Share

14 Tidak Diterima (2)

Author’s POV

Setelah gadis itu mencuci semua piringnya, ia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Begitu ia berbalik, ia melihat sang ayah yang sudah berdiri di depannya, menanyakan hasil yang ia dapatkan dari email tersebut. Gadis itu menurunkan pandangannya dan menggeleng pelan. Sang ayah yang mengerti akan kesedihan gadis itu, bergerak maju dan menepuk-nepuk pundak gadis itu, berharap jika tepukan lembut tersebut meredakan kesedihan gadis itu.

“Sudah… mungkin belum rejekinya,” ujar Benny yang diangguki pelan oleh gadis itu. Dengan lesu, gadis itu berjalan melewatkan sang ayah yang mengkhawatirkan dirinya yang sedang sedih seperti itu,

Benny menghela nafas,

Mungkin gadis itu butuh waktu untuk sendiri dulu.

Naomi menutup pintunya dan mengambil tempat untuknya duduk di ranjangnya. Ia masih berpikir positif, mungkin ia harus menunggu beberapa jam hingga hari esok tiba. Gadis itu kemudian berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil ponselnya yang masih mengisi daya. Ia terus meng-refresh kotak masuknya dan ia belum ada yang masuk ke dalam kotak masuknya,

Ia menutup matanya, mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke laptopnya yang sudah menunggunya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan berat, gadis itu membuka laptopnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.

*Sebelumnya*

Alex tengah melihat sebuah CV seorang yang terpilih oleh Adrian dan Seira. Ia tengah memeriksa karya orang tersebut dan ia setelah melihat semuanya, tidak heran baginya jika ia terpilih untuk menjadi pengganti Adrian.

“Apa kau kecewa?” tanya Darius yang sedari tadi tengah berdiri di depan pria itu.

“Tentu saja…” ujarnya dengan pelan, sembari menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia sangat kecewa karena Naomi tidak terpilih menjadi pengganti Adrian. Padahal ia sudah berharap lebih akan itu.

“Padahal aku sangat penasaran siapa gadis itu,” ujar Darius, mendapat tatapan sengit oleh Alex,

“Woaw, kau tidak perlu menatapku seakan ingin membunuhku seperti itu,” ujarnya sembari mengangkat kedua tangannya pertanda ia menyerah dengan tatapan maut dari Alex.

“Percayalah, aku tidak mungkin mengkhianati Diana,” ujarnya lagi,

Alex melepaskan pandangan mautnya dan kembali menatap komputernya yang berisikan bukan CV dari Naomi,

“Jadi apa kau sudah punya rencana lain untuk mengejarnya?” ujar Darius yang digelengkan oleh pria itu,

“Aku belum bisa bergerak karena pekerjaanku sangat banyak,” ujar pria itu dengan lesu. Pria itu menutup matanya, memikirkan bagaimana caranya untuk menjangkau gadis itu. Hingga pada akhirnya pikirannya berkutat akan satu hal,

“Apa aku perlu meneleponnya?” ujar pria itu, dengan mata yang masih tertutup.

“Tapi bagaimana jika dia block nomorku?” gumamnya lagi,

“Kau tinggal menyiapkan ponsel khusus untuk menghubunginya. Jika nanti dia memblokir nomormu, kau bisa gunakan nomor lainnya. Begitu seterusnya hingga dia muak memblokirmu,”

Pria itu menjentikkan tangannya dengan kuat,”Bingo! Kau benar juga!” ujarnya dengan semangat,

“Kau bisa membawanya untuk jalan-jalan selepas kau pulang kerja,”

Alex menegakkan duduknya dan menggelengkan kepalanya kepada Darius,”Tidak akan semudah itu ia mau,”

Darius mengernyitkan dahinya dengan heran,”Kenapa begitu?” tanyanya, membuat pria itu menghela nafas berat,

“Aku pernah menyakitinya di masa lalu. Dia tidak akan semudah itu untuk menerimaku,” ujarnya dengan lirih. Pria itu benar-benar menyesali semuanya hingga detik ini. Ia menyesal telah menolak nalurinya untuk tidak memberikan foto-foto tersebut kepada teman-temannya. Ia sangatlah egois, keinginan untuk diakui hebat adalah hal yang ia utamakan ketika ia masih muda dulu,

Seandainya ia tidak telat menyadari perasaannya, kemungkinan besar hingga saat ini gadis itu berada di sampingnya.

“Apakah sangat parah kau menyakitinya?”

“Sangat parah,”

“Bisa kau ceritakan?” ujarnya, membuat pria itu sempat enggan memberitahunya. Ia menatap kembali Darius yang masih dengan ekspresi penasarannya. Ia menghela nafas pelan, karena ia juga menginginkan saran dan masukan dari Darius, akhirnya ia menceritakan segalanya kepada Darius. Dimulai dari bagaimana semuanya bermula, hingga apa yang menjadi akhir dari hubungan mereka berdua,  

“Kau gila?!” pekiknya yang sudah tidak diherankan lagi,

“Parah, bukan?”

“Sangat parah!” pekik pria itu dengan tidak percaya

“Aku tahu, sangat tidak tahu diri jika aku kembali hadir dalam hidupnya. Tapi, aku tidak bisa melepasnya…”

Darius menghela nafasnya, melihat kesungguhan pria itu dan rasa pedih yang tercetak jelas di wajahnya. Ia sempat menundukkan kepalanya dan kembali mengangkat’nya untuk menatap sang sahabat yang sedang terluka akibat perbuatannya sendiri,

“Cobalah… kalau kau segitu inginnya ia bersama denganmu, maka cobalah untuk mengejarnya kembali,”

“Setiap orang berhak mendapat second chance,” tambahnya lagi,

“Menurutmu darimana aku bisa memulainya?” ujar pria itu dengan pelan,

“Kau bisa mengirimnya pesan, meneleponnya hingga membawanya untuk berkencan,”

Pria itu mengangguk-angguk mengerti,”Baiklah…”

****

Keesokan harinya,

Gadis itu mengerang lelah, setelah seharian ia membantu sang ayah, akhirnya ia mendapatkan waktu untuk berehat sejenak sebelum dia melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap langit-langit kamarnya dan menelentangkan tangannya,

Hari ini adalah hari Sabtu, dimana banyak sekali anak muda yang bepergian dan bahkan berkencan di weekend ini, namun gadis itu memilih untuk diam di rumah dan beristirahat.

Seharian ini, ia berusaha untuk tampak selalu ramah dan baik terhadap pembeli. Ia harus menekan kesedihannya karena baginya profesionalitas adalah segalanya dalam bekerja. Tapi, dia tidak terlalu memasalahkan hal itu karena itu lebih baik daripada ia terus menerus tenggelam ke dalam kesedihan.

Sepertinya memang inilah takdirnya.

Malam adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan semua yang tidak mengenakkan setelah seharian beraktivitas. Air matanya mengumpul di pelupuk matanya, dan sebentar lagi akan turun air matanya. Ia tidak menahan dirinya kali ini, ia membiarkan dirinya untuk mengeluarkan semuanya agar ia bisa plong.

Ia sesekali menyeka air matanya dan menghela nafas beberapa kali.

Di situasi yang menyedihkan seperti ini, ada sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan melihat jika nomor yang tidak dikenal tengah bercokol di layarnya. Walaupun bulu kuduknya kembali merinding, namun rasa penasarannya lebih mendominasi dirinya,

Dengan getar, ia mengangkat panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Tidak ada suara apapun seperti sebelumnya, dan dengan segala keberanian yang ia kumpulkan ia mulai membuka mulutnya untuk berkata ‘halo’,

“Naomi…”

Gadis itu terdiam mendengar suara tersebut. Suara tersebut adalah suara yang tidak ia ingin ia dengar dalam hidupnya. Ia membenci suara ini sekaligus ia merasa takut terhadap suara ini, karena suara ini adalah suara yang dapat membawa ingatannya kembali ke masa lampau.

“Sudah kuduga kau tidak mengganti nomormu…”

Gadis itu bergetar hebat, ia tidak dapat menahan dirinya untuk terus mengerjapkan matanya dengan nafasnya pendek,

“S-siapa?” ujarnya, berpura-pura untuk tidak mengetahui pemilik suara ini,

“Kau melupakanku? Sayang sekali… aku tidak percaya kau bisa melupakanku,”

Gadis itu mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya, berusaha untuk mengumpulkan keberanian dalam dirinya,

“S-siapapun kamu, aku tidak mengenalmu!”

“Oh benarkah? Haruskah aku mencarimu dan memunculkan diriku dihadapanmu?”

“Berhentilah berkata hal-hal yang tidak masuk akal!” pekik gadis itu dengan getar, 

“Hey… kau memang senang sekali melawan ya… kau memang tidak pernah berubah,” ujar pria itu sembari menyenderkan dirinya di tembok putih polos yang menahan tubuhnya,   

“Nantikanlah aku dalam beberapa bulan kedepan. Aku akan mencarimu dan-“

TIT!

Gadis itu menutup panggilan tersebut. Ia memegang dadanya yang sudah berdetak sangat cepat bahkan sempat memberinya sensasi yang sangat tidak nyaman. Pria bajingan itu akan segera kembali beberapa bulan kedepan setelah ia lepas dari penjara dan gadis itu harus mempersiapkan hal itu.

Naomi mengatur nafasnya untuk merileksasikan tubuhnya. Ia menjauhkan ponselnya dari dirinya karena shock yang ia rasakan.

“Tenanglah, Naomi. Tenangkan dirimu,” ujarnya yang terus merapalkan perkataan itu kepada dirinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status