Share

Marni Tidak Menyerah

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-10-20 21:10:57

"Ndoro Juragan baik-baik saja, Ndoro Besar. Mungkin Ndoro Ayu butuh jamu penyubur kandungan. Supaya—"

"Kenapa saya, Mbok?" Wening memotong kalimat Mbok dukun. Membuat ucapan wanita tua itu menggantung di udara. Kemudian pandangannya tertuju pada Jayendra yang juga tengah menatapnya. "Mbok dukun datang untuk memeriksa Marni. Kenapa jadi saya yang harus minum jamu ini itu?"

Kalimat Wening berhasil membuat Marni tersentak. Membuat perhatian semua orang berpindah pada gadis yang tengah duduk bers
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Hukuman Untuk Marni

    Jayendra berdiri mematung. Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam. Pandangan sang Juragan yang dingin dan mematikan kini tertuju sepenuhnya pada Marni yang makin gemetar tak berdaya. "Kurang ajar! Ternyata kamu memelihara jalang tidak tahu diri di rumah ini, Jayendra!" teriak Kanjeng ibu histeris. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dengan drama yang dibuat oleh pelayannya. "Kamgmas!" Sani berdiri dari tempat duduknya. "Kalau sampai Kangmas madih membela jalang ini, saya dan Ibu tidak akan memaafkanmu!" Mendengar ucapan Sani, Jayendra menarik napasnya dalam. Tidak menyangka jika permasalahannya menjadi tambah rumit. "Jadi..." suara Jayendra terdengar sangat pelan, namun justru terasa jauh lebih berbahaya. "Kamu bukan cuma pelayan yang tidak tahu diri, Marni... tapi kamu juga mencoba memfitnah istriku untuk menutupi hawa nafsumu sendiri?" "Bohong! Juragan jangan percaya!" teriak Marni dengan wajah memerah, matanya melotot menatap Banyu dengan kemarahan membara. "Bany

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Senjata Makan Tuan

    Belum sempat Marni menyelesaikan kalimatnya, Wening maju selangkah, menyela dengan suara yang bergetar namun tegas demi menutupi kepanikannya. "Marni! Sudah cukup kamu memfitnah dan membawa-bawa namaku!" potong Wening cepat. Napasnya naik turun, matanya menatap tajam ke arah Marni, mencoba menyembunyikan badai ketakutan yang mengamuk di dalam dadanya. Ia tahu benar, satu patah kata lagi keluar dari mulut pelayan itu, seluruh hidupnya dan Banyu akan hancur seketika. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Wening masih mau membalas perlakuan suami dan keluarganya yang merendahkan harga dirinya di kediaman ini. Kanjeng Ibu dan Sani saling berhadapan, kemudian sama-sama membuang pandangannya ke arah Wening yang duduk di di sudut dengan wajah tegang. Jayendra menyipitkan mata. Pandangannya bergantian menatap Marni yang ketakutan dan Wening yang tampak kaku berdiri di tempatnya. Atmosfer di pendopo mendadak menjadi sangat dingin dan menekan. Padahal, dahan pohon gayam yang ada di depan pendo

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Marni Tidak Menyerah

    "Ndoro Juragan baik-baik saja, Ndoro Besar. Mungkin Ndoro Ayu butuh jamu penyubur kandungan. Supaya—" "Kenapa saya, Mbok?" Wening memotong kalimat Mbok dukun. Membuat ucapan wanita tua itu menggantung di udara. Kemudian pandangannya tertuju pada Jayendra yang juga tengah menatapnya. "Mbok dukun datang untuk memeriksa Marni. Kenapa jadi saya yang harus minum jamu ini itu?" Kalimat Wening berhasil membuat Marni tersentak. Membuat perhatian semua orang berpindah pada gadis yang tengah duduk bersimpuh di lantai dengan takut. "Benar, Jayendra! Pelayanmu ini sudah kurang ajar dengan membohongi kita dengan kehamilannya. Kalau hanya dihukum ringan, Ibu tidak setuju." Mendengar kata hukuman, mata Marni terbelalak lebar. Ia merangkak ke kaki Jayendra dan memohon untuk tidak menghukumnya. "Ampun, Juragan. Marni minta ampun, Marni janji tidak akan mengulanginya lagi asal Juragan memaafkan Marni," rengek Marni seraya menangis. "Minta ampun? Cih! Kamu pikir kamu pantas? Sudahlah seorang pela

