مشاركة

2. Tak Terduga

مؤلف: Dea Anggie
last update تاريخ النشر: 2026-03-10 14:41:50

Seorang lelaki berlari mendekati Angelica yang sedang mendorong gerobak berisikan buah-buahan segar. Lelaki itu menggantikan Angelica mendorong gerobak.

Setelah gerobak diperkirakan di halaman, lelaki itu segera berlari menghampiri Angelica yang sedang duduk di teras depan rumahnya. lelaki itu langsung berlutut dan mengucap salam hormat.

"Ketua..." Lelaki itu memanggil Angelica Ketua dengan kepala menunduk.

Angelica mengangkat kedua tangan, lalu mengikat rambutnya ekor kuda. Terlihat tato bergambar naga terlukis di tengkuknya.

Dia menatap sekilas lelaki yang berlutut dihadapannya, lalu memalingkan pandangan ke arah lain.

"Hebat juga kamu. Bisa menemukanku," ucap Angelica.

"Terima kasih untuk pujiannya, Ketua. Semua berkat kerja keras saya selama ini," jawab lelaki itu. Masih dengan kepala menunduk.

Angelica menatap lelaki itu lagi, lalu tersenyum lebar.

"Kamu mau berlutut sampai kapan? Duduklah," kata Angelica, mempersilakan si lelaki untuk duduk.

Si lelaki mengangkat kepala untuk menatap Angelica, dia segera berdiri. Tak lupa dia berterima kasih.

"Ketua... Anda... Ba-bagaimana kabar anda? Anda baik-baik saja?" tanyanya lelaki itu.

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik. Bagaimana kabarmu?" jawab Angelica yang langsung bertanya balik.

"Saya juga baik," jawab si lelaki.

"Kalau Papa? Bagaimana?" tanya Angelica.

"Semenjak pergi, aku dan papa nggak pernah bertemu lagi. Aku hanya beberapa kali berkirim surat lewat pos. Mengabari kalau aku baik-baik saja. Pa... apa Papa baik-baik saja?" tanya Angelica dalam hati.

"Tuan besar cukup baik. Setelah anda pergi, beliau jadi suka menyendiri di ruang kerja dan tak mau diganggu. Beliau juga sering menatap lama foto anda," jawab lelaki itu.

"Jujur padaku. Kamu sudah memberitahu Papa atau belum, soal kamu menemukanku di sini?" tanya Angelica menatap lekat lelaki di hadaapannya.

Lelaki itu menggelengkan kepala, "belum. Saya belum melapor."

Angelica diam berpikir, lalu mengatakan sesuatu.

"Kalau kamu mau memberitahu Papa, beritahu saja. Tapi sampaikan ke Papa, jangan coba-coba bujuk aku buat pulang. Kamu ngerti maksudku ' kan?" kata Angelica memperingatkan.

Si lelaki hanya bisa menganggukkan kepala pelan tanpa mengatakan apa-apa.

"Duh, gimana ini? Padahal aku niat mau bujukin Ketua supaya mau pulang. Sudah delapan belas tahun ketua pergi meninggalkan kami. Nggak cuma Tuan besar, kami para anggota oraganisari juga menantikan beliau kembali. Sayang banget," kata si lelaki dalam hati.

"Ervan, ada apa?" tanya Angelica.

Si lelaki yang bernama Ervan, langsung kaget dan menggelengkan kepala lagi.

"Ti-tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja," jawab Ervan.

"Lama nggak ketemu ya," ucap Angelica.

"Iya, Ketua. Lama tidak bertemu," jawab Ervan.

"Gimana organisasi naga? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Angelica basa-basi.

"Bisa dibilang baik, bisa dibilang nggak baik. Situsinya ada ditengah-tengah," jawab Ervan.

Angelica mengerutkan dahi, "maksudmu?" tanyanya.

"Anda mungkin tidak tahu, lima tahun setelah kepergian anda, organisasi Harimau mulai bertingkah. Mereka bahkan diam-diam nenyerang organisasi lain. Pokoknya mereka sering kali mengacau. Setelahberdiskusi panjang dengan Tuan besar, akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengeluarkan organisasi Harimau dari organisasi kita. Dan setelah kejadian itu mereka kini menjadi organisasi mandiri yang terus mencari masalah dengan kami," jelas Ervan.

"Bagaimana bisa seperti itu? Apa kamu sudah menyelidikinya? Dave yang aku kenal, bukan orang yang akan berkhianat. Aku tahu Dave orang yang seperti apa," kata Angelica berkomentar.

"Oh, saya lupa memberitahu anda. Kalau Harimau tidak lagi dipegang oleh Tuan Dave. Setelah anda menghilang tiba-tiba, para pemimpin organisasi mencari keberadaan anda ke sana sini dan akhirnya Tuan Dave jatuh sakit. Karena alasan kesehatan, Tuan Dave memutuskan mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh anak angkatnya. Setelah kepempinan diganti, mulai muncul konflik dan lain sebagainya yang memicu berdebatan dan pekelahian," Ervan menjelaskan detail apa yang terjadi pada Angelica.

"Apa Dave tahu masalah yang terjadi di organisasinya?" Angelica merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi.

"Soal itu ... Sampai saat ini, kami belum pernah bertemu Tuan Dave. Anaknya berkata, Tuan Dave sedang berobat di luar negeri untuk waktu yang lama," jawab Ervan.

