LOGIN#Sekuel dari Dikhianati Kekasih, Dinikahi Bos Galak Hati Aerline sangat sakit, bahkan hancur berkeping-keping saat mengetahui mantan kekasih yang masih sangat dia cintai bertunangan dengan wanita lain. Saat ingin merelakannya, takdir seakan mempermainkan Aerline. Ternyata pria yang bernama Joel itu adalah atasan di tempat kerja barunya. Mau tidak mau, Aerline menjadi lebih sering berinteraksi dan bertemu dengan Joel. Dan saat Joel mengatakan ingin menjadikan Aerline sebagai kekasih simpanannya, wanita itu malah tidak bisa menolaknya. Hubungan terlarang yang penuh hasrat, membuat Aerline tidak bisa melepaskannya begitu saja. Lalu bagaimana akhir dari hubungan Joel dan Aerline?
View MoreTerlihat semua orang mengenakan busana serba hitam di rumah mewah ini, tak terkecuali akupun juga memakai gaun hitam selutut waktu itu. Saat itu umurku masih tujuh tahun ketika diajak ketempat duka, aku hanya menatap orang orang di sekelilingku bersedih, yang aku tahu orang yang telah tiada itu adalah teman almarhum kakekku. Beliau orang yang sangat baik begitu pun juga dengan istrinya yang biasa ku sapa Oma Lia. Ku lihat Oma Lia duduk dengan pandangan kosong menatap jenazah suaminya yang berada di depannnya.
Selesai berdoa beberapa orang mulai mengangkat jenazah Opa Jun ketempat peristirahatan terakhirnya. Di sudut lain aku menangkap sosok anak laki laki mungkin lebih tua dariku, hanya melihat dari kejauhan tapi nampak jelas raut kesedihan dan bulir air mata yang jatuh ke pipinya. Dia seperti ingin mendekati kerumunan ini, tapi langkahnya selalu terhenti ketika ingin bergerak maju. Tak adakah yang sadar akan keberadaannya. Semakin jenazah Opa Jun menjauhi rumah, sosok anak laki laki itu semakin menangis menjadi jadi. Barulah ku lihat seorang wanita yang mungkin seumuran Mama saat ini memeluk dan menenangkan anak laki laki tersebut.
*
"Wooyyyy..sadar Ingg..ngelamun terus kamu daritadi aku perhatikan,"ucap Uta.
"Sudah tiga kali di panggil juga,"Uta menarik sedikit rambutku.
" Nihh tugas menggambar dari Pak Jul, minggu depan harus selesai, besok tugas dari Bu Ika juga harus di kumpul, aaarghhh pusing aku Ingg banyak banget tugas kita."
Ku lirik sahabatku Uta, cepat atau lambat aku harus menceritakan ini ke Uta pikirku. Aku sengaja bolos kuliah hari ini, rasanya belajar hanya menambah beban di otakku sekarang.
"Ingg, kamu tumben bolos matkul (mata kuliah) Pak Jul hari ini?” tanya Uta kepadaku.
" Lagi males aku tuh Ta, ada masalah yang buat aku malessss tau."
"Masalah apa sih Ingg, bisa kelesss kamu cerita sama akyuuuu,"jawab Uta dengan nada di manja manjakan.
" Sono beli bakso sama es teh dulu, aku laper nunggu kamu setengah hari di kantin, nanti aku cerita,"
"Okeeeehh,, pesanan seperti biasa",Uta menjauh dari meja dan memesan makanan favorit kami.
Aku menghela nafas dengan berat, entah darimana aku akan mulai cerita. Uta kembali ke meja yang aku duduki sedari pagi. Dia memandangi dan mengangkat kedua alis matanya dengan antusias, pertanda dia siap mendengar keluhku.
"Sebelum ke inti cerita, kamu harus diam jangan terkejut apalagi teriak seperti biasa, kalau tidak aku gak mau lanjut cerita ke kamu ya Ta,"terdengar sedikit ancaman dari bicaraku. Uta hanya mengangguk pasti.
" Aku akan menikah Ta,"ucapku pelan tapi penuh penekanan. Entah ucapanku yang terlalu pelan atau Uta yang kadang memang loadingnya sedikit lambat, aku pun merasa gugup menunggu respon dari sahabat ku ini. Per sekian detik berikutnya, ku lihat ekspresi Uta dengan mata melotot ke arahku. Seakan tau dia akan menjerit, aku segera menutup mulut Uta dengan tangan.
Uta menggenggam tanganku, menurunkan perlahan tanganku yang menutupi mulutnya, ku lihat raut mukanya yang meyakinkakn bahwa dia tidak akan heboh. Lalu Uta berbisik.
"Kamu seriusssss Ingg?atau kamu ngerjain aku nih seperti sebelumnya?"selidik Uta.
" Aku serius Ta, kamu tau sendiri aku paling jarang bolos kuliah apalagi matkul Pak Jul kan,"ku coba meyakinkan Uta.
Mang Ujang lalu datang membawakan pesanan bakso dan es teh yang di pesan Uta tadi.
"Nihhh bakso urat untuk neng Ingga dan bakso telurrrrr untuk neng Uta, kalau gak kenyang Mang Ujang ada nasi ya,"kelakar Mang Ujang seperti biasa. Kami hanya tersenyum dan berterima kasih kepadanya.
" Kok bisaaa Ingg?dengan siapa?kita kan masih kuliah Ingg,"Uta dengan cepat mencerca pertanyaan demi pertanyaan.
"Akkhh aku gak percaya, kamu pasti bohongkan Ingg?”Uta masih kekeh mengatakan kalau aku berbohong.
" Hufffht, jangankan kamu Ta, akupun masih gak percaya dengan lamaran ini,"ucapku lirih.
Aku menyentuh sendok garpu yang ada di mangkok bakso, tidak ku makan hanya memainkan mie yang ada di dalam mangkok. Uta masih menungguku untuk bercerita lebih lanjut.
"Sabtu kemarin aku di lamar, sebenarnya belum dapat keputusan dari aku Ta, cuma aku juga tidak bisa menolak langsung lamaran itu."
"Papa dan Mama juga menyerahkan semua keputusan di tanganku. Karena ini menyangkut hidupku sendiri."
"Kenapa gak kamu tolak langsung Ingg?terus siapa calonnya?" Tanya Uta penasaran.
"Aku tidak enak kalau harus langsung menolaknya Ta. Terpancar harapan di mata Oma ketika meminta aku menjadi menantu cucunya. Lagipula beliau meminta aku untuk bertemana dulu dengan cucunya. Tentang calonnya dia adalah cucu pemilik showroom mobil PT. Amelia Jaya Ta". Jawabku sedikit berbisik dan mendekatkan kepala ku ke arah mukanya, malu kalau terdengar anak anak yang nongkrong di kantin ini. Ku lihat Uta menutup mulutnya, raut mukanya tak kalah terkejut.
Handphoneku bergetar dan terdapat nomor asing di layarnya, hanya ada sebelas digit saja. Jarang sekali jaman sekarang orang menggunakan nomor seperti itu. Apakah ini nomor penipu seperti biasa atau hanya orang iseng saja pikirku. Tapi nomor yang berderet sangatlah cantik dan cukup mudah untuk di ingat. Yasudah coba saja ku angkat, kalaupun penipu akan langsung ku matikan.
"Ya, Halo,"ucapku tegas.
" Kamu Ingga kan?"terdengar suara berat seoarang pria di sebrang telepon.
"Ya betul, saya Ingga",ucapku singkat. Hening sesaat di sebrang telepon.
" Ini aku Bagas, Ngga,"jawaban dari sebrang telepon sontak membuatku kaget dan membuat jantung ini berpacu sedikit lebih cepat.
" Kamu pasti sudah dengar dari Oma, hari ini aku harap kita bisa bertemu dulu, bisa?"
"Emhhhh, bisa Mas, jam berapa?"entah kenapa aku menjawab pertanyaannya dengan cepat. Antara otakku yang tiba tiba blank atau karena gugup jadi aku menjawab tanpa berpikir dahulu.
"Jam tiga sore ini, tolong kerumahku saja. Maaf aku belum bisa untuk pergi keluar."ucapnya tenang namun ada sedikit getaran di nada biacaranya tadi.
" Oke, baik Mas." Telepon kami pun terputus setelah aku selesai berbicara.
"Wuihhhh mau ketemu calon nihhh," Uta mulai meledekku. Ku ambil sebuah pentol bakso lalu ku masukkan ke mulut Uta, agar dia tidak melanjutkan ledekkannya. Kami melanjutkan obrolan kami yang tertunda lalu berpamit pulang, hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku harus segera pulang lalu bersiap siap untuk kerumah Oma Lia sekaligus tempat tinggal Mas Bagas.
Di sebuah restoran mewah yang telah dipesan secara privat, Garren duduk menunggu dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian elegan dan perhiasan yang memancarkan kemewahan masuk ke dalam ruangan. Langkah kakinya terdengar tegas, mencerminkan otoritas yang ia miliki.“Nyonya Bailee,” sapa Garren sambil berdiri, menyunggingkan senyum formal.Bailee hanya meliriknya sekilas sebelum duduk di hadapan Garren. “Langsung saja, Tuan Garren. Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengan anak tiriku,” jawabnya dengan nada tegas dan dingin.Wajah Garren sedikit menegang mendengar sindiran itu, namun ia segera menguasai diri. “Sebenarnya maksud saya mengundang Anda ke sini, untuk menjalin sebuah kerja sama,” ucap Garren langsung ke tujuannya.“Bekerjasama?” Bailee mengernyitkan dahinya. “Saya tidak tahu apa yang Anda butuhkan dari saya, tapi saya sudah mengetahui kegagalan hubungan Joelio dan putri Anda Gisela,” ucap Bailee
“Jadi, Joelio sudah siuman?” tanya Garren saat menerima laporan langsung dari anak buahnya. “Benar, Tuan. Dan sepertinya, mereka tahu kalau kejadian kemarin itu ulah Anda,” tambahnya. “Kurang ajar! Rencana kita jadi kacau, kenapa bukan wanita itu saja yang tertembak dan mati!” keluh Garren merasa sangat kesal sekali di sana. “Dan sepertinya, Kainan Dirgantara, sedang menyiapkan sesuatu yang besar untuk melawan kita membantu Joelio,” jelasnya. Garren menatap pria di depannya dengan intens. “Apa saja yang orang suruhan kita lihat dari gerak gerik mereka?” tanya Garren. “Tidak ada laporan gerak-geriknya bagaimana. Hanya saja, dia meyakini kalau mereka sedang merencanakan sesuatu untuk melawan kita,” jelas pria itu.Garren menghela napas panjang, amarahnya semakin membara. "Mereka mulai berani menantangku, ya?" gumamnya dengan nada penuh kebencian. "Terutama bocah sialan bernama Joelio itu. Seharusnya dia mati saja kemarin."Pria di depann
“Jadi, apa menurutmu, cerita putri dan pangeran itu sangat cocok untuk di dongengkan padaku?” gurau Joel membuat Aerline tersenyum. “Ya, biasanya sang pangeran akan terbangun. Dan ternyata benar bangun, kan?” ucap Aerline di sana. “Putri terbangun karena dicium pangeran. Dan The beast bangun hingga berubah jadi manusia normal karena ciuman beauty,” ujar Joel. “Aku bahkan tidak menerima ciuman apa pun. Ck... malang sekali, padahal aku berharap sekali ada adegan ciuman saat kamu menyelesaikan dongengnya.” “Maaf, Tuan. Karena ekspektasimu berbeda jauh dengan realita,” ucap Aerline di sana.Joel pura-pura memasang wajah kecewa. "Jadi, aku cuma bisa bangun tanpa ciuman penyelamat? Begitu kejamnya dunia ini..."Aerline tertawa kecil, hatinya terasa hangat melihat Joel kembali dengan candaan khasnya. "Ya, dunia memang kejam, Tuan. Lagipula, siapa yang bilang kamu butuh ciuman untuk bangun?"Joel mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Hei, bukanka
“Dad!” Gisela memasuki ruangan milik Garren dengan sorot mata penuh kekesalan. “Oh, Gisel. Ada apa?” tanya Garren di sana. Menoleh ke arah Gisela dengan santai. “Kenapa Kyle dilarang masuk ke rumah ini?” tanya Gisela dengan tatapan penuh rasa kesal. “Kyle? Siapa dia?” tanya Garren. “Dad!” Gisela sedikit merajuk di sana karena kesal. Garren tertawa kecil di sana. “Oh, pria yang tidak jelas asal usulnya itu. Kenapa kamu harus bergaul dengan pria seperti itu, Gisel?” tanya Garren. “Dia pria yang baik, Dad. Dia temanku, biarkan dia masuk,” ucap Gisela. “No! tidak bisa, Gisela. Berhenti bergaul dengan pria tidak ada kejelasan itu. Kamu dan Joel memutuskan pernikahan, dan itu masih jadi perbincangan hangat di media, Darling. Kamu tidak boleh terkena skandal apa pun, Daddy ingin semua kesalahan ditimpakan pada Joelio, alasan kenapa pernikahan kalian dibatalkan,” ucap Garren. “Apa Dad mau menghancurkan r
“Hei...” sapa Leon yang sudah berdiri di depan gerbang rumah Aerline. “Hei... Waw! Apa ini?” tanya Aerline terkejut melihat Leon menaiki sebuah motor sport di sana. “Bagaimana penampilanku? Menarik, bukan?” kekehnya dengan menaikkan bahunya penuh rasa bangga. “Oke, ya
“Leon, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Aerline saat menemui Leon di salah satu restoran. “Tentu saja liburan,” jawabnya dengan senyuman lebar. Aerline mengambil duduk dihadapan Leon. “Kamu bahkan tidak pernah datang ke Indonesia, kenapa kamu bisa datang ja
Aerline merasa jenuh setelah beberapa minggu hanya berdiam di rumah. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Abangnya, untuk mencari suasana baru. Dengan membawa tas kecil berisi beberapa barang, Aerline tiba di rumah Kaivan menjelang siang. Rumah itu tampak ramai dengan suara tawa anak-anak yang mem
Aerline berdiri di balkon kamarnya, tangan memegang pagar besi dingin yang mulai berembun oleh udara malam. Matanya menatap kosong ke arah langit penuh bintang, tetapi pikirannya melayang jauh. Angin malam yang sejuk menyentuh wajahnya, seakan mencoba menghibur hati yang masih terluka.Pintu kamar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore