LOGIN#Sekuel dari Dikhianati Kekasih, Dinikahi Bos Galak Hati Aerline sangat sakit, bahkan hancur berkeping-keping saat mengetahui mantan kekasih yang masih sangat dia cintai bertunangan dengan wanita lain. Saat ingin merelakannya, takdir seakan mempermainkan Aerline. Ternyata pria yang bernama Joel itu adalah atasan di tempat kerja barunya. Mau tidak mau, Aerline menjadi lebih sering berinteraksi dan bertemu dengan Joel. Dan saat Joel mengatakan ingin menjadikan Aerline sebagai kekasih simpanannya, wanita itu malah tidak bisa menolaknya. Hubungan terlarang yang penuh hasrat, membuat Aerline tidak bisa melepaskannya begitu saja. Lalu bagaimana akhir dari hubungan Joel dan Aerline?
View More"Dasar, istri jelek! Memalukan!"
Suara Mas Bagus begitu menggelegar hingga memekakkan telinga. Matanya memerah menatap penampilanku dari atas hingga bawah. "Apa maksudmu, Mas?" tanyaku berusaha mengubur emosi yang sudah ingin kuledakkan sejak tadi. Bayangkan saja, Mas Bagus tiba-tiba marah saat baru memasuki rumah. Aku tak mengerti ada apa dengannya. "Masih berani tanya, hah?! Apa kamu nggak mikir kalau kamu ini memalukan?!" "Kamu terus bicara itu dari tadi. Memalukan dan memalukan! Maksudnya apa, Mas? Apa yang membuatmu malu?!" Kini suaraku pun ikut meninggi karena tak tahan lagi. Kulirik sejenak pintu kamar Aiza yang sedikit terbuka. Tanpa berkata, kulangkahkan kaki ini menuju kamar Aiza. Kudorong pintu itu sedikit hingga bisa melihat Aiza yang berdiri ketakutan di belakangnya. Sungguh hatiku sakit. Baru kali ini Aiza melihat dan mendengar aku dan Mas Bagus bertengkar. "Aiz jangan keluar dulu, ya. Pintunya ditutup, jangan ngintip," pesanku yang hanya direspon oleh kebisuan Aiza. Tak masalah, aku paham jika dia masih terkejut dengan pertengkaran yang tiba-tiba ini. Kutarik gagang pintu itu hingga kini tertutup seluruhnya. Setelah memastikan Aiza aman di dalam, kufokuskan kembali tatapan ini pada Mas Bagus. "Lebih baik kita bicara di kamar, Mas. Aku nggak mau Aiza dengar," ucapku dengan raut datar. Aku terlalu lelah hingga rasanya malas untuk sekedar mengeluarkan ekspresi. Kaki ini melangkah lebih dulu menuju kamar. Tak lama, Mas Dimas menyusul masih dengan tatapan tajam. "Jadi, apa yang kamu maksud tadi, Mas? Tolong bicara yang jelas. Dan ingat! Jangan tinggikan suara karena aku nggak aku Aiza dengar!" tegasku sembari duduk di pinggiran ranjang. Sedangkan Mas Bagus masih berdiri di depanku. "Aku ingin kamu pergi dari rumah ini!" Degh! Amarah yang sejak tadi kukubur kini kembali naik hingga menjalar ke kepala. Pergi katanya? Dia mengusirku? "Kamu waras nggak, Mas? Kamu mengusirku atas dasar apa?" Kutatap dengan nyalang kedua mata Mas Bagus. "Aku sangat waras, Yuni! Karena itu aku ingin kamu pergi dari sini! Lagipula, laki-laki mana yang mau sama istri yang nggak pandai merawat diri? Aku nggak sudi! Aku malu, Yuni!" Tubuhku membeku mendengar hinaan yang keluar dari mulut suamiku. Apa dia secara sadar mengatakan itu? Hei, sepertinya Mas Bagus perlu kuingatkan kembali kenapa aku bisa seperti ini. "Katamu aku nggak pandai merawat diri? Apa kamu pikir aku ada waktu untuk memikirkan itu, Mas? Ada?!" "Dari