LOGINDesa Dahlia...
"Klaraaa!!! Cepat antar bunganya!!!" Wanita bermata besar dengan rambut panjangnya itu berlari ketika suara pemilik kios terdengar memekik telinganya. Wanita cantik si pengantar bunga bernama Klara itu dengan cepat menghampiri sang tuan yang sudah berdiri di depan mobil pickup. "Maaf, Bu." Klara langsung menggotong satu per satu bunga-bunga dalam pot berukuran besar itu ke atas mobil. Ia bahkan tersenyum ketika sang majikan mendengus kesal ke arahnya. Tanpa peduli seberapa berat benda yang ia angkat, dengan semangat membara Klara melakukan tugasnya itu. "Kalo gak kasihan sama kamu, aku sudah memecatmu dari tahun lalu! Dasar lambat!" celoteh sangat pemilik Kios seraya memainkan kipas di tangannya. Sang tuan nampak sangat ketus terhadap salah seorang pegawai wanita yang terkenal sangat miskin di desanya. Ia menatap rendah wanita bernama Klara itu karena sangat bergantung pada pekerjaan yang diberikannya. Tak ada balasan dari Klara. Wanita itu malah masih bisa tersenyum menatap sang tuannya meski rasa sakit dalam benaknya teramat menyesakkan.Ia merasa jika ia tak perlu menganggap serius ucapan sang tuan yang terkesan sangat menusuk benaknya. "Bawa yang bener! Kalo sampe ada satu henda yang pecah, aku pecat kamu! Dasar miskin!" ujar sang pemilik kios sambil terus memainkan kipas di tangannya. Tak lama waktu berselang, dari kejauhan nampak sebuah mobil melintas masuk ke dalam halaman kios yang lumayan luas. Dan kedatangan mobil mewah itu membuat sang pemilik kios tersenyum sumringah. Ia berharap bahwa di dalam mobil itu adalah pelanggan baru yang siap membeli bunga-bunga di kiosnya. Ia sudah menyiapkan strategi rayuan untuk menjerat calon pembeli yang bisa saja akan membeli semua bunga yang ia jual selama ini. Klara yang sedang sibuk mengurus bunga-bunga pun mengernyitkan dahi demi bisa melihat siapa kiranya seseorang yang datang. Ada rasa penasaran ketika mobil yang tak sering ia lihat di kampungnya itu mendadak datang dan berhenti di kios tempatnya bekerja. "Sudah, kamu urus saja dulu bunganya cepat! Jangan kebanyakan ngelamun!" tegur sang tuan kios yang tidak terima melihat pegawainya ikut penasaran dengan seseorang yang baru saja datang. "Gak usah kamu ajak bicara calon pelanggan saya! Aku gak sudi wanita miskin seperti kamu pada akhirnya membuat banyak pelangganku mengurungkan niatnya untuk memesan bunga!" "Ba-baik, Bu." tanggapan Klara pelan. Akhirnya Klara pun kembali bekerja. Ia kembali mengangkat pot-pot bunga berukuran besar itu ke atas mobil. Mengabaikan perkataan tidak menyenangkan dari mulut pemilik kios dan mengabaikan rasa penasarannya. Klara merasa bahwa dirinya hanya cukup melakukan apa yang sudah seharusnya ia lakukan. Hingga kemudian langkah Klara terhenti dan kedua tangannya tanpa sadar melepas sebuah pot besar dalam genggamannya. PRAAAAAANG! Pot berukuran jumbo itu pecah dan membuat tanah beserta tanamam yang di dalamnya pun berserakan. Seketika tak hanya membuat Klara panik, sang pemilik kios kembali menghampiri dengan wajah geram. "DASAR JALANG!!!" teriak sang majikan seraya menghampiri Klara yang masih menatap seseorang dalam pandangan kosong. Wanita itu tak sedetik pun menamatkan wajah marah majikannya. Ia terfokus pada seorang wanita yang baru saja mengagetkan dirinya dengan keberadaannya yang secara mendadak. Hingga... "Klara!" Suara tegas seorang wanita yang kedatangannya membuat Karra terperangah pun mengagetkan pemilik kios. Wanita yang tengah marah itu melepas cengkeramannya pada Klara dan memutar badan untuk memastikan pemilik suara yang sangat mengagetkannya karena suara itu sangat mirip dengan suara Klara yang bekerja di kios untuknya. "ASTAGA!!!" pemilik kios terkejut. Pemilik kios bunga itu sampai jatuh terduduk ketika melihat pemandangan yang tak asing di hadapannya. Wanita itu terkejut ketika melihat wajah pegawai yang baru saja dimarahinya berlipat ganda menjadi dua. Yah! Ia sangat terkejut ketika melihat sosok Klera yang 100 persen sangatlah mirip dengan Klara-pegawainya. "Klara, ka-kamu..." PAKK!!! Mendadak dua ikat tumpukkan uang ratusan ribu memukul wajah pemilik kios. Alih-alih marah, mata wanita paruh baya itu berbinar. Uang dalam jumlah yang sangat banyak itu seketika membuat si pemilik kios mengalihkan pandangannya. Tumpukan uang itu sejenak mengagetkan mata pemilik kios yang sebelumnya sudah tak tahan lagi dengan amarahnya. Ia menyeringai lebar, lalu segera memunguti uang yang berserakan itu tanpa peduli lagi kemarahannya pada Klara. "Untuk ganti rugi. Dan hari ini adalah hari terakhir Klara bekerja di sini!" ujar Klera sinis, lalu ditariknya tangan Klara dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tak ada kata yang bisa Klara keluarkan ketika dengan sangat tiba-tiba sosok kembarannya itu datang. Ia hanya terperangah di dalam mobil dan menatap wanita yang sangat mirip dengannya itu selama di dalam mobil. Ia masih keheranan melihat keberadaan saudara kembar yang sebenarnya tidak pernah sudi menemuinya. "Kle, ke-kenapa tiba-tiba kamu ada di sini? Dan ba-bagaimana keadaan ibu di kota?" tanya Klara dengan wajah bingungnya. 2 Klera fokus pada kemudinya. Wanita perperawakan sinis itu tak sekali pun menoleh ke arah Klara. Ia berpusat pada jalanan sempit perkampungan yang dilalui olehnya. "Kle, apakah ada sesuatu yang membuatmu datang ke sini? A-apakah terjadi sesuatu dengan i-ibu?" tanya Klara yang masih sangat penasaran dengan kedatangan Klera yang sudah ia pahami bagaimana kebenciannya terhadap dirinya hanya karena wajah mereka serupa. CKIITTTT!!!! Mendadak Klera menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Seketika membuat Klara nyaris terbentur dasbor mobil milik Klera. Wanita itu menoleh ke arah Klara yang masih menatap dirinya. Ia membuka kacamata hitam miliknya dan menatap tajam mata Klara. Hingga tak lama kemudian seorang lelaki masuk ke dalam mobil itu. Seorang lelaki duduk di kursi belakang dan mengejutkan Klara yang masih dipenuhi banyak sekali pertanyaan. "Wah, kalian benar-benar sangat mirip!" ujar lelaki yang tidak lain adalah Bastian yang merupakan kekasih gelap Klera dengan siasat gilanya. Bastian bertepuk tangan riang seolah sedang bersuka cita akan sesuatu. Mendapati sang kekasih tertegun dan tak berhenti tersenyum, Klera pun menatap sosok Bastian sinis. Dan tatapan itu pun membuat Bastian terkekeh. "Jangan terus memandangnya!" tukas Klera cemburu. "Maafkan aku, Sayang! Aku tak bermaksud membuatmu marah, aku hanya merasa sangat terkejut melihat kalian yang nyata benar-benar serupa!" ujar Bastian yang tak berhenti menatap Klara dan Klera secara bergantian. "Diamlah di tempatmu, Bastian! Jangan terlalu banyak bicara dan membuatku kesal!" tanggap Klera yang kembali dingin. "Ah, baiklah. Kalau begitu aku akan diam di dalam sini." ujar Bastian seraya meraih sebuah majalah dari belakang kursi Klera dan menutup wajahnya dengan benda itu. Kini hanya Klara dan Klera yang saling menatap satu sama lain. Sementara Bastian hanya bisa mengintip dua wanita itu dari balik majalah yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Lelaki itu masih sangat terkagum-kagum setelah meyakini bahwa Klera memiliki seseorang yang sangat mirip dengannya. Ia kagum dengan dua wajah yang sama