Part 2 - Bertemu Sang Raja

Fataya tidak tau harus bersikap seperti apa kini. Ia tengah duduk tidak nyaman di ruang tamunya.

Fataya melirik ke samping, pada sesosok pria yang dihormati oleh seluruh rakyat di negeri Noble tempat ia tinggal.

Menggigit bibir dan semakin merasa tidak nyaman dengan keheningan yang terus terjadi selama setengah jam terakhir, Hasan meraih tangan Fataya dan menatap lembut gadis itu. Ia tersenyum tipis, menenangkan Fataya.

"Maafkan saya, Yang Mulia. Tetapi, apa gerangan yang membuat Anda datang kemari?" Hasan membuka percakapan, sama sekali mengabaikan tatapan beberapa pengawal kerajaan yang berdiri tak jauh dari sana yang menatapnya setengah terkejut.

Bagaimana mungkin seorang rakyat jelata berani bertanya dan berbicara lebih dulu dari pada raja mereka?

Rafael yang sejak tadi tampak memperhatikan seisi rumah dengan miris menatap Hasan. Sejenak, tatapan Rafael terpaku pada tangan Hasan yang menggenggam tangan Fataya.

"Kalian bersaudara?" Rafael mengangkat alis, sesekali melirik tangan Hasan dan Fataya yang masih saling menyatu.

"Bukan," jawab Hasan. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada Fataya.

"Kami akan menikah," jawab Hasan. Ia menoleh, tersenyum lembut pada Fataya. "Dia calon istriku."

"Calon istri?" Rafael mengerutkan dahi, tampak tidak senang terhadap apa yang baru ia dengar.

Tatapannya kini tertuju sepenuhnya pada Fataya. Dan lagi-lagi, hati Rafael berdebar-debar. Mata biru cemerlang gadis itu mampu membuat Raja Negeri ini menahan napas terkesima.

"Oh, baiklah kalau begitu," ucap Rafael dengan kaku. Sepertinya acara lamar melamar pada hari ini harus ia urungkan. Rafael harus memikirkan sesuatu untuk membuat keadaan menguntungkan baginya lebih dulu.

"Iya, Yang Mulia," jawab Hasan penuh sopan santun.

Rafael berdiri lalu tampak berpikir sejenak. "Kalian belum menikah tapi sudah tinggal berdua di sini?" Ia menatap bergantian pada Hasan dan Fataya yang kini menunduk malu.

"Bukan seperti itu. Kami tinggal terpisah. Hanya saja kami ...,"

Ucapan Hasan berhenti di sana karena dipotong oleh Fataya. Jika tadi ia tampak malu dan segan, karena ini menyangkut hubungannya dengan Hasan, gadis berkulit putih tersebut menjelaskan dengan antusias.

"Kami akan segera menikah, Yang Mulia. Jadi, tadi sebelum Yang Mulia mengetuk pintu, kami sedang akan membuat sebuah program penting demi masa depan ...,"

Hasan membekap mulut Fataya sebelum berbicara lebih jauh sehingga bisa mempermalukan mereka berdua di hadapan Raja Rafael bersama beberapa pengawal yang diam-diam berdiri mendengarkan dengan kepo.

"Hehehe, maksudnya, kami sedang membuat ... eum ... itu ... rencana demi ... menyejahterakan negeri ini!" tukas Hasan terbata, bingung bagaimana membuat kalimat tersebut bisa terdengar lebih masuk akal.

Bukankah membuat bayi termasuk menyejahterakan negeri? Sebuah kerajaan tidak akan berdiri tanpa ada rakyat bukan? Dan menurut Hasan, ia tidak berbohong saat mengatakan hal itu pada Rajanya. Hasan hanya ingin ia bisa terus bersikap sopan sebagai rakyat biasa atau bisa-bisa nyawanya dipenggal.

Belum nikah, nggak boleh membuat keributan dulu! Aku butuh cari tahu bagaimana rasanya ena-ena! Apakah sama seperti novel-novel erotis yang sudah aku baca selama ini? batin Hasan mulai melantur.

Coba aja tadi malam Fataya nggak ketiduran setelah mandi, udah habis dia aku terkam. Kira-kira, tadi model dalaman apa ya yang dipakai sama dia?

Pikiran Hasan terus melantur. Pada kejadian tadi malam maupun beberapa jam yang lalu sebelum pintu diketuk dan mereka terkejut karena kedatangan orang nomor satu di negeri ini.

Jadi, rencana untuk membobol gawang Fataya tadi malam gagal total dikarenakan setelah ciuman-ciuman panas, Fataya malah merengek ingin mandi dulu. Hasan sudah meyakinkan jika tidak apa-apa, ia tidak keberatan dengan bau keringat Fataya yang sedikit asem-asem kecut, tapi Fataya menolak dengan tegas.

"Tidak! Tidak bisa seperti itu, dong! Malam pertama itu harus wangi. Aku mau mandi kembang mawar dulu, ya. Kau juga harus mandi. Aku ingin kita sama-sama harum agar nanti bayi pertama yang kita cetak berbau harum juga! Kuntilanak aja harum, masa anak kita kalah?"

Kira-kira begitulah ucapan Fataya. Dan saat Hasan sudah harum. tampan dan terlihat keren seperti Leonardo Di Caprio sewaktu menjadi tokoh utama di film Titanic, ia justru menemukan Fataya tertidur di ranjang yang entah sejak kapan sudah gadis itu taburi dengan bunga kamboja. 

Lagipula sejak kapan Fataya memetik bunga kamboja tersebut?!

Lalu pagi ini, setelah mereka sarapan dan mandi dan baru akan melakukan sesuatu yang gagal tadi malam, eh, malah ada Raja datang. Proses bobol membobol gawang pun akhirnya harus tertunda lagi.

Hasan jadi sedikit kesal.

Rafael menyipitkan mata, berusaha mengartikan makna dibalik kalimat Hasan, tapi baru lima detik berpikir, ia sudah menyerah. Perihal pikir memikir adalah tugas dari para menteri. Rafael hanya perlu mengatakan 'iya' jika suka dan 'tidak' jika ia tidak suka.

Semudah itulah menjadi seorang Raja Noble.

"Baiklah kalau begitu." Rafel mengangguk, diam-diam mengamati interaksi antara Hasan dan Fataya yang membuat ia cemburu.

Duh, hati! Beginikah perasaan seorang jomlo melihat pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara? Nyesek!

Rafael berdehem, membuat Hasan dan Fataya yang tadi berdebat kecil kembali fokus pada sang Raja.

"Jika kau mau, aku bisa memberikanmu rumah yang lebih besar daripada rumahmu ini, Rosalyne," kata Rafael, mencoba memancing Fataya.

Fataya memang dari tadi tau jika Rafael merasa tidak nyaman di rumah gubugnya, tapi mau bagaimanapun, rumah ini adalah rumah penuh kenangan yang ia punya bersama kedua orang tuanya. Fataya merasa tidak berhak meninggalkan rumah yang sudah ia tinggali selama delapan belas tahun.

"Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia Raja. Tapi bagiku, rumah ini sudah sangat cukup," tutur Fataya sopan.

Jujur saja, Rafael sedikit terkejut mendengar penolakan halus dari gadis itu. Rafael pikir Fataya akan menerima tawaran yang ia berikan karena jarang-jarang seorang Raja mendatangi rumah rakyat jelata, bertemu langsung dan menawari hadiah seperti itu.

Rafael yakin, para gadis maupun janda Negeri Noble rela menjadi selir atau simpanannya dengan sukarela. Terbukti dari beberapa kotak kritik dan saran yang di pasang di beberapa tiang dan papan pengumuman untuk pihak kerajaan sembilan puluh persen berisi surat cinta beramplop merah muda dari para perempuan untuk Rafael.

Sungguh, jika Rafael mau, ia bisa saja mengambil seratus orang wanita negerinya untuk tinggal di istana saat ini juga. Namun Rafael memilih tidak melakukannya.

Dulu, mendiang ayahnya pernah melakukan hal itu. Sudah memiliki istri tapi mengambil sepuluh orang selir, sehingga terjadilah kegiatan racun meracuni antar satu selir ke selir lain. Terakhir yang Rafael ingat, ayahnya pun akhirnya mati karena keracunan akibat salah memakanan makanan dari selir yang sedang berperang diam-diam tersebut.

Sungguh ironis.

"Kau yakin tidak mau?" tanya Rafael memastikan.

Fataya mengangguk yakin, tak ada sedikitpun keraguan yang terpancar di wajah ayunya.

"Iya, Yang Mulia."

Rafael mengangguk. "Baiklah," ucapnya. Karena rencana pertama mengiming-imingi gadis itu dengan harta sudah gagal, Rafael memikirkan cara lain dengan cepat. Pandangannya lalu jatuh pada pria bermata hazel.

"Tuan Gressam, berapa usiamu?" tanya Rafel.

"Dua puluh tahun, Yang Mulia," jawab Hasan.

"Aku mengerti," tukas Rafael. Ia berdiri, diikuti oleh Hasan dan Fataya.

Rafael memberikan isyarat pada para pengawal bahwa ia akan segera pamit dan para pengawal menunduk, satu per satu berjalan keluar rumah.

"Kalau begitu, aku permisi dulu. Mari berjumpa di lain waktu," tutup Rafael, tersenyum penuh arti. Setelah mendapat info secukupnya, kini Rafael tau apa yang harus ia lakukan untuk memisahkan dua sejoli ini.

Hasan dan Fataya mengangguk, lalu mengantarkan Rafael hingga ke depan rumah.

Mereka berdua tidak tau, jika hari itu adalah hari terakhir mereka bisa tertawa dan menghabiskan waktu berdua.

Karena di hari berikutnya, kehidupan mereka dirampas dengan kejam oleh Raja yang dibutakan oleh cinta ...

Bersambung ...

DMCA.com Protection Status