Home / Romansa / 3 Stages of Grief / 6. Sweet Lies

Share

6. Sweet Lies

Author: Ann Pearl
last update publish date: 2026-02-19 13:35:45

Dengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya.

"Farley sudah tiada kan?"

Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong.

"Ayo pergi sekarang, Ben." 

Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farley dalam kepala Julie tidaklah sesederhana itu.

"Julie tunggu." panggilnya, berusaha menjangkau tangan Julie yang ringkih, rapuh, dan setengah bernyawa.

"Tidak, Ben. Ayo pergi. Kumohon." ucapnya dengan suara yang hampir ditelan kebisingan daun-daun yang jatuh.

Jeanette yang ada diantara momen itu, berusaha meraih Julie, namun nihil. Yang ia dapati di balik pelupuk mata Julie, hanya harapan kosong akan kebohongan yang tidak nyata. Ia berdiri kaku, membeku. Seraya ia menyaksikan pemandangan mobil Ben dan Julie yang menghilang ditelan kejauhan.

***

Begitu tiba di rumahnya, Julie melangkah cepat tanpa memedulikan keberadaan apa pun di sekitarnya. Pintu rumahnya ia buka dengan kasar, meneriakkan nama ibunya berkali-kali seolah hanya itu sisa suara yang ia miliki. Kemudian, ia menemukan ibunya . Tengan berdiri dengan sorot mata yang kebingungan, berusaha mencari jawaban dengan melirik ke arah Ben yang saat itu berada tepat di belakang Julie.

Namun, ibunya hanya menemukan Ben dengan ekspresi wajah dipenuhi rasa bersalah. Bahkan, saat itu Ben pun seolah hilang ditelan kenyataan yang meremukkan relung hatinya.

Sang ibu meraih kedua bahu Julie, melebarkan manik dan menatap ke dalam setiap sudut mata putrinya itu. "Julie, Julie, sadarlah."

"Ibu, katakan sejujurnya." 

Hanya satu kalimat itu, Ibunya menyadari arti dibalik rasa bersalah yang sejak tadi menggelayuti udara di sekeliling Ben. Bahwa, inilah yang ibunya inginkan sejak lama, inilah yang ia ingin putrinya tahu. Fakta dimana mereka sudah mengalami kehilangan yang mungkin tidak akan pernah ada penawarnya.

"Itu benar. Apa pun yang kau dengar. Itu benar." ucap ibunya.

Jika mengulik kejujuran paling dalam di hati sang ibu, ia hanya menginginkan bahwa Julie tidak terperangkap dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri, sekali pun hal itu akan mengambil separuh cahaya dari jiwa putrinya.

"Bohong." ucap Julie parau, dengan ujung kata yang diucapkan seolah masih tersangkut di tenggorokan.

Julie terdiam sejenak, otaknya seperti dipenuhi kabut. Rasa marah mulai memenuhi dadanya, dan saat itu juga, ia menatap ibunya dengan penuh amarah yang lebih liar. "Kau... kau berbohong!" teriaknya lagi.

Namun, tak peduli berapa ratus kali pun ia meneriakkan kata itu, ibunya tak berkedip sama sekali seolah apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang sesungguhnya. Semua harapan Julie-lah yang kini hanyalah kebohongan.

Ia berpaling ke Ben, yang berdiri terdiam di dekat pintu, menatapnya dengan penuh keputus-asaan. "Ben, beri tahu aku yang sebenarnya!" serunya dengan suara penuh desakan, seolah Ben adalah satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban. Ben menatapnya, namun ia tak melontarkan sepatah kata pun. Hanya air matanya yang terus jatuh tanpa suara.

Julie seolah semakin tenggelam dalam lautan terdalam di muka bumi, ia memundurkan langkahnya yang bahkan sudah tidak memiliki kekuatan sedikit pun, tubuhnya yang sempoyongan beradu dengan vas bunga di belakangnya, menyebabkan suara pecahan yang menyebabkan dengungan hebat di kepalanya.

"Aku akan segera kembali setelah urusan di London selesai. Tunggu aku, Jules."

"Aku mencintaimu, Jules."

Potongan ingatan akan Farley merasuki kepalanya satu persatu, membuat Julie mencengkeram rambutnya dengan kedua telapak tangan. Ia berdiri, mengambil langkah ke dapur dan meraih sebuah pisau dengan tangan kanannya. 

"Julie, berhenti!" teriakan itu bahkan seolah tidak meraih pendengarannya.

Ritme langkahnya kian cepat seraya ia menuju mobil. Meninggalkan segala sesuatu yang ada di belakangnya, semakin menjauhkan dirinya dari kenyataan. Pisau yang digenggamnya terasa berat, seakan menyatukan rasa sakit yang tak terkatakan dengan amarah yang tak bisa ia kendalikan. Mobilnya melaju kencang, menimbulkan suara deru mesin yang mendengungkan telinga.

Ia tak peduli di belakangnya, Ben dan sang ibu yang tengah mengejar.

Hingga ia tiba di rumah Dr. Smith, tak peduli apakah di rumah itu ia akan menemukan jawaban--atau kebohongan yang ingin ia dengar. Ia mengetuk pintu dengan keras, lebih terdengar seperti ketukan yang penuh dengan kemarahan, ketakutan, dan rasa ingin tahu yang sudah tak tertahan.

Pintu terbuka dengan cepat, dan di sana, berdiri Dr. Smith, wajahnya penuh kekhawatiran begitu melihat Julie yang tampak seolah sudah tersesat dalam isi kepalanya sendiri. "Julie." Panggilnya lembut, dengan intonasi yang menyiratkan rasa takut ketika ia menemukan sebuah pisau yang bertengger di tangan Julie.

"Beritahu, apa yang terjadi pada diriku." Pisau itu ia angkat sedikit, seolah menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Dr. Smith tertegun. Mulutnya terkunci dengan tatapan yang menimbang apakah ia harus memihak kebenaran yang menyakitkan atau kebohongan yang dapat menjamin keselamatan dirinya. 

"Aku ingin kebenarannya, Smith. Sekarang juga!"

Julie mengangkat pisau itu sepenuhnya, dan mengarahkannya tepat di tenggorokan Dr.Smith. Suaranya menggema di sepanjang lorong rumah. Ia melangkah maju, semakin mempersempit jarak antara mata pisau dan kulit tenggorokan Smith.

Dr. Smith menelan ludah, mencoba mengendalikan dirinya meski ketakutan mulai menguasai.

Wajah Julie kian dekat dengan Dr. Smith, matanya penuh dengan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi. Air mata itu kini telah dipenuhi kesedihan, air mata itu adalah rasa sakit yang paling sakit yang bisa dirasakan seseorang.  "Apa yang terjadi pada hari itu? Apa yang terjadi pada hidupku? Cepat katakan!" 

Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Dr. Smith akhirnya berbicara. "Kau...." Ia menenggak ludah. "Kau amnesia. Hanya itu yang bisa kukatakan."

Julie merasa dunianya seakan hancur lebur. Kakinya hampir tidak kuat menopang tubuhnya, dan pisau itu pun mulai terasa semakin berat di tangannya. Tubuhnya runtuh ke lantai. Bersamaan dengan suara sirine polisi yang menggelayuti udara di sekitar mereka.

"Julie!" Suara Ben terdengar samar, kian mendekat, kemudian keberadaannya muncul dari balik pintu. Ia meraih Julie yang kini telah rapuh. Seolah nyawa dari tubuhnya telah hilang menjadi debu, itulah yang ia rasakan ketika membawa Julie ke dalam pelukannya. 

Kemudian, Sejumlah polisi masuk ke kediaman Smith. Mereka langsung mendekati Julie, meminta ia untuk ikut mereka tanpa perlawanan.

Keheningan merayap di kepala Julie, tak peduli betapa bisingnya situasi di sekitar mereka. Hening itu membungkam segala kata yang tak terucap. Julie terhanyut dalam dunia yang telah hancur, di antara sisa-sisa kenangan yang kini hanya menjadi bayang-bayang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 3 Stages of Grief   8. The Tender Warmth That Conceals You from Brutality

    Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit jiwa yang sunyi. Dinding putih pucat memantulkan cahaya redup dari lampu yang berkelip pelan, seolah enggan menerangi luka-luka tak kasat mata yang tersembunyi dari balik dinding-dinding dingin itu. Ben melangkah di samping Ibu Julie, wajahnya tegang tapi mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam sebuah buket kecil bunga iris, sederhana tapi penuh harap.Saat pintu kamar berderit terbuka, mereka menemukan sosok Julie duduk di tepi ranjang, mata kosongnya menatap jendela kecil yang hanya menampilkan langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang lembut menilik masuk ke ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya tirus, namun ada sebersit ketenangan di wajahnya. Seolah dunia yang telah lama membebaninya sedikit melunak. Tatapannya beralih perlahan saat mendengar suara pintu, dan sebuah senyum samar muncul."Julie," bisik ibunya, langkahnya ia pelankan seolah takut suara sepatu akan mengganggu fragilitas ruangan itu. Ia duduk di sampin

  • 3 Stages of Grief   7. The Apricity

    Julie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikaha

  • 3 Stages of Grief   6. Sweet Lies

    Dengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya."Farley sudah tiada kan?"Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong."Ayo pergi sekarang, Ben." Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farle

  • 3 Stages of Grief   5. A Room Without Reality

    Ketika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang."Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu."Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya."Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu se

  • 3 Stages of Grief   4. The Future I Long For

    Hening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda."Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan."Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu." Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membaya

  • 3 Stages of Grief   3. Apa Kamu Ingat?

    Ben menjemput Julie dengan mobil tuanya yang berderit pelan saat melewati jalanan kota yang basah setelah hujan. Radio memutar lagu lama yang tak dikenal Julie, tapi Ben tetap bersenandung pelan, mencoba mencairkan suasana. Julie hanya diam, menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana."Tidak usah tegang, Smith kenalan lamaku. Orangnya hangat, jangan begitu khawatir," kata Ben sambil melirik sekilas ke arah Julie. Julie masih tampak kesal."Lain kali ucapan ibuku jangan terlalu didengar. Dia selalu menjadwalkan terapi untukku, tapi kali ini sampai minta rekomendasi darimu. Sejak ayahku meninggal, dia memperlakukanku seperti orang gila," keluh Julie."Sudahlah, mungkin ibumu hanya ingin menghilangkan rasa khawatirnya," hibur Ben.Di tengah obrolan itu, Julie merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Jemarinya dengan cepat mengetikkan satu nama untuk dihubungi. "Aku harus mengabari Farley," ucapnya.Namun entah berapa kali pun panggilan yang ia lakukan, tak ada balas

  • 3 Stages of Grief   2. Tentang Kita

    Ketika aku remaja, aku selalu terganggu setiap kali seseorang berbicara tentang suatu kehilangan. Ucapan tentang kepergian seseorang yang begitu kita cintai selalu membuat pikiranku terasa terhimpit. Aku membenci bagaimana perasaan itu menggelayuti diriku, perasaan yang membuat dada terasa sesak ha

  • 3 Stages of Grief   1. Sarapan Pagi dan Sebuah Mimpi

    Ketika denting jam dinding hampir menabrak angka sepuluh, Julie terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat, diikuti suara ketukan lembut di pintu kamarnya. Dia mengerjap beberapa kali, lalu duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dengan enggan, ia bangkit dari selimut yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status