cantiknya di matanya. Saudari kembar yang sempurna! Tak satu pun dari fisik mereka yang memiliki perbedaan tertentu. "Kau harus menjadi diriku selama aku pergi ke luar negeri!" tukas Klera sinis. Klara memgernyitkan dahi. Wanita itu masih tak begitu mengerti dengan maksud kembarannya. "A-apa maksudmu?" tanyanya yang masih sangat bingung. Klera meraih dagu kembarannya. Ia mendekatkan wajah Klara pada wajahnya. Ditatap mata sang kembaran yang selama ini sangat dibencinya. Menatap sini wajah cantik Klara yang benar-benar sangat mirip dengannya. "Apa kau ingin dekat dengan ibu?" tanya Klera kemudian. Satu siasat licik ia keluarkan melihat bagaimana kepolosan Klara selama ini. "I-ibu?" tanya Klara terbata. Kedua mata Klara berkaca-kaca. Mendengar kata ibu membuat hatinya terenyuh meski luka di masa lalu masih sangat jelas ia rasakan. Kerinduannya itu membuatnya kembali menggantungkan harapkan saat Klera menyinggungnya. "Penglihatan ibu tidak begitu jelas setelah ibu berusia 65 tahun di tahun ini. Dan apakah ini akan sangat menyenangkan bagimu yang selama ini mendambakan pelukan ibu yang dalam seumur hidupnya akan selalu membencimu, Klara?" Klara terdiam. Ia menggigit ujung bibirnya karena merasakan sesuatu dalam benaknya. Ia merasa sesak karena kerinduannya terhadap sang ibu yang sangat membenci kelahirannya selama ini. Yah! Klara adalah satu buah hati yang di buang oleh wanita itu setelah kematian suaminya. Wanita itu memberikan Klara kehidupan di desa dan menjauh darinya. Ia hidup menanggung kebencian sang ibu yang sangat menyesali kepergian mendiang suaminya ketika ia menyelamatkan Klara dari satu peristiwa. Melihat bagaimana wajah penuh harap itu berlaku membuat Klera tersenyum licik. Ia sudah sangat mengerti bahwa impian Klara untuk bisa dekat dengan sang ibu yang selama ini membuangnya akan melancarkan semua rencananya. Maka Klera pun tersenyum. Dengan senyum itu Ia menatap Klara yang juga masih menatap matanya. Perlahan Ia memainkan kuku panjangnya di sekitar garis wajah rupawan Klara yang sangat mirip dengannya. Ia tersenyum lebar dan mulai menghayalkan sesuatu yang sangat diinginkan olehnya. "Jika kau ingin melihat ibu, maka kau harus menjadi diriku selama 100 hari! Bagaimana?""Lakukan saja di sini Bastian! Ku mohon lakukan! Aku tak mau menundanya!"Kecupan gila itu membuat Klera tak bisamenahan hasrat gilanya pada Bastian. Di pagi yang cerah ini mereka sibuk bergumul di atas sofa ruang kerja Bastian.Bahkan beberapa ketukan dari pegawai maupun sekretaris pun mereka abaikan karena pertempuran asmara yang sudah benar-benar tak tertahankan itu.Bastian sudah pasti semakin menikmati sentuhan itu! Lelaki biadab itu sangat bahagia menguasai tubuh Klera yang belum sekali pun benar-benar disentuh oleh Daniel. Beberapa butir kancing pun mulai terlepas dari pakaian yang dikenakan Klera karena keliaran Bastian. Erangan dan desahan memuncak ketika tatapan serta sentuhan gila keduanya saling beradu. Tapi...Tokk... Tokk... Tokk..."Bas, apa kau di dalam?!"Suara lantang Daniel membuat keduanya terpaku. Kedatangan Daniel yang secara mendadak sontak membuat keduanya kebingungan. Mereka pun berlarian ke sana ke mari untuk merapikan beberapa benda yang jatuh agar tak menu
