Share

RAHASIA DI DALAM RAHIM

Author: Kim Chi
last update publish date: 2026-06-02 11:05:07

Liora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke ujung jari-jarinya. Pengusiran ke paviliun belakang oleh Robbert ternyata menjadi berkah terselubung; di tempat terpencil itu, pengawasan tidak seketat di bangunan utama. Dengan bantuan seorang pelayan setia yang berutang nyawa padanya, Liora berhasil menyelundup keluar untuk menemui Tabib Han, satu-satunya orang yang ia percayai di luar tembok tinggi ini.

Suasana di klinik kecil Tabib Han sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Liora. Bau rempah-rempah dan akar-akaran kering memenuhi ruangan kayu yang sempit itu. Tabib tua itu baru saja melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Liora, wajahnya yang penuh keriput tampak serius sekaligus takjub. Liora menunggu dengan jantung yang berdegup kencang, seolah-olah waktu telah membeku di antara detak jantungnya yang tidak beraturan.

"Selamat, Nyonya," bisik Tabib Han dengan suara serak namun mantap. "Rahimmu tidaklah kering. Ada kehidupan kecil yang baru saja mulai berakar di sana. Usianya baru beberapa minggu."

Dunia seakan berhenti berputar bagi Liora. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan ibu mertuanya. Ia benar-benar hamil. Benih yang ditanam oleh pria asing di rumah bordil malam itu telah membuahkan hasil. Seketika, rasa takut yang dingin menjalar di tulang punggungnya. Jika rahasia ini terungkap, ia akan dieksekusi sebagai pezina. Namun, di balik ketakutan yang mencekam itu, sebuah rasa kemenangan yang liar mulai membuncah. Ia ingin tertawa keras tepat di wajah Robbert dan ibunya. Ia bukan wanita gagal. Ia bukan sampah mandul yang pantas dibuang.

"Apa kau yakin, Tabib? Sangat yakin?" Liora memastikan, suaranya bergetar antara harapan dan kengerian.

"Nadi seorang wanita yang mengandung tidak pernah berbohong, Nyonya," jawab Tabib Han sambil memberikan bungkusan kecil berisi ramuan penguat kandungan. "Namun, Anda harus sangat berhati-hati. Kabar ini bisa menjadi pelindungmu, atau justru menjadi pedang yang menggorok lehermu sendiri."

Liora menggenggam bungkusan itu erat-erat. Ia kembali ke paviliun belakang dengan langkah yang lebih mantap, meski hatinya masih diliputi kegelisahan. Ia kini memiliki senjata paling mematikan dalam sejarah pernikahan mereka. Anak ini adalah bukti hidup atas kegagalan Robbert sebagai suami sekaligus bukti kesuburannya yang selama ini diinjak-injak. Liora duduk di tepi ranjangnya yang dingin di paviliun belakang, menatap cahaya bulan yang masuk melalui jendela kecil. Ia merasa menang, merasa telah mengungguli takdir kejam yang selama ini mengikatnya.

Namun, kemenangan ini adalah kemenangan di atas bara api. Ia harus memainkan perannya dengan sempurna. Ia harus membuat Robbert percaya bahwa anak ini adalah mukjizat, hasil dari "doa-doa" yang ia ucapkan di kuil tua malam itu. Ia mulai menyusun strategi, menghitung hari, dan memikirkan bagaimana caranya agar Robbert tidak menaruh curiga. Liora tidak lagi merasa sebagai mangsa; kini ia adalah pemain catur yang siap mengorbankan apa saja demi skakmat terakhir.

Ketenangan itu mendadak buyar ketika pintu paviliun yang biasanya tidak pernah dikunjungi itu dibanting terbuka dengan keras. Liora tersentak, segera menyembunyikan bungkusan obat dari Tabib Han di bawah bantalnya. Sosok pria yang tinggi besar berdiri di ambang pintu, siluetnya menutupi cahaya lampu koridor. Itu adalah Robbert. Bau alkohol yang samar tercium dari tubuhnya, bercampur dengan parfum musk yang tadi siang membuat Liora mual.

"Robbert? Apa yang kau lakukan di sini?" Liora berdiri, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski badai ketakutan kembali melanda.

Robbert tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tatapan mata yang tidak biasa. Ada kilat kemarahan, tapi juga ada sesuatu yang mirip dengan gairah yang terpendam di sana. Sejak kejadian di aula tadi siang, bayangan wajah Liora yang dingin dan angkuh terus menghantui pikirannya. Perubahan sikap Liora yang mendadak tidak lagi memohon cintanya justru memicu rasa kepemilikan yang gelap dalam diri Robbert. Ia merasa ego lelakinya tertantang; bagaimana bisa wanita yang biasanya bersujud di kakinya kini menatapnya seolah ia tidak ada artinya?

"Aku adalah suamimu, Liora. Aku bebas datang ke mana pun aku mau di istana ini, termasuk ke tempat pembuanganmu ini," desis Robbert, suaranya serak dan berbahaya. Ia berhenti tepat di depan Liora, mencengkeram bahu wanita itu dengan kuat.

"Kau pikir dengan bersikap dingin kau bisa menarik perhatianku?" Robbert tertawa getir. "Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Kau sengaja melakukan ini agar aku merasa cemburu, bukan? Agar aku kembali padamu dan meninggalkan Elena?"

Liora mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Robbert semakin mengerat. "Lepaskan aku, Robbert. Kau sedang mabuk."

"Aku tidak mabuk, Liora. Aku hanya sadar bahwa selama dua tahun ini aku terlalu membiarkanmu," ucap Robbert, wajahnya semakin mendekat. "Kau terus bicara soal 'keajaiban' rahimmu di depan umum tadi siang. Kau mempermalukanku seolah-olah aku pria yang tidak becus menyentuh istrinya sendiri."

Robbert menarik Liora lebih dekat, mengabaikan penolakan wanita itu. Rasa cemburu yang aneh karena melihat Liora berpaling darinya membuat akal sehatnya hilang. Ia tidak tahan melihat Liora yang kini tampak begitu bersinar dalam kedinginannya. Robbert merasa harus menegaskan kekuasaannya sebagai suami, harus menandai kembali wilayah yang menurutnya mulai menjauh.

"Malam ini, aku akan membuktikan padamu bahwa tidak ada keajaiban tanpa diriku," bisik Robbert dengan napas yang memburu.

Ia mendorong Liora hingga jatuh ke atas ranjang. Liora terkesiap, tangannya secara insting melindungi perutnya. Ketakutan yang luar biasa melanda dirinya; bukan takut akan Robbert, melainkan takut jika kontak fisik ini akan membahayakan nyawa kecil yang baru saja ia ketahui kehadirannya. Lebih dari itu, jika Robbert melakukannya sekarang, rahasia tentang tanggal kehamilannya akan menjadi semakin rumit untuk dikelola.

"Jangan, Robbert! Berhenti!" teriak Liora, berusaha mendorong dada bidang suaminya.

Namun, Robbert yang sudah dikuasai oleh ego dan kecemburuan tidak mendengarkan. Ia mulai menarik paksa pakaian luar Liora, matanya menatap istrinya dengan obsesi yang gelap. "Kau adalah milikku, Liora. Tubuhmu, rahimmu, semuanya milikku. Dan malam ini, kau akan memenuhi kewajibanmu sebagai istriku, apakah kau suka atau tidak."

Liora berjuang sekuat tenaga, namun tenaga Robbert jauh lebih besar. Di tengah pergulatan itu, pikiran Liora berputar liar. Jika Robbert berhasil menyentuhnya malam ini, apakah itu akan menutupi dosanya bersama Arsen? Ataukah ini justru awal dari bencana baru yang akan menghancurkan rencana pembalasannya yang sudah tersusun rapi?

Robbert menindih tubuh Liora, mengunci kedua tangannya di atas kepala. "Kenapa kau melawan, Liora? Bukankah ini yang kau inginkan selama dua tahun terakhir? Mengapa sekarang kau menatapku dengan tatapan menjijikkan seperti itu?"

Wajah Robbert merunduk, mencoba mencium leher Liora dengan paksa. Di bawah kungkungan suaminya, Liora memejamkan mata erat-erat, air mata kemarahan mulai mengalir di sudut matanya. Di dalam rahimnya, ia merasa rahasia kecil itu berdenyut, seolah-olah ikut ketakutan oleh kehadiran pria yang seharusnya menjadi ayahnya namun kini terasa seperti pemerkosa.

"Robbert, aku mohon... jangan sekarang!" rintih Liora, namun suaranya tenggelam oleh suara robekan kain gaunnya yang dipaksa lepas oleh tangan suaminya yang tak terkendali.

Liora memejamkan mata erat-erat, seluruh tubuhnya menegang saat jemari Robbert yang kasar mulai merenggut paksa sisa pakaiannya. Namun, tepat ketika bibir pria itu nyaris menyentuh kulit lehernya, sebuah ketukan keras yang tidak sabar menghantam pintu paviliun.

"Pangeran Agung! Pangeran Agung Robbert!" suara seorang pengawal terdengar panik dari luar. "Ada pesan mendesak dari Kaisar!"

Robbert membeku. Napasnya yang memburu terasa panas di kulit Liora, penuh dengan rasa frustrasi yang tertahan. Ia mengerang rendah, menjauhkan tubuhnya dengan gerakan kasar yang membuat Liora terjerembap kembali ke atas ranjang yang berantakan.

"Sialan!" umpat Robbert sembari merapikan pakaiannya yang kusut. Ia menatap Liora dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara amarah, obsesi, dan kebingungan. "Beruntunglah kau, Liora. Tapi jangan pikir urusan kita selesai. Kau tetaplah milikku."

Begitu Robbert melangkah keluar, Liora segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang gemetar. Air mata kemarahan yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi bantal. Ia meraba perutnya, berbisik lirih dalam kegelapan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk melindungi rahasia di dalam rahimnya. Ia harus bertahan, setidaknya sampai fajar tiba untuk menghadapi babak baru yang lebih berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   PERMAINAN KUCING DAN TIKUS

    Ketakutan terbesar Liora tidak lagi berupa bayang-bayang abstrak, melainkan sesosok pria nyata yang kini memiliki akses penuh untuk menghancurkannya kapan saja. Sejak malam penyambutan di istana agung, tidur Liora tidak pernah nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali mendengar suara berat Arsen yang membisikkan kata-kata mengerikan itu di telinganya.Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Arsen tidak berniat membiarkan Liora bernapas lega. Hanya berselang tiga hari sejak kepulangannya, Sang Putra Mahkota mulai sering mengunjungi kediaman Pangeran Agung Robbert. Alasannya selalu sama dan sangat tak terbantahkan: urusan logistik militer pascaperang dan koordinasi wilayah perbatasan yang membutuhkan masukan dari adik lakinya. Robbert, yang merasa tersanjung karena sang kakak mendadak sering melibatkannya dalam urusan negara, menyambut kunjungan-kunjungan itu dengan tangan terbuka. Ia tidak menyadari bahwa di balik jubah kebesaran sang singa, ada sepasang mata elang y

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEPULANGAN SANG SINGA

    Seluruh ibu kota kekaisaran seolah meledak dalam kemeriahan. Genderang perang digantikan oleh tiupan terompet emas, dan kelopak bunga mawar ditaburkan di sepanjang jalan utama menuju istana agung. Kabar yang telah lama dinanti akhirnya menjadi kenyataan: Putra Mahkota Arsen, Sang Singa dari Utara, telah kembali setelah memenangkan perang perbatasan selama bertahun-tahun. Keberhasilannya mengamankan wilayah kekaisaran menjadikannya sosok yang paling dipuja sekaligus ditakuti. Namun, di kediaman Pangeran Agung, suasana jauh dari kata meriah. Liora dipaksa berdiri di depan cermin besar, sementara tiga orang pelayan bekerja keras menutupi wajah pucatnya dengan riasan tebal. Gaun berwarna burgundy pekat,warna favorit Robbert yang melambangkan kekuasaan, melekat di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang kini terasa begitu asing baginya. "Pastikan kau tersenyum, Liora," desis Robbert yang berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin. "Aku tidak ingin kakakku melihat wajah

