Mag-log inKota Tulang Putih selalu terlihat paling jujur saat fajar.
Kabut tipis menggantung di antara bangunan batu putih, sementara cahaya matahari menyusup perlahan dari balik tembok kota. Para kultivator mulai bermunculan, sebagian menuju balai latihan, sebagian lagi menuju Balai Pil untuk urusan yang tidak pernah bisa menunggu. Lin Yuan sudah berada di sana sebelum lonceng pagi dibunyikan. Ia berdiri di sudut halaman Balai Pil Seratus Tulang, membawa keranjang kayu berisi botol kosong. Wajahnya menunduk, langkahnya ringan, keberadaannya nyaris tidak diperhatikan. Topengnya bekerja dengan sempurna. Sejak hari pertama, tidak ada satu pun pengawas yang mengingat namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai “pekerja baru”, “yang itu”, atau sekadar “hei, kau”. Dan Lin Yuan menyukai itu. “Cepat sedikit!” bentak seorang pengawas. “Pengiriman pagi tidak boleh terlambat!” Lin Yuan mengangguk singkat dan melangkah masuk ke gudang. Gudang utama Balai Pil luas dan dingin. Rak-rak tinggi dipenuhi botol pil dengan segel beragam warna, masing-masing mewakili tingkat dan fungsi yang berbeda. Di sinilah denyut nadi Kota Tulang Putih bergetar—bukan di balai kota, bukan di rumah para tetua, melainkan di balik botol-botol kecil ini. Lin Yuan mulai menata pil sesuai daftar. Tangannya bergerak cekatan, matanya sesekali melirik ke arah sudut-sudut gudang. Ia mencatat segalanya dalam diam—jumlah yang tidak cocok, segel yang diganti, botol yang dipindahkan tanpa catatan. Semua itu terlalu halus untuk disebut pencurian biasa. Ini sistematis. Terencana. “Eh, pendatang baru.” Seorang pekerja lain mendekat, masih muda, wajahnya pucat. “Kau jaga gudang kemarin malam, ya?” Lin Yuan menoleh sedikit. “Iya.” “Kau… lihat apa-apa?” tanya pemuda itu ragu. Lin Yuan menggeleng. “Tidak.” Jawaban itu cepat dan datar. Pemuda itu menghela napas lega. “Bagus. Lebih baik memang tidak lihat apa-apa di tempat ini.” Ia menurunkan suara. “Orang yang terlalu banyak tahu… tidak bertahan lama.” Lin Yuan tidak menanggapi. Namun dalam hatinya, ia tersenyum dingin. Kalau begitu, aku akan hidup sangat lama. Siang hari, Balai Pil kedatangan tamu penting. Beberapa kultivator berjubah hijau muda memasuki aula utama, lambang awan giok terukir jelas di dada mereka. Aura mereka tertahan rapi, tapi tekanan yang mereka bawa cukup membuat pekerja tingkat bawah menunduk tanpa sadar. Sekte Awan Giok. Lin Yuan sedang menyapu lantai saat rombongan itu lewat. Ia menundukkan kepala lebih rendah dari yang lain, seolah takut bersentuhan pandang. Namun dari balik bulu matanya, ia mengamati langkah, napas, dan ekspresi mereka satu per satu. Tidak asing. Dua dari mereka pernah ia lihat sebelumnya—di kehidupan lamanya. Orang-orang yang berdiri di barisan belakang saat ia diseret ke aula hukuman. Orang-orang yang berpura-pura tidak mengenalnya. “Pengawas Liu,” kata salah satu kultivator sekte. “Kami ingin melihat laporan distribusi pil bulan ini.” Pengawas Balai Pil langsung membungkuk. “Tentu, tentu. Silakan ke ruang dalam.” Mereka masuk ke ruangan tertutup. Pintu ditutup. Formasi peredam suara aktif. Lin Yuan melanjutkan pekerjaannya, tapi indranya terfokus penuh. Ia tidak bisa mendengar percakapan di dalam, namun aliran qi di sekitar ruangan itu bergetar halus—sebuah tanda bahwa sesuatu yang sensitif sedang dibahas. Satu jam kemudian, rombongan itu keluar. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam. Saat melewati Lin Yuan, salah satu dari mereka berhenti sejenak. “Pekerja ini,” katanya pelan. “Baru?” Pengawas Liu tersenyum kaku. “Ya, orang biasa. Tidak penting.” Kultivator sekte itu menatap Lin Yuan beberapa detik lebih lama. Jantung Lin Yuan berdetak stabil. Tidak cepat. Tidak lambat. Ia membiarkan aura qi tingkat rendahnya bocor sedikit—cukup untuk terlihat lemah, cukup untuk terlihat tidak berguna. Akhirnya, kultivator itu mendengus pelan dan berjalan pergi. “Jangan menatap mereka,” bisik pekerja lain setelah mereka pergi. “Kau bisa mati hanya karena itu.” Lin Yuan mengangguk. Namun di dalam benaknya, sebuah kesimpulan terbentuk semakin jelas. Balai Pil ini… sudah masuk dalam lingkaran dalam sekte. Malam hari, Lin Yuan kembali ke penginapan murah di distrik luar. Kamarnya sempit, hanya cukup untuk satu ranjang kayu dan sebuah meja kecil. Ia menutup pintu, memastikan tidak ada orang di luar, lalu duduk bersila. Qi mengalir pelan di tubuhnya. Ia membuka mata dan mengeluarkan papan kayu identitas pekerja dari balik jubah. Jarinya mengusap ukiran kasar di permukaannya. Topeng ini sederhana. Namun cukup untuk mendekatinya. Keesokan harinya, Lin Yuan dipanggil ke ruang belakang Balai Pil. Di sana, Pengawas Liu duduk dengan wajah masam. “Kau,” katanya tanpa basa-basi. “Mulai hari ini, kau bantu pengiriman internal.” “Ke mana?” tanya Lin Yuan. “Tidak usah banyak tanya.” Lin Yuan mengangguk. Itu jawaban terbaik. Pengiriman internal berarti satu hal—akses lebih dalam. Ia mengantar kotak pil ke ruang-ruang yang tidak pernah dilihat pekerja lain. Lorong-lorong sempit di bawah balai, pintu-pintu dengan segel ganda, dan ruangan yang dijaga oleh kultivator sekte, bukan pegawai balai. Di salah satu ruangan itu, ia merasakan sesuatu. Aura yang sangat ia kenal. Aura yang membuat darahnya mendidih. Di balik pintu batu tertutup, seseorang sedang berbicara. “…kalau ini bocor, Dewan Bayangan tidak akan tinggal diam.” “Kota ini sudah terlalu ramai. Kita butuh kambing hitam.” Lin Yuan berhenti di depan pintu, berpura-pura mengatur kotak. Tangannya mengepal. Dewan Bayangan. Nama itu kembali muncul. Ia tidak masuk. Belum. Beberapa hari kemudian, desas-desus mulai menyebar. Seorang pengawas Balai Pil ditemukan sakit parah akibat deviasi qi. Pil yang ia konsumsi ternyata tercemar. Tidak mematikan—tapi cukup untuk membuatnya lumpuh. Kecelakaan. Setidaknya di permukaan. Lin Yuan berdiri di aula saat kabar itu dibicarakan. Ia menatap lantai. Namun di dalam kepalanya, ia tahu— Ini bukan kecelakaan. Ini peringatan. Sekte sedang menutup celahnya sendiri. Dan orang-orang seperti dirinya… akan segera dicari. Malam itu, Lin Yuan berdiri di atap penginapan, menatap Balai Pil dari kejauhan. Lampu-lampu masih menyala. Kota Tulang Putih masih tampak bersih. Namun ia bisa mencium baunya sekarang. Bau ketakutan. Bau pengkhianatan. Dan bau darah yang belum tumpah. “Tidak lama lagi,” gumamnya pelan. Topengnya masih utuh. Namun cepat atau lambat, seseorang akan mencoba merobeknya. Dan saat itu terjadi— Lin Yuan tidak akan lagi bersembunyi.Balai Pil Seratus Tulang tidak pernah benar-benar tidur.Bahkan saat malam turun dan lentera-lentera roh mulai menyala satu per satu, masih ada orang-orang yang bergerak di balik dinding putihnya. Tungku-tungku pil tetap hangat, formasi pelindung tetap aktif, dan qi samar mengalir tanpa henti di udara.Lin Yuan berjalan menyusuri lorong samping dengan langkah ringan.Di tangannya, papan identitas pekerja tingkat bawah tergantung tenang. Tidak ada yang mencurigakan dari caranya bergerak—kepalanya sedikit menunduk, bahunya agak membungkuk, seperti pekerja rendahan lain yang takut dimarahi jika terlihat malas.Namun indranya terbuka penuh.Ia sedang menjalani giliran malam.Secara resmi, tugasnya hanyalah membersihkan area tungku tua yang sudah jarang digunakan. Tempat itu berada agak jauh dari aula utama, dan biasanya hanya dipakai saat permintaan pil melonjak.Tempat yang sempurna untuk transaksi yang tidak ingin terlihat.Lin Yuan berhenti di sudut lorong dan berpura-pura mengikat kem
Kota Tulang Putih selalu terlihat paling jujur saat fajar. Kabut tipis menggantung di antara bangunan batu putih, sementara cahaya matahari menyusup perlahan dari balik tembok kota. Para kultivator mulai bermunculan, sebagian menuju balai latihan, sebagian lagi menuju Balai Pil untuk urusan yang tidak pernah bisa menunggu. Lin Yuan sudah berada di sana sebelum lonceng pagi dibunyikan. Ia berdiri di sudut halaman Balai Pil Seratus Tulang, membawa keranjang kayu berisi botol kosong. Wajahnya menunduk, langkahnya ringan, keberadaannya nyaris tidak diperhatikan. Topengnya bekerja dengan sempurna. Sejak hari pertama, tidak ada satu pun pengawas yang mengingat namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai “pekerja baru”, “yang itu”, atau sekadar “hei, kau”. Dan Lin Yuan menyukai itu. “Cepat sedikit!” bentak seorang pengawas. “Pengiriman pagi tidak boleh terlambat!” Lin Yuan mengangguk singkat dan melangkah masuk ke gudang. Gudang utama Balai Pil luas dan dingin. Rak-rak tinggi dipenuhi
Kota Tulang Putih berdiri seperti kerangka raksasa yang memutih di bawah matahari. Tembok-temboknya terbuat dari batu pucat yang dipoles hingga berkilau, seolah kota itu ingin menampilkan wajah bersih dan tertib kepada siapa pun yang datang. Jalan-jalannya lebar, tertata, dan dipenuhi para kultivator dengan jubah rapi—orang-orang yang percaya bahwa kekuatan selalu datang bersama martabat. Lin Yuan melangkah melewati gerbang kota dengan kepala sedikit tertunduk. Ia telah meninggalkan Kota Batu Hitam tiga hari lalu, menempuh perjalanan dengan kecepatan biasa. Tidak terlalu cepat agar tidak menarik perhatian, tidak terlalu lambat agar tidak terlihat mencurigakan. Di punggungnya hanya ada satu tas kain lusuh—cukup untuk menegaskan bahwa ia hanyalah seorang kultivator rendahan yang mencoba peruntungan. Begitu melewati gerbang, sebuah tekanan halus langsung menyelimuti tubuhnya. Formasi kota. Tidak mematikan, tapi cukup untuk memindai aura pendatang. Lin Yuan menahan aliran qi-
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t
Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Kabut tipis menggantung di atas Desa Batu Hitam, menyelimuti rumah-rumah kayu seperti kain kafan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki penduduk yang memulai hari—semuanya tampak normal, seolah malam berdarah itu tak pernah terjadi. Lin Yuan berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap desa dengan mata dingin. Tiga mayat telah ia kubur rapi di hutan pinus. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: Sekte Awan Giok tidak akan berhenti hanya dengan satu tim pemburu. Mereka akan mengirim orang lagi. Lebih kuat. Lebih cermat. Lebih kejam. “Kalau aku hanya menunggu,” gumam Lin Yuan, “aku akan terjebak.” Ia berbalik masuk ke rumah. Ayahnya masih tertidur, napasnya berat dan tidak teratur. Ibunya sedang menumbuk obat dengan lesung batu, wajahnya penuh kelelahan namun tetap lembut. “Ibu,” kata Lin Yuan, nadanya santai. “Beberapa hari ke depan, jangan izinkan siapa pun menginap di rumah. Tidak pedaga
Malam semakin larut di Desa Batu Hitam. Angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa aroma tanah basah dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Lin Yuan duduk bersila di lantai kamarnya, punggung tegak, kedua telapak tangan terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Namun pikirannya tajam seperti pisau. Di kehidupan sebelumnya, pada usia ini, ia masih mengikuti teknik dasar Sekte Awan Giok—metode kultivasi yang lambat, stabil, dan “benar”. Teknik itu mengajarkan kesabaran, ketenangan, dan harmoni dengan langit. Dan teknik itu membawanya pada kehancuran. Lin Yuan menarik napas dalam-dalam. Qi tipis di sekitarnya mulai berkumpul, berputar dengan lamban. Tubuhnya masih lemah, meridiannya sempit, dan dantiannya belum sepenuhnya stabil. Jika ia memaksa kultivasi tingkat tinggi, tubuhnya bisa hancur dari dalam. Namun ia tetap melakukannya. Karena teknik yang akan ia gunakan tidak memberi pilihan aman. Di benaknya, sebuah metode kultivasi muncul dengan jelas—se
Malam turun perlahan di Desa Batu Hitam. Lampu-lampu minyak menyala satu per satu di rumah-rumah kayu sederhana, memantulkan cahaya kuning redup ke jalan tanah yang sempit. Dari kejauhan, desa itu tampak damai—seperti tempat yang tak tersentuh dunia kultivasi yang kejam. Namun Lin Yuan tahu. Di
Salju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Lin Yuan berlutu







