Share

ANNOYING NEIGHBOR
ANNOYING NEIGHBOR
Author: Scorpio_Girl

Chapter 1

Author: Scorpio_Girl
last update publish date: 2026-06-21 16:40:56

Namaku Asya Adeline, siswi biasa di SMA Royal. sekolah yang katanya cukup bergengsi di kota ini. Dan cowok itu... dia Nicholas Elbert. Manusia paling menyebalkan yang selalu punya seribu cara untuk mengacaukan hari-hariku, baik di rumah ataupun di sekolah. Sama saja. Tidak ada bedanya.

​Saat ini, aku berdiri di antara lautan siswi yang histeris, bersorak heboh memberi semangat pada Nicholas. Dia memang famous, idola sekolah, dan kapten tim basket yang dipuja-puja. Namun, aku berdiri di sini bukan untuk meneriakkan namanya. Pandanganku tertuju pada Gabriel Leister, ketua tim musuh yang tersenyum hangat ke arahku dari seberang lapangan. Gabriel adalah kebalikan dari Nicholas, dia sangat baik dan lembut.

​Aku akan memberikan ini sekarang, batinku. Jantungku berdebar. Jemariku meremas pelan sepucuk surat merah jambu yang sejak tadi kusembunyikan di balik seragam, lengkap dengan sebotol air mineral dingin yang sengaja kubeli khusus untuk Gabriel.

​Aku melangkah maju dengan semangat, membelah kerumunan. Jarakku dengan Gabriel hanya tinggal beberapa meter lagi.

​PLAK!

​Angin kencang berembus menyengat wajahku bersamaan dengan hantaman keras. Sebuah bola basket melambung tepat satu inci di depan hidungku, nyaris mengenai wajahku. Langkahku terhenti seketika. Jantungku seolah melompat karena terkejut.

​"Anjir!" makiku spontan dengan napas memburu.

​Tanpa perlu menoleh pun, aku sudah tahu ini ulah siapa. Siapa lagi kalau bukan bajingan egois itu?

​Benar saja. Tanpa dosa, Nicholas menghampiriku. Alih-alih minta maaf karena hampir membuatku masuk rumah sakit, dia malah memamerkan senyum songongnya yang khas.

​"Thank you!" ucap Nicholas santai. Tangannya bergerak secepat kilat, merebut botol mineral dari genggamanku tanpa permisi, lalu langsung meneggaknya rakus.

​"Apaan sih?! Itu bukan buat lo, Nicholas!" pekikku kesal, berusaha meraih kembali botol itu. Namun, Nicholas dengan sengaja mendongakkan kepala, menghabiskan air itu di depan mataku.

​Aku mendengus kasar, menatapnya dengan dingin. Kalau saja mataku bisa mengeluarkan sinar laser, Nicholas pasti sudah bolong saat ini juga.

​"Airnya enak. Segar," goda Nicholas, mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sengaja memancing amarahku.

​Enak apanya? Cuma air putih biasa! umpatku dalam hati. Aku sengaja tidak membalas ucapannya. Semakin diladeni, Nicholas akan semakin Ngelunjak. Aku memutar tubuh, berniat mengabaikannya dan kembali melanjutkan misiku untuk memberikan surat cinta ini kepada Gabriel, sebelum pria itu kembali ke sekolahnya. Karena pertandingan telah usai.

​Namun, kedamaianku tidak bertahan sampai tiga detik.

​"Oh... apa nih?"

​Sentakan tiba-tiba di jemariku membuatku terpekik. Surat di tanganku lenyap.

​"Nicholas! Kembalikan!" pekikku panik, berusaha merebut kembali surat itu.

​"Surat? Surat cinta, nih?" Nicholas mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan tinggi badannya yang menjulang seperti tiang listrik, aku yang bertubuh pendek ini tidak akan pernah bisa mencapainya meski harus melompat sampai betisku kram.

​"Lo nggak perlu tahu! Siniin enggak?!"

​Nicholas justru terkekeh menyebalkan. Keributan kami berdua mulai memancing perhatian. Sorot mata orang-orang di tribun penonton perlahan beralih ke arah kami, membuat udara di sekitarku mendadak pengap.

​Tiba-tiba, sebuah tangan lentik menyambar surat itu dari jangkauan Nicholas. Itu Olivia. Si cewek populer yang langsung tersenyum culas.

​"Ups... Asya mau menyatakan perasaan, guys! Kira-kira siapa cowok beruntung yang bakal dapetin surat ini?" seru Olivia sengaja dengan suara lantang, mengundang atensi semua orang yang ada di sana.

​"Aku menyukaimu bukan karena kamu seorang bintang..." Olivia mulai membaca kalimat pertamaku dengan nada mengejek yang dibuat-buat. "Oh, jadi surat ini buat salah satu pemain basket?"

​"Halah, udah pasti buat Nicholas-lah! Siapa lagi?" sahut Chalvin, sahabat sekaligus teman setim Nicholas, sambil menyikut lengan kaptennya itu.

​Senyum Nicholas langsung mengembang. Raut wajahnya berubah congkak, tampak sangat percaya diri. Dia merebut kembali surat itu dari tangan Olivia, berniat membacanya sendiri.

​"Waktu pertama kali melihatmu, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Senyummu yang lembut, dan rambut cokelatmu yang bergelombang..."

​Suara Nicholas mendadak memelan. Kalimat terakhir itu seperti mencekik tenggorokannya sendiri. Semangat di wajahnya luntur seketika, menyisakan ekspresi kaku yang aneh.

​"Tapi rambut Nicholas kan hitam?" celetuk Chalvin yang ikut bingung, menatap rambut temannya sendiri.

​"Buat pemain basket... kalau bukan buat Nicholas, terus buat siapa?" timpal anggota tim yang lain, mulai berbisik-bisik.

​Aku membeku di tempat. Rasanya seperti ditelanjangi di depan umum. Tatapan menghakimi dan tawa tertahan dari murid-murid di sekitar membuat tenggorokanku tercekat. Aku belum mau memberi tahu siapa pun sebelum aku benar-benar tahu bagaimana perasaan Gabriel kepadaku.

​Nicholas melangkah maju. Jarak di antara kami terkikis. Dia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya denganku. Sepasang mata hitamnya menatapku tajam, mengulik, menuntut jawaban.

​"Menarik," bisik Nicholas, suaranya terdengar dingin dan berbahaya, berbeda dari nada bicaranya yang tadi. "Kira-kira... siapa cowok beruntung itu, Sya?"

​"Bukan urusan lo!" bentakku, kembali melompat untuk merebut kertas itu.

​"Semua anak basket ada di lapangan ini sekarang. Mau gue bantu panggilin orangnya?" goda Nicholas lagi. Tapi kali ini, aku bisa melihat kilat kemarahan dan rasa penasaran yang mati-matian dia sembunyikan di balik topeng tenangnya.

​Panik? tentu saja aku panik. Kalau sampai dia tahu itu untuk Gabriel, hancur sudah semuanya. Dengan nekat, aku mencengkeram kerah baju Nicholas, menariknya ke bawah, dan menyentak kertas di tangannya sekuat tenaga.

​KRAKK!

​Suara robekan kertas itu terdengar begitu nyaring di telingaku. Surat merah jambu itu kini terbelah menjadi dua bagian di tangan kami masing-masing.

​"Oh, no..." gumam riuh orang-orang di sekitar, menonton drama gratisan ini dengan puas.

​Duniaku rasanya runtuh. Air mata yang sejak tadi kutahan mendadak mendesak naik ke pelupuk mata. Pipiku memanas karena malu dan amarah yang meledak di dada.

​"Lo... kenapa lo selalu merusak segala hal di hidup gue?!" bisikku parau, menatap Nicholas dengan pandangan terluka. Rencanaku hancur. Keberanian yang kukumpulkan berbulan-bulan patah begitu saja. "Gue benci sama lo, Nicholas!"

​Aku berbalik, setengah berlari meninggalkan lapangan basket dengan air mata yang akhirnya luruh. Aku mengabaikan suara tawa Olivia, juga bisikan-bisikan orang yang menjadikanku bahan lelucon hari ini.

​Sementara di tengah lapangan, Nicholas hanya berdiri mematung. Dia menatap punggung Asya yang menjauh dengan rahang mengeras. Tangannya yang memegang sisa kertas robek itu perlahan meremasnya kuat-kuat hingga kukunya memutih.

​Kita tinggal bertahun-tahun sebelahan, Sya. Kalau lo suka sama seseorang... orang itu harusnya gue, batin Nicholas, melampiaskan seluruh kekesalan dan rasa tidak terima yang mendadak membakar dadanya.

*

*

*

*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 17

    ​"Jadilah pacar gue!" ​Hah? Ekspresi kesal yang tadi menguasai wajahku seketika berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Aku yakin raut mukaku saat ini terlihat sangat bodoh di depannya. Apalagi siasat cowok berengsek ini? batinku berteriak frustrasi. ​"Jangan bercanda!" sahutku tajam. Aku sama sekali tidak menganggap serius ucapan gilanya itu. ​Aku menatap manik mata Nicholas dengan tatapan tidak percaya. Tanpa berpikir panjang, aku segera mendorong dada bidang cowok itu sekuat tenaga agar dia bergerak menjauh dariku. ​Namun, baru saja aku beranjak beberapa langkah untuk kabur, Nicholas dengan cepat kembali menarik tanganku. Dia memutar tubuhku dan menekan pinggangku rapat-rapat ke dinding yang dingin, mengunci seluruh pergerakanku hingga aku tidak bisa berkutik. ​"Minggir nggak, lo!" kesalku setengah berteriak, kembali berusaha mendorong dadanya agar menjauh. Jujur saja, aku juga cemas jika Olivia melihat kebersamaanku dengan Nicholas dan membuatnya salah paham. ​Ni

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 16

    ​Begitu aku melangkah mendekati gerbang rumah, suara siulan yang sangat kukenal mengalihkan perhatianku. Aku menoleh dan menemukan Nicholas sedang berdiri diambang gerbang rumahku, dengan gaya bad boynya. ​"Dia lagi..." gumamku jengah, memutar bola mata saat melihat Nicholas yang berjalan santai menghampiriku. "Ngapain lo ke sini?" ​"Gue mau bicara sama lo!" ucap Nicholas. ​Namun, sebelum aku sempat membalas atau mengusirnya, pintu rumahku mendadak terbuka dari dalam. Mama keluar dengan raut wajah tegang. Tanpa basa-basi, Mama langsung menarik lenganku dengan kasar, memaksaku menjauh dari Nicholas, cowok yang di matanya tak lebih dari seorang berandal yang harus dihindari. Lagipula, gaya dan penampilan Nicholas memang jauh dari kesan murid baik-baik. ​"Putriku tidak perlu berbicara denganmu. Dan tidak ada hal apa pun yang perlu dibicarakan, Anak Muda!" tegas Mama dengan suara menekan sebelum membanting pintu rumah rapat-rapat. ​BRAK! ​Di luar sana, Nicholas hanya membalasn