bangun sampai tidur lagi, aku nggak pernah punya waktu luang untuk diriku sendiri! Mengurus kamu, mengurus Aiza, rumah, belum lagi urus usaha. Apa kamu pikir itu mudah? Apa pernah kamu membantuku saat pulang kerja? Apa pernah kamu kasih uang lebih untukku merawat diri? Enggak, kan? Yang ada uang hasil usahaku buat nombok kekurangan hidup setiap bulan!" Mas Bagus seketika bungkam. Namun, tak lama karena setelahnya dia kembali menyerang dengan kata-kata yang menyakitkan. "Tapi itu dulu, Yuni! Sekarang aku sudah naik jabatan di pabrik! Harusnya kamu bisa menyesuaikan diri supaya nggak membuatku malu! Jangan selalu berpenampilan kayak pembantu!" "Kamu tahu? Teman-teman di pabrik sering mencemooh karena aku memiliki istri yang cuma bisa dasteran setiap hari! Aku malu! Malu!" Kedua tanganku terkepal kali ini. Aku ingat, tempo hari setelah Mas Bagus naik jabatan, dia mengundang teman-temannya untuk makan malam. Saat itu memang aku tengah memakai daster. Tapi, apa yang salah? Toh, meskipun sudah berpakaian rapi, aku akan tetap berada di dapur menyiapkan jamuan untuk teman-teman Mas Bagus. "Aku baru sadar, Yuni. Harusnya dari dulu aku nggak pilih kamu jadi istriku!" Kedua mataku seketika memerah mendengarnya. Bukan, bukan karena ingin menangis. Tapi, karena amarah sudah memenuhi jiwaku saat ini. "Jadi, kamu menyesal menikah denganku, Mas?" "Ya!" Pria itu menyahut dengan cepat dan tanpa beban, seolah hubungan kami ini hanya permainan. Apa dia tak ingat, jika dulu begitu sulit mendapatkanku? Sungguh aku tak habis pikir pada suamiku ini! "Tadi, kamu mau aku pergi?" Kutegaskan sekali lagi yang langsung diangguki oleh Mas Bagus. "Oke, aku akan pergi. Tapi, Aiza harus ikut denganku!" Ya, apa pun alasannya, aku tak mau berpisah dengan Aiza. Dia masih terlalu kecil untuk jauh dari pengawasan seorang ibu. Lagipula, aku sama sekali tak percaya jika Mas Bagus bisa merawat Aiza tanpaku. "Silakan! Aku juga tak mau mengurus anak nakal itu!" Jawaban yang sangat di luar dugaan. Aku sampai terperangah mendengarnya. Jika saja Aiza sudah dewasa dan tahu Mas Bagus berbicara demikian, sudah bisa kupastikan anak dan ayah ini pasti bermusuhan. Tanpa berkata lagi, segera kubuka lemari dan mengeluarkan pakaian dari sana. Tak lupa, aku pun mengemas beberapa potong daster yang belum terjual. Setelah selesai, saatnya aku berbicara pada Aiza. Beruntung, Aiza tak rewel sama sekali ketika kuajak untuk pergi. Dia seolah mengerti jika kedua orang tuanya tak bisa bersama lagi. "Mama ... Aiz sekolahnya gimana?" Suara Aiza membuat gerakan tanganku terhenti. Kutatap putri kecilku yang manis ini. Kemudian, kugenggam tangan mungilnya dengan lembut. "Nanti kita cari sekolah baru, ya. Aiz akan punya teman baru di sana. Yang penting sekarang Aiz ikut Mama." Putriku itu mengangguk dengan patuh. Dia diam menyaksikan tanganku yang terus bergerak membenahi pakaian juga perlengkapan lainnya. "Sudah selesai, kan? Nggak usah lama-lama! Teman-teman juga bosku mau datang sebentar lagi!" Sikap Mas Bagus benar-benar kembali memantik bara api yang sudah hampir mati. Apa sebegitu inginkah dia agar kami pergi? "Kamu bisa sabar nggak, Mas? Kalau kamu nggak bisa bantu, setidaknya diam dan tunggu aku sampai selesai!" ketusku. Sejenak kulirik Aiza yang tengah menatap Mas Bagus dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sejak dulu dia memang tidak dekat dengan Mas Bagus. Bukan Aiza yang memberi jarak, tapi Mas Bagus yang selalu mencari alasan atau kesibukan ketika Aiza mendekat. Padahal, sebagai anak perempuan, aku tahu Aiza begitu membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Hah, sudah. Lupakan saja! Tak ada gunanya aku memikirkan laki-laki tak berguna itu. Tanpa dia pun, aku yakin bisa membesarkan Aiza dengan kasih sayang penuh dan materi yang cukup. Setelah memastikan semua barang-barang sudah dikemas, gegas kubawa satu per satu tas itu ke teras. Tak lama, sebuah taksi online yang kupesan pun datang. Sopir taksi itu bahkan turun dan ikut membantu mengangkat satu per satu tasku. Sedangkan Mas Bagus hanya diam sembari melipat kedua tangan di depan dada. Baru saja naik jabatan di pabrik pakan ternak, sudah besar kepala sampai tega mengusirku dari rumah. Awas saja! Sebelum pergi, kualihkan tatapan pada Mas Bagus. "Jangan lupa urus surat perceraian kita, Mas!" "Akan kulakukan!" "Ingat, rumah ini hasil usahaku juga! Jadi, lebih baik segera kamu jual supaya bisa dibagi dua!"Di sebuah restoran mewah yang telah dipesan secara privat, Garren duduk menunggu dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian elegan dan perhiasan yang memancarkan kemewahan masuk ke dalam ruangan. Langkah kakinya terdengar tegas, mencerminkan otoritas yang ia miliki.“Nyonya Bailee,” sapa Garren sambil berdiri, menyunggingkan senyum formal.Bailee hanya meliriknya sekilas sebelum duduk di hadapan Garren. “Langsung saja, Tuan Garren. Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengan anak tiriku,” jawabnya dengan nada tegas dan dingin.Wajah Garren sedikit menegang mendengar sindiran itu, namun ia segera menguasai diri. “Sebenarnya maksud saya mengundang Anda ke sini, untuk menjalin sebuah kerja sama,” ucap Garren langsung ke tujuannya.“Bekerjasama?” Bailee mengernyitkan dahinya. “Saya tidak tahu apa yang Anda butuhkan dari saya, tapi saya sudah mengetahui kegagalan hubungan Joelio dan putri Anda Gisela,” ucap Bailee
“Jadi, Joelio sudah siuman?” tanya Garren saat menerima laporan langsung dari anak buahnya. “Benar, Tuan. Dan sepertinya, mereka tahu kalau kejadian kemarin itu ulah Anda,” tambahnya. “Kurang ajar! Rencana kita jadi kacau, kenapa bukan wanita itu saja yang tertembak dan mati!” keluh Garren merasa sangat kesal sekali di sana. “Dan sepertinya, Kainan Dirgantara, sedang menyiapkan sesuatu yang besar untuk melawan kita membantu Joelio,” jelasnya. Garren menatap pria di depannya dengan intens. “Apa saja yang orang suruhan kita lihat dari gerak gerik mereka?” tanya Garren. “Tidak ada laporan gerak-geriknya bagaimana. Hanya saja, dia meyakini kalau mereka sedang merencanakan sesuatu untuk melawan kita,” jelas pria itu.Garren menghela napas panjang, amarahnya semakin membara. "Mereka mulai berani menantangku, ya?" gumamnya dengan nada penuh kebencian. "Terutama bocah sialan bernama Joelio itu. Seharusnya dia mati saja kemarin."Pria di depann
“Jadi, apa menurutmu, cerita putri dan pangeran itu sangat cocok untuk di dongengkan padaku?” gurau Joel membuat Aerline tersenyum. “Ya, biasanya sang pangeran akan terbangun. Dan ternyata benar bangun, kan?” ucap Aerline di sana. “Putri terbangun karena dicium pangeran. Dan The beast bangun hingga berubah jadi manusia normal karena ciuman beauty,” ujar Joel. “Aku bahkan tidak menerima ciuman apa pun. Ck... malang sekali, padahal aku berharap sekali ada adegan ciuman saat kamu menyelesaikan dongengnya.” “Maaf, Tuan. Karena ekspektasimu berbeda jauh dengan realita,” ucap Aerline di sana.Joel pura-pura memasang wajah kecewa. "Jadi, aku cuma bisa bangun tanpa ciuman penyelamat? Begitu kejamnya dunia ini..."Aerline tertawa kecil, hatinya terasa hangat melihat Joel kembali dengan candaan khasnya. "Ya, dunia memang kejam, Tuan. Lagipula, siapa yang bilang kamu butuh ciuman untuk bangun?"Joel mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Hei, bukanka
“Dad!” Gisela memasuki ruangan milik Garren dengan sorot mata penuh kekesalan. “Oh, Gisel. Ada apa?” tanya Garren di sana. Menoleh ke arah Gisela dengan santai. “Kenapa Kyle dilarang masuk ke rumah ini?” tanya Gisela dengan tatapan penuh rasa kesal. “Kyle? Siapa dia?” tanya Garren. “Dad!” Gisela sedikit merajuk di sana karena kesal. Garren tertawa kecil di sana. “Oh, pria yang tidak jelas asal usulnya itu. Kenapa kamu harus bergaul dengan pria seperti itu, Gisel?” tanya Garren. “Dia pria yang baik, Dad. Dia temanku, biarkan dia masuk,” ucap Gisela. “No! tidak bisa, Gisela. Berhenti bergaul dengan pria tidak ada kejelasan itu. Kamu dan Joel memutuskan pernikahan, dan itu masih jadi perbincangan hangat di media, Darling. Kamu tidak boleh terkena skandal apa pun, Daddy ingin semua kesalahan ditimpakan pada Joelio, alasan kenapa pernikahan kalian dibatalkan,” ucap Garren. “Apa Dad mau menghancurkan r
“Hei...” sapa Leon yang sudah berdiri di depan gerbang rumah Aerline. “Hei... Waw! Apa ini?” tanya Aerline terkejut melihat Leon menaiki sebuah motor sport di sana. “Bagaimana penampilanku? Menarik, bukan?” kekehnya dengan menaikkan bahunya penuh rasa bangga. “Oke, ya
“Leon, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Aerline saat menemui Leon di salah satu restoran. “Tentu saja liburan,” jawabnya dengan senyuman lebar. Aerline mengambil duduk dihadapan Leon. “Kamu bahkan tidak pernah datang ke Indonesia, kenapa kamu bisa datang ja
Aerline merasa jenuh setelah beberapa minggu hanya berdiam di rumah. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Abangnya, untuk mencari suasana baru. Dengan membawa tas kecil berisi beberapa barang, Aerline tiba di rumah Kaivan menjelang siang. Rumah itu tampak ramai dengan suara tawa anak-anak yang mem
Aerline berdiri di balkon kamarnya, tangan memegang pagar besi dingin yang mulai berembun oleh udara malam. Matanya menatap kosong ke arah langit penuh bintang, tetapi pikirannya melayang jauh. Angin malam yang sejuk menyentuh wajahnya, seakan mencoba menghibur hati yang masih terluka.Pintu kamar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore