ログインJulie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.
Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.
Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikahan, tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi bersama, dan tentang keluarga yang ingin mereka bangun. Farley adalah satu-satunya masa depan Julie.
Di malam yang cerah itu, di mana langit dihias oleh bintang-bintang, dua minggu sebelum upacara pernikahan yang akan diadakan di kota tempat Julie tumbuh, Farley dikejutkan oleh panggilan dari atasannya untuk segera menyelesaikan pekerjaan di London. Malam itu, ayahnya Julie berkeinginan untuk mengantar Farley, dengan alasan agar Farley tidak lelah naik kereta di perjalanan yang cukup lama. Farley sempat menolak, mengatakan bahwa ia bisa pergi sendiri, tapi ayah Julie, seorang pria yang selalu ingin memastikan yang terbaik untuk orang yang ia sayangi, tetap bersikeras.
"Biarkan aku mengantar. Aku mau kau simpan tenagamu untuk hari besar kita semua." kata ayah Julie dengan senyum yang merekah, membuat Farley merasa bersalah jika menolak.
Di tengah-tengah perpisahan itu, ia dan Julie saling melempar pandangan sendu nan lembut satu sama lain. Farley memberi sebuah pelukan hangat yang singkat.
"Aku akan segera kembali setelah urusan di London selesai. Tunggu aku, Jules." ucapnya dengan suara yang begitu lembut hampir terbawa oleh hilir angin yang menyejukkan.
"Aku mencintaimu." sambungnya.
Tanpa Julie ketahui, perpisahan yang dipikirnya akan singkat itu, ternyata adalah perpisahan terakhir dan terpanjang mereka.
Ketika kabar itu datang, malam yang sunyi seketika terasa seperti dunia runtuh di atas kepalanya. Kecelakaan yang menewaskan Farley dan ayahnya, menghancurkan segala impian yang pernah mereka semai. Menghancurkan masa depan yang ia idam-idamkan.
Saat itu Julie merasa lehernya dicekik oleh kenyataan yang begitu pahit, kenyataan dimana ia tahu bahwa sampai kapan pun di kehidupannya, ia tak akan pernah benar-benar sembuh. Bagaimana dunia bisa begitu kejam kepadanya. Rasa sakit itu terasa menusuk hingga ke bagian terdalam dirinya. Di tengah keputusasaannya, Julie menciptakan kebohongan besar yang ia yakini, menjadi satu-satunya cara agar ia bertahan.
Baginya, Farley masih hidup, masih ada di luar sana.
Setiap harinya ia hidup dalam kabut kebohongan yang tebal, membutakannya dari kehidupan nyata selama satu tahun penuh. Julie mulai meyakini bahwa Farley akan kembali, bahwa dia akan pulang, membawa bunga-bunga yang indah seperti dulu, seolah belum ada tragedi yang merenggut kebahagiaan mereka. Namun, bunga yang ia terima setelah ayahnya meninggal itu-- yang selalu ia anggap sebagai hadiah dari Farley, sebenarnya adalah bunga yang ia beli sendiri, di sebuah toko bunga kecil. Namun dalam kekeliruannya, ia menutupi kenyataan itu dengan keyakinan yang lebih kuat daripada segala bukti yang ada. Lagi-lagi dalam dunia yang ia ciptakan, Farley masih hidup, masih ada harapan, dan di keyakinan itulah ia berpegang erat.
Dalam relung hatinya yang terdalam, ia tak dapat melepaskan bayang-bayang Farley barang sedikit pun. Baginya, Farley adalah masa depan, masa lalu, mimpi, dan juga cinta yang nyata. Melepaskan Farley sama saja membunuhnya untuk kedua kali.
Setelah setahun berlalu sejak tragedi itu, Julie mulai belajar untuk bernapas dalam ritme baru yang dipaksakan oleh waktu. Mencoba merajut ulang sisa-sisa hidupnya yang tercerai-berai. Julie kembali bekerja sebagai penyiar radio di sebuah stasiun kecil yang terletak di jantung kota tempat ia berasal--tempat di mana suara menjadi pelarian, dan kata-kata adalah satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan.
Di balik mikrofon, suaranya begitu stabil, lembut dan penuh karisma seolah tak ada yang berubah sedikit pun di kehidupannya. Ia membacakan cerita pendek, puisi, bahkan berbicara tentang lagu-lagu favorit pendengar. Kadang ia juga bercerita tentang kenangan-kenangan kecil yang tak asing bagi siapa pun, kecuali bahwa beberapa di antaranya tak pernah benar-benar terjadi.
Seringkali, di tengah obrolan dengan rekan kerjanya, Julie berbicara sendiri--sebuah percakapan asing yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
"Aku suka lagu ini, kau juga suka kan? Menurutmu cuaca hari ini bagaimana? Cocok untuk kita piknik, ya?" gumamnya sembari menatap keluar jendela, ia sesekali menoleh ke sudut ruangan seolah seseorang tengah berada di sana.
Rekan-rekan kerjanya hanya mengangkat bahu, seiring berjalannya waktu mereka hanya menganggap bahwa itu kebiasaan aneh yang dimiliki Julie.
"Julie memang suka bicara sendiri." ujar mereka seraya tertawa kecil, lalu melanjutkan rutinitas seolah itu bukanlah hal yang harus dipikirkan.
Namun ibunya tahu, sejak awal ia tahu bahwa ada yang salah dari putrinya. Di balik mata Julie yang tampak seperti penuh cahaya dan harapan untuk melanjutkan hidup, ia dapat menemukan kekosongan di sana. Betapa kosong, hampa, dingin, dan sunyinya ruangan itu, ia dapat melihat semuanya.
Setiap beberapa minggu sekali, Julie menjalani sesi terapi. Tapi terapi itu tak pernah benar-benar menyentuh inti masalahnya. Julie berbicara dengan lancar, seolah-olah ia baik-baik saja, seolah segala sesuatu di dalam kepalanya teratur rapi. Padahal, di balik kata-katanya, ada dunia paralel yang ia ciptakan sendiri, dunia di mana Farley masih hidup dan berkeliaran di sekitarnya.
Setiap upaya yang dilakukan ibunya untuk membuka pintu kenangan itu hanya membuatnya semakin tertutup rapat, mengunci semua kebenaran di balik jeruji ilusi yang ia pelihara dengan penuh kasih sayang.
Malam itu, langit terlihat lebih gelap dari biasanya, Julie baru selesai siaran. Suaranya masih menggema samar di lorong-lorong stasuin radio tempat ia bekerja. Ia menatap jendela studio di depannya, menemukan pantulan samar dari dirinya. Sosok yang ada di pantulan itu sungguh berbeda dengan yang ia ingat dari beberapa tahun lalu. Seolah kehilangan cahaya dan juga jiwanya.
Dan tiba-tiba, seperti kilatan petir yang membelah langit, kebenaran itu menyeruak di kepalanya tanpa ampun. Farley sudah tiada. Bukan sibuk, bukan menjauh, bahkan bukan pergi. Ia telah mati, dingin, diam dan hilang selamanya.
Sekujur tubuhnya bergetar, ia meraih ponsel dan mencari nama Ben di sana dengan jari jemari yang bahkan terasa begitu asing dari tubuhnya sendiri.
"Ben, temui aku..." ucapnya lirih, penuh harap dan penghiburan.
Namun belum sempat Ben menjawab, Julie berjalan keluar, menyeret langkahnya tanpa arah. Menerobos angin dingin yang menyayat kulitnya. Ia melintasi trotoar, taman kota, bahkan sudut terpencil pun ia singgahi, ia seolah hilang tenggelam dalam kekacauan di kepalanya.
Ben mencarinya dengan cemas, mengikuti jejak-jejak samar yang ditinggalkan Julie di malam yang dingin itu. Hingga akhirnya, dia menemukannya di sebuah stasiun tua. Julie duduk di bangku besi yang mulai berkarat, matanya setengah terbuka, seperti jendela yang tak sepenuhnya ingin melihat dunia. Tangannya bermain-main dengan ujung syal, mulutnya masih komat-kamit, berbicara pada sosok yang hanya ada di dalam pikirannya.
"Aku akan menunggu. Aku juga mencintaimu." adalah kalimat yang diucapkannya berulang kali, seolah itulah kalimat yang belum sempat ia sampaikan pada seseorang di dunia kecilnya.
Saat Julie menemukan keberadaan Ben, sebuah senyum terpatri di wajahnya. Bukan senyum lega, tapi senyum asing, seolah Ben hanyalah bayangan lain dalam dunia ilusi yang selama ini telah ia ciptakan.
"Ayo minum," ajaknya, ringan, seakan mereka hanya dua teman lama yang kebetulan bertemu di malam yang dingin.
Ben tak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah Julie ke bar kecil di sudut kota. Mereka duduk di bawah lampu temaram yang hampir kehilangan cahayanya, Julie memesan minuman dengan tawa ringan, seolah beban di dadanya bisa larut bersama alkohol.
"Dia sudah pergi ke London." ujar Julie samar.
Gelak tawa Julie terdengar nyaring, tapi Ben tahu betul, itu bukan tawa yang tercipta dari kebahagiaan. Itu tawa yang mencoba mengubur kesedihan. Dan saat malam semakin larut, Julie pulang dalam keadaan mabuk, matanya kosong menatap keluar, seolah ia terus mencari keberadaan Farley di antara bayang-bayang lampu jalan yang berlalu begitu kilat.
Saat itu, Ben telah memutuskan bahwa ia akan menemani Julie setiap hari walau dengan hanya kehadiran sesaat sekali pun, agar Julie tak kehilangan dirinya lebih jauh lagi.
Tetapi pada kenyataan yang tidak diketahui Ben, Julie telah tenggelam dalam kebohongan manis yang ia kukuhkan di kepalanya, kebohongan manis itu yang perlahan berubah menjadi embun kelabu yang menyesatkan.
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit jiwa yang sunyi. Dinding putih pucat memantulkan cahaya redup dari lampu yang berkelip pelan, seolah enggan menerangi luka-luka tak kasat mata yang tersembunyi dari balik dinding-dinding dingin itu. Ben melangkah di samping Ibu Julie, wajahnya tegang tapi mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam sebuah buket kecil bunga iris, sederhana tapi penuh harap.Saat pintu kamar berderit terbuka, mereka menemukan sosok Julie duduk di tepi ranjang, mata kosongnya menatap jendela kecil yang hanya menampilkan langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang lembut menilik masuk ke ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya tirus, namun ada sebersit ketenangan di wajahnya. Seolah dunia yang telah lama membebaninya sedikit melunak. Tatapannya beralih perlahan saat mendengar suara pintu, dan sebuah senyum samar muncul."Julie," bisik ibunya, langkahnya ia pelankan seolah takut suara sepatu akan mengganggu fragilitas ruangan itu. Ia duduk di sampin
Julie tumbuh dalam rumah yang penuh dengan tawa. Ayahnya, seorang pria yang terkenal dengan rasa humor yang menyentuh setiap sudut ruangan, selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan. Sedangkan ibunya, meski tampak ambisius, jauh di dalam sana adalah seorang wanita rapuh yang terkekang oleh harapan-harapan terpendam, ingin sekali menjadi sosok sempurna di mata keluarga kecilnya.Farley, tunangannya, adalah pria yang datang seperti hujan di musim kemarau, seperti kehangatan di tengah musim dingin yang panjang, penuh perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Mereka bertemu di suatu malam yang cerah di sebuah pesta kecil milik teman mereka, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang akan saling membagi cinta. Farley memiliki impian yang sama dengan Julie, ingin membangun masa depan bersama.Bagi Julie, di antara segala bayang-bayang ketidakpastian yang ada di dunia, Farley adalah satu-satunya orang yang menawarkan kehadiran pasti. Mereka berbicara tentang pernikaha
Dengan dirinya yang masih menyimpan sebagian kecil harapan, seolah ia hanya bergantung hidup pada perasaan itu, Julie bangkit dari tanah tempat ia terlingkup karena sebuah kalimat yang menelan hampir keseluruhan jiwanya."Farley sudah tiada kan?"Harapan yang ada dalam hatinya itu adalah, bahwa semua yang dihadapannya kini adalah kebohongan semata. Dengan kaki yang setengah melangkah, dengan sorot mata yang rancu dan dengan seberkas cahaya kecil dalam kegelapan yang ia jadikan pegangan, Julie mencoba meraih pintu mobil. Berharap segera meninggalkan tempat itu dan membuktikan harapannya yang mungkin kosong."Ayo pergi sekarang, Ben." Ben yang masih berdiri kaku disana, akhirnya tak dapat menahan betapa remuk setiap bagian dari isi hatinya yang masih tersisa, melihat Julie yang hancur di momen itu. Rasa bersalah mulai menghantuinya, rasa bersalah akibat keegoisannya agar Julie segera menyadari kebenaran dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Farley. Namun, ia salah. Eksistensi Farle
Ketika mereka baru saja tiba di parkiran motel, mata Julie menangkap sosok yang cukup ia kenal. Sontak, ritme langkahnya semakin cepat untuk mendekati sosok itu, seperti menemukan kenangan lama yang sempat hilang."Jeanette!" Panggil Julie. Sosok dengan coat beige setengah lutut itu tampaknya mencari sumber suara yang meneriakkan namanya dari kejauhan. Wajahnya sekejap sumringah, kemudian berlari memeluk Julie, begitu erat, seolah ia mengerti bahwa keputusasaan hampir merenggut nyawa gadis itu."Oh Julie. Julie... aku sungguh merindukanmu." suaranya sempat terpatah di tengah kalimat seolah kata-kata itu sungguh ia nantikan untuk dilontarkan. Pelukannya begitu tulus, hingga Julie--yang tengah dirundung luka tanpa sadar meneteskan air matanya."Aku selalu menunggumu Julie, setiap harinya aku berharap kau akan menghubungiku kembali. Sudah lima tahun sejak tragedi itu terjadi dan kau yang tiba-tiba menghilang dari kantor, dari London, dari kehidupan semua orang." ujar Jeanette kala itu se
Hening menyelimuti mobil saat Ben mengemudi, hanya diisi suara mesin yang berdengung pelan dan lampu kota yang menari di kaca jendela. Julie duduk terpaku, menatap kosong ke luar, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak kunjung reda."Seharusnya kita minta saja nomor keluarga Beaumont pada orang itu." ujar Ben memecah keheningan."Kau kira aku tidak punya nomor mereka? Nomor itu sudah lama tidak aktif, Ben. Jadi percuma saja." Keluh Julie. Dahinya menampilkan kerutan yang cukup dalam, dan di balik pelupuk mata itu, air matanya sudah terbendung.Ben akhirnya memarkir mobil di sebuah sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka. "Kita istirahat sebentar. Aku beli air minum dulu." Ben melangkah pergi, langkahnya berat seperti pikirannya yang dipenuhi dengan kecemasan tentang Julie. Lampu dari toko kecil di sudut jalan memantulkan bayangan samar di aspal basah. Ia membeli dua botol air, tangannya gemetar saat membaya
Ben menjemput Julie dengan mobil tuanya yang berderit pelan saat melewati jalanan kota yang basah setelah hujan. Radio memutar lagu lama yang tak dikenal Julie, tapi Ben tetap bersenandung pelan, mencoba mencairkan suasana. Julie hanya diam, menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana."Tidak usah tegang, Smith kenalan lamaku. Orangnya hangat, jangan begitu khawatir," kata Ben sambil melirik sekilas ke arah Julie. Julie masih tampak kesal."Lain kali ucapan ibuku jangan terlalu didengar. Dia selalu menjadwalkan terapi untukku, tapi kali ini sampai minta rekomendasi darimu. Sejak ayahku meninggal, dia memperlakukanku seperti orang gila," keluh Julie."Sudahlah, mungkin ibumu hanya ingin menghilangkan rasa khawatirnya," hibur Ben.Di tengah obrolan itu, Julie merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Jemarinya dengan cepat mengetikkan satu nama untuk dihubungi. "Aku harus mengabari Farley," ucapnya.Namun entah berapa kali pun panggilan yang ia lakukan, tak ada balas
Ketika aku remaja, aku selalu terganggu setiap kali seseorang berbicara tentang suatu kehilangan. Ucapan tentang kepergian seseorang yang begitu kita cintai selalu membuat pikiranku terasa terhimpit. Aku membenci bagaimana perasaan itu menggelayuti diriku, perasaan yang membuat dada terasa sesak ha
Ketika denting jam dinding hampir menabrak angka sepuluh, Julie terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat, diikuti suara ketukan lembut di pintu kamarnya. Dia mengerjap beberapa kali, lalu duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dengan enggan, ia bangkit dari selimut yang







