LOGIN"I-iya nggak apa-apa, Mas. Justru bagus kalau ada Mas di sini," ucap Maya dengan nada manjanya.
Yono bisa merasakan bagaimana jemari wanita itu meremas kaus di bagian dadanya dengan lebih erat. Detak jantung Maya yang berpacu cepat terasa langsung di telapak tangan Yono yang masih menahan pinggangnya.
Namun, pria itu tetap diam dan membiarkan matanya perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan absolut ruangan sebelum Maya menyalakan lampu senter dari ponselnya.
Cahaya putih yang tajam itu memantul ke langit-langit, memotong kegelapan dan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis di dinding. Menggunakan pendaran redup itu, Maya menuntun Yono mendekat ke arah meja kerjanya.
"Duduk sini dulu, Mas. Capek kan berdiri terus?" gumam Maya sambil menarik lengan Yono yang kekar menuju satu-satunya kursi kerja beroda yang empuk di sana.
Yono akhirnya menjatuhkan tubuh tegapnya di atas kursi tersebut. Napasnya masih teratur, namun pikirannya mulai berputar cepat. Sebagai pria dewasa, ia tahu batasan, tetapi kedekatan ini mulai mengikis dinding pertahanannya yang paling tebal sekalipun.
Belum sempat ia memposisikan diri dengan nyaman, sebuah kilatan petir kembali memotong langit di luar, disusul suara gemuruh yang menggetarkan kaca.
"Eh!" Maya memekik pelan dan badannya langsung tersentak.
Tanpa ragu-ragu lagi, wanita itu memanfaatkan momen tersebut untuk merapatkan tubuhnya, lalu dengan sengaja mendudukkan dirinya di atas pangkuan Yono.
Kursi kerja itu seketika terasa sangat sempit. Yono sedikit terkejut, namun refleks kedewasaannya membuat tangannya yang besar langsung melingkar di pinggang ramping Maya, menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh dari posisinya yang tidak stabil.
Kulit mereka yang hanya terhalang kain tipis mengirimkan gelombang panas yang kontras dengan dinginnya udara malam pasca-hujan.
"May, kursinya sempit. Kamu bisa jatuh," bisik Yono dengan nada rendah dan berat dari biasanya, bergetar langsung di ceruk leher Maya karena jarak mereka yang terpangkas habis.
"Nggak apa-apa, Mas. Kursinya sempit tapi muat kok," sahut Maya pelan, lalu kepalanya bersandar di bahu lebar Yono. "Aku takut gelap... dan di sini lebih aman."
Yono kemudian menarik napas dalam-dalam, hingga aroma manis dari tubuh Maya bercampur dengan bau hujan dan kehangatan kulit mereka yang intim. Ia bisa merasakan dadanya naik turun bersentuhan langsung dengan punggung Maya. Kontrol diri Yono benar-benar sedang diuji di titik tertinggi saat ini.
"Takut gelap atau takut sendirian?" tanya Yono, ada nada sindiran halus namun sarat akan provokasi dalam suaranya.
Maya membalikkan sedikit tubuhnya di atas pangkuan Yono, hingga membuat posisi mereka kini berhadapan. Sentuhan di paha dan pinggang mereka makin intens. Jemari lentik Maya yang agak dingin perlahan naik, bergerak berani menelusuri garis rahang tegas Yono yang dihiasi janggut tipis yang kasar.
"Dua-duanya, Mas," bisik Maya seraya menatap tepat ke manik mata gelap Yono yang berkilau tertimpa cahaya senter ponsel di meja. "Mas Yono badannya tegap banget ya... sering angkat beban berat di gudang?"
Yono lantas terkekeh rendah mendengarnya. "Pekerjaan sopir emang kayak gini, May. Nggak ada yang istimewa."
"Istimewa kok," sanggah Maya cepat, dan jemarinya kini beralih merapikan kerah kaus Yono yang sedikit berantakan. "Pasti beruntung banget ya, wanita yang bakal jadi pasangan Mas Yono kelak. Dijaga terus, rasanya pasti aman banget ada di sebelah Mas."
Yono menatap wanita di pangkuannya dengan intensitas yang mematikan. Tangan besarnya yang melingkari pinggang Maya perlahan meremas lembut, memberikan tekanan kecil yang membuat Maya menahan napasnya sejenak.
Ketegangan di antara mereka berdua kini berada di puncaknya, seolah satu gerakan kecil saja bisa meruntuhkan seluruh akal sehat yang tersisa.
"Kamu sendiri? Bukannya udah ada yang jaga di luar sana?" bisik Yono tepat di depan bibir Maya dengan suara seraknya.
Maya menggeleng lambat. "Dia nggak ada di sini, Mas. Dia nggak kayak Mas Yono."
“Kenapa?” tanya Yono ingin tahu.
Namun, Maya hanya diam. Jarak di antara wajah mereka mengikis hingga menyisakan hitungan milimeter. Napas hangat Yono membelai permukaan kulit wajah Maya yang mulai memerah. Tepat ketika Yono memiringkan kepalanya sedikit, menyerah pada ketegangan instan yang membakar ruangan itu—
Bzzzttt!
Lampu neon di langit-langit mendadak berkedip dua kali, lalu langsung menyala terang benderang. Cahaya putih yang mendadak itu seketika membutakan mata mereka selama beberapa detik dan menghancurkan atmosfer intim yang baru saja terbangun.
Namun, sebelum mereka sempat bereaksi terhadap terangnya lampu, sebuah suara lain memotong keheningan malam dengan sangat tajam.
Kreeekkk...
Pintu kaca ruang administrasi yang berada di ujung lorong berderit pelan, bergerak terbuka dari luar. Maya langsung panik, dan matanya melebar sempurna. Tubuhnya menegang di atas pangkuan Yono, namun entah karena terlalu syok atau enggan kehilangan momen, ia justru membeku dan tidak langsung bergeser dari posisinya.
Yono, dengan instingnya yang tajam, langsung melemparkan pandangannya ke arah pintu. Di balik kaca buram yang membatasi ruangan itu dengan lorong luar, sebuah bayangan hitam tampak di luar ruangan tersebut.
Yono mempererat cengkeramannya di pinggang Maya, menahan wanita itu agar tidak membuat gerakan tiba-tiba, sementara matanya tetap mengunci bayangan misterius tersebut.
Dengan suara yang sangat rendah namun terdengar dingin dan mengancam, Yono berbisik di telinga Maya tanpa melepaskan pandangannya dari kaca.
"May... jangan bergerak. Kayaknya ada yang datang!”
Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l
Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati
Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng
Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam
Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh
Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu







