White Rose Petal
White Rose Petal
Author: Ailana Misha
Chapter 1 - Wasiat Kakek

This Novel is owned by Ailana Misha

Please, don’t copy and remake!

Musim panas sudah mulai terasa, dinginnya musim dingin seakan menghilang tatkala pergantian musim itu memasuki bulan Desember. Banyak sekali bunga – bunga khas musim panas mekar semerbak di udara yang cukup panas ini, bahkan banyak sekali orang yang sudah menjadwalkan liburan untuk pergi liburan outdoor di akhir pekan.

Liburan!? Kata itu terasa sangat tidak tepat jika disodorkan pada seorang laki – laki berpenampilan big boss yang tengah duduk di kursi CEO-nya dengan gayanya sangat pongah. Pria itu, Skandar Alexander Hemingway, sang pewaris dari Chagall Corporation, perusahaan elektronik besar di Australia. Sangat rupawan rupanya, tetapi bernilai kosong jika membahas tabiatnya dalam memahami dan mengampuni kelalaian. Skandar Hemingway terlalu perfeksionis dengan kadar seratus persen.

Pria dewasa itu membolak – balik arsip perjanjiannya dengan consigner utama yang bulan ini berencana mengajukan peninjauan ulang kontrak kepada perusahaannnya. Dia sudah melakukan ini sejak tiga puluh menit yang lalu, jangankan jengah dan bosan, ia semakin bersemangat. Sudut bibir Skandar Hemingway menyeringai ke atas. Benar laki – laki itu menemukan sesuatu. Mau mencoba untuk memanipulasi dirinya, hah?

Skandar menekan tombol telfon yang ada di atas meja kerjanya, telfonnya tidak langsung diterima oleh sekretaris barunya itu. Pria muda itu mendengus, ini panggilan kedua, dan lagi panggilannya tidak tersambung. Jika sampai panggilan ketiga tidak juga tersambung, dia akan melayangkan surat teguran kepada staffnya itu, mana ada sekretaris yang memperlakukan direkturnya seperti ini. Skandar

langsung menutup gagang telfonnya dengan kasar, dengan bunyi seperti barang yang baru saja dibanting.

Tepat saat itu, pintu kantornya terbuka, menampilkan seorang perempuan yang berpakaian sangat minim dengan blazer warna cokelat tua masuk dengan sedikit berlari menuju ke meja kerjanya, gadis bepakaian bak kekurangan bahan itu adalah sekretarisnya, sekretaris barunya, Sakagawa Sana.

“Aku bukan menyuruhmu datang kesini, Ms. Sakagawa. Aku hanya menelfonmu.” Sindir CEO-nya itu.

“Saya minta maaf tuan, ada sesuatu hal yang harus saya sampaikan, ada tamu penting yang mencari anda sekarang.” Gadis itu setiap detik rasanya membungkuk meminta maaf padanya.

“Sudah aku bilang, hari ini aku tidak akan menerima satupun tamu.” Cetus Skandar Hemingway. Lelaki itu kembali membuka lembar arsipnya, menggoreskan beberapa check list di permukaan kertas putih itu.

“Tetapi tuan. Beliau akan marah.” Cicit gadis Jepang itu lagi, benar, Skandar Hemingway sedang mempekerjakan seorang gadis dari Jepang sebagai sekretaris barunya.

“Siapa!? siapa yang akan berani marah kepadaku? Suruh besok!” Skandar

geram.

“Tuan Hemingway... Saya akan dimarahi beliau jika begitu, anda juga.”

“Sebenarnya siapa atasanmu sekarang? Memarahiku, siapa dia memangnya?”

Apa ada satu saja staff kantornya yang bisa mengerti betapa sibuk dirinya sekarang. Sudah berapa banyak waktunya yang terbuang percuma hanya karena tingkah tolol bawahannya, tidak kemarin lusa tidak sekarang. Kemarin lusa bahkan lebih parah dari pada hari ini. Memikirkannya Skandar sudah ingin menarik dasi manajer cabangnya yang bodoh itu lagi.

“Aku, aku yang akan memarahimu!”

Seorang wanita tiba – tiba masuk begitu saja, sebuah tas mewah berwarna merah maroon melambangkan betapa sosialita wanita itu melambai di genggamannya. Tentu, tas yang sedang dibawa oleh sosialita itu adalah tas internasional edisi terbatas dari brand fashion ternama, Hermes.

Wanita itu memiliki tatapan mata yang jauh dari kesan betapa lembut seorang wanita seharusnya dalam menatap itu, dan kini wanita itu memberikan pandangan mengusir kepada seorang gadis yang dibalik pintu tadi sudah ia maki – maki karena melarangnya masuk ke ruangan kantor putranya sendiri.

“Pergi sana! Tutup pintunya juga!” Kata wanita itu yang direspons dengan bungkukan gadis Jepang satu itu kembali.

“Gadis Jepang, kau mempekerjakan gadis Jepang, Skandar? Pajak Penghasilan tenaga asing tidak murah jika kau tahu.” Sangat rewel begitu tabiat ibunya, Skandar

hanya memutar matanya malas.

“Yang kena potong pajak itu nominal gajinya, bukan kita yang berurusan menyisihkan biaya pajak lagi buatnya. Berhenti mengatur hal – hal kecil seperti ini, Mom.” Tegur Skandar.

“Dan dia bahkan tidak sanggup membeli pakaian yang lebih bahan?” Skandar

menghembuskan nafas berat mendengar kecerewetan ibunya itu lagi.

Sudah berulang kali ibunya itu akan memprotes hal – hal kecil macam itu, beruntung wanita itu memiliki anak yang sangat sabar seperti putranya. Sabar untuk orang tuanya saja, karena Skandar Hemingway begitu menyedihkan jika berhubungan dengan karyawannya, tingkat etos kerja laki - laki satu itu bahkan hampir mengalahkan kompeni Jepang.

Skandar

berdiri dari kursi kerjanya, dan berjalan menuju kursi tamu di sisi ruang kantornya, menyilahkan ibunya itu untuk duduk juga. Wanita Hemingway itu mengikuti putranya, dan duduk di kursi berbahan empuk itu. Tas Hermes nya masih ia pangku.

“Calonmu mana, Skandar? Mom sudah menunggu dari kemarin.”

Skandar

sudah akan duduk di salah satu kursi lain jika Mommy-nya itu tidak mengeluarkan kata keramatnya. Laki – laki muda itu mencoba melihat ujung langit – langit kantornya, ia sudah sangat malas untuk membicarakan itu sekarang. Hampir tiga minggu ini ia dicekoki dengan pertanyaan “Calonmu mana?” dari hampir seluruh penjuru rumah. Sinting, keluarganya sudah sinting semua.

“Minggu lalu bukannya sudah aku kenalkan Mom kepadanya. Mom sendiri yang menolak.”

Skandar berusaha mengingatkan ibunya itu. Laki – laki Hemingway itu sekarang menumpukan kakinya pada kaki lainnya. Mengalihkan pandangannya pada kaca cendela besar di ruang kantornya yang berada di lantai sepuluh itu. Ia ingin sekarang juga rasanya lepas dari pembahasan yang sangat sensitif baginya itu akhir – akhir ini.

“Membiarkan putra sulung Mom menikah dengan jalang itu?” Mommy Skandar

sudah hampir menyemprot anaknya itu.

“Dia bukan jalang Mom, dia temanku. Mom sudah tahu keluarganya bukan?”

“Tidak, gugur, gugur wasiat kakekmu jika kau memilih gadis itu. Putri pengusaha bar se-Australia, Hah? Minuman semua isinya. Ya tuhan, anak ini, apa pendidikan tingginya hampir sedengkul jika menilai perempuan.”

Narcissa Hemingway menekan jidatnya yang cantik itu, di usia yang sudah hampir menginjak lima puluh lima, wanita itu masih terlihat sangat cantik di usianya. Pantas Skandar Hemingway punya paras seperti itu. Tetapi lagi – lagi jangan nilai semua anggota keluarga Hemingway dari rupanya saja. Karena baik Skandar Hemingway ataupun Ibunya sama saja peringainya, sangat pemilih.

Ada wasiat dari kakek Skandar dimana cucu tertuanya itu harus menikah bulan ini, tahun ini. Suatu hal yang sangat mudah awalnya, bukankah putra Narcissa Hemingway satu itu adalah masuk dari calon menantu idaman semua mertua baik tingkat warga maupun sosialita se-Australia. Hanya saja, Skandar Hemingway kelewat bodoh dalam hal memaksimalkan masa mudanya. Pantas anaknya itu bahkan tidak terlihat kencan atau dating dengan satupun perempuan yang layak.

Dan minggu kemarin anaknya yang pintar sekaligus bodoh itu malah membawakan seorang gadis yang dari penampilannya saja malah terlihat sangat jalang. Tidak ada gadis baik – baik yang berpenampilan seminim itu jika bertemu dengan orang tua, ibu mertuanya saja sampai hampir jantungan melihatnya.

