로그인Seorang lelaki berlari mendekati Angelica yang sedang mendorong gerobak berisikan buah-buahan segar. Lelaki itu menggantikan Angelica mendorong gerobak.
Setelah gerobak diperkirakan di halaman, lelaki itu segera berlari menghampiri Angelica yang sedang duduk di teras depan rumahnya. lelaki itu langsung berlutut dan mengucap salam hormat. "Ketua..." Lelaki itu memanggil Angelica Ketua dengan kepala menunduk. Angelica mengangkat kedua tangan, lalu mengikat rambutnya ekor kuda. Terlihat tato bergambar naga terlukis di tengkuknya. Dia menatap sekilas lelaki yang berlutut dihadapannya, lalu memalingkan pandangan ke arah lain. "Hebat juga kamu. Bisa menemukanku," ucap Angelica. "Terima kasih untuk pujiannya, Ketua. Semua berkat kerja keras saya selama ini," jawab lelaki itu. Masih dengan kepala menunduk. Angelica menatap lelaki itu lagi, lalu tersenyum lebar. "Kamu mau berlutut sampai kapan? Duduklah," kata Angelica, mempersilakan si lelaki untuk duduk. Si lelaki mengangkat kepala untuk menatap Angelica, dia segera berdiri. Tak lupa dia berterima kasih. "Ketua... Anda... Ba-bagaimana kabar anda? Anda baik-baik saja?" tanyanya lelaki itu. "Seperti yang kamu lihat. Aku baik. Bagaimana kabarmu?" jawab Angelica yang langsung bertanya balik. "Saya juga baik," jawab si lelaki. "Kalau Papa? Bagaimana?" tanya Angelica. "Semenjak pergi, aku dan papa nggak pernah bertemu lagi. Aku hanya beberapa kali berkirim surat lewat pos. Mengabari kalau aku baik-baik saja. Pa... apa Papa baik-baik saja?" tanya Angelica dalam hati. "Tuan besar cukup baik. Setelah anda pergi, beliau jadi suka menyendiri di ruang kerja dan tak mau diganggu. Beliau juga sering menatap lama foto anda," jawab lelaki itu. "Jujur padaku. Kamu sudah memberitahu Papa atau belum, soal kamu menemukanku di sini?" tanya Angelica menatap lekat lelaki di hadaapannya. Lelaki itu menggelengkan kepala, "belum. Saya belum melapor." Angelica diam berpikir, lalu mengatakan sesuatu. "Kalau kamu mau memberitahu Papa, beritahu saja. Tapi sampaikan ke Papa, jangan coba-coba bujuk aku buat pulang. Kamu ngerti maksudku ' kan?" kata Angelica memperingatkan. Si lelaki hanya bisa menganggukkan kepala pelan tanpa mengatakan apa-apa. "Duh, gimana ini? Padahal aku niat mau bujukin Ketua supaya mau pulang. Sudah delapan belas tahun ketua pergi meninggalkan kami. Nggak cuma Tuan besar, kami para anggota oraganisari juga menantikan beliau kembali. Sayang banget," kata si lelaki dalam hati. "Ervan, ada apa?" tanya Angelica. Si lelaki yang bernama Ervan, langsung kaget dan menggelengkan kepala lagi. "Ti-tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja," jawab Ervan. "Lama nggak ketemu ya," ucap Angelica. "Iya, Ketua. Lama tidak bertemu," jawab Ervan. "Gimana organisasi naga? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Angelica basa-basi. "Bisa dibilang baik, bisa dibilang nggak baik. Situsinya ada ditengah-tengah," jawab Ervan. Angelica mengerutkan dahi, "maksudmu?" tanyanya. "Anda mungkin tidak tahu, lima tahun setelah kepergian anda, organisasi Harimau mulai bertingkah. Mereka bahkan diam-diam nenyerang organisasi lain. Pokoknya mereka sering kali mengacau. Setelahberdiskusi panjang dengan Tuan besar, akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengeluarkan organisasi Harimau dari organisasi kita. Dan setelah kejadian itu mereka kini menjadi organisasi mandiri yang terus mencari masalah dengan kami," jelas Ervan. "Bagaimana bisa seperti itu? Apa kamu sudah menyelidikinya? Dave yang aku kenal, bukan orang yang akan berkhianat. Aku tahu Dave orang yang seperti apa," kata Angelica berkomentar. "Oh, saya lupa memberitahu anda. Kalau Harimau tidak lagi dipegang oleh Tuan Dave. Setelah anda menghilang tiba-tiba, para pemimpin organisasi mencari keberadaan anda ke sana sini dan akhirnya Tuan Dave jatuh sakit. Karena alasan kesehatan, Tuan Dave memutuskan mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh anak angkatnya. Setelah kepempinan diganti, mulai muncul konflik dan lain sebagainya yang memicu berdebatan dan pekelahian," Ervan menjelaskan detail apa yang terjadi pada Angelica. "Apa Dave tahu masalah yang terjadi di organisasinya?" Angelica merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi. "Soal itu ... Sampai saat ini, kami belum pernah bertemu Tuan Dave. Anaknya berkata, Tuan Dave sedang berobat di luar negeri untuk waktu yang lama," jawab Ervan. Angelica mengetuk meja dengan jarinya, "sepertinya, anaknya itu sedang berbohong. Dave adalah yang paling tua diantara pimpin organisasi. Dia juga sudah mengikuti Papa dari usia lima tahun. Kalau ada masalah di organisasinya, mustahil dia nggak tahu. Jangan-jangan ... " katanya yang langsung diam "jangan-jangan apa?" tanya Ervan penasaran. "Jangan-jangan, terjadi sesuatu dengannya. Kamu coba cari tahu dan selidiki. Jangan asal percaya ucapan anaknya," kata Angelica menduga. Ervan menganggukkan kepala, "dimengerti," jawabnya. "Bagaimana dengan tiga organisasi lainnya?" tanya Angelica. "Yang lain terkendali," jawab Ervan. "Apa pemimpin mereka masih sama?" tanya Angelica lagi. "Masih. Yang ganti hanya Harimau," jawab Ervan. "Hm," gumam Angelica. Ervan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja di hadapan Angelica. "Ini nomor pribadi saya. Silakan hubungi saya kapan pun, jika anda membutuhkan sesuatu. Mungkin anda tidak membutuhkannya saat ini. Namun, hari esok siapa yang tahu?" ucap Ervan. Angelica tersenyum, mengambil kartu nama pemberian Ervan dan melihatnya lekat. "Baiklah, aku akan simpan. Kalau nggak ada urusan, mending kamu pergi aja. Sebentar lagi anakku pulang sekolah. Nanti dia mikir aneh-aneh kalau ngelihat kamu di sini," Angelica meminta Ervan untuk pergi meninggalkan tempat tinggaknya. "Baik, ketua. Saya akan segera pergi. Jaga diri anda baik-baik," Ervan langsung pergi setelah berpamitan. Angelica menatap kepergian Ervan sampai menghilang dari pandangan, lalu pandangannya teralihkan ke kartu nama milik Ervan. "Sepertinya, menjadikan Ervan sebagai waliku adalah keputusan yang tepat. Maafkan aku ya, Ervan. Karena kepergianku kamu harus bersusah payah sampai seperti ini," kata Angelica dalam hati. Merasa bersalah kepada Ervan. "Sudahlah, lebih baik aku cepat-cepat masak buat makan siang. Sebentar lagi 'kan kesayanganku pulang," kata Angelica tersenyum lebar. Ponsel Angelica berdering. Angelica mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan melihat guru wali kelas anaknya menelepon. "Ada apa? Kok wali kelas menelepon. Apa ada masalah dengan pelajaran Nathan?" tanya Angelica menerka. Angelica segera meneggeser panel hijau di layar ponselnya dan menjawab panggilan dari wali kelas anaknya. "Ya, halo. Ada apa, Pak?" tanya Angelica. "Halo, Bu. Maaf mengganggu waktunya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," kata wali kelas. "Silakan bicara," kata Angelica. Angelica meraba dadanya, "nggak tahu kenapa, perasaanku nggak enak. Ada apa sebenarnya?" katanya dalam hati. "Bu, Nathanael saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dia terjatuh dari tangga," kata wali kelas. Memberitahu keadaan Nanthan pada angelica. Mata Angelica melebar, "apa?" ucapnya dengan suara gemetar. "Saat ini saya sedang menungu di rumah sakit. Lebih baik anda juga segera datang," kata wali kelas. Angelica langsung menutup telepon dan segera berlari pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.Seorang wanita masuk ke dalam sebuah gedung perusahaan dengan langkah terburu-buru. Di belakangnya ada Asistennya yang mengikuti."Ayo cepat!" perintah perempuan itu pada Asistennya."Bu... kenapa kita ke sini? bukankah rapat besar baru akan digelar minggu depan? apa rapatnya dimajukan?" tanya si Asisten."Nanti kamu juga tahu sendiri," jawab wanita itu."Kalau rapatnya dimajukan, bukankah seharusnya mereka memberiktahuku dulu? aneh... " kata Asisten dalam hati bingung. Dia merogoh saku jasnya damn mengeluarkan ponsel. Memeriksa apakah ada pesan masuk atau panggilan tidak terjawab."Tuh kan, nggak ada informasi apa-apa. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi, yang membuat Bu Bos harus datang ke sini. Mungkin karena itu rapatnya dimajukan," kata Asisten dalam hati.Asisten itu tanpa banyak berpikir lagi mengikuti Bosnya dengan patuh. Sampai tiba di depan ruang CEO dan bertemu dengan Ervan."Bu Rosella," sapa Ervan. "Asisten Ervan, di mana ketua? oh, maksudku Bu CEO," tanya Rosella."A
Udara begitu dingin, hujan turun dengan lebatnya disertai petir yang menyambar. Seorang lelaki sedang berdiri termenung menatap dinding kaca yang berembun. Tangannya menggenggam sebuah cincin berlian langka yang tak bisa sembarang orang memilikinya. Dia memikirkan sebuah kejadian masa lalu yang tak bisa dia lupakan.Saat itu, dia sedang menghadiri sebuah jamuan. Ternyata ada oknum yang memanfaatkan kesempatan itu dengan memberinya minuman yang sudah diberi obat. Dalam keadaan terdesak dan setengah sadar, dia kebetulan bertemu seorang perempuan muda cantik. Dilihatnya perempuan itu juga sedang kesulitan. Keduanya pun menghabiskan malam panas bersama tanpa tahu identitas masing-masing. Sebab keesokan paginya saat terbangun, lelaki itu tak menemukan perempuan yang semalambercinta dengannya. Pergulatan malam itu hanya menyisakan bercak darah tanda keperawanan dan sebuah cincin berlian bernilai fantastis."Delapan belas tahun sudah berlalu. Dan perempuan itu masih belum bisa kutemukan. S
Di rumah sakit ...Angelica masuk ke dalam ruangan tempat Nathan di rawat. Begitu masuk, dia disambut oleh seseorang yang begitu dia rindukan."Sudah pulang?" kata seorang lelaki tua berumur 65 Tahun yang adalah Papa dari Angelica, Andrew.Angelica terkejut, "Pa-pa ..." panggilnya.Angelica langsung berlari memeluk sang Papa. Dilepaskan pelukan dan ditatapnya Andrew, "papa kok bisa di sini?" tanya Angelica."Kenapa? Papa nggak boleh tahu keadaanmu dan anakmu?" tanya Andrew.Angelica menggelengkan kepala, "bukan seperti itu. Hanya ... Ah, sudahlah. Lupakan saja. Seharusnya aku sudah menduga hal ini. Ervan nggak mungkin diam saja patuh," katanya."Bukan Ervan. Jangan salahkan dia," kata Andrew."Iya, iya. Bukan dia. Terus saja bela dia," keluh Angelica.Andrew menatap dan mengusap kepala putri kesayangannya, "delapan belas tahun kamu pergi meninggalkan Papa tanpa menjelaskan apapun. Apa sekarang papa nggak boleh tahu alasanmu pergi saat itu?" tanyanya."Pa ..." panggil Angelica. Memega
Sepupu Papa Theo murka. Dia begitu marah melihat dua bawahannya diserang Angelica. "Kamu, beraninya kamu ..." kata sepupu Papa Theo yang langsung mengeluarkan pistol dan menodongkan ke arah Angelica."Serahkan dirimu sekarang, atau kutembak?" tanya sepupu Papa Theo.Angelica menatap sepupu Theo dengan santai," kamu mengancamku? memangnya kamu pantas?" katanya dingin.Sorot mata Angelica langsung berubah. Tatapan tajamnya bagai tombak yang siap menghunus. Membuat sepupu Papa Theo langsung kelabakan."Aneh sekali. Ke-kenapa ta-tapannya begitu menyeramkan. Apa dia masih orang yang sama. Sepertinya bukan. Jangan-jangan dia ..." kata sepupu Papa Theo dalam hati berpikir. Diusapnya keringat yang mulai menetes di pelipisnya, "ka-kamu ... Cepat serahkan dirimu," kata sepupu Papa Theo lagi, memerintah."Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Angelica pura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah dia lakukan."Ka-kamu ... " kata sepupu Papa Theo yang tak bisa lagi berkata-kata."Dia kenapa? Aneh
Organisasi Mawar Biru, adalah salah satu dari lima organisasi besar yang mendunia. Pemimpin Organisasi Mawar Biru adalah seorang wanita bernama Rosella. "Bu," Panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Rosella berada."Ada apa? Kalau nggak bawa kabar soal ketua jangan kembali," ucap Rosella tanpa menatap seseorang itu."Aku harus berusaha menjelaskan dengan baik. Supaya Bu Rose mau mendengarkan," kata seseorang itu dalam hati."Nona, keberadaan ketua memang tidak bisa kami lacak. Kami sudah memakai koneksi sana sini, dan semuanya sia-sia. Saya juga nggak bisa apa-apa," kata seseorang itu memberikan penjelasan.Rosella memalingkan pandangan, "jadi, kita harus menyerah?" tanyanya."Bukan begitu juga. Kita sudah delapan belas tahun mencari, tapi sama sekali nggak ada petunjuk. Kemungkinanya cuma satu," kata seseorang itu dengan dugaannya."Aku bahkan sampai menyewa detektif ternama dalam dan luar negeri demi mencari keberadaan ketua. Dan hasilnya nol besar. Ketua in
Keesokan harinya, di sekolah. Ketua yayasan mengumpulkan semua orang yang terlibat, termasuk Angelica dan wali kelas. "Semua sudah berkumpul. Saya nggak akan berbelit-belit. Kali ini ditemukan adanya kejanggalan, dan pihak sekolah tak memberikan penjelasan yang memuaskan kepada keluarga Nathan. Saya selaku ketua yayasan meminta adanya penyelidikan agar semuanya jelas," kata ketua yayasan. "Tidak bisa seperti itu, Pak. Anak saya tidak bersalah." "Anak saya juga tidak. Dia siswan teladan. Mana mungkin melakukan perundungan. Ini tuduhan palsu." "Saya setuju. Saya tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan kepada anak saya." Papa Theo menatap kepala sekolah, membuat kepala sekolah ketakutan. "Pak ketua, bukankah ini hanya masalah sepele? Lebih baik saya menangani. Anda duduk manis saja di kantor," bisik kepala sekolah. Ketua yayasan langsung menampar kepala sekolah, "kurang ajar. Beraninya kamu menyuruhku hanya duduk manis di kantor. Ada hal serius seperti ini. Bukannya







