Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 60. Ingin Bertahan 3

Share

60. Ingin Bertahan 3

last update publish date: 2026-09-23 13:30:46

Khaisar menghela nafas panjang. Ia berdiri sambil mondar-mandir di kamarnya. "Aku dan Amara sepakat hanya berteman, Ma."

"Mau sampai kapan?" Tatapan Bu Juliana berubah tajam. "Jangan kau katakan kamu masih memikirkan perempuan yang sudah mengkhianatimu."

"Aku sudah melupakannya," jawab Khaisar datar sambil memandang keluar dari pintu kaca balkon yang masih terbuka.

Bu Juliana menghela napas panjang, menyabarkan hatinya. "Pertimbangan lagi. Amara gadis yang baik. Walaupun kamu menunggu Nindiya,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (33)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
wes ndang cepet ketok palu cerai yo nin. ndang dadi janda muda, cari kerja. nanti sidang ke3 aku datang nin dipojokan inget itu pojokan 🩷🩷
goodnovel comment avatar
Ayra Arsyifa M
Untung semua bukti bukti lengkap,,,ga sabar nunggu sidang putusan emang lebih baik cerai,Nind
goodnovel comment avatar
Adya Maharga
klo Khai tahu ttg berita itu, mungkin ada harapan utk mendekati nindi lagi. tapi jalannya gak akan mulus, byk rintangan yg berkelok-kelok terutama dari ortu Khai
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   60. Ingin Bertahan 3

    Khaisar menghela nafas panjang. Ia berdiri sambil mondar-mandir di kamarnya. "Aku dan Amara sepakat hanya berteman, Ma.""Mau sampai kapan?" Tatapan Bu Juliana berubah tajam. "Jangan kau katakan kamu masih memikirkan perempuan yang sudah mengkhianatimu.""Aku sudah melupakannya," jawab Khaisar datar sambil memandang keluar dari pintu kaca balkon yang masih terbuka. Bu Juliana menghela napas panjang, menyabarkan hatinya. "Pertimbangan lagi. Amara gadis yang baik. Walaupun kamu menunggu Nindiya, dia nggak akan kembali padamu. Dia sudah menikah. Apakah kamu akan menunggu bekasnya orang? Kamu sangat berharga, Khai." Selesai bicara, Bu Juliana meninggalkan kamar putranya.Dan Khaisar kembali ke balkon untuk meneruskan merokok.🖤LS🖤Akhirnya Nindiya mendapatkan kosan atas bantuan pengacaranya. Khusus kosan putri yang tidak boleh sembarang orang masuk tanpa izin. Hari itu ia bertemu dengan sang kakak di rumah orang tuanya. Nindiya duduk berdua di kamar bersama Nila."Kapan sidang keduamu

  • AKAN KUTUNGGU   59. Ingin Bertahan 2

    Baru saja masuk kamar hotel dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang, ponsel Nindiya bergetar panjang. Ibunya menelepon. Nindiya menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau."Halo, Assalamu'alaikum, Bu." sapa Nindiya, berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tegar."Wa'alaikumsalam, Nin. Kamu sudah pulang ke apartemen?""Ya, Bu. Baru masuk kamar.""Bagaimana sidang pertamamu hari ini?" tanya Bu Mira di seberang sana, suaranya dipenuhi nada cemas seorang ibu.Nindiya menghembuskan napas pelan lalu menceritakan semuanya. Tentang proses mediasi yang berakhir gagal karena ia keukeuh pada keputusannya, hingga jalannya persidangan yang akan berlanjut ke tahap berikutnya.Bu Mira menghela napas panjang, mengerti betul beban sang putri. "Ibu paham, Nin. Kalau memang ini jalan terbaik, Ibu cuma bisa berdoa supaya kamu diberi kekuatan. Tetap kuat ya, Nak. Oh iya, kapan kamu mau pulang ke rumah?"Nindiya mengusap sudut matanya yang terasa hangat. "Nanti aku cari waktu