Angelica mengetuk meja dengan jarinya, "sepertinya, anaknya itu sedang berbohong. Dave adalah yang paling tua diantara pimpin organisasi. Dia juga sudah mengikuti Papa dari usia lima tahun. Kalau ada masalah di organisasinya, mustahil dia nggak tahu. Jangan-jangan ... " katanya yang langsung diam

"jangan-jangan apa?" tanya Ervan penasaran.

"Jangan-jangan, terjadi sesuatu dengannya. Kamu coba cari tahu dan selidiki. Jangan asal percaya ucapan anaknya," kata Angelica menduga.

Ervan menganggukkan kepala, "dimengerti," jawabnya.

"Bagaimana dengan tiga organisasi lainnya?" tanya Angelica.

"Yang lain terkendali," jawab Ervan.

"Apa pemimpin mereka masih sama?" tanya Angelica lagi.

"Masih. Yang ganti hanya Harimau," jawab Ervan.

"Hm," gumam Angelica.

Ervan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja di hadapan Angelica.

"Ini nomor pribadi saya. Silakan hubungi saya kapan pun, jika anda membutuhkan sesuatu. Mungkin anda tidak membutuhkannya saat ini. Namun, hari esok siapa yang tahu?" ucap Ervan.

Angelica tersenyum, mengambil kartu nama pemberian Ervan dan melihatnya lekat.

"Baiklah, aku akan simpan. Kalau nggak ada urusan, mending kamu pergi aja. Sebentar lagi anakku pulang sekolah. Nanti dia mikir aneh-aneh kalau ngelihat kamu di sini," Angelica meminta Ervan untuk pergi meninggalkan tempat tinggaknya.

"Baik, ketua. Saya akan segera pergi. Jaga diri anda baik-baik," Ervan langsung pergi setelah berpamitan.

Angelica menatap kepergian Ervan sampai menghilang dari pandangan, lalu pandangannya teralihkan ke kartu nama milik Ervan.

"Sepertinya, menjadikan Ervan sebagai waliku adalah keputusan yang tepat. Maafkan aku ya, Ervan. Karena kepergianku kamu harus bersusah payah sampai seperti ini," kata Angelica dalam hati. Merasa bersalah kepada Ervan.

"Sudahlah, lebih baik aku cepat-cepat masak buat makan siang. Sebentar lagi 'kan kesayanganku pulang," kata Angelica tersenyum lebar.

Ponsel Angelica berdering. Angelica mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan melihat guru wali kelas anaknya menelepon.

"Ada apa? Kok wali kelas menelepon. Apa ada masalah dengan pelajaran Nathan?" tanya Angelica menerka.

Angelica segera meneggeser panel hijau di layar ponselnya dan menjawab panggilan dari wali kelas anaknya.

"Ya, halo. Ada apa, Pak?" tanya Angelica.

"Halo, Bu. Maaf mengganggu waktunya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," kata wali kelas.

"Silakan bicara," kata Angelica.

Angelica meraba dadanya, "nggak tahu kenapa, perasaanku nggak enak. Ada apa sebenarnya?" katanya dalam hati.

"Bu, Nathanael saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dia terjatuh dari tangga," kata wali kelas. Memberitahu keadaan Nanthan pada angelica.

Mata Angelica melebar, "apa?" ucapnya dengan suara gemetar.

"Saat ini saya sedang menungu di rumah sakit. Lebih baik anda juga segera datang," kata wali kelas.

Angelica langsung menutup telepon dan segera berlari pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
moo
ketua? wah, siapa angelica ini?
goodnovel comment avatar
Moonlight
wah, ternyata maknya Nathan .....
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • A Mother's Justice   106. Obrolan Santai

    Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny

  • A Mother's Justice   105. Pendekatan Aktif

    Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur

  • A Mother's Justice   104. Mengenal Keluarga (2)

    Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban

  • A Mother's Justice   103. Mengenal Keluarga (1)

    Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m

  • A Mother's Justice   102. Kedatangan Kakek

    Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o

  • A Mother's Justice   101. Papa?

    Keesokan harinya ...Mendengar cucunya sudah sadar, Andrew yang sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri langsung bergegas pulang. Dia sangat senang dan tidak sabar ingin bertemu sang cucu.Setibanya dibandara, Andrew tidak mau diantar pulang. Dia mau langsung ke rumah sakit.*Rumah sakit ...Keadaan Nathan semakin membaik. Meski belum bisa banyak bergerak, Nathan sudah mulai lancar bicara. "Ma ... " panggil Nathan."Ya?" jawab Angelica. Bergegas menghmpiri Nathan. "Ada apa, sayang?" tanya Angelica. "Ma, kapan kita pulang?" tanya Nathan."Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kenapa?" tanya Angelica setelah menjawab pertanyaan putranya."Ma, om-om kemarin, siapa? Pacarnya Mama?" tanya Nathan."Pacar apaan. Dia itu Papa kandungmu," jawab Angelica."Papa kandung?" tanya Nathan tidak yakin dengan ucapan Mamanya."Kaget, ya? Awalnya Mama juga keget. Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku Papamu. Dia bawa hasil tes dan wajahnya mirip denganmu. Setelah dipastikan dia memang Papa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status