“Anggap saja Sana calon berikutnya.” Kata Skandar

santai.

“Sana siapa?”

“Sekretarisku tadi.” Skandar

tersenyum meledek kepada ibunya itu.

“Dasar anak gila! Skandar Alexander Hemingway, kamu mau namamu dikeluarkan dari garis keturunan keluarga?” Pekik Ibunya frustasi.

Skandar, putranya ini apa bisa sedikit saja ditarik telinganya dan beres. Laki - laki itu terlihat tidak mengambil serius ucapannya, membuat Narcissa semakin kesal, awas saja jika anaknya itu masih bertingkah macam – macam membawa gadis tak jelas dan mengaku sebagai calon menantunya. Mommy Skandar

masih gemas dengan tingkah putranya itu.

Narcissa berdiri dari kursinya, membuat putranya itu menatapnya aneh. Tidak biasanya ibunya itu lekas pergi, biasanya ia akan dapat ceramah sebelum pulang terlebih dahulu dari Mommy-nya itu. Skandar Hemingway menaikkan alisnya yang hitam itu, ia kaget saat mendapat seringaian dari ibunya.

“Nanti malam ada makan malam di rumah, pulang tepat waktu!” Ucap ibunya itu. “Sudah Mom putuskan, Mom yang akan memilihkan calonmu, titik dan final, tidak ada gangguan.”

“Apa? Mom!” Skandar

langsung mendelik mendengarnya.

Laki - laki itu langsung meremuk mukanya dengan kedua telapak tangannya yang besar. Apalagi melihat ibunya yang malah sudah pergi meninggalkan ruang kantornya saat itu juga. Benar – benar, ibunya lebih menakutkan dari pada bunyi wasiat dari kakeknya itu sendiri.

Laki – laki itu rasanya ingin berteriak memikirkan nasibnya empat jam ke depan itu.

Skandar

sudah kesal sekarang!

--------(^_^)---------

At the Canberra Private High School

Canberra, Australia

“Apa kamu tidak ingin mencobanya, Charisa?” Kata seorang gadis berambut pendek pada gadis bermata bulat yang sedang mendengarkan list lagu dari ponselnya.

“Mencoba apa?” Charisa Zwetta Davis, sang gadis menoleh dengan pandangan bertanya.

Anna, gadis itu memberikan secarik kertas bewarna hijau pada gadis dari keluarga Davis itu. Mereka berdua memang berteman sejak pertama kali Charisa Davis berkenalan dengannya ketika hari pertama mereka masuk sekolah.

Charisa

membaca kertas itu, itu adalah sebuah kertas berisi audisi menyanyi dari sebuah agensi second tier di Australia. Mata gadis itu beralih dari atas ke bawah bagian kertas, audisi itu langsung berada di bawah agensi besar yang sedang naik daun sekarang, satu – satunya boy band yang sedang terkenal sekarang berada di bawah naungan agensi tersebut. Kening Charisa

mengkerut, dia seperti sedang menarik sebuah kesimpulan.

“Ini tempat ayahmu bekerja bukan, Anna?” Tanya Charisa dengan mata masih terpaku pada kertas hijau itu.

Anna berdehem, tanda ia mengiyakan temannya itu. Gadis itu memang belum tahu jika ayahnya malah adalah direkturnya langsung, yang Charisa tahu ayahnya Anna hanya staff biasa disana, lagipula dia senang berteman dengan Charisa tanpa gadis itu tahu dengan status jabatannya ayahnya. Anna sangat menghargai orang yang melihatnya sebagai Anna Smith yang biasa, dan Charisa Davis masuk sebagai salah satu orang tersebut.

“Tidak, aku tidak mau, Anna.”

“Mengapa? Suara kamu bagus Charisa, apa kakakmu tidak mengijinkamu?” Tanya Anna, dia tahu, semenjak ayah gadis itu meninggal, temannya itu diasuh oleh kakaknya sendiri.

“Tidak... Malas saja, teriak – teriak hanya membuatku lapar.” Kata gadis berambut panjang itu polos.

Anna Smith langsung menggaruk rambutnya itu pelan, dia tidak bisa berkata – kata lagi. Anna sepertinya lupa, jika temannya itu sangatlah pemalas. Sifat riang dan jujurnya itulah yang membuat Anna masih nyaman – nyaman saja berteman dengan gadis itu.

Sekarang mereka sedang menunggu jemputan dari keluarga mereka masing – masing. Sepertinya Charisa akan dijemput oleh kakak iparnya, seingatnya sekarang sudah melampaui jam istirahat kakak laki - lakinya. Anna sudah dijemput oleh supir pribadinya, tetapi Charisa

masih belum juga dijemput kakaknya itu. Sebuah mobil putih kini sudah muncul tepat di depan pagar sekolahnya. Charisa mengenalinya sebagai mobil kakak iparnya.

“Kakak...” Teriak Charisa, langsung menarik tas ranselnya dan berlari ke arah mobil istri dari kakaknya itu.

“Bagaimana sekolahnya, dik?” Sapa kakak iparnya yang cantik itu.

“Baik, kakak habis kemana, mengapa dandan secantik ini?”

“Ohh, kita akan ke butik, Charisa. Kamu harus memilih gaun yang cocok.”

“Gaun untukku. Kita mau ada acara?”

“Ya, ahh kita harus bergegas, waktu kita sedikit.”

Charisa mendengarnya bukan seperti penjelasan, memangnya mereka akan menghadiri pesta macam apa? Hingga harus membeli gaun baru di butik pula. Gadis bermata bulat itu hanya menurut saja saat kakak iparnya itu menjalankan mobilnya. Charisa membuka aplikasi line miliknya, beberapa pesan dari teman – temannya masuk, gadis itu tertawa dengan gigi kelincinya yang manis.

“Kak, tadi nilai biologiku jelek lagi, susah sekali soalnya. Sepertinya aku kena remedi. Memangnya anak bayi tidak keluar dari perut? Kalau tidak dari sana, dia keluar dari mana?” Tanya Charisa

tiba – tiba. Gadis itu melihat wajah kakaknya yang terlihat kaget dan salah tingkah padanya.

“Ahh... Keluar dari-“ Suara Amanda Davis menggantung, perempuan itu kebingungan untuk menjawab pertanyaan adik iparnya itu, itu terdengar terlalu berbahasa biologi baginya yang bukan guru biologi masalahnya.

“Kamu benar – benar tidak tahu, Charisa? Kamu bisa membuka lagi di bagian bab reproduksi. Disana sepertinya diterangkan juga bagian tubuh mana saja yang sebagai alat reproduksi manusia, seperti untuk membuat anak. Semacam itulah.” Amanda meringis, sumpah dia bukan ahlinya menjelaskan hal terkait ini.

“Membuat anak? Dibuat dari apa?”

Gadis itu tetap memandangi Amanda yang sudah menatapnya dengan mata bulatnya. Disuruh menjawab pertanyaan yang dikeluarkan oleh anak sekolah sepolos Charisa di saat dirinya sedang fokus menyetir seperti ini sangatlah susah bagi Amanda. Lebih susah dari pada saat ia menghadapi tes mengemudi untuk mendapatkan lisensi mengemudinya dulu.

“Baca buku biologi kamu lagi ya Charisa, kakak sedang sibuk menyetir.” Tutup Amanda, dengan tawa kaku miliknya.

“Itu terdengar biologi adalah ilmu yang penting, kak.” Gerutu kecil seorang Charisa Davis.

God, Noah!

Kamu bercanda kan adikmu yang seperti ini kamu suruh nikah!

Tahun lalu saat ayah mertuanya meninggal, ia kira wasiat ayah mertuanya hanya bualan belaka, mana ada wasiat perjodohan di tengah era globalisasi seperti sekarang. Apalagi keluarga calon besan mereka juga tidak membahas bunyi wasiat itu kembali, hingga bulan kemarin mereka mendapat kabar dari keluarga itu, jika keluarga itu serius dalam wasiatnya, dan sedang membicarakan kejelasan wasiat tersebut. Semoga mereka tidak jadi, begitu doa Amanda saat itu. Ia sudah menyayangi Charisa seperti adik kandungnya sendiri. Dia tidak tega jika adik iparnya itu menikah muda seperti itu.

Menantu keluarga Davis itu hampir menyumpahi suaminya sendiri pagi ini, Noah Davis, hari ini membuatnya senam jantung tadi pagi. Bagaimana bisa suaminya itu tiba – tiba memberi tahunya jika adiknya itu akan menikah bulan ini, mau tak maupun, Charisa Davis akan dinikahkan. Amanda jadi ingin menjedotkan kepala suaminya, apa Noah tidak tahu betapa sulitnya untuk mengajari adiknya yang lugu itu untuk sedikit saja berpikiran dewasa.

“Ahh, nanti kita beli buku biologi edisi terbaru saja kalau begitu!” Cetus Amanda Davis tiba – tiba.

Charisa menatap kakaknya itu dengan mulut terbuka, ia sudah muak untuk membaca buku biologi lagi!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status