تسجيل الدخولLimang taon na ang lumipas mula nang iwan ni Naomi Gonzales ang isla ng Euphoria, kasama ang isang gabing hindi niya kailanman nakalimutan. Isang gabing puno ng alak, init, at pagkakamaling hindi na niya mababawi. Ang natira lang sa alaala niya ay: isang skull pendant, isang mabangong amoy ng sandalwood, at ang bunga ng gabing iyon ay isang regalong pinangalanan niyang Sean. Pinili ni Naomi ang lumayo, magtrabaho at mamuhay ng tahimik para sa anak niya. Ngunit pagdating ng Pasko, napilitan siyang umuwi sa kanila at harapin ang desisyong matagal nang ipinipilit ng kanyang mga magulang. Para makaiwas, at alam niyang mali, nanghiram siya ng pag-ibig. Isang lalaking papayag magpanggap bilang perpektong boyfriend. Dahil hindi sumipot ang taong nirentahan niya, hindi niya inasahang makilala si Tobias Miranda—isang lalaking naghahanap din ng girlfriend para sa sarili niyang dahilan. Sa mundong binuo sa lihim, kasinungalingan, at pansamantalang kasunduan, unti-unting nalalagay sa alanganin ang puso ni Naomi. Dahil sa pagpasok ni Tobias sa buhay nila, unti-unti ring bumabalik ang isang katotohanang matagal niyang iniiwasan. Ang tunay na ama ng anak niyang si Sean. Si Thaddeus Miranda ang kambal ni Tobias. Dahil sa Euphoria, walang pag-ibig na simpleng hiniram lang. At may mga taong kahit limang taon na ang lumipas… hindi pa rin handang pakawalan ka.
عرض المزيدMerantau memang bukanlah hal yang mudah. Tapi mengadu nasib di negara orang sudah menjadi impian bagi Clara. Gadis cantik dari daerah pinggiran yang selalu bermimpi menjadi salah satu gadis ibukota dengan gaya mentereng. Clara selalu bermimpi untuk keluar dari tempurung kecilnya dan hidup penuh petualangan di dunia yang lebih luas. Jadi ketika ia mendapatkan kesempatan itu, Clara tidak akan menolaknya sama sekali.
Ibunya turut membantu Clara mengemasi pakaiannya ke dalam koper besar yang akan ia bawa ke Singapura. Clara baru saja ditawari untuk ikut bekerja bersama saudara ibunya yang sedang merantau di Singapura. Kebetulan restoran tempat saudara Ibunya bekerja sedang membutuhkan pelayan. Dan ketika Clara ditawari untuk mengisi posisi itu, Clara langsung setuju tanpa berpikir dua kali."Kamu sudah membawa seluruh perlengkapanmu?" Tanya Ibunya seraya membantu Clara menyusun dokumen penting milik anaknya ke dalam map."Sudah, Ma. Semuanya sudah Clara siapkan sejak semalam. Sekarang Clara tinggal menunggu kapal untuk berangkat ke Singapura." Jawab Clara mantap.Ibunya menatap anak gadis satu-satunya. Sejak dulu, puterinya ini memang selalu memiliki impian yang besar. Dan ia selalu berusaha keras untuk mewujudkannya meskipun itu tidak mudah. Clara pernah mencoba mendaftar beasiswa yang bisa membawanya berkuliah di negara lain namun ternyata semuanya gagal. Clara menyerah karena mungkin otaknya tidak sepintar itu. Lalu ia mencoba berkali-kali melamar pekerjaan kecil hingga menengah di negara lain. Namun setelah berkali-kali melewati proses interview, lamarannya tidak ada satu pun yang menghasilkan kabar baik. Hingga akhirnya tawaran bagus itu datang dari adik ibunya sendiri."Kamu hati-hati ya di negara orang. Jaga dirimu baik-baik." Pesan ibunya kepada ClaraClara mengangguk mantap."Tenang saja, Bu. Aku pasti bisa menjaga diri dengan baik. Ibu tidak perlu khawatir."***Kapal yang akan membawa Clara hijrah ke Singapura sudah merapat. Sauhnya sudah diturunkan dan aba-aba untuk para penumpang menaikki kapal sudah berbunyi. Clara mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya memicing karena sinar matahari yang silau menembus kedua bola matanya. Mesin uap raksasa itu tampak begitu gagah dan perkasa.Dengan mantap Clara melangkahkan kakinya memasukki kapal penumpang itu. Ratusan orang ikut masuk bersamanya. Sebagian di antaranya pergi ke negara singa itu untuk sekedar berlibur. Namun tidak sedikit yang mencoba untuk mengadu nasib seperti Clara. Para perantau nekad yang mencoba berjuang di salah satu negara dengan biaya hidup termahal.Setelah kurang lebih satu jam membelah lautan dengan kapal besar itu, Clara akhirnya menjejakkan kakinya di Singapura. Negara tempat ia akan memulai mimpi dan cita-citanya. Sepanjang perjalanan dari kota Batam ke Singapura membuat Sarah sadar bahwa merantau bukanlah hal yang mudah. Tapi sudah pasti merantau akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.Setibanya di pelabuhan Harbour Front Centre, Clara sudah disambut oleh adik dari ibunya. Wanita paruh baya yang sering ia panggil sebagai Tante Ana itu tersenyum sumringah sembari melambaikan tangannya yang gemuk. Bahkan dari kejauhan saja Clara bisa mengenali bibinya yang berwajah sangat mirip dengan ibunya."Tante!" Seru Clara sambil berlari menghampiri Tante Ana.Tante Ana membuka kedua lengannya dan memeluk Clara dengan erat. Sudah lima tahun ia tidak melihat keponakannya dan sekarang gadis itu sudah tumbuh besar menjadi gadis yang amat cantik."Apa kabar, Clara? Kamu semakin cantik saja sekarang ya." Puji Tante Ana sambil mencium kedua pipi keponakannya.Clara tersenyum manis. Ia juga rindu sekali pada Tante Ana. Dulu ketika ia kecil, Tante Ana lah yang selalu mengasuhnya. Namun ketika Tante Ana memutuskan menjadi TKI di Singapura, Clara sudah sangat jarang berkomunikasi dengannya. Dan untunglah tampaknya kasih sayang Tante Clara masih sama besarnya seperti dulu."Baik, Tante. Tante bagaimana kabarnya? Baik juga kan?" Tanya Clara kepada Tante Ana.Wanita gempal itu mengangguk dan langsung menggandeng Clara untuk mengikutinya."Ayo kita langsung pulang. Tante sudah memasak banyak makanan kesukaanmu. Kamu masih suka makan fuyunghai kan?" Ujar Tante Ana sembari berjalan menuju mobilnya.Clara mengangguk semangat. Sejak dulu, Tante Ana memang selalu pandai memasak. Makanan buatannya selalu lezat dan bahkan tidak jarang bernilai jual yang lumayan. Karena kemampuannya itu pula, Tante Ana bisa mendapatkan pekerjaan sebagai kepala koki di restoran tempatnya bekerja sekarang. Dan Clara juga akan memulai tangga pertama kariernya dari sana.***"Hai, Kak Clara!" Sambut seorang gadis yang usianya sebaya dengan Clara.Gadis itu, Stefany, adalah anak satu-satunya Tante Ana dari suami pertamanya. Sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang, Tante Ana pernah menikah dengan pria Indonesia yang lalu meninggalkannya demi rekan wanitanya. Dan setelah mengalami pengkhianatan itu, Tante Ana memutuskan untuk pindah bersama anaknya. Memulai lembaran hidup mereka yang baru.Clara sendiri tidak begitu kenal dengan suami kedua Tante Ana. Apakah ia adalah pria yang baik atau tidak? Tapi menurut Clara mungkin suami barunya adalah pria yang baik karena Tante Ana terlihat lebih bahagia sekarang. Apapun itu, Clara turut bahagia atas hidup Tante Ana."Hai, Stef! Kamu sudah pulang sekolah?" Tanya Clara kepada sepupunya.Stefany menggeleng."Lalu kenapa kamu ada disini?" Tambah Clara bingung."Dia izin untuk tidak masuk sekolah hanya demi menemuimu, Clara. Sejak pagi Stefany mati-matian bilang ingin menyambutmu dan mengajakmu berjalan-jalan keliling Singapura." Jelas Tante Ana sembari berkutat di dapur."Astaga, Stef! Kamu tidak perlu repot-repot seperti itu! Jalan-jalan itu bisa lain kali saja kan? Saat akhir pekan misalnya!" Ucap Clara merasa tidak enak.Stefani tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapih."Tidak apa-apa, Kak! Tentu saja berkeliling Singapura harus dilakukan di hari pertamamu! Karena kalau kamu sudah mulai bekerja, akan sangat sulit mengajakmu bepergian!" Balas Stefany.Stefany lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Clara seperti hendak berbisik."Selain itu, aku sedang malas ke sekolah. Aku baru saja putus dengan kekasihku dan pergi ke sekolah hanya akan membuat suasana terasa canggung."Clara berkata oh dalam suara yang kecil. Seolah ia mengerti apa yang terjadi. Stefany lalu menggandeng Clara ke kamar milik Stefany. Mulai hari ini, ia akan berbagi kamar dengan sepupunya itu dan Stefany sama sekali tidak keberatan. Lagipula sejak kecil, ia dan Clara selalu bersama-sama sehingga praktis mereka berdua seperti anak kembar."Ini kamarmu, Stef?" Ucap Clara takjub.Stefany mengangguk senang. Ia dengan bangga menunjukkan kamarnya yang dipenuhi koleksi album grup laki-laki Korea favoritnya."Bagaimana? Apakah keren?" Ujar Stefany antusias."Tentu saja! Kamu memang selalu setia menjadi pengikut oppa-oppamu itu ya!" Balas Clara takjub.Stefany hanya membalas kata-kata Clara dengan cengiran khasnya. Tak lama kemudian terdengar suara Tante Ana yang memanggil mereka berdua untuk keluar dan makan bersama. Stefany menyahuti panggilan ibunya dan segera keluar dari kamarnya. Clara lalu mengekor di belakang sepupunya itu dan melangkah ke ruang makan."Jo, ini Clara, keponakanku yang kuceritakan waktu itu." Ujar Tante Ana mengenalkan Clara pada seorang pria.Clara mengangkat wajahnya dan melihat pria yang dipanggil Jo itu. Pria itu adalah suami kedua Tante Ana dan ini adalah pertama kalinya Clara bertemu dengannya. Clara tak pernah menyangka bahwa Jo adalah pria berwajah sangar dan tampak kaku. Clara menjadi gugup karena Jo yang melihatnya dengan tatapan menilai."Oh, baiklah. Ayo duduk, Clara. Kita makan bersama-sama." Ajak Jo dingin.Tanpa membantah, Clara langsung mengambil kursi dan duduk di samping Stefany. Sungguh, aura pria itu terasa sangat dingin sehingga Clara tidak berani berada di dekatnya."Pa, aku boleh kan pergi bersama Kak Clara sehabis makan malam?" Ujar Stefany meminta izin saat makan malam.Jo menatap Stefany dengan tatapan bingung."Kalian mau pergi kemana?" Tanya Jo."Aku ingin memperlihatkan Singapura pada Kak Clara." Jawab Stefany antusias.Jo tampak acuh tak acuh dengan perkataan Stefany."Biarkan Clara beristirahat hari ini. Untuk apa kamu repot-repot melakukan itu semua? Menghabiskan uang saja." Ucap Jo datar tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun dari piringnya.Jo lalu menatap Clara dengan tatapan serius."Lagipula Clara bisa pergi berkeliling sendiri. Benar kan Clara?" Tanya Jo serius.Clara tersenyum tidak enak."Iya, tenang saja Stef. Aku akan pergi sendiri jika aku ingin. Kamu tidak perlu repot mengantarku." Ucap Clara pelan.Stefany seolah tidak terima dengan penolakan Clara namun Clara hanya mengisyaratkan pada Stefany untuk menurutinya. Clara memandang Jo lagi dan melihat pria itu tampak cuek dengan apa yang baru saja ia katakan. Clara menghela nafas pelan. Ia yakin hidup bersama keluarga Tante Ana tidak akan mudah.UNO: Hey, bro. Having fun?Napatitig ako sa Navi Tab. Hindi ko nireplyan kakambal ko. Dahil wala akong oras makipag chat pa sa gung-gong na 'yon. Inilapag ko sa tabi ko ang tablet. Nakaupo lang ako sa kama ng aking suite at hind namalayan na napangiti sa kawalan nang sumagi sa isip ko si Belle. Challenge para sa akin kapag sinusungitan ako ng babae. Kinuha ko muli ang tab at hinanap siya sa guest list ng isla.May internal chat system kasi ang isla. Pwede kang makipag- interact sa ibang guest. May sariling social media rin na pwede kang mag- post at maghanap ng ka date mo o yung iba ay nasa Euphoria's Cupid na app. Isang matching app na pwede kang mag- hanap ng ka-match. Swipe right and swipe left lang.Nang makita ko siya, wala pa siyang uploaded na picture. Mukhang hindi nga siya nandito para makipaglaro. I tried to send her a message.'Hi.' Binura ko. Sounds creepy. 'Hey.' Binura ko. Parang tropa ang dating. Binura ko ang lahat ng drafts.Hindi ko kailangang magpakitang-tao. Mas l
MATAPOS makapagpahinga, dahil sa mahahabang paglalakbay marating ang napakagandang isla ng Euphoria. Naisipan kong bumaba para libutin muna ang hotel na aking tinutuluyan. Mag-isa lang ako naka-check in sa Hotel Nirvana. Maayos din naman. Sobra pa nga. Ang suite ko ay may floor-to-ceiling glass window na tanaw ang dagat, may sariling balcony, at may amoy ng fresh linen at mahal na kahoy. Hindi ko kasama si Sof—ay si Coco pala. Dapat masanay na akong tawagin siyang Coco. Gaya nga ng unang sabi niya sa akin ay magkahiwalay kami, nasa private villa niya kasi siya. Ayos lang naman sa akin guest lang niy ako rito. Ang kanyang access ang gamit ko kaya ako narito sa Euphoria. Sa kanya pa rin ang desisyon kaya wala akong karapatang mag reklamo. Pero sa akin ang desisyon kung hanggang saan ko kayang makisabay sa karangyaan ng lugar na ’to. Hindi ko naman afford ang membership. Kahit yung sinasabi nilang pinaka-“affordable” na subscription ay parang sampung taon ng sahod ko ang katumbas.Humin
“CONGRATULATIONS, approved ka na.” Masiglang bati sa akin ni Sofia habang nakangiti hanggang tenga. “So, kailan ang balak mong pumunta sa Euphoria?”Kumunot ang noo ko. May kung anong biglang kabog sa dibdib ko sa tanong niya. “Hindi mo ko sasamahan?” tanong ko pabalik.May katahimikan muna sa pagitan namin. Nabuhayan ako nang magsalita muli si Sofia.“Ano ka ba.” Tumawa siya. “Sasamahan siyempre. Pero separate cabin tayo. Hindi tayo mag- share ng kwarto. Mapagkamalan pa tayong mag-jowa. O worse, lesbi.”Napahalakhak ako at napailing. “Grabe ka.”“Professional image, darling,” biro niya sabay kindat. “Tsaka mas masaya ’yon. May space at mystery.” Nakakaloko siyang tumingin sa akin.“Fine,” sabi ko habang humihinga nang malalim. “Magpapaalam muna ako sa manager ko na mag- leave.”“O sige,” sagot niya agad. “Basta inform mo lang ako kapag approved na ang leave mo.”“Yes, I will.”“You’ll love it there,” dagdag pa niya, mas seryoso na ang tono. “I swear. The place is… different. Para kan
"C'MON, Theo. Sumama ka na kasi. Para mawala na ’yang kulubot mong mukha. Para ka nang tatay." Sinamaan ko ng tingin ang kakambal ko na kanina pa ako kinukulit na sumama sa kanya sa Euphoria. Tinaktak ko ang upos ng sigarilyo ko. Sumandal ako sa aking swivel chair humithit dito hinila ang usok paloob ng dibdib bago ko dahan-dahang ibuga. Pinatong ko siko ko sa may armrest ang kanan ay bahagyang nakataas dahil may sigarilyo at ang kaliwa'y naka- relax. "I don't want to go, Tobby. I just want to be alone. And get the f*ck out of my office." "Tanginang 'yan. Diyan ka magaling eh, you always shutdown people even your own brother. Ang sakit." Umarte ito na parang tinamaan ng bala sa may puso niya. "Siraulo!" Pinatay ko ang sigarilyo sa may ashtray sa tapat ko. Tumayo ako at nag tungo sa may bar counter at nagsalin ng whiskey. "Kasi naman, bro. Hanggang ngayon hindi ka pa rin makagetover kay Mel. It's been months since she broke up with you." Humigpit ang kapit ko sa baso. Kapag binab
TAHIMIK ang apartment nang makarating ako. Patay ang ilaw. Magulo pa rin ito. Yung mga hugasan na pinggan mula kahapon ay naroon pa rin. Umupo muna ako sa sofa para magpahinga saglit. Mga ilang minuto lang ay tumayo rin ako, pumunta muna ako sa kusina at sinimulan maghugas ng mga pinggan, nagpunas
LUMABAS akong malapad ang ngiti sa VIP lounge ng store na pinagtatrabahuan ko. Dala ko ang order ng customer. Masaya ako kasi after seven days na hindi binabalik ang item, ay makukuha ko ang incentives ko sa naibenta kong bag. Sinamahan ko ang customer na magbayad sa cashier ang customer at binigay
"MGA WALANG hiya kayo!" Sigaw ko nang umuwi ako sa apartment ko na nirerentahan at ako ang nagbabayad. Nakita ko si Fred na boyfriend ko na nakapatong sa isang babae. "Ang bababoy niyo! Sa apartment ko pa kayo gumagawa ng kababuyan!" Angil ko at pinagpapalo ng unan si Fred. Ayon lang kasi ang unan


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
المراجعات