LOGINSuara derap langkah kaki Vanya menggema di sepanjang koridor menuju ruang ICU. Informasi yang baru saja disampaikan Nathan membuatnya bergegas, melangkah lebar dengan jantung yang berpacu cepat demi segera menghampiri Devan. Begitu tiba di depan ruang ICU, Vanya perlahan membuka pintu kaca. Pandangannya langsung tertuju pada brankar Devan, tempat dr. Dian sedang melakukan pemeriksaan. "Sore, Dok," sapa Vanya sesopan mungkin, meski napasnya masih memburu akibat berlari. dr. Dian tersenyum menenangkan, lalu menepuk pelan bahu Vanya. "Syukurlah, dr. Devan sudah melewati masa kritisnya. Kondisi hemodinamik dan ritme jantungnya juga sudah kembali stabil," ujar dokter spesialis bedah jantung itu sambil mengusap lembut bahu Vanya sebelum melangkah keluar ruangan. Vanya mengalihkan pandangannya pada Devan. Di atas bantal, kelopak mata Devan tampak bergetar hebat. Jantung Vanya berdebar kencang menyaksikan perjuangan pria itu. Sudut bibir Devan yang terhalang pipa alat bantu napas be
Dua hari telah berlalu, namun suasana di dalam kamar ICU itu seolah membeku. Bagi Vanya, waktu tidak lagi berjalan berdasarkan detik jam, melainkan dihitung dari setiap naik-turunnya gelombang hijau di layar monitor hemodinamik Devan. Selama empat puluh delapan jam itu pula, Vanya mengabaikan rasa lelahnya sendiri. Ia menolak pulang ke rumah, hanya memanfaatkan sofa kecil di ruang tunggu untuk memejamkan mata selama satu atau dua jam sebelum kembali duduk di samping ranjang Devan. Pakaiannya telah berganti, namun kecemasan di wajahnya tidak juga menghilang. Memasuki hari ketiga, tim medis yang dipimpin oleh Nathan dan dr. Dian memutuskan bahwa kondisi hemodinamik Devan sudah cukup stabil untuk memulai proses weaning, yaitu pengurangan dosis obat penenang secara bertahap. "Kita mulai menurunkan obatnya siang ini, Van," ujar Nathan sambil menyetel parameter pada syringe pump di dekat ranjang Devan. "Ini fase yang krusial. Otaknya akan perlahan terbangun dari efek koma, dan kita
"Tidak! Jangan menyerah!" jerit Vanya, memecah keputusasaan yang mulai menyelimuti ruangan. Ia mendorong mundur perawat dan maju mendekati kepala Devan. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh membasahi masker hijaunya. "Vanya, secara medis dia sudah—" "Aku bilang tidak, dokter Nathan! Mas Devan belum mati!" potong Vanya histeris. Mengabaikan semua pandangan sedih para tim medis. Vanya menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya. Kulit pria itu terasa begitu dingin di bawah telapak tangannya, membuat seluruh jiwa Vanya menjerit kesakitan. "Mas Devan, buka matamu! Aku mohon, bangun!" Vanya mengguncang bahu Devan dengan putus asa, menyalurkan seluruh kehangatan dan cintanya yang tersisa ke dalam tubuh kaku itu. "Kamu berjanji akan melindungiku, kan? Kamu bilang kamu tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhku! Lalu kenapa kamu tidur di sini sekarang?BANGUN MAS!" "Vanya, lepaskan... biarkan dr. Devan pergi dengan tenang," lirih Siska yang ikut menangis di samping saha
"Mas Devan, bertahanlah... aku mohon, bertahanlah!" Isak tangis Vanya tak kunjung reda sejak tubuh Devan dilarikan ambulans menuju rumah sakit. Adam dan kedua orang bayarannya kini telah berhasil diringkus oleh pihak kepolisian, berkat tindakan cepat Devan. Rupanya, sebelum turun dari mobil untuk menyelamatkan Vanya, Devan sempat mengirimkan koordinat lokasi dan permintaan bantuan darurat kepada Henry Harrington. "Vanya, tolong berhentilah menangis. Devan masih hidup, jantungnya masih berdetak," ucap Henry berusaha menenangkan putrinya yang terus menggenggam erat tangan Devan dan menolak untuk melepaskannya sedetik pun. Suara sirine ambulan yang meraung membelah kemacetan, mendadak senyap saat roda-rodanya berhenti di lantai lobi IGD Rumah Sakit Medika Center. Begitu pintu belakang ambulan dibuka paksa oleh petugas, ketegangan langsung merebak di udara. Vanya melompat turun terlebih dahulu, wajahnya sembap dan kacau. Tangannya yang gemetar masih setia mencengkeram ujung br
