LOGINSekitar seminggu setelah percakapan dengan Arin, Rio mendapatkan kabar yang menggembirakannya dari teman sekantornya, Bima. Sore itu, saat ia sedang bekerja di kantor, Bima mendekat dengan wajah ceria.
“Rio, Perusahaan elektronik ternama PT. Global Teknologi sedang cari orang buat posisi Administrasi Penjualan Retail. Mereka butuh orang yang paham HSE atau K3. Coba kamu kasih tahu temanmu untuk melamar pekerjaan disini?” ucap Bima sambil menyerahkan brosur lowongan.Rio laHari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Mata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Beberapa hari setelah perkelahian dengan Bram, Rio semakin sulit mengendalikan rasa cemburunya. Dia sering mengikuti Dewi tanpa sepengetahuan nya, bahkan beberapa kali menyela pertemuan Dewi dengan Pak Budi saat membahas kontrak baru. Salah satu sore, Dewi harus pergi ke kantor besar la
Setelah acara silaturahmi yang penuh keceriaan, nama Rio semakin dikenal di seluruh kawasan. Selain itu, Rio mulai menjadi sukarelawan keamanan masyarakat bersama Pak RT, membentuk kelompok penjaga lingkungan yang terdiri dari pria muda di rusun dan sekitarnya. Suatu hari, saat Rio seda
Beberapa hari setelah kejadian perkelahian di rusun, nama Rio menjadi terkenal di sekitar daerah itu sebagai pahlawan yang melindungi warga dari preman. Sementara itu, bisnis catering Dewi semakin berkembang pesat setelah mendapatkan kontrak tetap dari kantor besar yang baru saja dia layani.
“Kau siapa? Sok jagoan! Walaupun kamu warga sini, tapi ini wilayah kami. Kalau mau aman di sini dan tidak ada masalah apa-apa, harus bayar cukai dulu dong. Cukainya tidak mahal kok, cuma lima juta rupiah saja. Kalau tidak bisa bayar, ya jangan salahkan kita kalau barang kamu hilang atau cewek can