Lima hari kemudian..."Aku hanya melakukan ini demi ibu. Aku harus bisa melalui semuanya!"Klara berusaha meyakinkan keputusan gilanya itu. Ia beberapa kali mengangguk dan mencoba untuk memberi semangat pada dirinya sendiri. Pilihannya saat ini hanyalah semata demi satu keberadaan dirinya agar bisa merasakan kasih sayang sang ibu yang tak pernah ia dapatkan sejak usia dini.Klara melangkahkan kakinya ketika dua orang pelayan membukakan pintu rumah yang sangat megah itu untuknya. Dengan dandanan mewah yang sudah Klera siapkan sebelum keberangkatannya, Klara masuk ke dalam kediaman Daniel Craig yang merupakan suami dari adik kembarannya itu.Langkah demi langkah yang penuh keraguan itu membuat Klara kian gelisah. Peluh di sekujur tubuh pun seakan membuatnya tak mampu lagi untuk berjalan dengan sangat anggun seperti bagaimana Klera selama ini. Hingga kedua kakinya terhenti saat ia melihat seorang Daniel tengah menikmati sarapan di meja makan seorang diri. Lelaki itu bahkan tidak menoleh
Desa Dahlia..."Klaraaa!!! Cepat antar bunganya!!!"Wanita bermata besar dengan rambut panjangnya itu berlari ketika suara pemilik kios terdengar memekik telinganya. Wanita cantik si pengantar bunga bernama Klara itu dengan cepat menghampiri sang tuan yang sudah berdiri di depan mobil pickup."Maaf, Bu."Klara langsung menggotong satu per satu bunga-bunga dalam pot berukuran besar itu ke atas mobil. Ia bahkan tersenyum ketika sang majikan mendengus kesal ke arahnya. Tanpa peduli seberapa berat benda yang ia angkat, dengan semangat membara Klara melakukan tugasnya itu."Kalo gak kasihan sama kamu, aku sudah memecatmu dari tahun lalu! Dasar lambat!" celoteh sangat pemilik Kios seraya memainkan kipas di tangannya.Sang tuan nampak sangat ketus terhadap salah seorang pegawai wanita yang terkenal sangat miskin di desanya. Ia menatap rendah wanita bernama Klara itu karena sangat bergantung pada pekerjaan yang diberikannya.Tak ada balasan dari Klara. Wanita itu malah masih bisa tersenyum me
Klera mencoba tetap santai meski keresahan menyerbu batinnya. Wanita itu meraih tisu ditangan Daniel perlahan, lalu menempelkan tubuhnya pada tubuh Daniel. Di tatapnya Daniel dengan tatapan penuh hasrat dan meraba dada bidang suaminya. Memainkan satu peran baru untuk menutupi perbuatan gilanya selama ini. Bagaimanapun juga Daniel tak boleh tahu apa yang ia lakukan dengan Bastian hari ini."Aku bermain solo hari ini. Karena aku sudah terlalu menginginkanmu hari ini." bisiknya yang secara perlahan menjatuhkan tubuh besar itu di atas ranjang.Dengan wajah menggoda itu Klera menimpah tubuh Daniel. Dilepasnya satu persatu kancing baju Daniel dan memandangi wajahnya dengan tatapan tajam. Manatap wajah tampan suaminya dengan gejolak hasrat yang jua terkadang ia simpan saat memperhatikan postur tubuh menggiurkan pada diri suaminya yang selalu bersikap dingin padanya itu.Tapi kemudian..."Aku lelah! Jangan menyentuhku!" ujar Daniel seraya menghadang tangan Klera yang hampir melepas semua kanc
"Ah, sekali lagi! Lakukan lagi lebih keras!"Klera mencium Bastian dengan sangat buas di atas ranjangnya. Ia menggunakan kesempatan itu selagi Daniel-suaminya bertugas di luar kota. Bastian dengan senang hati meladeni mantan kekasihnya itu. Selain karena dendamnya akan Daniel si sulung, Bastian tak memungkiri jika rasa suka itu masih ada di benaknya.Yah! Sekitar setahun yang lalu Bastian harus merelakan kekasihnya yang bernama Klera untuk menikahi kakaknya! Semua karena desakan sang ayah yang ingin Daniel segera menyudahi masa lajangnya di usia 38 tahun itu. Ia ingin putra sulungnya segera memiliki momongan dan meneruskan perusahaannya.Hati mana yang tak lara ketika harus mengikhlaskan sang kekasih untuk sang kakak yang juga menyanggupi keinginan sang ayah demi bisnisnya! Maka pelampiasan hasrat Bastian pun terus bergulir untuk ia jadikan cambuk terpanas yang akan melukai perasaan Daniel dikemudian hari. Ia ingin menjadi sosok ayah dari anak yang akan Klera kandung agar semua aset j







