Share

DOSA DI BALIK CADAR

Author: Kim Chi
last update publish date: 2026-06-02 11:03:28

Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh sarafnya. Selama dua tahun menjadi istri Robbert, ia terbiasa dengan keheningan dan pengabaian. Namun malam ini, di tangan seorang pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya, Liora merasa seperti sebuah instrumen yang baru saja dipetik senar-senarnya.

Arsen tidak terburu-buru. Ia adalah seorang pemangsa yang tahu benar cara menikmati setiap detik perburuannya. Dengan perlahan, ia melepaskan cadar tipis yang masih menempel di wajah Liora, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Cahaya remang dari sisa perapian menyoroti wajah Liora yang pucat namun terlihat begitu cantik dalam balutan rasa takut dan gairah yang bercampur aduk. Arsen bisa melihat bibir wanita itu sedikit bergetar, sebuah tanda bahwa ini adalah pertama kalinya ia benar-benar menyerahkan diri pada keinginan daging yang murni.

"Masih ada waktu untuk pergi, Nyonya," bisik Arsen, suaranya seperti geraman rendah yang menggoda kewarasan Liora. Namun, Liora justru menarik kerah jubah Arsen, memaksa pria itu untuk semakin merapat. Ia tidak ingin pergi. Ia ingin melupakan rasa sakit dari tamparan ibu mertuanya. Ia ingin menghapus bayangan Elena yang tersenyum kemenangan dengan perut buncitnya. Ia ingin membalas setiap detik penghinaan yang diberikan Robbert dengan sebuah pengkhianatan yang paling indah.

Sentuhan Arsen kini beralih ke bahu Liora, menurunkan gaunnya dengan kelembutan yang kontras dengan kekuatan tubuhnya. Liora mengerang kecil saat kulit mereka bersentuhan. Panas. Tubuh Arsen terasa seperti bara api yang siap menghanguskan kedinginan yang selama ini membekukan jiwa Liora. Pria ini begitu dominan, begitu perkasa, sangat berbeda dengan Robbert yang selalu tampak jijik untuk sekadar menyentuh ujung jemarinya. Di sini, di dalam kegelapan ini, Liora bukan lagi seorang istri yang mandul dan terbuang; ia adalah seorang wanita yang diinginkan.

Rasa bersalah sempat muncul di sudut pikirannya, membisikkan kata-kata tentang dosa dan kesetiaan. Namun, suara itu segera tenggelam oleh gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kecupan Arsen di pundaknya terasa seperti sebuah stempel kepemilikan yang baru. Liora memejamkan mata erat-erat, membiarkan dirinya hanyut dalam badai emosi yang meledak-ledak. Ia merasa hidup. Benar-benar hidup untuk pertama kalinya sejak ia memasuki gerbang istana Pangeran Agung.

Gairah itu memuncak dalam keheningan yang intens. Arsen memperlakukannya dengan intensitas yang hampir membuatnya sesak napas. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada janji palsu; yang ada hanyalah kebutuhan mendalam untuk saling memiliki dalam satu malam yang terlarang. Liora mencengkeram lengan berotot Arsen, kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di sana. Ia ingin tanda ini tetap ada, ia ingin pria ini mengingat bahwa seorang wanita telah menyerahkan segalanya demi sebuah benih pembalasan dendam.

Waktu seolah membeku saat mereka menyatu dalam tarian dosa yang paling gelap. Liora merasakan setiap inci tubuhnya bereaksi terhadap Arsen. Ada kepuasan batin yang aneh saat ia menyadari bahwa ia telah berhasil melangkahi batas sucinya. Ia telah menjadi pendosa, namun dosa ini terasa jauh lebih jujur daripada pernikahan penuh kebohongan yang ia jalani. Jika rahimnya benar-benar akan terisi malam ini, maka biarlah anak itu menjadi simbol dari bangkitnya harga dirinya yang sempat terkubur.

Setelah badai itu mereda, suasana ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan suara kayu bakar yang berderak di perapian. Arsen masih memeluknya dari belakang, memberikan kehangatan yang asing bagi Liora. Ia bisa merasakan napas teratur pria itu di tengkuknya. Untuk sejenak, Liora ingin tinggal di sini selamanya, bersembunyi dari kenyataan pahit yang menunggunya di luar sana. Namun, logika segera mengambil alih. Ia tahu bahwa identitasnya tidak boleh terungkap. Ia harus kembali sebelum fajar menyingsing jika tidak ingin kepalanya berakhir di tiang gantungan.

Perlahan, Liora melepaskan diri dari dekapan Arsen yang mulai terlelap karena kelelahan. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dengan tangan yang masih sedikit lemas. Setiap gerakannya dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia mengenakan kembali gaunnya, lalu jubah hitamnya, dan terakhir cadarnya. Ia menatap siluet Arsen sekali lagi, mencoba merekam garis wajah pria yang telah membantunya menanamkan benih takhta itu. "Terima kasih," bisiknya tanpa suara.

Liora melangkah keluar dari paviliun pribadi itu dengan sangat waspada. Udara dini hari yang dingin langsung menusuk pori-porinya, mengingatkannya bahwa waktu bermain telah usai. Ia menyelinap melewati lorong-lorong gelap rumah bordil *The Velvet Rose*, menghindari beberapa penjaga yang sedang tertidur di pos mereka. Adrenalin masih mengalir di pembuluh darahnya, memberinya kekuatan ekstra untuk terus berjalan menuju kereta kuda sewaan yang sudah menunggunya di jarak yang cukup aman dari keramaian distrik terlarang tersebut.

Ia merasa puas. Ada senyum tipis di balik cadarnya saat ia membayangkan wajah Robbert jika suatu hari nanti ia benar-benar hamil. Suaminya itu tidak akan pernah tahu bahwa pewaris yang ia banggakan adalah hasil dari satu malam panas dengan seorang pria asing yang ia sewa dengan emas. Liora merasa telah memenangkan pertempuran pertama dalam perang panjang yang akan ia hadapi. Ia merasa kuat, merasa mampu menghadapi segala cercaan ibu mertuanya dengan rahasia besar yang kini ia bawa di dalam tubuhnya.

Namun, dalam ketergesaannya untuk segera meninggalkan tempat penuh dosa itu, Liora tidak menyadari sesuatu. Saat ia merogoh kantong jubahnya untuk memastikan sisa koin emasnya masih ada, sebuah benda kecil berwarna putih terjatuh dari sakunya. Benda itu melayang pelan ditiup angin malam sebelum akhirnya mendarat di atas tanah yang becek tepat di depan pintu paviliun tempat ia menghabiskan malam bersama Arsen. Benda itu tergeletak begitu saja, kontras dengan latar belakang tanah yang kotor dan gelap.

Kereta kuda yang ditumpanginya mulai bergerak menjauh, membawa Liora kembali ke istana dingin yang ia benci. Ia merasa lega, mengira bahwa ia telah meninggalkan semua jejak di belakangnya. Ia yakin bahwa pria itu tidak akan pernah bisa melacaknya, karena ia tidak pernah menyebutkan nama atau statusnya. Liora menyandarkan kepalanya di dinding kereta, mulai merencanakan langkah selanjutnya untuk memastikan kehamilannya nanti tidak akan dicurigai oleh siapa pun di istana.

Di paviliun, Arsen terbangun saat cahaya fajar pertama mulai masuk melalui celah jendela. Ia meraba sisi tempat tidur yang sudah kosong dan dingin. Senyum misterius muncul di wajahnya. Wanita itu benar-benar pergi seperti pencuri di malam hari. Namun, saat Arsen melangkah keluar untuk membersihkan diri, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya di atas tanah. Ia membungkuk, memungut kain kecil yang terjatuh di sana.

Itu adalah sebuah sapu tangan sutra berkualitas tinggi yang masih menyisakan aroma melati yang samar. Namun, bukan aromanya yang membuat mata Arsen membelalak tajam. Di sudut sapu tangan itu, terdapat sebuah sulaman benang emas yang membentuk lambang burung phoenix yang melingkari pedang lambang resmi keluarga Pangeran Agung Robbert, adiknya sendiri. Arsen menggenggam sapu tangan itu dengan erat, tawanya yang rendah pecah di kesunyian pagi. "Jadi, kau adalah istri saudaraku, Liora?" bisiknya dengan nada yang sangat berbahaya. "Permainan ini baru saja dimulai.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   PERMAINAN KUCING DAN TIKUS

    Ketakutan terbesar Liora tidak lagi berupa bayang-bayang abstrak, melainkan sesosok pria nyata yang kini memiliki akses penuh untuk menghancurkannya kapan saja. Sejak malam penyambutan di istana agung, tidur Liora tidak pernah nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali mendengar suara berat Arsen yang membisikkan kata-kata mengerikan itu di telinganya.Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Arsen tidak berniat membiarkan Liora bernapas lega. Hanya berselang tiga hari sejak kepulangannya, Sang Putra Mahkota mulai sering mengunjungi kediaman Pangeran Agung Robbert. Alasannya selalu sama dan sangat tak terbantahkan: urusan logistik militer pascaperang dan koordinasi wilayah perbatasan yang membutuhkan masukan dari adik lakinya. Robbert, yang merasa tersanjung karena sang kakak mendadak sering melibatkannya dalam urusan negara, menyambut kunjungan-kunjungan itu dengan tangan terbuka. Ia tidak menyadari bahwa di balik jubah kebesaran sang singa, ada sepasang mata elang y

