Share

Bab 18 Mendarat

Author: J Shara
last update publish date: 2026-04-14 16:58:37

Kedua tangan Ucup mencengkeram pegangan kursi begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Badannya yang besar gemetar hebat.

​Hana hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan Ucup yang begitu udik. Penumpang di kursi sebelah mulai melirik dengan senyum tertahan.

​"Bang! Diam! Ini namanya take off, memang harus cepat supaya bisa terbang!" bisik Hana setengah malu. Ia meraih tangan Ucup yang kasar dan menggenggamnya kuat untuk memberikan ketenangan. "Pegang tanganku saja kalau takut, ja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 81 Makin Malam

    Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala lelah, kerisauan tentang Hana, dan dunia luar yang bising. Di atas ranjang yang empuk, di bawah temaram cahaya lampu tidur berona kuning keemasan, kamar itu berubah menjadi dunia kecil milik mereka berdua.Ucup menatap wajah Andien yang berada tepat di bawah kurungan tubuhnya. Napas perempuan itu memburu, naik turun tidak beraturan, sementara pipinya merona merah alami akibat debaran jantung yang berlomba. Tatapan mata Andien begitu basah dan penuh penyerahan, menatap balik Ucup dengan binar kerinduan yang sudah berminggu-minggu tertahan."Abang..." panggil Andien pelan, jemarinya yang lentik merayap naik, menyentuh rahang Ucup yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Jangan ragu-ragu lagi..."Mendengar bisikan itu, pertahanan terakhir Ucup sepenuhnya runtuh. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang semakin dalam, menuntut, dan sarat akan keputusasaan rindu. Ciuman itu tidak lagi lembut; ia berubah menjadi panas dan penuh gelora. Lidah

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 80 Rindu yang Tertunda

    Langit malam di luar kaca jendela menggantung kelam, menyisakan bias lampu jalanan kota yang temaram dan memantulkan dinginnya udara selepas hujan. Ucup melangkah pelan, memegang kemudi mobil dengan satu tangan sementara tangannya yang lain sesekali mengetuk-ngetuk setir mengikuti alunan radio yang berdengung lirih. Di sampingnya, Andien duduk bersandar dengan pandangan menerawang keluar jendela, memperhatikan bayangan lampu-lampu yang berlarian cepat.Hari baru saja usai setelah mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam menemani Hana di rumah sakit. Kelelahan fisik bercampur dengan keheningan emosional masih melekat di udara kabin mobil, membuat perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya."Hana kelihatannya sudah lebih tenang ya, Cup," suara Andien memecah keheningan, memecah fokus Ucup dari jalanan aspal yang basah.Ucup melirik sekilas, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ndien. Untung tadi kita temenin sampai selesai. Kasihan juga dia kalau harus sendirian menghadapi sit

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 79 Membenahi Diri

    Usai dari klinik, Arief langsung meluncur menuju sebuah kafe eksklusif di bilangan Senopati tempat lingkaran pertemanan lamanya biasa berkumpul. Tempat itu dipenuhi oleh deretan mobil mewah dan gelak tawa orang-orang yang sibuk menjaga gengsi. Dulu, Arief adalah salah satu dari mereka—pria yang paling lantang meremehkan istri sendiri demi mendapat validasi dari teman-temannya.Namun hari ini, langkah Arief terasa sangat berat.Begitu ia mendorong pintu kaca kafe, matanya langsung menangkap sekumpulan rekan lamanya yang sedang duduk santai di sudut ruangan. Rama, Dimas, dan beberapa orang lainnya langsung melambai menyambut kehadiran Arief."Wah, ke mana saja kau, Rif? Tiba-tiba ngilang, diundang rapat malah dibubarkan mendadak," sapa Rama sambil tertawa ringan, menyangka Arief sedang sibuk mengurus proyek besar.Arief tidak tersenyum. Ia berjalan mendekati meja mereka, lalu berdiri kaku tepat di hadapan kelompok pria yang dulu sering menertawakan candaannya. Suasana di sekitar meja it

