MasukDi malam perayaan pernikahanku yang kelima dengan Lionel, dia meniduri sahabatku, Regina, di ranjang kami. Terdengar suara anak-anak melalui kamera. "Tante Regina, aku akan menjaga pintu. Aku nggak akan membiarkan ibuku masuk!" Regina menghadiahi Lionel sebuah ciuman. "Putramu pintar. Kamu nggak pertimbangkan untuk punya anak lagi dengan Ivana?" Lionel menutupi wajahnya dengan bantal. Dia berkata, "Aku mual melihat bekas luka di perutnya."
Lihat lebih banyakNyx's pov.
They say everyone wakes up excited on their birthday. But not me. I hated it. Every second. Every reminder that I was born a shadow to someone else's spotlight. In this house, birthdays weren’t for both of us. They were for her — Camila. The golden twin. Brilliant. Beautiful. She wore her excellence like a crown, effortlessly claiming what I had to bleed for. She glided, with grace carved by our parents' praise and worship. Every test score, every smile, every breath she took came with a standing ovation. And me? I was the forgotten daughter — the one no one remembered giving birth to. That morning, I heard them before I saw them. Laughter. Clinks of wrapping paper. My mother’s voice laced with delight. "You deserve this, sweetheart. Happy birthday, baby girl." I stayed curled under the blanket, still as stone. But I listened. I always listened. The gift — a delicate necklace from Paris. My father’s voice followed. “Wear it tonight. You'll look perfect with it at dinner.” They didn’t knock on my door. Didn’t even check if I was breathing. Just called out, “Girls, be ready by 7pm!” and left for work as if I was just another piece of furniture in the house. And so on the day I turned eighteen, the day meant to celebrate me,the comparison came like a curse. Camila lingered, of course. “You didn’t get anything again?” Her words dripped honey and poison - the most disgusting combination. I didn’t answer. “You should come down more often. Maybe they’d notice you exist,” she added. I didn't need to see her to know she was smiling. I stayed still, buried under the blanket, pretending to sleep but my mind was screaming I couldn't take her chirpy voice, a constant reminder that I was a second class daughter. "get out!" I snapped, voice cracking. She giggled and left. " hope it goes better for you this year". she added before clicking the door shut. But I didn't hope, I needed escape. The day dragged quickly, didn’t cry. I hadn’t in years. But I burned inside, silent flames licking at my sanity. I paced. Starved. Cleaned my already-spotless room. Stared into the mirror too long, wondering how two girls born the same hour could be seen so differently. Around six, I pulled myself together -not for them, but for me. I wore my new black velvet dress. classic and tight. some jewelry, gloss, and painted my lips with deep crimson. getting ready for the worse. ___ Dinner was a well rehearsed show,a masquerade of love, Laughter roared. Candles flickered, The table was dressed like royalty. And there she sat-Camila glowing, giggling, being toasted by the same people who gave me silence for breakfast. Then came the final blow. “We saved the best for last,” Dad announced, rising to his feet with a gleam in his eyes. The housekeeper rolled in a key on a silver tray. “A car?! You got her a car?!” I asked, stunned. “On our birthday?!” They turned. The silence stung. “It’s her reward, Nyx. She worked hard. She deserves it,” Mum said simply, like it was common sense. “And I don’t?” I whispered, voice trembling. “I don’t deserve anything because I’m not her? Because I’m not perfect like Camila?” “You don’t have to make this about you,” my sister said, soft and Smugly. But I was already on fire. “I didn’t ask to be born your twin! I didn’t ask to be second place every damn year! I’m tired of being invisible!” No one said anything, not a sorry not even a lie. So, I took the car key. Snatched it with a wicked grin, stormed out without a word, and slammed the door behind me hard enough to shake the portraits on the wall. I drove with trembling hands, my heart ice, no destination. Just away. But the city has a way of calling the broken. And the broken always find where the madness is. The neon lights of BASQUE blinked at me like temptation, and I answered. I didn’t go to a party. I went to a club known for swallowing souls. where music roared like thunder, and darkness was dressed in diamonds. Dangerous men watched from velvet corners. Women prowled like wolves in lipstick. And me? I walked in like I owned the place. Not in my usual thrifted madness. because tonight, I looked... flawless. I was unrecognizable, even to myself. I had dressed so well for them — for my parents, hoping if they saw me like this, they’d finally see me at all. But they didn’t. They never would. So, I danced. Like a woman unhinged. A psychopath basking in the madness. I stole every eye in the club, drowned in the strobe lights, losing myself in the chaos. I laughed. Twirled. Dropped to the floor like I was some crazy bitch. I wanted them to see me - if not at home, then here. In the darkness. Among strangers. And for the first time in years… I felt alive.Sebelum berangkat, Deon melihat dari jendela mobil. Dia tidak menangis ataupun rewel, tetapi hanya bertanya kepadaku dengan mata memerah."Bu, kalau aku merindukanmu, bolehkah aku meneleponmu? Kalau Ibu merasa terganggu, aku akan meneleponmu sebulan sekali."Aku khawatir dengan anak ini, jadi aku pun mengangguk.Ayah Lionel mungkin sedang menerima karma buruknya. Sampai sekarang, dia hanya memiliki Deon, sebagai cucu satu-satunya.Saat kembali kali ini, Deon juga akan dilatih sebagai pewaris masa depan Keluarga Sebastian.Akan lebih baik meninggalkan Deon di kediaman Sebastian daripada mengikutiku.Mobil melaju makin jauh. Terakhir, bercampur dengan arus lalu lintas dan tidak kelihatan lagi.Alisia mengangkat kepalanya. "Bu, Deon menghancurkan Lego-nya sendiri. Aku melihatnya."Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum lega."Anak ini lebih pintar dari ayahnya.""Mungkin karena mewarisi gen-ku."Alisia mengerutkan bibirnya tak berdaya. "Kita makan apa malam ini?""Mi instan.""Ya ampun!"Ek
Aku berpura-pura tidak tahu apa yang dia pikirkan dan bertanya, "Kenapa? Apa dia pernah melihat orang duduk di kursi mobil ini? Regina?"Lionel membuang muka karena malu. "Ivana, aku memang melakukan kesalahan, tapi kenapa kamu nggak memberiku kesempatan sama sekali?""Aku banyak merenung dalam dua tahun terakhir ini. Deon juga nggak keras kepala seperti dulu lagi. Jadi ....""Jadi setelah dua tahun, Regina masih mengejar dari Brumen ke Hodam dengan membawa kue untuk merayakan ulang tahun Deon? Apa itu semua hanya perasaan sepihaknya saja?"Lionel tersedak. Jakunnya bergerak."Setelah kejadian itu, dia hamil.""Tapi aku menyuruhnya aborsi."Mataku terbelalak. Mendadak ada perasaan mual menyelimutiku. Untuk pertama kalinya, aku merasa Lionel tidak pantas aku cintai selama sembilan tahun ini."Jadi, kenapa kamu memberitahuku hal ini? Apa kamu ingin mengingatkanku akan rasa sakit yang aku derita hari itu?""Atau kamu ingin memanfaatkan penderitaan wanita lain untuk membuatku merasa lebih
Setelah kejadian itu, sekolah juga hampir memasuki liburan akhir semester.Lionel sudah lama tidak muncul di depanku. Deon juga sudah lama tidak mengunjungi toko mi-ku.Aku mengira drama ayah anak itu telah berakhir. Alisia dan aku akhirnya bisa kembali hidup damai.Namun di saat aku pulang membawa sekantong udang hari ini, aku tidak menemukan sosok Alisia.Aku berusaha menenangkan diri. Kemudian, mengeluarkan ponsel dan menelepon guru Alisia serta toko buku yang sering dia kunjungi.Namun, mereka bilang tidak bertemu dengan Alisia.Aku sangat cemas sampai berlari keluar untuk melapor polisi.Di koridor, aku berpapasan dengan Tante Adel, tetangga seberang kami, yang menenteng keranjang sayur. Melihat aku panik hingga berkeringat, dia pun bertanya kepadaku, apa yang telah terjadi.Begitu mendengar Alisia hilang, Tante Adel bahkan lebih panik daripada aku."Ivana, Tante nggak pantas bilang begini, tapi apa mungkin pria kaya yang mengejarmu itu yang membawa Alisia pergi?"Aku tertegun. "A
Aku menghela napas dan bertanya pada Alisia, "Apa kamu ingin makan malam bersama mereka?"Alisia melirik Deon, yang hampir menangis, kemudian berkata dengan cuek, "Aku ikuti perkataan Ibu saja."Deon duduk di kursi mobil depan. Dia tampak sangat gembira dan terus-menerus menoleh ke belakang untuk melihatku.Saat aku berbicara dengan Alisia, dia akan cemberut, tetapi dia tidak akan berbaring di lantai sambil merengek seperti dulu lagi.Kini Deon jauh lebih pengertian daripada sebelumnya, tetapi aku dulu juga tidak membencinya karena sifat kekanak-kanakannya ini. Sama halnya dengan sekarang. Aku juga tidak akan menyukainya hanya karena dia berubah lebih pengertian.Dalam beberapa hari terakhir ini, Lionel sibuk dengan pekerjaannya dan bolak-balik dari Hodam ke Brumen. Meski Deon punya pelayan di rumah yang menjaganya, dia sering berlari ke tokoku sendirian sepulang sekolah. Kemudian, duduk di meja makan sambil mengerjakan tugas sekolah, bahkan sampai toko tutup.Lionel juga tidak menjela
Aku menghela napas. Tidak ada hubungannya dengan itu.Aku dulu mencintai mereka dan bersedia melakukan semua hal itu untuk mereka. Sekarang aku tidak mencintai mereka lagi, jadi aku tidak peduli apa mereka bersedia melakukannya untukku.Saat melihat Lionel, pria itu masih sibuk berbicara di telepon.
Malam harinya, Alisia mengetuk pintu kamarku sambil memegang bantal. Dia bertanya, apa dia boleh tidur bersamaku.Saat mengendongnya ke atas ranjang, aku merasa tubuhnya gemetar."Ada apa?"Alisia membuka sedikit celah dari selimutnya dan berkata, "Aku nonton film yang kamu sebut barusan. Aku agak t
Regina menatapku, lalu memandang Deon sambil tersenyum."Ibumu sudah pulang, jadi Tante harus pergi."Deon duduk di lantai sambil menangis. "Suruh dia pergi. Aku mau Tante Regina tetap di sini. Aku ingin Tante Regina menjadi ibuku!"Walau Deon baru berusia empat tahun, yang mana perkataannya tidak b
Di malam perayaan pernikahanku yang kelima dengan Lionel, dia meniduri sahabatku, Regina, di ranjang kami.Terdengar suara anak-anak melalui kamera."Tante Regina, aku akan menjaga pintu. Aku nggak akan membiarkan ibuku masuk!"Regina menghadiahi Lionel sebuah ciuman. "Putramu pintar. Kamu nggak per












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan