Chapter: Bab 32 Sidang Pertama Sidang Pertama Di luar, suara Lintang semakin dekat, diikuti langkah kecil Dian yang baru bangun. Tapi mereka masih punya beberapa menit lagi—beberapa menit yang terasa sangatlah lama.Dan di pagi yang hangat itu, rumah mereka benar-benar terasa seperti rumah lagi—penuh tawa kecil dari koridor, aroma kopi yang belum dibuat, dan dua hati yang tak lagi takut kehilangan.Saat itulah, suara deru mobil lain yang mendekat memecah keheningan pagi. Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di belakang mobil Tora. Lestari langsung mengenali mobil itu.Jantungnya mencelos. Keluarga Wijaya.Pintu mobil terbuka. Ibu Tora, wanita anggun dengan tatapan tajam, keluar lebih dulu, diikuti oleh adik perempuan Tora, Riana, yang wajahnya selalu masam setiap kali melihat Lestari. Mereka pasti sudah mendengar tentang transaksi gila yang dilakukan Tora semalam.Wajah Tora langsung mengeras. Ia melangkah maju, menempatkan dirinya sedikit di depan Lestari, seolah menjadi perisai.Ibu Tora berjalan ke arah mere
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 31 Melepaskan BelengguMelepaskan BelengguSelama bertahun-tahun dalam rumah tangganya dengan Dirga, tubuh Lestari bagai ruang yang tak pernah benar-benar dihuni. Sentuhannya—bila ada—terasa dangkal dan transaksional, seperti ritual tanpa jiwa. Kulitnya pun belajar untuk mati rasa, membangun benteng pertahanan dari keintiman yang tak pernah sampai ke hati. Setiap elusannya terasa seperti paksaan, dan Lestari pun belajar untuk mengubur dahaganya jauh-jauh, seolah-olah ia tidak berhak untuk merasa.Namun kini, didalam pelukan dan kehangatan Tora, semua penjara yang dibangunnya selama ini runtuh berantakan. Tubuhnya, yang selama ini tertidur dalam balutan sunyi, kini bagai bangkit dan memberontak. Setiap sentuhan Tora bagai percikan api di atas lahan kering yang lama terlupakan. Dahaga yang dipendamnya bertahun-tahun tiba-tiba meledak menjadi banjir yang tak terbendung, mengguncang seluruh kesadarannya.Ia tidak lagi bisa berbohong pada dirinya sendiri. Di balik kelembutan kulitnya, ada getaran liar yang me
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Bab 30 Pelukan HangatPelukan HangatPengakuan itu mengambang di antara mereka, lebih dingin dari udara malam di kantor polisi yang steril. Kata-kata Tora—bertengkar hebat, aku membiarkannya—adalah gema dari rasa bersalah yang telah membusuk di dalam dirinya selama bertahun-tahun. Itu bukan sekadar jawaban atas tuduhan Dirga; itu adalah isi dari luka yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng pualamnya.Lestari menatapnya, tidak dengan keterkejutan atau kecurigaan, tetapi dengan pemahaman yang dalam. Ia melihat pria di depannya bukan lagi sebagai Tuan Wijaya yang perkasa, sang penyelamat. Ia melihat Tora, seorang suami yang hancur, seorang ayah yang tersesat dalam penyesalan.“Itu bukan salahmu, Tora,” bisik Lestari, suaranya nyaris tak terdengar.Tora menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke lantai linoleum yang kusam. “Gimana bisa bukan salahku, Lestari. Aku yang biarkan dia nyetir sendiri malam-malam dalam keadaan marah. Kalau saja aku… kalau saja egoku tidak setinggi langit waktu itu…”Ia ti
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 29 PengakuanPengakuanTuduhan itu menggantung di udara gudang yang pengap, lebih berat dari aroma karat dan garam. Kata terakhir Dirga, “Pembunuh!”, menusuk keheningan seperti belati beracun, ditujukan tepat ke jantung Tora.Wajah Tora, yang sedari tadi tegang karena amarah dan kewaspadaan, seketika berubah menjadi Beku. Kosong. “Bawa dia!” perintah petugas senior, tak terpengaruh oleh racauan putus asa seorang tersangka.Dua petugas menyeret Dirga yang meronta-ronta, mulutnya masih menyumpah-nyumpah tanpa suara saat diseret menjauh. Gema tuduhannya tertinggal, merayap di sudut-sudut pikiran Lestari yang masih kacau. Ia menatap Tora, lalu kembali pada Dian yang gemetar dalam pelukannya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.Perjalanan menuju kantor polisi terasa sureal. Dian akhirnya tertidur di pangkuan Lestari di kursi belakang, kelelahan setelah teror yang dialaminya. Keheningan di dalam mobil terasa memekakkan telinga.Tak ada yang bicara. Tora menyetir dengan tatapan lurus ke depan
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Bab 28 Kebebasan Yang MahalKebebasan Yang MahalTeriakan gila itu seolah menyedot semua udara dari dalam gudang. Waktu membeku. Ujung pisau yang berkilat itu menempel di kulit lembut leher Dian, sebuah titik perak yang mengerikan di bawah cahaya lampu kuning.“Dirga, jangan gila!” bentak si rentenir, langkahnya mundur selangkah, kesepakatan bisnisnya kini berubah menjadi sandera berisiko tinggi. “Turunkan pisaunya! Kita sudah sepakat!”“Sepakat apa?!” raung Dirga, matanya memerah liar, ludahnya menyemprot. “Kalian yang sepakat! Aku tidak dapat apa-apa! Aku kehilangan semuanya!”“Ibu……” rintih Dian, tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir tanpa suara.Jeritan tertahan lolos dari bibir Lestari. Kakinya terasa seperti jeli, dunianya menyempit hanya pada kilatan logam di leher putrinya. “Jangan… kumohon, jangan, Ga,” isaknya, suaranya pecah. “Ambil aku. Lakukan apa pun padaku. Tapi lepaskan Dian. Dia tidak tahu apa-apa…”“Justru karena dia, kamu jadi sombong begini!” balas Dirga, cengkeramannya pada Dian sem
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 27 NegoisasiNegoisasiTeriakan itu merobek udara malam yang asin, memantul di antara dinding-dinding gudang yang lapuk dan tumpukan kontainer yang berkarat. Suara seorang ibu yang didorong ke tepi jurang kewarasannya.Pintu gudang yang reyot terdorong kasar. Lestari berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal, matanya menyala liar. Di belakangnya, Tora muncul seperti bayangan, tubuhnya tegang, setiap ototnya siap menerkam.Di dalam, di bawah sorot lampu kuning yang redup, Dirga tersentak. Cengkeramannya pada lengan Dian mengendur sesaat. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi seringai kemenangan yang menjijikkan. Rencananya berhasil. Umpannya dimakan.“Nah, itu dia ratunya sudah datang!” seru Dirga, suaranya menggema. “Kukira kamu lebih sayang sama harga dirimu daripada anakmu sendiri, Tari.”“Lepaskan dia, Dirga,” desis Lestari, melangkah maju.“Ibu!” pekik Dian, mencoba meronta. Air mata membanjiri wajah mungilnya.Dirga menarik Dian ke depan-nya, menjadikan tubuh kecil itu tameng. “Eits,
Last Updated: 2026-04-17