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 78 Memeriksa Kandungan

    Suasana klinik obstetri dan ginekologi di kawasan elit Jakarta Selatan itu tampak tenang. Aroma khas antiseptik dan cat tembok putih bersih menyambut siapa saja yang datang. Di salah satu sudut ruang tunggu yang nyaman, Hana duduk tenang dengan mantel musim dingin tipis yang menutupi perutnya yang mulai berbadan dua. Di sampingnya, Andien setia menemani, sesekali mengusap punggung Hana dengan lembut untuk menenangkan kecamuk emosi yang mungkin masih dirasakan sahabatnya itu."Yakin nggak papa dia ikut masuk nanti, Na?" bisik Andien hati-hati, menatap pintu ruangan dokter yang ada di seberang mereka.Hana menghela napas pelan, merapikan tas kecil di pangkuannya. "Biarin, Dien. Sesuai perjanjian. Dia punya hak untuk tahu perkembangan anak ini, tapi batasannya tetap jelas. Nggak lebih."Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa namun berusaha diredam terdengar mendekat. Sosok Arief muncul dari balik koridor klinik. Penampilannya hari itu terlihat jauh lebih sederhana—tidak ada jas mahal at

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 77 Satu Kesempatan

    Nama itu—nama wanita yang semalam menolaknya dengan begitu dingin—kini berdiri di luar ruangannya. Tanpa berpikir dua kali, Arief langsung mematikan kliker presentasi di tangannya. Hilang sudah fokusnya pada angka-angka investasi bernilai miliaran di layar. "Rapat hari ini kita bubarkan," potong Arief cepat, tanpa mempedulikan tatapan heran dan saling pandang dari para peserta rapat. "Materi sisanya akan dikirimkan via email oleh sekretaris saya. Terima kasih atas waktunya." Para eksekutif dan investor yang terkejut terpaksa membereskan berkas mereka dan beranjak keluar satu per satu. Arief berdiri mematung di ujung meja, merapikan kemejanya dengan jemari yang bergetar hebat. Dadanya bergemuruh—campuran antara rasa cemas, takut, dan secercah harapan yang membumbung tinggi. "Persilakan dia masuk," perintah Arief pada sekretarisnya dengan suara menegang. "Dan pastikan tidak ada seorang pun yang mengganggu kami." "Baik, Pak." Sekretaris itu kembali keluar. Tak lama kemudian, sosok

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 76 Membujuk Hana

    Ucup menghela napas panjang. Ia meraih cangkir teh hangat di depan Hana, memutar-mutarnya perlahan seolah menimbang setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia tidak menyangkal kebusukan Arief; ia paham betul betapa dalamnya luka yang dirasakan Hana."Aku tahu, Na," suara Ucup mengalun rendah, penuh empati. "Kata-kata yang sudah terucap itu ibarat paku yang ditancapkan ke batang kayu. Walaupun pakunya dicabut, lubangnya tetap ada di sana. Dan Arief memang sangat kurang ajar waktu itu."Hana menyapu sudut matanya yang basah sebelum air mata itu sempat jatuh. Bibirnya bergetar menahan emosi yang bergejolak."Tapi pernahkah kamu berpikir, Na..." Ucup menatap Hana lekat-lekat, "kenapa pria seberani dan sesombong Arief tega mengucapkan kata-kata serendah itu?"Hana mendongak, alisnya bertaut ragu. "Karena dia memang tidak pernah menghargaiku, Cup. Dia cuma memanfaatkan keadaan.""Bukan," potong Ucup lembut namun tegas. "Justru sebaliknya. Arief melakukan itu karena dia merasa kerdil di

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 5 Topeng yang Terkelupas

    ​Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. ​"Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. ​Suara itu begitu

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 4 Siasat di Balik Kelambu

    ​Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 3 Antara Gairah dan Kegelapan

    ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. ​Han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status