Beranda / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 46: Nasib Mak Onah.

Share

Bab 46: Nasib Mak Onah.

Penulis: Putrisyamsu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 12:24:37

Bab 46: Nasib Mak Onah.

“Mak. Mamak bicara apa?” Feri mendekti Mak Onah dengan perasaan tegang.

“Bang. Jangan-jangan pengaruh jimat itu berbalik ke mamak. Makanya dia sekarang seperti ini,” ucap Rina.

“Bicara apa kamu, Rina.” Feri tak menghiraukan ucapan istrinya. Keadaan Mak Onah yang terasa janggal membuatnya lebih memilih untuk memperhatikan ibunya.

Feri melambai-lambaikan tangannya di hadapan Mak Onah. Tetapi perempuan itu sama sekali tidak menggubris. Tatapan matanya kosong, dengan bibirnya yang terus mengoceh.

“Assalamu'alaikum!” Rina dan Feri mendengar suara seseorang yang sudah tidak asing oleh telinga mereka di teras. Keduanya kemudian saling berpandangan.

“Pak Asnawi,” ucap Feri begitu yakin. Tanpa meminta persetujuan Rina Feri berjalan ke ruang tamu. Sementara Mak Onah masih membuat Rina merasa bingung. Bingung yang kemudian membuatnya menjadi takut. Tapi bukan rasa takut karena merasa khawatir dengan keadaan ibu m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 107: Pesta yang berdarah.

    Bab 107 Pesta yang berdarah. ​Pria berjaket kulit hitam itu tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang sangat terlatih. Terlalu rapi untuk sekadar maling kelas teri. Ia menyambar tas kulit coklat milik asisten Pak Hardi yang diletakkan di bawah meja administrasi. Tas itu bukan sekadar berisi uang tunai, melainkan seluruh nyawa dari proyek perumahan "Harmoni Residence" yang sedang dalam sengketa, serta buku nikah yang tinta tanda tangannya bahkan belum kering benar.​"Berhenti!" teriak Bang Didin. Niatnya untuk menebus kesalahan pada Pak Hardi memicu adrenalinnya. Ia mencoba menjegal kaki pria misterius itu saat ia berlari menuju pagar samping.​Namun, pria itu tidak menghindar. Dengan gerakan bahu yang efisien, ia menghantam dada Bang Didin hingga pria itu terjungkal ke barisan kursi plastik. Pria misterius itu terus berlari menuju tanah di samping rumah Nadya yang menjadi proyek Pak Hardi. Di bawah pohon matoa tempat motor matic tanpa plat nomor sudah menunggu dalam keadaan mesin men

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 106: Pak RT jadi malu sendiri.

    Bab 106: Pak RT Jadi malu. Pria tua itu melangkah tertatih, namun setiap ketukan tongkatnya di aspal terdengar seperti detak jantung yang memburu. Warga terperangah. Pak RT, yang tadinya congkak, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada bahu Pak Asep.​"Mbah... Mbah Jono?" bisik Bu Nur, hampir tidak percaya. "Bukannya Mbah sudah pindah ke Jawa dan kabarnya sudah meninggal?"​Mbah Jono, mantan juru ukur tanah paling senior di daerah itu, menghentikan langkahnya tepat di antara Pak Hardi dan Pak RT. Matanya yang rabun namun tajam menatap Pak RT dengan penuh kekecewaan.​Rahasia di Balik Patok Tanah​"Paijo," suara Mbah Jono bergetar menyebut nama asli Pak RT. "Sudah puluhan tahun kamu memelihara api di dalam kepalamu. Ayahmu dulu bukan kalah karena dicurangi, tapi karena dia memang sudah menjual tanah itu secara sah kepada ayah Pak Hardi untuk biaya pengobatan ibumu."​Suasana mendadak hening sesaat, sebelum kemudian riuh oleh bisik-bisik warga. Pak RT menggeleng keras, wajahnya

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 105: Rencana tetap berjalan

    Bab 105: Rencana tetap berjalan. Pukul empat pagi. Kabut tipis masih menyelimuti kompleks, namun dapur umum di rumah Nadya sudah mengepulkan uap. Bu Nur, dengan mata yang masih sedikit sembab karena kurang tidur, mendadak mematung di depan kuali besar.​"Lho, Bu Nur? Kenapa diam saja? Itu santannya keburu pecah kalau tidak diaduk," tegur Bu Fatma sambil membawa nampan berisi gelas kopi untuk para bapak yang membantu.​Bu Nur tidak menjawab. Tangannya gemetar menunjuk ke arah deretan ember besar tempat daging kambing yang sudah dibumbui semalam disimpan. "Bu... Bu Fatma... lihat itu."​Bu Fatma mendekat. Bau menyengat menusuk hidung—bukan aroma prengus kambing yang khas, melainkan bau solar yang sangat tajam. Cairan hitam berminyak menggenang di permukaan bumbu kuning yang seharusnya menggugah selera. Lima ekor kambing yang sedianya akan disedekahkan telah dicemari.​"Astagfirullah! Siapa yang tega melakukan ini?!" pekik Bu Fatma hampir menjatuhkan nampan nya. Disisi lain perumahan.

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 104: Sabotase.

    Bab : 104: Sabotase. Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, tapi aroma bumbu dapur sudah menyeruak di gang-gang perumahan. Pak Hardi berdiri di teras rumahnya, memikirkan proyek pembangunan rumah yang sempat dirusak kemarin. Meski hatinya tahu persis siapa tangan kotor di balik kerusakan itu, ia memilih untuk menyimpan amarahnya rapat-rapat. Baginya, ada hal yang jauh lebih sakral daripada sekadar semen yang hancur: hari Jumat hanya tinggal hitungan jari.​Urusan administrasi sudah beres di tangan asistennya yang cekatan. Kini, konsentrasinya hanya satu—menuju akad nikah di rumah Nadya. Sehari menjelang hari ‘H’. ​Di halaman rumah Nadya, suasana seperti pasar malam. Bude Ijum dan Bu Fatma memimpin pasukan ibu-ibu. Komandannya? Bu Nur, pedagang sarapan pagi keliling yang legendaris. Demi pernikahan ini, Bu Nur rela meliburkan dagangannya sejak hari Senin.​"Aduh, Bu Nur, ini cabe nya apa tidak kebanyakan? Nanti tamu-tamunya bukan mengucap 'Samawa', malah 'Aduh mulas'!" celetuk B

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 103: Setelah mengharukan Menggemparkan

    Bab 103: Setelah mengharukan menggemparkan. Matahari pagi itu menggantung rendah, menyebarkan warna jingga keemasan yang seolah berusaha menghangatkan suasana dingin di hati Nadya. Hari ini adalah hari keberangkatan Akmal ke pondok pesantren. Di halaman rumah, Pak Hardi sudah datang dengan Alphard mewahnya. Mementara Nadya memeriksa sekali lagi tas besar milik putra semata wayangnya. Ada rasa sesak yang tertahan, namun sejak lamaran Pak Hardi tadi malam semuanya sudah berubah. Dirinya tidak lagi merasa sendiri. Ada kekuatan yang memberi ketegasan baru dalam sorot matanya.​Perjalanan menuju pesantren terasa singkat. Sesampainya disana, suasana sudah ramai. Namun, langkah Nadya terhenti saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya terparkir di bawah pohon rindang. Di sana berdiri Mantan suaminya dan Danur adiknya.​Akmal, yang sejak tadi tampak tegang, seketika cerah wajahnya melihat ayah dan pamannya. Meski ia sempat melirik Nadya dengan perasaan sungkan—takut ibunya terluka meli

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 102: Ancaman.

    Bab 102: Ancaman. Suasana di ruang tamu rumah Pak RT mendadak mencekam. Harum aroma kopi yang baru saja diseduh tidak mampu menutupi bau ketegangan yang menyesakkan dada. Pak RT duduk tertegun di kursi kayu jatinya, sementara istrinya, Bu RT, berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan mata yang berkilat penuh amarah.​"Masih mau mengelak lagi, Pak?" suara Bu RT meninggi, memecah kesunyian malam. "Aku ini istrimu belasan tahun! Aku tahu arti tatapan kosongmu itu. Kamu sedang memikirkan Nadya, kan? Janda baru itu!"​Pak RT berdehem, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Bu, kamu jangan sembarangan menuduh. Saya cuma sedang memikirkan masalah lingkungan..."​"Masalah lingkungan atau masalah hati yang mencari kesempatan untuk selingkuh?" potong Bu RT tajam. Ia menggebrak meja hingga cangkir kopi berguncang. "Jangan pikir aku lupa, Pak! Dulu kamu hampir saja menikah diam-diam dengan si pembantu keluarga Pak Suryo itu kalau tidak ketahuan olehku. Tabiatmu memang tidak pernah berubah!"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status