로그인
Angelica Mont, wanita cantik berusia 38 Tahun. Dia adalah seorang Ibu tunggal yang bekerja sebagai penjual buah di pasar.
Sehari-hari dia hanya sibuk berjualan dilapak. Meski tak mudah, hari-hari dilewatinya dengan baik. * Pagi itu, Angelica sedang menimbang buah semangka yang dipilih oleh pembeli, dia menentukan harga dari semangka itu, lalu menerima pembayaran. "Terima kasih. Datang lagi ya," ucap Angelica sambil tersenyum, dia menatap kepergian pelanggannya. Tak lama setelah kepergian pembeli, muncul sekolompok preman. Melihat wajah preman yang tak asing, membuat Angelica muak. Dia tak menghiraukan datangnya para preman itu dan lanjut bekerja. Menata buah di lapaknya. Seorang preman mendekati Angelica, lalu menggodanya. "Hai, cantik. Sibuk kerja ya," godanya. Angelica masih diam, tak menghiraukan kedatangan mereka sama sekali. Kesal karena diabaikan, seseorang itupun bertindak kasar. Dia mencengkram pergelangan tangan Angelica dan menariknya. Sehingga wajah Angelica menghadap ke wajahnya. "Wah, sungguh cantik. Kamu apa nggak rugi cuma jualan buah. Dengan kecantikanmu bak Dewi kayangan, mending jual tubuh. Hahaha..." Angelica langsung mengerutkan dahi. Segera dia menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman preman. "Tutup mulutmu. Kalau nggak mau aku sumpal pakai kulit durian," kata Angelica dengan tatapan tajam menusuk. Si preman tersenyum miring, "dari pada kulit durian. Mending kamu sumpal mulutku pakai mulutmu aja. Sini," katanya kurang ajar. "Jangan buat keributan di lapakku. Kalau nggak ada keperluan, mending kalian pergi. Pelangganku jadi nggak mau datang karena kalian," kata Angelica protes. "Oh, begitu ya? Aduh, gimana dong? Kami maunya emang gangguin kamu tuh. Hahaha ..." "Hei, penjual buah. Jangan mengira kamu bisa seenaknya dengan kami. Cuma penjual buah miskin aja sok sekali. Kalau bukan karena wajah cantikmu. Sudah aku buat kamu jadi makan ikan di sungai." "Hahaha... Betul sekali." "Ckck... Kasian sekali wanita ini. Cantik-cantik harus susah payah jualan buah. Mana harus ngerawat anak sendirian lagi." Mendengar ocehan para preman dihadapannya, membuat Angelica kesal. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa karena tak mau membuat kegaduhan yang tak berarti. "Sudah-sudah. Kalian jangan banyak omong lagi. Minggir sana," kata seseorang yang adalah bos para preman. Beberapa orang yang tadi mengatai Angelica mulai menepi. Memberi jalan untuk bosnya lewat. Bos premen itu menatap wanita cantik dengan lekat, lalu mengeluarkan secarik kertas dan dibantingnya ke meja. "Biaya kemananan, lima juta." Amgelica kaget, "hah? Lima juta? Kamu gila ya?" sahutnya. "Apa? Kamu ngatain aku gila? Dasar jalang!" sentak bos preman. Tak terima dengan perkataan Angelica. "Kalau nggak gila, terus apa? Bulan lalu cuma satu juta? Kenapa sekarang jadi lima juta? Kalian mau memerasku?" kata Angelica yang semakin emosi. "Duh, kenapa marah-marah gitu sih. Kamu nggak punya uang? Mau aku bayarin? Gampang kok, kalau kamu temani aku malam ini, aku akan bayar biaya keamanan selama tiga bulan. Gimana?" Bos preman beraksi. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan Angelica. Dia menatap Angelica dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu memfokuskan pandangan ke bagian dada dari Angelica. "Sialan! wanita ini semakin hari semakin cantik saja. Sungguh membuatku terpesona. Sayangnya dia selalu lolos. Jadi nggak bisa main-main deh," kata Bos preman dalam hati. Angelica mengepalkan tangan marah. Ingin rasanya dia menghajar para preman yang mengganggunya. Sayangnya dia masih harus menahan diri. "Aku harus bertahan. Anakku sudah kelas 2 SMA, setelah dia lulus nanti, aku akan pindah dari kota ini. Untuk saat ini, aku nggak bisa membuat masalah. Sabar Angelica, sabar," kata Angelica dalam hati. Memperingatkan diri sendiri. "Bagaimana? Sudah kamu pikirkan dengan baik? Kamu dari tadi cuma diam, pasti lagi mikirin gimana caranya bayar 'kan?" kata bos preman. "Sudahlah. Jangan sok jual mahal. Mendapatkan perhatian dari Bos kami adalah keberuntunganmu. Penjual receh sepertimu seharusnya bersyukur." "Jangan jadi orang yang nggak tahu diri." Angelica menatap tajam, lalu tersenyum cantik pada bos preman. "Nomor rekening," kata Angelica. Bos preman terkejut, "apa? No-nomor rekening?" tanyanya. Angelica menganggukkan kepala, "iya, nomor rekening. Uang segitu aku nggak ada tunai. Kalau mau aku bayar, ya harus transfer. Kenapa? Nggak mau dibayar?" tanyanya. Angelica menyodorkan ponselnya kepada Bos preman, "isi nomor rekeningnya," katanya. Memerintah Bos preman untuk mengisi nomor rekening. Setelah nomor rekening terisi, ponsel dikembalikan ke Angelica. Segera Angelica mentransfer sejumlah uang yang diminta preman. "Sudah aku bayar lunas, lima juta. Silakan pergi," kata Angelica mengusir para preman dari kiosnya. Karena tak ada lagi keperluan, mau tak mau para preman pergi meninggalkan lapak. Bos preman tampak sangat kecewa bercampur kesal karena tak bisa mendapat apa yang dia inginkan. * Di sekolah... Sekelompok anak sedang melakukan perundungan terhadap seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang dirundung adalah anak dari Angelica, dia bernama Nathanael Mont. "Anak haram sialan. Berani kamu melawanku. Hah? Akan aku buat kamu merasakan akibat dari perbuatanmu," kata seorang anak laki-laki bernama Theo. Theo memerintahkan lima temannya untuk menghajar Nathan. Sementara Nathan yang tak pandai berkelahi, hanya bisa pasrah saat dirundung. Nathan memejamkan mata, dia merasa sangat sakit disekujur tubuh karena dipukuli Theo dan teman-temannya. "Hentikan!" kata Theo. Semua orang berhanti memukuli Nathan dan memberi jalan untuk Theo lewat. Nathan menadahkan kepala, menatap Theo yang berdiri dihadapannya. "Ke-kenapa?" tanya Nathan. "Kenapa? Apanya yang kenapa? Kamu mau tanya, kenapa aku melakukan ini?" tanya Theo. Nathan diam. Hanya lekat menatap Theo yang dirasanya sudah gila. Tatapan mata Nathan membuat Theo semakin kesal. Tiba-tiba Theo menginjak tangan kiri Nathan. "Ouch..." Nathan tampak begitu kesakitan. Dia merangkul kaki Theo erat, lalu memohon untuk tangannya dilepaskan. "Lepaskan. Aku mohon lepaskan," kata Nathan memohon. Mendengar permohonan Nathan, Theo bukannya melepaskan malah semakin kuat menginjak tangan Nathan. "Lepaskan katamu? Aku akan lepas setelah tanganmu ini hancur, berengsek. Bajingan sialan! Mati saja kamu," maki Theo pada Nathan. "Theo hentikan." Seseorang berlari menghampiri Theo. Dia memberitahu jika wali kelas sedang mencari Nathan untuk urusan penting. Mendengar itu Theo langsung melepaskan pijakan dan meminta Nathan pergi. "Pergi sana. Jangan sampai aku dengar kamu mengadu soal tanganmu. Jika ditanya Pak Guru, bilang saja kamu jatuh sendiri. Apa kamu mengerti?" sentak Theo. Nathan menganggukkan kepala, segera dia bangun dari posisinya yang meringkuk. Dengan susah payah, akhirnya Nathan bisa bangkit berdiri, lalu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan Theo. "Apa nggak masalah dia menemui wali kelas dengan keadaan seperti itu?" tanya seseorang. "Apa masalahnya?" tanya Theo. "Ya, takutnya dia ngadu habis dipukuli. Kita bisa kena hukuman," kata seseorang khawatir. "Apa kalian melihat sesuatu terjadi, di sini?" tanya Theo lagi. Menatap semua orang yang ada di atap gedung. Semua yang ada di sana diam sesaat, lalu sedetik kemudian langsung menggelengkan kepala. Mereka tahu maksud ucapan Theo tanpa dijelaskan. Theo menatap punggung Nathan yang sedang berjalan menuju tangga dengan senyuman sinis.Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny
Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur
Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban
Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m
Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o
Keesokan harinya ...Mendengar cucunya sudah sadar, Andrew yang sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri langsung bergegas pulang. Dia sangat senang dan tidak sabar ingin bertemu sang cucu.Setibanya dibandara, Andrew tidak mau diantar pulang. Dia mau langsung ke rumah sakit.*Rumah sakit ...Keadaan Nathan semakin membaik. Meski belum bisa banyak bergerak, Nathan sudah mulai lancar bicara. "Ma ... " panggil Nathan."Ya?" jawab Angelica. Bergegas menghmpiri Nathan. "Ada apa, sayang?" tanya Angelica. "Ma, kapan kita pulang?" tanya Nathan."Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kenapa?" tanya Angelica setelah menjawab pertanyaan putranya."Ma, om-om kemarin, siapa? Pacarnya Mama?" tanya Nathan."Pacar apaan. Dia itu Papa kandungmu," jawab Angelica."Papa kandung?" tanya Nathan tidak yakin dengan ucapan Mamanya."Kaget, ya? Awalnya Mama juga keget. Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku Papamu. Dia bawa hasil tes dan wajahnya mirip denganmu. Setelah dipastikan dia memang Papa







