Mag-log inDi malam perayaan pernikahanku yang kelima dengan Lionel, dia meniduri sahabatku, Regina, di ranjang kami. Terdengar suara anak-anak melalui kamera. "Tante Regina, aku akan menjaga pintu. Aku nggak akan membiarkan ibuku masuk!" Regina menghadiahi Lionel sebuah ciuman. "Putramu pintar. Kamu nggak pertimbangkan untuk punya anak lagi dengan Ivana?" Lionel menutupi wajahnya dengan bantal. Dia berkata, "Aku mual melihat bekas luka di perutnya."
view moreThe whispers of a entire nation were the last things that broke her.
In her past life, Elena hadn’t just been a successful programmer; she was a national icon. As one of the very few female tech CEOs in the country, her face had been on every business magazine cover. She had built a tech startup from scratch and turned it into a Unicorn company worth over a billion dollars. Because of her rare status in a male-dominated industry, the media watched her every move.
She thought she had it all—fame, brilliance, and a devoted suitor named Julian who publicly chased her with grand, romantic gestures, making the public swoon over his devotion to the nation's tech goddess.
But her fame became her execution dock.
Julian and her stepsister, Chloe, played a sickening, long game. Once Julian secured her trust, they manipulated Elena into signing a Power of Attorney under the guise of "protecting her assets from corporate rivals." The moment the ink was dry, they stripped her of her own empire.
To ensure she could never fight back, Chloe began secretly slipping heavy sedatives into her drinks. While Elena was trapped in a drug-induced fog, they staged incriminating photos of her in hotel rooms with random men.
Because Elena was a famous female public figure, the media turned on her savagely. The headlines were brutal: The Fall of the Tech Empress: Elena’s Secret, Wild Nightlife Exposed. The cyberbullying was nationwide and relentless. Hated by the public who once idolized her, stripped of her life's work, and gaslit into believing she was losing her sanity, Elena couldn't take the nightmare anymore. She swallowed a lethal dose of pills, closing her eyes as the internet celebrated the destruction of a "lying cheat."
Gasp!
Elena choked, her eyes flying open as she bolted upright.
There was no burning in her chest. No hospital room. Instead, her fingers were resting on the mechanical keys of her desktop computer. The sharp blue light of three monitors illuminated her bedroom, displaying the core architecture of her startup’s network.
She checked the bottom right corner of her screen. October 14, 2024.
Elena’s breath hitched. She was back.
She was back to the year her company was just hitting its stride—and crucially, before she ever fell for Julian's traps. Right now, Julian was still just an ambitious guy desperately trying to court her, and Chloe was just beginning to drop her subtle hints to the public.
Right on cue, her bedroom door clicked open. Chloe walked in, holding a fresh glass of orange juice.
"Elena, sweetie, you've been coding all night," Chloe said, setting the glass down with a sweet, innocent smile. "Oh, by the way... Julian called me again. He’s so deeply in love with you, Elena. He's coming to your office tomorrow with lunch just to see your face. Everyone at university and in the news is already saying how lucky you are to have a man chasing you like that. You shouldn't keep him waiting."
There it was. The setup. In her past life, Elena had been flattered by Julian's public pursuit, thinking it was true love. Now, she saw it for what it was: a calculated move to build his "patient, loving partner" image before they destroyed her reputation on a national stage.
"Leave the juice. I'll drink it later," Elena said, her voice completely devoid of emotion.
The moment Chloe left, Elena's expression turned ice-cold. She poured a sample of the orange juice into a small cosmetic vial and hid it away. The poison stops here.
Julian wanted to chase her? Chloe wanted to use her national fame to ruin her? Elena let out a sharp, dangerous laugh. This time, she wasn't going to play defensive. To protect her status as a female tech icon, she needed a shield so massive that no power of attorney, no media outlet, and no family member could ever touch her or her company again. She needed the ultimate surname. She needed Ethan Vance.
Elena’s fingers flew across her keyboard with lethal, practiced precision. For the past week, she had been analyzing a secret vulnerability in Vance Global's upcoming multi-billion-dollar AI security infrastructure. Tonight, she exploited it.
With a few flawless lines of code, she bypassed the elite firewalls of the country's most ruthless tech titan, planting an encrypted, un-deletable digital countdown clock right on Ethan Vance’s personal, top-secure desktop.
The timer on her screen read: 12:00:00.
Elena smiled into the dark room, the green reflection of the clock glowing in her eyes.
"Tick-tock, Mr. Vance. Let's see how much your empire is worth to you."
Sebelum berangkat, Deon melihat dari jendela mobil. Dia tidak menangis ataupun rewel, tetapi hanya bertanya kepadaku dengan mata memerah."Bu, kalau aku merindukanmu, bolehkah aku meneleponmu? Kalau Ibu merasa terganggu, aku akan meneleponmu sebulan sekali."Aku khawatir dengan anak ini, jadi aku pun mengangguk.Ayah Lionel mungkin sedang menerima karma buruknya. Sampai sekarang, dia hanya memiliki Deon, sebagai cucu satu-satunya.Saat kembali kali ini, Deon juga akan dilatih sebagai pewaris masa depan Keluarga Sebastian.Akan lebih baik meninggalkan Deon di kediaman Sebastian daripada mengikutiku.Mobil melaju makin jauh. Terakhir, bercampur dengan arus lalu lintas dan tidak kelihatan lagi.Alisia mengangkat kepalanya. "Bu, Deon menghancurkan Lego-nya sendiri. Aku melihatnya."Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum lega."Anak ini lebih pintar dari ayahnya.""Mungkin karena mewarisi gen-ku."Alisia mengerutkan bibirnya tak berdaya. "Kita makan apa malam ini?""Mi instan.""Ya ampun!"Ek
Aku berpura-pura tidak tahu apa yang dia pikirkan dan bertanya, "Kenapa? Apa dia pernah melihat orang duduk di kursi mobil ini? Regina?"Lionel membuang muka karena malu. "Ivana, aku memang melakukan kesalahan, tapi kenapa kamu nggak memberiku kesempatan sama sekali?""Aku banyak merenung dalam dua tahun terakhir ini. Deon juga nggak keras kepala seperti dulu lagi. Jadi ....""Jadi setelah dua tahun, Regina masih mengejar dari Brumen ke Hodam dengan membawa kue untuk merayakan ulang tahun Deon? Apa itu semua hanya perasaan sepihaknya saja?"Lionel tersedak. Jakunnya bergerak."Setelah kejadian itu, dia hamil.""Tapi aku menyuruhnya aborsi."Mataku terbelalak. Mendadak ada perasaan mual menyelimutiku. Untuk pertama kalinya, aku merasa Lionel tidak pantas aku cintai selama sembilan tahun ini."Jadi, kenapa kamu memberitahuku hal ini? Apa kamu ingin mengingatkanku akan rasa sakit yang aku derita hari itu?""Atau kamu ingin memanfaatkan penderitaan wanita lain untuk membuatku merasa lebih
Setelah kejadian itu, sekolah juga hampir memasuki liburan akhir semester.Lionel sudah lama tidak muncul di depanku. Deon juga sudah lama tidak mengunjungi toko mi-ku.Aku mengira drama ayah anak itu telah berakhir. Alisia dan aku akhirnya bisa kembali hidup damai.Namun di saat aku pulang membawa sekantong udang hari ini, aku tidak menemukan sosok Alisia.Aku berusaha menenangkan diri. Kemudian, mengeluarkan ponsel dan menelepon guru Alisia serta toko buku yang sering dia kunjungi.Namun, mereka bilang tidak bertemu dengan Alisia.Aku sangat cemas sampai berlari keluar untuk melapor polisi.Di koridor, aku berpapasan dengan Tante Adel, tetangga seberang kami, yang menenteng keranjang sayur. Melihat aku panik hingga berkeringat, dia pun bertanya kepadaku, apa yang telah terjadi.Begitu mendengar Alisia hilang, Tante Adel bahkan lebih panik daripada aku."Ivana, Tante nggak pantas bilang begini, tapi apa mungkin pria kaya yang mengejarmu itu yang membawa Alisia pergi?"Aku tertegun. "A
Aku menghela napas dan bertanya pada Alisia, "Apa kamu ingin makan malam bersama mereka?"Alisia melirik Deon, yang hampir menangis, kemudian berkata dengan cuek, "Aku ikuti perkataan Ibu saja."Deon duduk di kursi mobil depan. Dia tampak sangat gembira dan terus-menerus menoleh ke belakang untuk melihatku.Saat aku berbicara dengan Alisia, dia akan cemberut, tetapi dia tidak akan berbaring di lantai sambil merengek seperti dulu lagi.Kini Deon jauh lebih pengertian daripada sebelumnya, tetapi aku dulu juga tidak membencinya karena sifat kekanak-kanakannya ini. Sama halnya dengan sekarang. Aku juga tidak akan menyukainya hanya karena dia berubah lebih pengertian.Dalam beberapa hari terakhir ini, Lionel sibuk dengan pekerjaannya dan bolak-balik dari Hodam ke Brumen. Meski Deon punya pelayan di rumah yang menjaganya, dia sering berlari ke tokoku sendirian sepulang sekolah. Kemudian, duduk di meja makan sambil mengerjakan tugas sekolah, bahkan sampai toko tutup.Lionel juga tidak menjela
Aku menghela napas. Tidak ada hubungannya dengan itu.Aku dulu mencintai mereka dan bersedia melakukan semua hal itu untuk mereka. Sekarang aku tidak mencintai mereka lagi, jadi aku tidak peduli apa mereka bersedia melakukannya untukku.Saat melihat Lionel, pria itu masih sibuk berbicara di telepon.
Malam harinya, Alisia mengetuk pintu kamarku sambil memegang bantal. Dia bertanya, apa dia boleh tidur bersamaku.Saat mengendongnya ke atas ranjang, aku merasa tubuhnya gemetar."Ada apa?"Alisia membuka sedikit celah dari selimutnya dan berkata, "Aku nonton film yang kamu sebut barusan. Aku agak t
Regina menatapku, lalu memandang Deon sambil tersenyum."Ibumu sudah pulang, jadi Tante harus pergi."Deon duduk di lantai sambil menangis. "Suruh dia pergi. Aku mau Tante Regina tetap di sini. Aku ingin Tante Regina menjadi ibuku!"Walau Deon baru berusia empat tahun, yang mana perkataannya tidak b
Di malam perayaan pernikahanku yang kelima dengan Lionel, dia meniduri sahabatku, Regina, di ranjang kami.Terdengar suara anak-anak melalui kamera."Tante Regina, aku akan menjaga pintu. Aku nggak akan membiarkan ibuku masuk!"Regina menghadiahi Lionel sebuah ciuman. "Putramu pintar. Kamu nggak per












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu