LOGIN#Sekuel dari Dikhianati Kekasih, Dinikahi Bos Galak Hati Aerline sangat sakit, bahkan hancur berkeping-keping saat mengetahui mantan kekasih yang masih sangat dia cintai bertunangan dengan wanita lain. Saat ingin merelakannya, takdir seakan mempermainkan Aerline. Ternyata pria yang bernama Joel itu adalah atasan di tempat kerja barunya. Mau tidak mau, Aerline menjadi lebih sering berinteraksi dan bertemu dengan Joel. Dan saat Joel mengatakan ingin menjadikan Aerline sebagai kekasih simpanannya, wanita itu malah tidak bisa menolaknya. Hubungan terlarang yang penuh hasrat, membuat Aerline tidak bisa melepaskannya begitu saja. Lalu bagaimana akhir dari hubungan Joel dan Aerline?
View MoreSome people may like that word called moving, but I don’t. I don’t think I like moving at all, the boovs may jump at any sight to move away but I am going to scurry away from any mention of it. Opening my eyes to the sunlight on my face, I sighed, here we go. Another day in a new town, and I’m going to go to their school, meet new people and trash those that need to be trashed.
I pulled down my bedcovers and forced myself to sit up on the bed, looking at the unpacked boxes in my room, I am reminded of my reason for hating to move. The stress of packing and unpacking is so annoying but tell that to my parents. It’s like moving day was invented the day they were born, I haven’t lived in a single town for more than three years without us moving, some we spent only six months and at seventeen years of age, I have lived in five countries and ten different towns, yep, it’s a world record, I know.
I heaved another sigh and got up from the bed, I walked to the window and drew the curtains further apart, leaning on it, I breathed in the morning air of Los Angeles, yep that’s where we moved in two days ago, Los Angeles. Today I will be going to their high school, and if I’m being honest, I’m not actually looking forward to it, the thought of meeting new school bitches and annoying boys makes me want to throw up. I can’t stand them and they have this pull of not leaving me alone. No matter how I avoid them, they always, always look for my trouble and won’t stop till I put them in their place, which for the record, I enjoy doing.
“Molly, you need to get up now, you can’t afford being late to your first day at school!”
That is my mom, she is a beautiful woman with black long hair and beautiful green eyes. Some might say I take after her except for the fact I have my father’s brown hair and brown eyes. My baby brother Max is the one that has her hair and eyes. She is an archeologist, as well as my father and they travel a lot. We moved here because they got a call about some new artifacts in the museum that they want them to identify. But like always, it’s going to involve them travelling a lot, I just don’t know why.
They are called to identify some things, shouldn’t every work be done in the museum? But no, mom will always say that they need to travel to the country of origin to know if there is something else they need to find or maybe some curse on the certain artifacts, you don’t understand too right? I assure you, neither do I.
“Molly, get up now.”
“I’m already up mom, I will be down in ten!” I yelled back at her. Sighing, I leave the window and the beautiful sights of the fresh mangoes whose tree grew very close to my window. It’s the only thing I love about my room. Yesterday, I climbed onto a branch through my window and spent some quality time on the tree. I looked at my boxes that still need to be unpacked. I will handle those this week. Hopefully school will be as boring as I imagined and I will come back early everyday to unpack them.
I entered the bathroom and picked up my brush, putting toothpaste on it. I started brushing my teeth in the slowest way possible, don’t mind me, I will do anything to make me go late.
I went down the stairs after finding a crop top with a jean and a converse to go with it, my hair in a high ponytail, I made my way to the kitchen. Dad was already sitting at the dinning and going through the morning papers, “good morning dad, good morning mom,” I greeted them, kissing their cheeks and ruffling my brother’s hair while he groaned and slapped my hand away.
“So, who is ready for the first day at school?” Mom asked, clapping her hands as she sat on her chair.
“Not me,” I answered.
“Me neither,” Max added.
“Oh kids, don’t be like that, it will be amazing, you will see,” and that’s mom, being like the typical mom.
“Kids, we know that the move was unplanned for but we are really working on settling in a place this time,” dad said.
I snort, “let me remind you dad, that was what you said three years ago.”
“I know but I’m going to try harder this time, okay?”
“I hope you do, I’m tired of making new friends every single time,” Max complained.
“I know, I know,” mom ruffled his hair, pouting, “we are sorry about that honey.”
“Alright kids, you eat so I can drop you off at your schools,” dad added.
“You promised me a car,” I reminded my dad.
“Yes, and I will get that, once we return from our trip.”
“You are traveling?” Max and I shrieked.
“Yes dear, we got the call last night, Maria found something and our presence is needed…” Mom began but I interrupted her.
“How long will you be staying?”
“We don’t know yet dear but we will be back as soon as we are done,” she answered.
I nodded and didn’t say anything again, I concentrated on my food and nobody else talked. It’s how it always is, whenever they drop the news about their traveling, no matter the discussion we might be having, it just ceases. I hate their traveling, we hardly have some time together, it’s always their work, work, work.
Di sebuah restoran mewah yang telah dipesan secara privat, Garren duduk menunggu dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian elegan dan perhiasan yang memancarkan kemewahan masuk ke dalam ruangan. Langkah kakinya terdengar tegas, mencerminkan otoritas yang ia miliki.“Nyonya Bailee,” sapa Garren sambil berdiri, menyunggingkan senyum formal.Bailee hanya meliriknya sekilas sebelum duduk di hadapan Garren. “Langsung saja, Tuan Garren. Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengan anak tiriku,” jawabnya dengan nada tegas dan dingin.Wajah Garren sedikit menegang mendengar sindiran itu, namun ia segera menguasai diri. “Sebenarnya maksud saya mengundang Anda ke sini, untuk menjalin sebuah kerja sama,” ucap Garren langsung ke tujuannya.“Bekerjasama?” Bailee mengernyitkan dahinya. “Saya tidak tahu apa yang Anda butuhkan dari saya, tapi saya sudah mengetahui kegagalan hubungan Joelio dan putri Anda Gisela,” ucap Bailee
“Jadi, Joelio sudah siuman?” tanya Garren saat menerima laporan langsung dari anak buahnya. “Benar, Tuan. Dan sepertinya, mereka tahu kalau kejadian kemarin itu ulah Anda,” tambahnya. “Kurang ajar! Rencana kita jadi kacau, kenapa bukan wanita itu saja yang tertembak dan mati!” keluh Garren merasa sangat kesal sekali di sana. “Dan sepertinya, Kainan Dirgantara, sedang menyiapkan sesuatu yang besar untuk melawan kita membantu Joelio,” jelasnya. Garren menatap pria di depannya dengan intens. “Apa saja yang orang suruhan kita lihat dari gerak gerik mereka?” tanya Garren. “Tidak ada laporan gerak-geriknya bagaimana. Hanya saja, dia meyakini kalau mereka sedang merencanakan sesuatu untuk melawan kita,” jelas pria itu.Garren menghela napas panjang, amarahnya semakin membara. "Mereka mulai berani menantangku, ya?" gumamnya dengan nada penuh kebencian. "Terutama bocah sialan bernama Joelio itu. Seharusnya dia mati saja kemarin."Pria di depann
“Jadi, apa menurutmu, cerita putri dan pangeran itu sangat cocok untuk di dongengkan padaku?” gurau Joel membuat Aerline tersenyum. “Ya, biasanya sang pangeran akan terbangun. Dan ternyata benar bangun, kan?” ucap Aerline di sana. “Putri terbangun karena dicium pangeran. Dan The beast bangun hingga berubah jadi manusia normal karena ciuman beauty,” ujar Joel. “Aku bahkan tidak menerima ciuman apa pun. Ck... malang sekali, padahal aku berharap sekali ada adegan ciuman saat kamu menyelesaikan dongengnya.” “Maaf, Tuan. Karena ekspektasimu berbeda jauh dengan realita,” ucap Aerline di sana.Joel pura-pura memasang wajah kecewa. "Jadi, aku cuma bisa bangun tanpa ciuman penyelamat? Begitu kejamnya dunia ini..."Aerline tertawa kecil, hatinya terasa hangat melihat Joel kembali dengan candaan khasnya. "Ya, dunia memang kejam, Tuan. Lagipula, siapa yang bilang kamu butuh ciuman untuk bangun?"Joel mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Hei, bukanka
“Dad!” Gisela memasuki ruangan milik Garren dengan sorot mata penuh kekesalan. “Oh, Gisel. Ada apa?” tanya Garren di sana. Menoleh ke arah Gisela dengan santai. “Kenapa Kyle dilarang masuk ke rumah ini?” tanya Gisela dengan tatapan penuh rasa kesal. “Kyle? Siapa dia?” tanya Garren. “Dad!” Gisela sedikit merajuk di sana karena kesal. Garren tertawa kecil di sana. “Oh, pria yang tidak jelas asal usulnya itu. Kenapa kamu harus bergaul dengan pria seperti itu, Gisel?” tanya Garren. “Dia pria yang baik, Dad. Dia temanku, biarkan dia masuk,” ucap Gisela. “No! tidak bisa, Gisela. Berhenti bergaul dengan pria tidak ada kejelasan itu. Kamu dan Joel memutuskan pernikahan, dan itu masih jadi perbincangan hangat di media, Darling. Kamu tidak boleh terkena skandal apa pun, Daddy ingin semua kesalahan ditimpakan pada Joelio, alasan kenapa pernikahan kalian dibatalkan,” ucap Garren. “Apa Dad mau menghancurkan r
“Gimana hari pertamamu, Lin?” tanya Kaivan sambil bersandar di pintu. Ini sudah jam pulang dan sebagian rekan kerjanya sudah pulang.Aerline menoleh dan tersenyum kecil. “Lelah, tapi aku menikmatinya.”“Bagus. Itu yang penting,” ujar Kaivan dengan bangga.Hari pertama Aerline di kantor berakhir den
“Hei...” sapa Leon yang sudah berdiri di depan gerbang rumah Aerline. “Hei... Waw! Apa ini?” tanya Aerline terkejut melihat Leon menaiki sebuah motor sport di sana. “Bagaimana penampilanku? Menarik, bukan?” kekehnya dengan menaikkan bahunya penuh rasa bangga. “Oke, ya
“Leon, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Aerline saat menemui Leon di salah satu restoran. “Tentu saja liburan,” jawabnya dengan senyuman lebar. Aerline mengambil duduk dihadapan Leon. “Kamu bahkan tidak pernah datang ke Indonesia, kenapa kamu bisa datang ja
Aerline merasa jenuh setelah beberapa minggu hanya berdiam di rumah. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Abangnya, untuk mencari suasana baru. Dengan membawa tas kecil berisi beberapa barang, Aerline tiba di rumah Kaivan menjelang siang. Rumah itu tampak ramai dengan suara tawa anak-anak yang mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore