เข้าสู่ระบบTiba-tiba binar lampu ballroom perlahan meredup. Riuh rendah suara obrolan di dalam ruangan langsung sepi. Para tamu undangan dan barisan fotografer merapatkan posisi, fokus menghadap ke arah panggung utama. Sang pembawa acara naik ke atas panggung dengan suara bariton yang elegan, mengumumkan deretan jenama yang akan tampil malam itu. Menempatkan Vaelthera di urutan nomor enam."Mama nggak sabar, Ya. Mau nyari koleksi untuk anual dinner akhir tahun," bisik Bu Juliana pada putrinya.Sesi peragaan busana dimulai. Satu per satu model profesional bergantian keluar membawakan koleksi dari berbagai jenama dengan gaya masing-masing. Di setiap akhir sesi, sang desainer dari masing-masing merek diwajibkan naik ke atas panggung untuk menerima apresiasi.Bu Juliana yang sejak tadi memerhatikan jalannya acara menoleh ke arah putrinya. "Aya, apa desainer Vaelthera yang misterius itu juga akan tampil malam ini?" bisiknya penasaran."Entahlah, Ma. Aku ragu pemiliknya akan muncul. Selama ini profiln
Meskipun rencana perjodohan antara Amara dan Khaisar sempat kandas di tengah jalan, hubungan profesional di antara kedua belah pihak tetap terjalin rapi. Kendati rasa kecewa sempat membayangi, Pak Gilang dan Bu Giska tahu betul bahwa menarik diri dari proyek bersama Nathalaga Build Group bukanlah langkah yang bijak. Amara sendiri berdiri di sana, memasang senyum paling sempurna di hadapan publik. Sebuah topeng profesionalisme yang menutupi gemetar di dalam dadanya. Hanya gadis itu yang tahu betapa perihnya menahan sisa cinta yang belum padam untuk Khaisar. Terlebih ia semakin yakin kalau pria itu sudah punya kekasih. Hanya saja masih di rahasiakan."Wah, selamat malam, Pak Hangga, Bu Juliana. Khai tidak ikut, Pak?" tanya Pak Gilang sambil menyambut kedatangan koleganya. "Tidak, Pak Gilang. Dia sedang ada acara sendiri di Surabaya," jawab Pak Hangga.Di saat para pria mulai diskusi sendiri, kelompok para wanita dengan cepat beralih pada topik yang paling menyita perhatian musim ini.
AKAN KUTUNGGU- 57 Diujung RunwayTiga hari menghabiskan waktu di kamar hotel, Nindiya mampu menyeimbangkan seluruh perannya dengan sempurna versi dirinya. Ia mendampingi sang suami bekerja, melayaninya sepenuh hati, sekaligus merampungkan tugas-tugas profesionalnya. Jadwal hariannya tertata rapi. Setiap kali Khaisar meninggalkan kamar untuk menghadiri pertemuan bisnis penting, Nindiya langsung beralih fokus ke laptopnya. Mengoreksi desain-desain terbaru, memimpin rapat virtual via Zoom dengan tim kerjanya, atau berkoordinasi jarak jauh dengan sang ibu dan Mbak Nika di Surabaya. Namun begitu Khaisar kembali ke kamar, seluruh perhatiannya langsung tercurah penuh untuk sang suami.Jadi diajak staycation bukannya santai, Nindiya tetap bekerja.Kandungannya yang kini menginjak bulan kelima juga sangat kooperatif. Rasa mual yang sempat mendera hanya bertahan di minggu-minggu awal saja, setelahnya berangsur aman dan terkendali. Seolah mengerti perjuangan sang mama, si kembar di dalam peru
Namun ia tidak kekurangan apapun. Segala kebutuhannya dipenuhi.Nindiya keluar kalau sedang ada rapat dengan tim kerjanya. Dan studio yang ia sewa juga masih berada di lingkungan apartmen. Ia sekarang biasa keluar untuk mengurusi pekerjaan ditemani sang ibu.Khaisar benar-benar meratukannya. Nindiya membuka laptop dan mulai bekerja. Satu bulan lagi ia akan ikut peragaan busana. Seminggu yang lalu sudah mendaftar untuk ikut dalam acara itu. Makanya ia harus mengecek persiapannya. Sang ibu juga bekerja keras diskusi dengan Mbak Nika mengenai detail kain dan pengerjaannya.🖤LS🖤Udara malam kota Malang begitu dingin menyebar di kamar hotel yang ditempati Khaisar dan Nindiya. Menciptakan atmosfer yang begitu intim dan syahdu. Di luar sana kerlap-kerlip lampu kota tampak buram tertutup kabut tipis. Di dalam ruangan, Khaisar dan Nindiya tengah merajut rindu setelah lima hari tidak bertemu.Meskipun usia kehamilan Nindiya kini telah menginjak lima bulan dan perutnya tampak membuncit, gair
"Malam ini mereka anteng dan nggak nakal," jawab Nindiya menenangkan dari seberang sana.Khaisar menghela napas lega, lalu beralih menceritakan percakapan di acara dinner tadi. "Mbak Raya memakai gaun rancangan Vaelthera ke acara tadi. Mama sangat heboh sekali memuji betapa indahnya detail gaun itu, tanpa mereka tahu siapa designer di baliknya."Mendengar cerita itu, tawa ringan Nindiya berderai. "Wah, aku nggak nyangka Mbak Raya makai karyaku, Mas.""Iya. Mungkin dalam beberapa hari ini, Mama yang akan chat adminmu.""Biar kutunggu.""Dan besok pagi-pagi sekali, Manto akan menjemput dan mengantarkanmu ke tempat yang sudah Mas tentukan. Mas menunggumu di sana," lanjut Khaisar dengan antusias. "Iya. Aku sudah berkemas tadi.""Besok pagi Mas akan nelepon Ayah atau Ibu untuk minta izin.""Iya."Besok Khaisar ada pekerjaan di Malang selama tiga hari. Makanya ia sengaja mengajak Nindiya untuk staycation. Apalagi sudah lima hari ini mereka tidak bertemu.Khaisar memang harus menerapkan dis
AKAN KUTUNGGU- 56 Brilian Khaisar yang duduk di samping sang papa dan iparnya pura-pura fokus dengan acara yang baru dimulai. Namun telinganya serius mendengarkan obrolan seru antara sang mama dan kakak perempuannya. Topik yang menarik bagi perempuan tetaplah dunia fashion dan jewelry. Dan mereka masih membahas tentang Vaelthera. Sebuah brand fashion baru yang mendadak melesat bak meteor dan menjadi buah bibir di kalangan perempuan elite Surabaya.Hanya dalam hitungan bulan, Nindiya memang bergerak cepat. Di balik kesuksesan kilat itu tersimpan bakat luar biasa, kemampuan manajemen yang matang, serta setumpuk file desain orisinal yang telah dirancangnya bertahun-tahun lalu.Tentu saja seluruh rencana bisnis itu takkan berjalan tanpa dukungan sponsor finansial terkuatnya. Khaisar Nathalaga, sang suami sendiri. Khaisar tidak paham dunia fashion. Namun ia memberikan dukungan 1000% pada istrinya.Segala urusan legalitas mulai dari perizinan hingga pendaftaran hak merek dagang diselesai