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Panggil Simbok Dukun

    "Apa!?" Kanjeng Ibu tersentak berdiri. Matanya melotot pada pelayan yang duduk bersimpuh di lantai dengan pandangan menunduk itu. Tidak seperti sang ibu, Jayendra justru duduk dengan tenang dan diam seraya menikmati cendol manis dingin buatan Marni. Seolah ia sudah mengetahui rahasia pelayannya. "Nuwun sewu, Ndoro Besar. Saya sudah memastikannya berkali-kali. Hasilnya tetap sama, Marni tidak hamil," jawab wanita tua itu dengan takut-takut. Sedangkan Marni meradang. Ia mengangkat bahunya, menunjuk Mbok dukun dan menudingnya berbohong. "Sampeyan sendiri yang mengatakan kalau Marni hamil beberapa hari yang lalu, tapi kenapa sekarang berubah dan mengatakan Marni tidak hamil. Mbok, Sampeyan di bayar seseorang untuk berbohong?" Mbok dukun menggeleng cepat, membantah tuduhan Marni. "Mboten, Ndoro besar. Saya tidak berbohong. Kemarin saya hanya bilang untuk diperiksa kembali karena belum jelas. Marni sendiri yang mengatakan kalau sudah telat datang bulan. Saya tidak mengatakan kalau Marn

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Marni Tidak Hamil

    Marni yang duduk bersimpuh, lututnya yang rapat itu bergetar, simpuhnya ambyar. Ia terkesiap, pantatnya jatuh ke lantai dengan mata yang membola karena kedatangan seseorang. Namun, secepat kilat ia membenahi duduknya sebelum Kanjeng ibu menyadarinya. "Mbok," sapa Kanjeng Ibu pada wanita tua yang cukup terkenal di desa. "Duduk, Mbok," perintah Kanjeng Ibu kemudian. Jayendra menoleh pada sosok yang datang dengan Rum. Sesaat ia tertegun, namun ia tahu maksud dari kedatangan Mbok dukun ke rumahnya. "Kanjeng Ibu menyuruh Mbok dukun datang?" tanya Jayendra. Yang segera dijawab dengan anggukan oleh sang ibu. Banyu yang melihat kedatangan Mbok dukun, mendekat ke pendopo dan mengamati. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Dari tempatnya berdiri, ia dapat menagkap ketakutan di wajah Marni yang disebabkan oleh kedatangan wanita tua yang sudah tersohor itu. "Sepertinya Marni akan tersingkir meskipun saya tidak melakukan apa-apa," guman Banyu yang dibarengi dengan senyuman. Ia memutusk

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Firasat

    "Bagus. Itu yang Ibu harapkan dari dulu. Kamu jangan sampai kecewakan ibumu ini." Binar bahagia muncul di wajah tua itu. Senyumnya begitu lebar, seolah ia hidup tanpa ada beban sekecil apapun. Kanjeng Ibu memperbaiki posisi duduknya seraya mengibas-ibaskan kipas di tangannya. Ia menghadap sang putra. "Bagaiamana dengan harta Wening? Kamu bisa mengambilnya atau tidak? Lumayan kalau bisa menjadi milik kita, Jayendra. Ladangnya luas dan tanahnya bagus. Pantas saja setiap panen hasilnya selalu memuaskan." Jayendra tersenyum licik. "Untuk ladang, mungkin kita butuh waktu, Bu. Tapi kalau perhiasan, sebagian sudah saya ambil untuk dijual," jawabnya dengan nada paling rendah. Kanjeng Ibu tersenyum, kemudian mengangguk-anggukan kepalanya merasa puas dengan cara kerja sang putra. "Bagus. Wening juga harus ikut berkorban. Bagiamannpun juga Wening masih istrimu. Biarpun suatu saat kamu akan menceraikannya dan menggantinya dengan Kanti." "Bu, tahu sendiri seperti apa pejabat Kadipaten. Kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status