LOGINSuasana di depan ruang bersalin terasa begitu mencekam. Arief masih terduduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dalam, merapal doa tiada henti, sementara Ucup berdiri mondar-mandir gelisah di sampingnya. Tiba-tiba, pintu ruang bersalin terbuka dari dalam. Seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa membawa sebuah nampan peralatan medis tambahan. Andien yang berdiri paling dekat langsung melangkah maju untuk bertanya. "Suster, bagaimana keadaan di dalam? Apa semuanya baik-baik saja?" Sebelum perawat itu sempat menjawab, seorang pria berjas putih dokter dengan stetoskop melingkar di lehernya menyusul keluar dari balik pintu. Wajahnya tampak serius, bersiap memberikan instruksi darurat kepada keluarga pasien. Namun, begitu mata dokter muda itu menatap ke arah Andien, langkahnya langsung terhenti. "Andien...?" panggil dokter itu dengan nada tak percaya. Andien yang tadinya cemas mendadak terpaku. Ia mengerjap, menatap lekat-lekat wajah pria di hadapannya yang kini membuka masker
Hari-hari berikutnya di rumah kediaman itu diselimuti suasana yang jauh lebih hangat dan hidup. Kabar pertunangan Ucup dan Andien membawa angin segar, membuat senyuman lebih sering terukir di wajah Hana. Namun, di balik kebahagiaan pasangan itu, Hana tetap pada pendiriannya—menjaga jarak aman dengan Arief, meskipun sang mantan suami terus menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Sore itu, Hana sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah buku kehamilan. Di atas meja di depannya, sebuah bingkisan kecil berisi vitamin khusus dan salinan hasil USG terbaru tergeletak rapi—dikirimkan oleh Arief melalui kurir pagi tadi tanpa ada secarik kata pun yang memaksa Hana untuk membalas. Andien yang baru saja keluar dari dapur membawa dua cangkir teh mendudukkan diri di sofa sebelah Hana. "Rencana pernikahan kami mungkin tidak akan besar-besaran, Na," ucap Andien memulai obrolan, tersenyum kecil sambil menyeruput tehnya. "Yang penting sah dan Ucup sudah mantap melangkah." Hana ikut terse
Mendengar kata "meninggalkanmu", napas Ucup seakan tercekat. Malam itu berakhir tanpa jawaban pasti. Ucup terlalu terguncang oleh ancaman kehilangan Andien, sementara Andien memilih masuk ke kamar dengan raut kecewa yang teramat sangat.Keesokan harinya, Ucup yang diselimuti kebingungan dan rasa takut akhirnya menemui Arief di sebuah area taman kantor Arief. Ucup duduk menyandarkan punggungnya di bangku taman, memandangi dedaunan gugur dengan mata sembap."Dia minta kepastian, Rif..." desah Ucup pelan, suaranya sarat akan beban berat. "Dia bilang kalau aku tidak ada niat menatap pernikahan, dia bakal pergi."Arief yang sedang menggenggam cangkir kopi panasnya menoleh. Ia menatap sahabatnya yang selama ini selalu menjadi benteng penengah bagi hidupnya."Lalu kenapa kau tidak langsung melamarnya, Cup?" tanya Arief datar. "Kau mencintainya, kan?""Kau tahu sendiri traumaku, Rif," Ucup mengusap wajahnya kasar. "Dulu saat kondisi finansialku hancur, keluargaku berantakan. Aku punya anak da
Setelah Arief pamit dan melangkah pergi menembus senja, suasana teras belakang kembali hening. Kantong kertas berisi buah mangga muda dan sup herbal itu masih tergeletak rapi di atas meja.Andien mengambil kantong tersebut, lalu membawanya mendekat ke arah Hana. Ia meletakkannya dengan pelan, kemudian mendudukkan diri di samping sahabatnya.Hana memperhatikan bungkusan itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Andien. Di dalam rumah, terdengar samar-samar suara Ucup yang sedang membereskan sisa kardus di area dapur."Andien..." panggil Hana pelan, memecah keheningan di antara mereka.Andien menoleh. "Iya, Na?""Kapan kamu akan menikah dengan Ucup?" tanya Hana lurus. "Kulihat... Ucup sangat mencintaimu."Pertanyaan itu membuat Andien terdiam seketika. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan tampak meremas pelan. Ada binar kebingungan sekaligus keraguan yang terpancar dari matanya."Aku juga tidak tahu, Hana," desah Andien pelan, menundukkan kepala. "Bang Ucup itu... dia
Hari sudah beranjak sore ketika Hana dan Andien tiba kembali di rumah. Suasana terasa lengang, namun percakapan di dalam mobil tadi masih melekat di kepala Hana.Sebelum pulang, Andien sempat menyampaikan sebuah usul yang cukup membuat Hana berpikir keras. Mengingat kondisi kehamilan Hana yang semakin memasuki trimester kedua dan rentan kelelahan jika tinggal sendirian di rumahnya yang besar, Andien mengajak sahabatnya itu untuk tinggal bersama sementara waktu. Menariknya, tempat yang ditawarkan Andien bukanlah rumah biasa, melainkan rumah pemberian Arief yang selama ini dipinjamkan secara cuma-cuma kepada Ucup.Awalnya Hana sempat ragu dan menolak mentah-mentah. Tinggal di rumah yang notabene memiliki kaitan langsung dengan Arief terasa seperti melanggar batasan yang ia buat sendiri. Namun, Andien dengan sabar meyakinkan bahwa rumah itu kini menjadi tempat tinggal Ucup, dan Arief tidak akan pernah datang ke sana tanpa izin atau urusan mendesak."Lagian, Na, biar aku bisa lebih gampan
Hari pemeriksaan kandungan kedua pun tiba. Klinik Dr. Nadia tampak sama seperti beberapa minggu lalu. Hana datang diantar oleh Andien, berjalan berdampingan menuju ruang tunggu dengan balutan gamis sederhana berwarna pastel yang membuat penampilannya terlihat semakin anggun dan tenang.Beberapa langkah di belakang mereka, Arief sudah lebih dulu berada di area klinik. Pria itu tidak langsung mendekat. Ia mengambil posisi berdiri di dekat pilar sudut ruang tunggu, menjaga jarak aman agar Hana tidak merasa risih atau tertekan oleh kehadirannya. Meskipun begitu, tatapan mata Arief tidak pernah lepas dari sosok Hana sejak wanita itu melangkah masuk.Hana menyadari kehadiran Arief dari sudut matanya. Ia melirik sekilas ke arah pria tersebut. Tidak ada senyuman, namun tidak ada pula kilat kemarahan seperti dulu. Hana hanya mengalihkan pandangannya kembali ke depan, duduk dengan tenang di sebelah Andien."Dia konsisten juga ya, Na," bisik Andien pelan, ikut melirik Arief yang berdiri sabar da
Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han
Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. "Arif, a
"Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebak







