LOGINDi rumah sakit ...
Angelica bertemu dengan wali kelas dari anaknya, dan berbincang soal kejadian yang dialami Nathan. Mendengar penjelasan wali kelas, Angelica langsung menangkap adanya sesuatu yang disembunyikan wali kelas, dan tanpa basa-basi, dia langsung bertanya apa rahasia yang disembunyikan itu. "Pak, jujur pada saya. Apa Bapak menyembunyikan sesuatu? Tiba-tiba saja jatub dari tangga, itu bukan sesuatu yang biasa. Terlebih dari tangga atap sekolah," tanya Angelica curiga. "I-itu... Sa-saya ju-juga kurang mengerti situasinya. Sa-saya hanya menyampaikan situasi berdasarkan keterangan saksi-saksi yang melihat," jawab wali kelas gugup. Angelica diam, menatap lekat wali kelas yang berdiri di hadapannya. "Siapa saksinya? Apa kejadian ini sudah diselidiki pihak sekolah? Bagaimana dengan kamera pengawas disekitar kejadian?" tanya Angelica. Wali kelas diam sesaat, lalu menjawab pertanyaan Angelica. Namun, jawaban yang disampaikan terkesan berputar-putar tanpa adanya kejelasan. Inti dari jawaban yang disampaikan wali kelas, yang ditangkap oleh Angelica adalah, Nathan hilang keseimbangan dan terjatuh saat melewati tangga. Angelica menutup mata, lalu membuka mata. Dia menatap ruang perawatan tempat di mana putranya dirawat. "Saya tidak mamahami penjelasan anda, Pak. Setelah tahu bagaimana keadaan anak saya. Saya akan secara pribadi datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Saya akan kembali meminta penjelasan," kata Angelica. Menatap wali kelas dengan tatapan tidak senang. "Bagaimana ini? Padahal kepala sekolah sudah menyuruhku untuk menjelaskan. Tapi, sepertinya penjelasanku kurang memuaskan," kata wali kelas dalam hati. Tak lama menunggu, dokter keluar dari ruang perawatan dan menghampiri Angelica serta wali kelas. Setelah Angelica memperkenalkan diri sebagai Ibu dari pasien, dokter langsung menyampaikan bagaimana keadaan Nathan saat itu. Dokter menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Memberitahu Angelica dan wali kelas, jika di tubuh Nathan ditemukan adanya luka hantaman dan pukulan benda tumpul. Dan akibat terjatuh dari tangga, Nathan mengalami pendaran kepala serius. Sehingga harus segera menjalani operasi. "Operasi tidak bisa ditunda lagi," kata dokter. "Lakukan dengan segera, dok. Saya akan segera langsung mengurus administrasi dan yang lainnya," jawab Angelica. "Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus menyiapkan untuk operasi," kata dokter. Angelica menganggukkan kepala, dan dokter segera kembali masuk ke ruang perawatan. Tak ingin membuang waktu, angelica segera pergi kebagian admintrasi dengan langkah cepat. * 4 Jam berlalu. Belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruang operasi. Angelica berjalan mondar-mandir dengan perasaan campur aduk. "Bertahanlah, Nak. Kamu harus selamat. Mama nggak akan bisa bertahan tanpamu," kata Angelica dalam hati. Tak bisa dipungkiri, Angelica begitu khawatir sekaligus sedih. Dia sama sekali tak menyangka kalau akan ada kejadian buruk yang akan menimpa putra kesayangannya. "Ketua," panggil seseorang yang baru saja datang. Dia adalah Ervan. Angelica menatap Ervan tanpa menjawab. Di hanya menganggukkan kepala. "Ada apa anda ke rumah sakit? Apa terjadi sesuatu pada anda? tanya Ervan khawatir. "Anakku terjatuh dari tangga," jawab Angelica. Ervan terkejut, "lantas, bagaimana keadaannya?" tanyanya khawatir. "Masih di ruang operasi. Operasinya belum selesai. Kamu tahu dari mana aku di sini?" tanya Angelica. "Salah seorang bawahan menghubungi. Katanya anda berlari dan pergi ke rumah sakit. Saya khawatir anda kenapa-kenapa," jawab Ervan menjelaskan. Angelica duduk, "Ervan, aku butuh bantuanmu. Selidiki masalah anakku ini segera," katanya memerintah. Angelica menceritakan apa yang sebelumnya wali kelas sampaikan padanya, kepada Ervan. Dia mengatakan kalau penjelasan wali kelas sama sekali memuaskannya dan terkesan bertele-tele. "Aku akan kesekolah dan menemui kepala sekolah setelah operasi Nathan selesai," kata Angelica. "Segera saya akan menyelidiki," kata Ervan yang langsung pergi. Meninggalkan Angelica yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Karena perasaan Angelica tidak tenang, segera dia menyatukan kedua tangannya untuk berdoa. Meminta keselamatan untuk putra kesayangannya. Begitu Angelica membuka mata, dia melihat pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar untuk menemuinya. "Bagaimana keadaan anak saya, dok? Apakah operasinya berjalan lancar?" tanya Angelica khawatir. "Operasinya berjalan lancar. Namun, ada sesuatu hal penting yang perlu saya sampaikan. Sebaiknya anda mempersiapkan hati. Jika dalam satu minggu pasien tidak ada tanda-tanda kesadaran, besar kemungkinan pasien akan koma. Cidera dikepalanya jauh lebih serius dari dugaan," jelas dokter. Mendengar penjelasan dokter, mata Angelica langsung berkaca-kaca. Kedua tangannya mengepal erat. "Terima kasih, dok. Anda sudah bekerja keras," ucap Angelica dengan suara pelan hanpir tidak terdengar. Melihat wajah Angelica yang sedih, dokter merasa kasihan. Dia lantas memberikan semangat untuk Angelica. Setelahnya doker pergi, Angelica langsung bersimpuh dilantai dengan kepalanya yang menunduk. "Nathan..." gumam Angelica. Air mata Angelica seketika berhamburan. Hatinya hancur berkeping-keping. Anak yang selama ini dia rawat dan jaga dengan sepenuh hati, harus terbaring tak berdaya di rumah sakit. Cukup lama Angelica menangis. Setelah puas menangis, dia segera menyeka air matanya dan pergi. Sebelum meninggalan rumah sakit, dia sempat menitipkan anaknya ke perawat jaga untuk terus memberinya kabar. * Di sekolah .... Angelica datang ke sekolah dan berniat bertemu dengan kepala sekolah. Namun, kepala sekolah sedang tidak ada di tempat. Penasaran, dia mencoba mendatangi tempat kejadian anaknya terjatuh, dan terlihat tempat kejadian sudah bersih. Dia juga bertanya kepada beberapa siswa yang kebetulan berpapasan dengannya, tapi mereka semua menjawab dengan jawaban yang sama. Mereka sekali tak tahu apa-apa. "Aneh sekali. Ada kejadian besar seperti itu di sekolah, tapi nggak ada satupun anak yang tahu. Apa pihak sekolah menekan semua siswanya untuk tidak mengatakan apapun tentang kejadian jatuhnya Nathan?" tanya Angelica dalam hati. Karena tak bisa bertemu kepala sekolah dan mendapat petunjuk apa-apa, Angelica terpaksa pergi meninggalkan sekolah. Seseorang melihat Angelica pergi meninggalkan gerbang sekolah, lalu segera menelepon. Seolah sedang melaporkan gerak-gerik Angelica. * Di restoran ... Beberapa orang berkumpul. Terlihat Theo dan yang lain, yang terlibat dalam perundungan Nathan. Ada juga wali mereka dan kepala sekolah. " ... Ada apa?" tanya Papa Theo, melihat ke arah kepala sekolah. Kepala sekolah baru saja menerima panggilan, dia menyeka keringatnya dan kembali duduk. "Ti-tidak ada apa-apa, Pak. Anda tidak perlu khawatir," jawab kepala sekolah. "Bagaimana dengan Theo dan teman-temannya? Apakah anda akan menghukum mereka?" tanya Papa Theo. Kepala sekolah tersenyum, "tentu saja tidak. Nathan... Anak itu 'kan jatuh sendiri. Bukan didorong sampai jatuh. Jadi, nggak ada hubunhannya sama Theo dan yang lain. Anda tenang saja. Masalah ini akan saya urus," jawabnya. Papa Theo menganggukkan kepala, "baguslah, kalau anda punya pikiran seperti itu. Sampai Theo lulus, nggak boleh ada skandal dan lain sebagainya yang nantinya bisa mengganggu reputasi keluarga kami. Anda mengerti 'kan maksud saya?" ucapnya. Seolah sedang menekan kepala sekolah. Tak hanya Papa Theo, orang tua dari anak-anak lain pun juga menekan pihak kepala sekolah. Mereka memberikan sesuatu sebagai imbalan penanganan dan tutup mulut, kepada pihak kepala sekolah.Seseorang mengawasi gerak-gerik Andrew, Nathan dan Felix dari dalam sebuah restoran. Seseorang itu sedang sarapan dengan rekannya."Apa dia, anaknya Daisy?" "Benar. Menurut informasi, dia baru saja sadar dari koma selama beberapa bulan."Seseorang mengunyah makanan sambil terus menatap Nathan yang tampak sedang tersenyum."Karena Mamamu sudah membunuh sauadaraku, maka jangan salahkan aku membalas dendam. Kamu akan menggantikan nyawa saudaraku," kata seseorang dalam hati."Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" "Apalagi? Buruan di depan mata harus didapatkan. Karena dia sudah susah payah keluar tanpa diminta, ini merupakan keuntungan besar buatku. Nggak perlu basa basi lagi, langsung saja kita mulai permainannya. Hubungi dia, suruh lakukan pekerjaannya dengan baik.""Ok."Rekan seseorang itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang lain."Mereka sudah bersiap.""Hm ...""Angelica oh Angelica ... Kamu nggak akan menduga 'kan, kalau ajal anakmu sudah dekat. Hahaha
Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny
Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur
Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban
Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m
Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o
Organisasi Mawar Biru, adalah salah satu dari lima organisasi besar yang mendunia. Pemimpin Organisasi Mawar Biru adalah seorang wanita bernama Rosella. "Bu," Panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Rosella berada."Ada apa? Kalau nggak bawa kabar soal ketua jangan kembali,
Keesokan harinya, di sekolah. Ketua yayasan mengumpulkan semua orang yang terlibat, termasuk Angelica dan wali kelas. "Semua sudah berkumpul. Saya nggak akan berbelit-belit. Kali ini ditemukan adanya kejanggalan, dan pihak sekolah tak memberikan penjelasan yang memuaskan kepada keluarga Nathan
Keesokan harinya, Angelica pergi ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah. Kedatangannya rupanya tak disambut dengan baik. Tak ada satupun Guru yang mendampinginya. Dia bahkan menunggu hampir dua jam demi untuk bisa bertatap muka dengan kepala sekolah."Oh, ada tamu rupanya. Maafkan saya terlambat.
Seorang lelaki berlari mendekati Angelica yang sedang mendorong gerobak berisikan buah-buahan segar. Lelaki itu menggantikan Angelica mendorong gerobak.Setelah gerobak diperkirakan di halaman, lelaki itu segera berlari menghampiri Angelica yang sedang duduk di teras depan rumahnya. lelaki itu lang







