Raina
seru Ghina.
“Gue emang mikir gitu awalnya, Nong. Tapi ternyata wanita seusia gue ini bukan cuma lelaki tampan yang dicari, tapi lelaki mapan. Bukan cuma cinta, tapi juga harta. Gue berpikir realistis, karena sebagai wanita gue juga pengin hidup normal kayak orang lain yang semua kebutuhannya dicukupi suami,” ceritaku panjang lebar.
“Gila bener, matre!” Ghina mencibir, tapi aku hanya tertawa saja mendengar ledekannya. “Terus apa yang bikin lo ngelamun pagi-pagi?”
Bab Populer