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 15

    "Gue... gue nggak percaya!" seruku, masih saja berusaha menyangkal kenyataan pahit ini. ​Gumpalan air mata membuat pandanganku kabur. Aku hampir saja lupa seperti apa sosok Nicholas yang sebenarnya. Bisa saja ini semua hanyalah salah satu rencana liciknya untuk mempermainkan dan menghancurkan mentalku di sekolah! ​"Lo masih butuh bukti?" tanya Nicholas dingin. Sepertinya dia sadar kalau sekadar memperlihatkan ruang obrolan di layar ponsel tidak cukup untuk membongkar benteng pertahananku. ​Nicholas menarik bagian bawah kaos tim yang dikenakannya ke atas, memperlihatkan kulit perutnya yang kencang hingga ke bagian pinggang sebelah kiri. Di sana, terukir sebuah tato berukuran sedang yang sangat khas. Tato yang selalu muncul setiap kali akun itu mengirimkan photo/pap bagian tubuhnya padaku di malam hari. ​Deg. ​Mataku terbelalak lebar. Tanganku gemetar hebat. Aku teringat jelas pada foto sexting yang dikirimkan akun itu beberapa hari lalu. Gambar tato, bentuk, dan letak tato di ping

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 14

    ​Beberapa minggu berlalu dengan cepat, hingga hari yang paling kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku duduk di bangku tribun penonton dengan perasaan luar biasa antusias, menyaksikan pertandingan basket yang berlangsung sangat sengit antara tim sekolah Gabriel melawan tim sekolah Nicholas. ​Atmosfer di dalam gedung olahraga terasa sedikit panas. Setiap kali tim lawan membawa bola, aku tidak bisa menahan diri. ​"Gabriel, semangat! Kamu pasti bisa!!" teriakku lantang, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitarku. ​Teriakanku yang terus bergema ternyata berdampak buruk di lapangan. Nicholas berkali-kali melirik tajam ke arah tribun penonton. Fokusnya pecah, wajahnya mengeras menahan amarah, dan dia bahkan hampir kalah karena sempat mengalami cedera ringan akibat permainannya yang mendadak kacau. ​Begitu peluit tanda sesi istirahat berbunyi, Nicholas langsung berjalan cepat meninggalkan lapangannya. Alih-alih menuju bangku timnya, cowok tampan dengan rambut sedikit berantak

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 13

    Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Rasa gugup tentang rencana pertemuanku dengan Gabriel minggu depan membuat pikiranku carut-marut. Untuk mencari udara segar dan menenangkan debaran jantungku, aku memutuskan untuk melangkah keluar menuju balkon kamar. ​Kriettt. ​Suara derit pintu kaca balkonku yang terbuka memecah keheningan malam. Begitu aku melangkah keluar, hembusan angin malam langsung menerpa kulitku. Namun, sedetik kemudian langkahku membeku.'malam-malam begini, dengan penampilan seperti itu ...' batin ku dengan kening berkerut. ​Tepat di balkon rumah sebelah yang hanya berjarak beberapa meter, Nicholas sedang berdiri bersandar. Cowok itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana santai selutut, membiarkan otot dada dan perutnya yang atletis terekspos bebas di bawah sinar rembulan. Jari-jarinya yang kokoh, terlihat tengah menjepit sebatang rokok yang menyala. ​Glek. ​'Nicholas sialan,' Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku seolah ter

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 12

    "Oh, shit..." ​Nicholas mendesis lirih di sudut tribun lapangan basket. Sepasang matanya masih terpaku lekat pada layar ponsel, memandangi foto sensual dari teman sexting online-nya yang baru saja ia kunci di folder pribadi. Nicholas memperbesar gambar di bagian dada, mengamati lekat-lekat tato berbentuk bintang berukuran kecil di sana. Tato khusus yang telah menyalakan gairahnya sejak pertama kali foto itu terkirim. ​"Gue nggak pernah ngebayangin kalau cewek liar semalam itu ternyata..." Nicholas bergumam pelan pada dirinya sendiri. Fokusnya terlalu tersedot ke dalam layar hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa Gabriel dan Chalvin sudah melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya sejak tadi. ​"Woah... apa itu, Nic?" seru Gabriel tiba-tiba, langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Nicholas dan mencondongkan kepala, berusaha mengintip apa yang sedang dilihat sahabatnya hingga seserius itu. ​"Pantesan belakangan ini lo selalu pulang sore pas latihan. Ada mainan baru rupany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status