MasukSaat akan mendorong pintu masuk firma, Anita berpas-pasan dengan Miko yang tampak rapi dan segar. “Pagi, mbak Ta.” sapa laki-laki itu tersenyum cerah menyapa Anita yang juga ikut tersenyum manis.
“Pagi, Mik. Udah resmi atau masih magang nih?” tanya Anita masuk karena Miko sudah menahan pintu.
“Magang, mbak selama 3 bulan. Mereka mau lihat kinerjaku dulu, baru bisa dipertimbangkan untuk ke depannya.” jelas Miko.
Anita mengangguk mendengar itu, langkahnya menuju area fingerprint untuk melakukan absen pagi. Sementara itu, Miko berjalan menuju Wika untuk mengisi absen manual.
“Jadi kamu gabung di tim mana, Ko?” tanya Anita mendekati Miko yang masih berdiri di depan meja resepsionis sedang mengisi absen dan juga melihat di tim mana ia akan di tempatkan.
“Di tim mbak Anita.” ujar Wika tersenyum. “Karena tim mbak yang lagi kebanjiran klien, jadi menurut bapak mbak perlu anggota tam
"Anita?"Anita dan Gesa menoleh ke sumber suara, keduanya melihat Habib yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Mbak duluan ya, Sa udah gak tahan." ujar wanita itu kepada adik iparnya lalu langsung masuk ke area toilet wanita.Tinggalah Habib dan Gesa yang ada di tempat itu. "Pak Habib?" panggil Gesa dengan nada bertanya karena atasannya di firma itu terus melihat ke arah kakak iparnya menghilang."Eh iya, Sa." jawab Habib sedikit terkejut tapi berhasil ia tutupi dengan cepat."Ada acara di sini juga, pak?" tanya Gesa berbasa-basi."Iya, Sa sama kelurga. Kamu ada acara sama keluarganya Anita?" tanya laki-laki itu.Gesa mengangguk cepat. "Kata mas Gibran, mas Ivan abis menang tender besar jadi mau buat acara syukuran kecil-kecilan makan sama keluarga." jelas perempuan itu semangat.Habib yang mendengar itu seperti merasa dejavu karena dulu juga ia dan keluarganya akan bergabung dengan acara itu juga. "Oh begitu." balas laki-laki itu s
Anita sedang melipati baju Gibran yang akan dibawa suaminya untuk pergi ke luar kota, sementara Gibran masih sibuk di depan laptop karena tiba-tiba harus meeting dadakan dengan pada petinggi lain. Anita berdiri dari duduknya melangkah menuju lemari pakaian, mengambil beberapa celana dan kemeja yang belum sempat ia ambil.Gibran berdiri karena acara meeting sudah selesai, ia melihat Anita yang membawa tumpukan pakaiannya segera membantu sang istri. "Kenapa gak tunggu mas sayang? Kan capek diangkati sendiri kayak gini." ujar Gibran khawatir."Gak papa, mas. Tata ambil cuti kan emang mau bantui mas siap-siap untuk besok." ujar perempuan itu duduk di kasur karena pakaiannya sudah dibawa kan oleh Gibran."Mas, kopernya mana yang mau dipakai untuk besok?"Gibran yang mendengar pertanyaan itu langsung menuju ruangan mengambil koper abu-abunya yang berukuran 24 inchi, ia membuka koper tersebut sementara Anita berdiri dari duduknya mengambil sesuatu dari dal
Anita masih setia duduk di sofa yang ada di area tamu firmanya, menunggu sang suami datang menjemput dirinya. Ia ditemani oleh Rifa yang juga sedang menunggu pacarnya yang akan datang menjemputnya juga. "Mbak jadi masih tinggal di rumah orang tua, mbak?" tanya Rifa membuka topik pembicaraan mereka.Anita mengangguk. "Iya, Fa. Mas Gibran dua hari lagi juga mau berangkat dinas." ujar wanita itu ia merasa moodnya kembali memburuk jika diingatkan kembali tentang hal itu.Ponsel Anita berdering, nama sang suami muncul dilayarnya yang menyala. "Fa, mbak duluan ya mas Gibran sudah sampai di depan. Kamu hati-hati pulangnya." ujar wanita itu diangguki Rifa.Melihat sang istri keluar dari firma, Gibran turun dari mobil lalu berjalan membukakan pintu untuk sang istri. "Terima kasih ya, mas." ujar sang istri mencium pipi sang suami dengan gerakan cepat dan karena adegan kecil itu sekujur tubuh Gibran meremang karena tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti itu dari sang istri."Sama-sama s
Anita mendapat email dari Regan pagi ini setelah selesai melakukan rapat pagi, wanita itu melirik ke arah Rifa yang sudah sibuk di depan layar komputernya Lalu matanya melihat ke arah sudut ruangan. "Raja." panggil wanita itu."Iya mbak Ta?" jawab Raja sudah berdiri di samping meja wanita itu siap diberi arahan."Nanti kamu temani saya ke R & H Law ya. Kemarin mereka minta update, sudah selesai kamu cek kan?" tanya Anita sembari menggulir layar yang ada di depannya."Sudah mbak, nanti saya up di tim." jawab Raja, Anita mengangguk puas. "Setelah makan siang kita berangkat." Setelah mendengar arahan itu, Raja pamit undur diri untuk menyiapkan berkas yang akan mereka bawa nanti. Anita menyandarkan bahunya, mengecek ponsel ia melihat ada pesan dari sang suami yang belum terbuka, senyum wanita itu mengembang setelah membaca pesan lalu segera mengetik balasan untuk sang suaminya.Suamiku : Sayang lagi apa? Lagi sibuk, ya?'Anita segera mengetik balasan chat untuk suaminya. Lagi sedikit
"Sayang." ujar Gibran mengusap puncak kepala sang istri lembut, mencium kening, pipi dan bibir wanita itu dengan lembut. Ia sengaja melakukan hal itu agar sang istri bangun dari tidurnya karena waktu sudah menunjukkan hampir subuh."Sayangku..." ujar Gibran lagi lembut mengusap rambut hitam milik Anita yang baru ia ketahui saat melepaskan hijab sang istri di malam pernikahan mereka.Gibran tersenyum karena panggilannya dibalas erangan kecil dari sang istri yang matanya masih tertutup, laki-laki itu melirik jam kembali mungkin 15 menit lagi adzan akan berkumandang dan sang istri masih sibuk terlelap dalam mimpi.Anita sedikit menggeliat dalam tidurnya, netra coklat tuanya terbuka perlahan ia melihat sang suami sudah berpenampilan segar sedikit terkejut. "Mas..." ujarnya.Gibran tersenyum mendengar panggilan itu. "Pagi sayangnya mas." sapa laki-laki itu tersenyum."Pagi sayangnya Tata." ujar wanita itu tersenyum membalas sapaan sang suami barusan.Anita yang mencoba bangkit dari dudukny
Minggu menjadi hari liburnya aktifitas dan seluruh kegiatan yang diwajibkan atau lebih dikenal dengan hari leha-leha, Anita dan Talita sudah ada di dapur dibantu dengan Adit dan Mbak ART rumah mereka. Adit sedang membantu memotongi wortel membantu sang kakak, sementara sang ibu sedang mengecek rasa masakan yang dibumbui oleh sang putri barusan. "Mas Ivan udah bangun, Dit?" tanya sang ibu, pasalnya sang sulung tidur setelah sholat subuh hingga sekarang sudah hampir pukul setengah delapan. "Udah, ma. Udah gabung kok sama Mas GIbran sama papa di halaman belakang." ujar Adit masih fokus dengan kegiatan memotong dan mengupasnya. "Kamu sendiri kok gak ikutan?" tanya Anita melihat adiknya yang lebih memilih sibuk membantu mereka di dapur, tidak ikut bermain bulu tangkis di belakang rumah. "Enggak, mbak. Capek nanti aku mau jalan sama anak gadis orang." ujar Adit tersenyum sumringah."Ada aja alasan kamu itu, bilang aja males." ujar Anita menyindir sang adik dengan senyuman mengejek."Bi