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   RAHASIA DI DALAM RAHIM

    Liora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke ujung jari-jarinya. Pengusiran ke paviliun belakang oleh Robbert ternyata menjadi berkah terselubung; di tempat terpencil itu, pengawasan tidak seketat di bangunan utama. Dengan bantuan seorang pelayan setia yang berutang nyawa padanya, Liora berhasil menyelundup keluar untuk menemui Tabib Han, satu-satunya orang yang ia percayai di luar tembok tinggi ini.Suasana di klinik kecil Tabib Han sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Liora. Bau rempah-rempah dan akar-akaran kering memenuhi ruangan kayu yang sempit itu. Tabib tua itu baru saja melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Liora, wajahnya yang penuh keriput tampak serius sekaligus takjub. Liora

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEMBALI KE NERAKA

    Fajar baru saja menyingsing ketika kereta kuda sewaan yang membawa Liora berhenti di gerbang samping kediaman Pangeran Agung. Udara pagi yang lembap menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang kembali menyelimuti hatinya begitu melihat tembok tinggi istana itu. Liora merapatkan jubah hitamnya, memastikan cadar dan sisa-sisa aroma dosa semalam tertutup rapat. Ia melangkah masuk melalui pintu kecil para pelayan, menyelinap di antara bayang-bayang pilar batu yang dingin, berusaha kembali ke kamarnya sebelum seluruh penghuni istana terbangun.Setiap langkahnya di atas lantai marmer yang kaku terasa seperti pengingat akan statusnya yang kini telah berubah. Ia bukan lagi istri yang hanya bisa menangis meratapi nasib. Di dalam rahimnya, ia membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan atau justru membebaskannya. Liora merasa seperti membawa bom waktu yang detaknya hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, alih-alih ketakutan, ada ketenangan aneh yang mulai merayap

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   DOSA DI BALIK CADAR

    Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh sarafnya. Selama dua tahun menjadi istri Robbert, ia terbiasa dengan keheningan dan pengabaian. Namun malam ini, di tangan seorang pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya, Liora merasa seperti sebuah instrumen yang baru saja dipetik senar-senarnya.Arsen tidak terburu-buru. Ia adalah seorang pemangsa yang tahu benar cara menikmati setiap detik perburuannya. Dengan perlahan, ia melepaskan cadar tipis yang masih menempel di wajah Liora, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Cahaya remang dari sisa perapian menyoroti wajah Liora yang pucat namun terlihat begitu cantik dalam balutan rasa takut dan gairah yang bercampur aduk. Arsen bisa melihat bibir wanit

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   MEMBELI BENIH TAKHTA

    Liora melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, meninggalkan udara malam yang menusuk hanya untuk disambut oleh aroma kemenyan dan parfum murahan yang menyesakkan. Ini adalah *The Velvet Rose*, sebuah rumah bordil paling elit di sudut terlarang ibu kota, tempat di mana moralitas hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Di tempat ini, tidak ada yang peduli pada gelar atau kehormatan; hanya emas yang memiliki suara.Jantung Liora berdentum begitu keras hingga ia merasa dadanya akan pecah. Setiap pasang mata di ruangan remang itu seolah menelanjanginya, mencari tahu siapa wanita di balik jubah hitam yang tampak begitu asing di lingkungan penuh dosa ini. Namun, Liora tidak menunduk. Rasa perih di pipinya akibat tamparan ibu mertuanya tadi siang jauh lebih menyakitkan daripada tatapan merendahkan para pemabuk di sini.Ia terus berjalan menuju meja bar yang tinggi, di mana seorang pria berwajah licin sedang menghitung koin. Tanpa sepatah kata pun, Liora menghantamkan kantong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status