  • AKAN KUTUNGGU   58. Ingin Bertahan 1

    AKAN KUTUNGGU- 25 Ingin Bertahan "Ada lagi yang perlu dibahas, Mas? Bukankah semuanya sudah jelas tadi." Nindiya berkata tenang sambil memandang suaminya tanpa rasa gentar.Indra melirik sekilas pada pria berkacamata di sebelahnya Nindiya. Indra tahu dari pengacaranya tadi, siapa sosok muda di hadapannya itu. Dia pengacara yang sedang naik daun. Hampir tak pernah kalah dalam memenangkan perkara yang ditanganinya."Masih ada kesempatan untuk kita membicarakannya lagi," paksa Indra dengan tatapan penuh harap.Nindiya menggeleng samar. "Kamu tahu, Mas. Di antara semua rasa sakitku, ada satu yang benar-benar membuatku sangat kecewa dan marah. Saat aku kehilangan calon anakku. Sopir taksi itu yang justru punya hati menolongku sampai benar-benar ditangani dokter. Aku ke rumah sakit tanpa keluarga, hanya ditemani bapak tua itu. Beliau mengabaikan beberapa panggilan pelanggan demi menolong wanita yang nggak berdaya. Saat itu kamu di mana? Saat janin yang baru berusia delapan minggu itu gugu

  • AKAN KUTUNGGU   57. Sidang 4

    "Oke. Aku ke kantor dulu." Erni memeluk Nindiya. Kemudian meninggalkan sahabatnya di lobi. Sebab Nindiya menunggu pengacaranya.Jarak seperempat jam, Nindiya menerima telepon dari Billy. Pengacara itu sudah menunggunya di depan. "Iya, Pak. Saya ke depan."Nindiya meraih tasnya, kemudian keluar lobi. Pria tampan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum ramah dan mempersilakan Nindiya masuk ke mobilnya. "Saya di belakang saja, Pak.""Oke, Mbak." Billy tersenyum.Sepanjang perjalanan sampai mereka duduk menunggu jadwal sidang, Nindiya menceritakan semua yang terjadi kemarin. Pengacara berkacamata itu mendengar dengan penuh perhatian. Ia mencerna setiap kejadian yang bisa dijadikan senjata untuk melawan pihak tergugat jika mereka ingin mempersulit proses.Saat Nindiya dan pengacaranya masuk ke ruang sidang, Indra dan pengacaranya tergesa menyusul. Mereka hampir terlambat datang. Majelis hakim langsung membuka sidang pagi itu. Pertama memastikan identitas para pihak itu benar-

  • AKAN KUTUNGGU   56. Sidang 3

    Namun bagi jiwa yang menjalani belum tentu cocok, meski di mata orang lain mereka berdua sepadan.Mobil akhirnya berhenti di depan gedung menjulang milik PT Cahaya Gemilang. Amara bersiap turun, merapikan tali tas di pundaknya seraya menggenggam erat kresek makanan."Mas, thanks sudah ditraktir makan siang." Amara mengangkat bungkus nasinya."Sama-sama," balas Khaisar pendek."Lain kali biar aku yang ganti bayarin. Nggak boleh ditolak pokoknya," ujar Amara yang disambut tawa pendeknya Khaisar.Kemudian Amara turun. Setelah gadis itu melambaikan tangan dan melangkahkan kakinya memasuki lobi gedung. Khaisar kembali memutar kemudi. Pria itu menginjak pedal gas, membawa kendaraannya melaju membelah padatnya jalan raya menuju kantornya. Dengan pikiran yang masih tertinggal pada senyuman tipis Nindiya yang penuh luka di kasir tadi.🖤LS🖤Indra mematung lama di depan pintu unit apartemen yang didatanginya tadi siang. Berkali-kali mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lorong itu

  • AKAN KUTUNGGU   55. Sidang 2

    "Oke, setuju." Amara mengangguk. "Tapi aku langsung pulang ke kantorku saja, Mas.""Berarti nanti aku langsung mengantarmu?""Yess." Amara memandang Khaisar sambil tersenyum.Khaisar menjalankan mobilnya. Ia sengaja melintas perlahan tepat di samping sedan silver misterius itu. Hanya dalam hitungan detik, memori Khaisar yang tajam sudah merekam tiap digit pelat nomor kendaraan itu. Tangan kanannya mengendalikan kemudi, sedangkan tangan kirinya meraih ponsel yang tadi di taruh di console box. Lantas ia mengetikkan barisan angka dan huruf pelat nomor untuk dikirimkan kepada anak buahnya."Siap, Bos." Pesannya langsung dibalas.Di tengah laju kendaraan membelah arus jalanan, Khaisar melirik sekilas pada Amara. "Kamu mau makan apa siang ini?""Nasi rames saja deh, Mas. Yang praktis," sahut Amara ringkas."Oke."Tak berselang lama, mobil itu berbelok menepi di pelataran sebuah restoran prasmanan yang ramai pengunjung. Khaisar mematikan mesin lalu turun. Ia mengekor di belakang Amara yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status