Share

Twins | 05

Author: Kookie
last update Last Updated: 2026-01-02 10:10:03

"Lakukan saja di sini Bastian! Ku mohon lakukan! Aku tak mau menundanya!"

Kecupan gila itu membuat Klera tak bisa

menahan hasrat gilanya pada Bastian. Di pagi yang cerah ini mereka sibuk bergumul di atas sofa ruang kerja Bastian.

Bahkan beberapa ketukan dari pegawai maupun sekretaris pun mereka abaikan karena pertempuran asmara yang sudah benar-benar tak tertahankan itu.

Bastian sudah pasti semakin menikmati sentuhan itu! Lelaki biadab itu sangat bahagia menguasai tubuh Klera yang belum sekali pun benar-benar disentuh oleh Daniel. Beberapa butir kancing pun mulai terlepas dari pakaian yang dikenakan Klera karena keliaran Bastian. Erangan dan desahan memuncak ketika tatapan serta sentuhan gila keduanya saling beradu. Tapi...

Tokk... Tokk... Tokk...

"Bas, apa kau di dalam?!"

Suara lantang Daniel membuat keduanya terpaku. Kedatangan Daniel yang secara mendadak sontak membuat keduanya kebingungan. Mereka pun berlarian ke sana ke mari untuk merapikan beberapa benda yang jatuh agar tak menuai curiga.

"Bagaimana ini, Sayang?" tanya Klera gugup sembari menggigit ujung bibirnya.

Bastian nampak kebingungan. Lelaki itu bingung untuk mencari tempat persembunyian yang aman untuk Klera.

"Lemari!" tunjuknya kemudian pada sebuah lemari besar yang ada di sudut ruang. Lalu dengan sigap ia menarik Klera dan menyembunyikan wanita itu di lemari panjang yang kebetulan tidak ada banyak benda di dalamnya.

"Tapi di sana pengap, Bas!" protes Klera yang tentu saja keberatan dengan langkah Bastian.

Bastian yang sudah tidak tahan karena pintu ruangannya di ketuk pintu meraih wajah Klera. Dengan tatapan tajam ia membuat Klera bersedia mendengar permintaannya.

"Kau mau bertahan di dalam lemari pengap itu atau tak bisa bernapas di hadapan suamimu?"

Klera sejenak memandang bagaimana kiranya suasana pengap dalam lemari kecil yang sudah dibuka oleh Bastian. Lalu kedua matanya terfokus pada bunyi ketukan pintu oleh suaminya.

"Sudah, cepatlah masuk!!!"

Akhirnya karena panik Bastian mendorong Klera hingga masuk ke dalam lemari itu. Ia bahkan dengan sangat cepat menutup serta mengunci lemari itu. Membuat Klera seketika terdiam karena masih dikejutkan dengan dorongan kuat yang memaksanya masuk ke dalam lemari.

"Selagi lelaki brengsek itu di sini, jangan membuat suara Klera!" titah Bastian yang kemudian kembali melangkah untuk membukakan pintu ruangan kerjanya.

Lelaki itu disambut dengan wajah keheranan Daniel ketika ia membuka pintu lemari. Lelaki itu memandang Bastian setelah akhirnya masuk ke dalam ruangan dan melayangkan pandangannya ke berbagai arah.

"Lama sekali kau membukakan pintu untukku? Apa telah terjadi sesuatu di sini?" tanya Daniel sambil terus memperhatikan Bastian yang sudah berdiri dengan keringat dingin di wajahnya.

Bastian hanya tersenyum, lalu menyilahkan sang kakak untuk duduk di sofa. Maka dengan perlahan Daniel yang arogan itu pun duduk dan memandangnya dengan tatapan keheranan. Satu alis Daniel terangkat ketika memandang Bastian yang nampak sangat tidak tenang di hadapannya.

"Kenapa wajahmu pucat? Apa kau sakit?" tanyanya kemudian.

Bastian menggeleng perlahan, lalu mengeluarkan selembar sapu tangan dari kantong jas yang dikenakannya dan membersihkan peluh di sekitar wajahnya.

"Aku hanya sedikit merasa tak enak badan setelah kunjunganku ke pabrik tempo hari!" jelasnya.

"Ah, jadi begitu rupanya!" Daniel mengangguk pelan. "Pantas saja kau tiba-tiba mengajukan cuti ketika perusahaan kita sedang dalam penilaian pakar pangan bulan depan."

Lagi-lagi Bastian hanya tersenyum ketika Daniel menyebut niatnya untuk cuti. Ia tak bisa membayangkan jika seandainya sang kakak yang sangat pemarah itu tahu tujuan asli mengapa ia mengajukan cuti secara cepat. Namun demi menjaga hubungan serta keselamatannua bersama Klera, mau tidak mau Bastian harus menahan segala rasa resah di benaknya. Lelaki itu mencoba untuk tetap kuat di tengah pandangan tajam milik Daniel mengarah padanya.

"Maafkan aku, Kak. Tapi aku sudah tidak kuat dengan beberapa masalah pabrik beberapa bulan yang lalu. Maka dari itu aku merasa bahwa tahun ini sudah saatnya aku mengajukan cuti setelah sekian lama menahan diri untuk bertahan menghadapi segala masalah di perusahaan!"

Daniel mengangguk pelan. Lalu perlahan ia menyilangkan satu kakinya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang ada di belakang tubuhnya.

"Kau mengajukan libur selama 100 hari!" seru Daniel dengan senyuman dinginnya. "Aku merasa sangat aneh. Karena itu bukan terdengar seperti cuti, Bastian. Seratus hari yang kamu minta itu sama dengan berhenti sementara di kedudukanmu sebagai seorang direktur!"

Yah! Bagi Daniel, semua akan mengalami kendala ketika satu personil penting dalam perusahaan kosong dalam waktu yang lumayan lama. Dan lagi alasan Bastian untuk berlibur menurutnya sangatlah aneh dan berlebihan untuk seseorang yang ingin bebas dari pekerjaan selama 100 hari.

Melihat gelagat tak suka dari Daniel akan pengajuan cuti dirinya, maka Bastian dengan wajah memelas pun akhirnya memohon di hadapan Daniel lelaki itu merelakan diri untuk merendah di depan sosok kakak yang sangat dibencinya.

"Tolong, Kak! Sekali ini ku mohon untuk mengijinkan aku pergi dalam waktu yang cukup lama untuk membebaskan lelah di otakku selama ini!" pintanya seraya meraih dua tangan Daniel.

"Lalu bagaimana dengan posisi yang kau kosongkan selama seratus hari ini?!" tanya Daniel dingin.

Seketika pandangan muram di wajah Bastian berubah menjadi riang. Lelaki yang sedang mengingat sesuatu itu pun beranjak dari posisinya dan duduk di samping Daniel. Bastian merangkul Daniel dan menatap sang kakak dengan pandangan hangat. Ia juga memamerkan senyum lebar itu pada sang kakak yang sangat jarang nampak tersenyum.

"Bagaimana dengan Klera, Kak?!" sahut Bastian kemudian.

Kening Daniel berkerut menatap sang adik yang kian aneh menurutnya. Ia merasa aneh melihat binar mata gembira milik Bastian.

"Apa maksudmu dengan Klera?" tanyanya.

Bastian merangkul akrab sang kakak. Dengan wajah sumringah itu ia membuat seorang Daniel yang dingin semakin penasaran.

"Ku dengar jika Klera sangat pintar mengolah perusahaan kecil. Dan lagi ia merupakan seorang ibu rumah tangga biasa nan rapi." sahut Bastian antusias. "Jadi, selama aku berlibur ke luar negeri selama 100 hari, Klera akan menjabat sebagai direktur perencanaan sementara untuk menggantikan diriku!"

Kening Daniel semakin berkerut menanggapi keinginan sang adik.

"Jadi, kau ingin istriku mengolah perusahaan ini bersamaku selagi kau tidak ada?!"

Maka Bastian dengan cepat menganggukkan kepala. Lelaki itu nampak kian optimis jika idenya akan sangat dengan mudah Daniel terima. Dan Ia pun menantikan respon Daniel. Memandang wajah lelaki super tegas itu di hadapannya.

"Baiklah, akan aku pertimbangkan untuk mempekerjakan istriku selama kau tidak ada."

Riang setelah mendengar respon Daniel, Bastian pun memeluk erat sang kakak. Lalu perlahan melepas pelukan itu untuk berterima kasih pada Daniel.

"Terimakasih, Kak! Kau memang yang terbaik!" sanjungnya riang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 100 Hari Berpura-Pura Jadi Istri Kakak Ipar   Twins | 05

    "Lakukan saja di sini Bastian! Ku mohon lakukan! Aku tak mau menundanya!"Kecupan gila itu membuat Klera tak bisamenahan hasrat gilanya pada Bastian. Di pagi yang cerah ini mereka sibuk bergumul di atas sofa ruang kerja Bastian.Bahkan beberapa ketukan dari pegawai maupun sekretaris pun mereka abaikan karena pertempuran asmara yang sudah benar-benar tak tertahankan itu.Bastian sudah pasti semakin menikmati sentuhan itu! Lelaki biadab itu sangat bahagia menguasai tubuh Klera yang belum sekali pun benar-benar disentuh oleh Daniel. Beberapa butir kancing pun mulai terlepas dari pakaian yang dikenakan Klera karena keliaran Bastian. Erangan dan desahan memuncak ketika tatapan serta sentuhan gila keduanya saling beradu. Tapi...Tokk... Tokk... Tokk..."Bas, apa kau di dalam?!"Suara lantang Daniel membuat keduanya terpaku. Kedatangan Daniel yang secara mendadak sontak membuat keduanya kebingungan. Mereka pun berlarian ke sana ke mari untuk merapikan beberapa benda yang jatuh agar tak menu

  • 100 Hari Berpura-Pura Jadi Istri Kakak Ipar   Twins | 04

    Lima hari kemudian..."Aku hanya melakukan ini demi ibu. Aku harus bisa melalui semuanya!"Klara berusaha meyakinkan keputusan gilanya itu. Ia beberapa kali mengangguk dan mencoba untuk memberi semangat pada dirinya sendiri. Pilihannya saat ini hanyalah semata demi satu keberadaan dirinya agar bisa merasakan kasih sayang sang ibu yang tak pernah ia dapatkan sejak usia dini.Klara melangkahkan kakinya ketika dua orang pelayan membukakan pintu rumah yang sangat megah itu untuknya. Dengan dandanan mewah yang sudah Klera siapkan sebelum keberangkatannya, Klara masuk ke dalam kediaman Daniel Craig yang merupakan suami dari adik kembarannya itu.Langkah demi langkah yang penuh keraguan itu membuat Klara kian gelisah. Peluh di sekujur tubuh pun seakan membuatnya tak mampu lagi untuk berjalan dengan sangat anggun seperti bagaimana Klera selama ini. Hingga kedua kakinya terhenti saat ia melihat seorang Daniel tengah menikmati sarapan di meja makan seorang diri. Lelaki itu bahkan tidak menoleh

  • 100 Hari Berpura-Pura Jadi Istri Kakak Ipar   Twins | 03

    Desa Dahlia..."Klaraaa!!! Cepat antar bunganya!!!"Wanita bermata besar dengan rambut panjangnya itu berlari ketika suara pemilik kios terdengar memekik telinganya. Wanita cantik si pengantar bunga bernama Klara itu dengan cepat menghampiri sang tuan yang sudah berdiri di depan mobil pickup."Maaf, Bu."Klara langsung menggotong satu per satu bunga-bunga dalam pot berukuran besar itu ke atas mobil. Ia bahkan tersenyum ketika sang majikan mendengus kesal ke arahnya. Tanpa peduli seberapa berat benda yang ia angkat, dengan semangat membara Klara melakukan tugasnya itu."Kalo gak kasihan sama kamu, aku sudah memecatmu dari tahun lalu! Dasar lambat!" celoteh sangat pemilik Kios seraya memainkan kipas di tangannya.Sang tuan nampak sangat ketus terhadap salah seorang pegawai wanita yang terkenal sangat miskin di desanya. Ia menatap rendah wanita bernama Klara itu karena sangat bergantung pada pekerjaan yang diberikannya.Tak ada balasan dari Klara. Wanita itu malah masih bisa tersenyum me

  • 100 Hari Berpura-Pura Jadi Istri Kakak Ipar   Twins | 02

    Klera mencoba tetap santai meski keresahan menyerbu batinnya. Wanita itu meraih tisu ditangan Daniel perlahan, lalu menempelkan tubuhnya pada tubuh Daniel. Di tatapnya Daniel dengan tatapan penuh hasrat dan meraba dada bidang suaminya. Memainkan satu peran baru untuk menutupi perbuatan gilanya selama ini. Bagaimanapun juga Daniel tak boleh tahu apa yang ia lakukan dengan Bastian hari ini."Aku bermain solo hari ini. Karena aku sudah terlalu menginginkanmu hari ini." bisiknya yang secara perlahan menjatuhkan tubuh besar itu di atas ranjang.Dengan wajah menggoda itu Klera menimpah tubuh Daniel. Dilepasnya satu persatu kancing baju Daniel dan memandangi wajahnya dengan tatapan tajam. Manatap wajah tampan suaminya dengan gejolak hasrat yang jua terkadang ia simpan saat memperhatikan postur tubuh menggiurkan pada diri suaminya yang selalu bersikap dingin padanya itu.Tapi kemudian..."Aku lelah! Jangan menyentuhku!" ujar Daniel seraya menghadang tangan Klera yang hampir melepas semua kanc

  • 100 Hari Berpura-Pura Jadi Istri Kakak Ipar   Twins | 01

    "Ah, sekali lagi! Lakukan lagi lebih keras!"Klera mencium Bastian dengan sangat buas di atas ranjangnya. Ia menggunakan kesempatan itu selagi Daniel-suaminya bertugas di luar kota. Bastian dengan senang hati meladeni mantan kekasihnya itu. Selain karena dendamnya akan Daniel si sulung, Bastian tak memungkiri jika rasa suka itu masih ada di benaknya.Yah! Sekitar setahun yang lalu Bastian harus merelakan kekasihnya yang bernama Klera untuk menikahi kakaknya! Semua karena desakan sang ayah yang ingin Daniel segera menyudahi masa lajangnya di usia 38 tahun itu. Ia ingin putra sulungnya segera memiliki momongan dan meneruskan perusahaannya.Hati mana yang tak lara ketika harus mengikhlaskan sang kekasih untuk sang kakak yang juga menyanggupi keinginan sang ayah demi bisnisnya! Maka pelampiasan hasrat Bastian pun terus bergulir untuk ia jadikan cambuk terpanas yang akan melukai perasaan Daniel dikemudian hari. Ia ingin menjadi sosok ayah dari anak yang akan Klera kandung agar semua aset j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status