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEPULANGAN SANG SINGA

    Seluruh ibu kota kekaisaran seolah meledak dalam kemeriahan. Genderang perang digantikan oleh tiupan terompet emas, dan kelopak bunga mawar ditaburkan di sepanjang jalan utama menuju istana agung. Kabar yang telah lama dinanti akhirnya menjadi kenyataan: Putra Mahkota Arsen, Sang Singa dari Utara, telah kembali setelah memenangkan perang perbatasan selama bertahun-tahun. Keberhasilannya mengamankan wilayah kekaisaran menjadikannya sosok yang paling dipuja sekaligus ditakuti. Namun, di kediaman Pangeran Agung, suasana jauh dari kata meriah. Liora dipaksa berdiri di depan cermin besar, sementara tiga orang pelayan bekerja keras menutupi wajah pucatnya dengan riasan tebal. Gaun berwarna burgundy pekat,warna favorit Robbert yang melambangkan kekuasaan, melekat di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang kini terasa begitu asing baginya. "Pastikan kau tersenyum, Liora," desis Robbert yang berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin. "Aku tidak ingin kakakku melihat wajah

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   RAHASIA DI DALAM RAHIM

    Liora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke ujung jari-jarinya. Pengusiran ke paviliun belakang oleh Robbert ternyata menjadi berkah terselubung; di tempat terpencil itu, pengawasan tidak seketat di bangunan utama. Dengan bantuan seorang pelayan setia yang berutang nyawa padanya, Liora berhasil menyelundup keluar untuk menemui Tabib Han, satu-satunya orang yang ia percayai di luar tembok tinggi ini.Suasana di klinik kecil Tabib Han sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Liora. Bau rempah-rempah dan akar-akaran kering memenuhi ruangan kayu yang sempit itu. Tabib tua itu baru saja melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Liora, wajahnya yang penuh keriput tampak serius sekaligus takjub. Liora

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEMBALI KE NERAKA

    Fajar baru saja menyingsing ketika kereta kuda sewaan yang membawa Liora berhenti di gerbang samping kediaman Pangeran Agung. Udara pagi yang lembap menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang kembali menyelimuti hatinya begitu melihat tembok tinggi istana itu. Liora merapatkan jubah hitamnya, memastikan cadar dan sisa-sisa aroma dosa semalam tertutup rapat. Ia melangkah masuk melalui pintu kecil para pelayan, menyelinap di antara bayang-bayang pilar batu yang dingin, berusaha kembali ke kamarnya sebelum seluruh penghuni istana terbangun.Setiap langkahnya di atas lantai marmer yang kaku terasa seperti pengingat akan statusnya yang kini telah berubah. Ia bukan lagi istri yang hanya bisa menangis meratapi nasib. Di dalam rahimnya, ia membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan atau justru membebaskannya. Liora merasa seperti membawa bom waktu yang detaknya hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, alih-alih ketakutan, ada ketenangan aneh yang mulai merayap

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   DOSA DI BALIK CADAR

    Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh sarafnya. Selama dua tahun menjadi istri Robbert, ia terbiasa dengan keheningan dan pengabaian. Namun malam ini, di tangan seorang pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya, Liora merasa seperti sebuah instrumen yang baru saja dipetik senar-senarnya.Arsen tidak terburu-buru. Ia adalah seorang pemangsa yang tahu benar cara menikmati setiap detik perburuannya. Dengan perlahan, ia melepaskan cadar tipis yang masih menempel di wajah Liora, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Cahaya remang dari sisa perapian menyoroti wajah Liora yang pucat namun terlihat begitu cantik dalam balutan rasa takut dan gairah yang bercampur aduk. Arsen bisa melihat bibir wanit

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   MEMBELI BENIH TAKHTA

    Liora melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, meninggalkan udara malam yang menusuk hanya untuk disambut oleh aroma kemenyan dan parfum murahan yang menyesakkan. Ini adalah *The Velvet Rose*, sebuah rumah bordil paling elit di sudut terlarang ibu kota, tempat di mana moralitas hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Di tempat ini, tidak ada yang peduli pada gelar atau kehormatan; hanya emas yang memiliki suara.Jantung Liora berdentum begitu keras hingga ia merasa dadanya akan pecah. Setiap pasang mata di ruangan remang itu seolah menelanjanginya, mencari tahu siapa wanita di balik jubah hitam yang tampak begitu asing di lingkungan penuh dosa ini. Namun, Liora tidak menunduk. Rasa perih di pipinya akibat tamparan ibu mertuanya tadi siang jauh lebih menyakitkan daripada tatapan merendahkan para pemabuk di sini.Ia terus berjalan menuju meja bar yang tinggi, di mana seorang pria berwajah licin sedang menghitung koin. Tanpa sepatah kata pun, Liora menghantamkan kantong

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   RAHIM YANG TERHINA

    "Ini adalah selirku, dia sedang mengandung pewarisku."Suara dingin Pangeran Agung Robbert bergema di aula utama, menghujam tepat ke jantung Liora. Setiap kata yang diucapkan pria itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya yang sudah tipis. Di samping suaminya, seorang wanita muda berdi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status