunjukkan lewat perspektif karakter yang melihat, mendengar, dan menilai dunia di sekitarnya. Hindari head-hopping yang bikin penjelasan balik lagi ke mode 'telling'. Baca ulang paragraf dan tandai semua kata seperti 'sangat', 'begitu', atau 'teramat'—seringkali itu sinyal kita sedang menceritakan perasaan, bukan menunjukkan. Dengan membiasakan teknik ini, naskahmu akan jadi lebih hidup dan pembaca merasa dia sedang mengalami cerita, bukan sekadar menerima laporan. Selamat ngulik detail—itu tempat magisnya cerita muncul.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status