Sentakan suara itu seketika memutus niat buruk Adam di atas sofa. Gerakan tangan Adam terhenti kaku di udara. Pria berkumis itu tersentak, lalu dengan cepat memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Di bawah cengkeramannya, Vanya yang sudah menangis histeris langsung membuka mata, menatap ke depan dengan penuh harapan telah datang pertolongan untuknya. "Mas Devan...!" pekik Vanya lirih, air matanya luruh kian deras melihat siluet tegap yang sangat ia kenali berdiri dibalik pilar. Devan melangkah keluar dari balik pilar beton dengan langkah yang tenang namun tidak menyembunyikan amarah, melihat sosok buronan yang selama ini ia cari. Di tangan kanan Devan, sebatang besi dongkrak berlumur debu terseret di atas lantai tanah, menciptakan bunyi gesekan yang menyayat gendang telinga. "Jauhkan tangan kotormu dari calon istriku, Adam," desis Devan. Suaranya tidak meninggi, hanya nada dingin yang keluar dari mulutnya. Adam perlahan bangkit berdiri dari atas sofa, merapikan kem
Sedan hitam milik Devan membelah jalanan tanah berbatu di area perkebunan dengan kecepatan sedang. Ban mobilnya tergelincir beberapa kali, melemparkan kerikil dan debu tebal ke udara. Sorot matanya lurus menatap perkebunan di depannya. Layar GPS di dasbor masih menyala redup, menampilkan titik koordinat terakhir yang menunjukkan posisi Vanya. Devan mengerutkan kening dalam-dalam. Semakin ia mendekat, hatinya dipenuhi oleh rasa heran dan cemas yang bercampur aduk. "Kenapa Vanya ada di tempat seperti ini?" gumamnya. Ini adalah kawasan industri terbengkalai, jauh dari keramaian, jauh dari akses publik. Tidak ada alasan logis bagi Vanya untuk berada di tengah perkebunan ini sendirian. Firasat buruk yang tadi sempat mengusiknya kini berubah menjadi ketakutan. Devan yakin, Vanya tidak sedang menghindarinya, tapi gadis itu seperti dibawa paksa menuju tempat ini. Devan menginjak rem dengan sentakan dalam saat melihat siluet sebuah gudang beton tua yang ada di balik rimbunnya pepoh
Devan berdiri tepat di depan Vanya, memangkas jarak hingga aroma musk dari parfumnya bercampur dengan dinginnya angin malam. Ia menyadari Vanya mulai menggigil karena hanya mengenakan baju tidur tipis, maka tanpa sepatah kata pun, Devan melepas sweater yang ia kenakan dan menyampirkannya ke bahu mu
Aurelia menatap adiknya sendu. Ia paham bagaimana perasaan Devan yang dipaksa menikah dengan Evelyn. Wanita yang tidak ia cintai. Lahir dari keluarga yang memiliki peraturan ketat tentang latar belakang yang sederajat dengan calon pendamping hidup, membuat mereka terpaksa berpisah dengan cinta seja
"Ayah memintamu datang ke rumah sebelum kita berangkat ke Singapura." Evelyn muncul di ambang pintu ruang kerja Devan pagi itu. Langkahnya ringan, namun suaranya membawa perintah yang tidak bisa diabaikan. Devan yang tengah bersiap untuk pulang hanya terdiam. Ia tampak sibuk melipat lengan kemej
Devan melangkahkan kakinya keluar kamar hotel untuk sarapan pagi. Tapi baru saja ia menutup pintu kamar, sosok Evelyn sudah berdiri di luar kamarnya. "Kenapa berdiri di depan kamarku?" tanya Devan menatap tak suka ke arah Evelyn yang tersenyum manis. Gadis itu melingkarkan tangannya ke lengan Dev







