Mag-log inPintu SUV hitam mewah itu tertutup rapat, mengisolasi Aldean dan Celine dari hawa panas area parkir VIP pengadilan. Belum sempat Aldean menyalakan mesin, sebuah suara riang dari jok belakang langsung menyambut kedatangan mereka.“Pa... Cel... urusan di dalam tadi beneran udah beres semua, kan?” tanya Kayra penuh penasaran, mencondongkan tubuhnya ke celah antara dua kursi depan.Aldean memutar tubuhnya sedikit ke belakang, menatap putrinya seraya mengulas senyum tipis yang lega. “Sudah, Nak. Semuanya sudah selesai.”“Yesss! Akhirnya! Kita bisa makan enak sekarang!” seru Kayra lega setengah mati, mengepalkan tangannya di udara.Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya penuh pada Celine yang duduk di kursi penumpang depan. Tatapan Kayra yang jeli memperhatikan lekat-lekat paras ibu sambungnya itu. Senyum di bibirnya perlahan makin mengembang saat menyadari perubahan aura di wajah Celine—tidak ada lagi raut tegang atau bayangan ketakutan. Wajah Celine kini tampak jauh lebih sumringah,
Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun
Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel
Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp
“Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut
Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.Di sudut ruangan, seorang







