Share

Ahli Waris Sang Putra Mahkota
Ahli Waris Sang Putra Mahkota
Author: Kim Chi

RAHIM YANG TERHINA

Author: Kim Chi
last update publish date: 2026-06-02 11:00:57

"Ini adalah selirku, dia sedang mengandung pewarisku."

Suara dingin Pangeran Agung Robbert bergema di aula utama, menghujam tepat ke jantung Liora. Setiap kata yang diucapkan pria itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya yang sudah tipis. Di samping suaminya, seorang wanita muda berdiri dengan keangkuhan yang nyata, tangannya dengan sengaja mengusap perut yang mulai membuncit. Liora merasa dunianya runtuh seketika; pemandangan itu adalah bukti nyata dari pengkhianatan yang paling kejam.

Liora mengepalkan tangan di balik lipatan gaun mahalnya, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang merambat di jemarinya. Dua tahun pernikahan mereka bukanlah surga, melainkan neraka yang sunyi dan dingin. Selama itu pula, Liora bertahan dalam kesepian, berharap suatu hari suaminya akan luluh, namun kenyataan yang ia terima hari ini jauh lebih pahit dari kematian itu sendiri.

"Karena rahimmu mandul, Liora, kau harus menerima dia di istana ini," tambah ibu mertuanya tanpa sedikit pun rasa iba. Kalimat itu meluncur begitu saja, merendahkan martabat Liora di hadapan para pelayan yang menunduk diam. Kata "mandul" itu mendengung di telinganya, sebuah vonis mati bagi seorang istri di lingkungan kekaisaran yang hanya menghargai wanita berdasarkan kemampuannya melahirkan ahli waris.

Liora menatap lurus ke mata Robbert, mencari setitik saja rasa bersalah atau sisa-sisa kemanusiaan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang membeku. Pria itu bahkan tidak sudi membalas tatapannya, seolah-olah Liora hanyalah benda rusak yang sudah tidak memiliki nilai lagi untuk dipertahankan. Hati Liora menjerit, menanyakan di mana letak kesalahannya hingga ia harus dipermalukan sedalam ini.

"Dua tahun, Robbert," bisik Liora, suaranya bergetar hebat menahan badai amarah dan luka yang bergejolak di dadanya. "Dua tahun aku menjaga kehormatanku dan nama baikmu, sementara kau justru menanam benih di rahim wanita lain?" Isak tangis yang tertahan membuat tenggorokannya terasa tercekik, sesak oleh ketidakadilan yang ia terima.

"Kesetiaanmu tidak memberikan aku ahli waris, Liora," potong Robbert dengan nada yang begitu datar hingga membuat bulu kuduk berdiri. Jawaban itu adalah tamparan yang lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik mana pun. Robbert menyalahkannya atas kekosongan di rahim mereka, seolah-olah itu adalah kesalahan mutlak Liora seorang diri.

Liora tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti rintihan keputusasaan. "Ahli waris? Bagaimana mungkin aku bisa mengandung, Robbert, jika kau sendiri tidak pernah sekalipun menyentuhku selama dua tahun ini?". Rahasia kelam itu akhirnya meledak keluar. Liora ingin dunia tahu bahwa kekosongan itu bukan karena tubuhnya yang gagal, melainkan karena penolakan suaminya yang dingin.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Liora, membuat kepalanya terhentak ke samping. Bukan dari Robbert, melainkan dari ibu mertuanya yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Jaga mulutmu, wanita tidak berguna! Kau hanyalah sampah yang beruntung bisa menyandang nama keluarga ini!" desis wanita tua itu dengan bibir yang gemetar karena marah.

Liora memegang pipinya yang mulai memanas dan berdenyut nyeri. Rasa perih di kulitnya tidak sebanding dengan hancurnya jiwa yang ia rasakan saat ini. Di sudut matanya, ia melihat Elena sang selir tersenyum tipis penuh kemenangan. Senyuman itu seolah mengejek setiap tetes air mata yang susah payah Liora tahan agar tidak jatuh.

Suasana di ruangan itu menjadi begitu mencekam, seolah-olah dinding-dinding aula itu bergerak menyempit untuk menghimpit tubuhnya. Liora merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan kehancurannya. Kehangatan yang dulu ia impikan dari sebuah keluarga kini telah berubah menjadi es yang menusuk hingga ke tulang.

"Mulai malam ini, kau akan pindah ke paviliun belakang," perintah Robbert tanpa ekspresi. "Tempat itu jauh lebih tenang untuk Elena menjaga kandungannya tanpa gangguan darimu". Keputusan itu adalah pengusiran secara halus. Liora dibuang ke tempat yang paling terpencil dan lembap di istana, seolah ia adalah penyakit yang harus dijauhkan dari cahaya.

Api dendam mulai menyala di sela-sela reruntuhan hati Liora. Jika kesetiaan hanya membuahkan penghinaan, dan kejujuran hanya dibalas dengan tamparan, maka untuk apa ia terus menjadi istri yang patuh? Pikirannya mulai gelap, didorong oleh rasa sakit yang sudah melampaui batas kewarasan manusia normal.

Jika kau menganggap rahimku adalah tanah yang mati karena kau tak pernah menyiraminya, Robbert... maka biarkan pria lain yang membuktikannya padamu, batin Liora dengan tekad yang mengerikan. Ia tidak akan lagi menangis. Ia tidak akan lagi memohon. Jika dunia menganggapnya berdosa, maka ia akan melakukan dosa yang paling besar sekalian.

Liora berbalik dengan gerakan anggun namun penuh kebencian, meninggalkan aula tanpa sepatah kata pun. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan sebuah rencana nekat untuk menghancurkan kebanggaan Robbert. Ia akan memberikan ahli waris bagi kekaisaran ini, tapi ia akan memastikan bahwa anak itu bukanlah darah daging pria kejam tersebut.

Malam itu, di bawah lindungan kegelapan, Liora melangkah keluar dengan jubah hitam yang menyembunyikan identitas bangsawannya. Ia menuju sebuah distrik terlarang, tempat di mana moralitas tidak lagi berlaku dan emas bisa membeli apa saja. Tangannya gemetar saat ia berdiri di depan sebuah pintu kayu besar, namun bukan karena ketakutan—melainkan karena antisipasi akan pembalasan dendam yang akan ia mulai malam ini.

Ia mengetuk pintu itu dengan mantap. Saat penjaga membukanya, Liora hanya mengangkat sekantong koin emas tanpa ragu. "Beri aku pria terbaik yang kalian miliki malam ini," ucapnya dengan nada dingin yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. Di sudut ruangan yang remang, matanya terpaku pada seorang pria dengan aura predator yang begitu kuat.

Liora menunjuk pria itu. "Dia. Aku ingin dia yang mengisi rahimku malam ini.”

Penjaga itu tertegun sejenak, menatap Liora yang berdiri tegak meski tubuhnya dibalut jubah lusuh. Namun, beratnya kantong emas di tangan wanita itu adalah bahasa yang paling dimengerti di tempat ini. Dengan isyarat kepala, penjaga itu mempersilakan Liora melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin temaram.

Liora melangkah mendekat ke sudut ruangan, setiap pijakannya terasa seperti ia sedang menginjak sisa-sisa kesetiaannya pada Robbert. Pria yang ia tunjuk tadi masih duduk diam, wajahnya setengah tersembunyi di balik bayangan, namun bahunya yang lebar dan postur tubuhnya yang tegap memancarkan kekuatan yang mengintimidasi. Pria itu adalah Arsen, sang Putra Mahkota yang sedang menyamar, meski Liora tidak menyadarinya sedikit pun.

"Kau tahu apa yang kau minta, Nona?" suara pria itu rendah dan berat, bergetar di udara seperti dentum lonceng gereja di tengah malam.

Liora menelan ludah, tenggorokannya terasa kering, namun bayangan wajah angkuh Elena dan penghinaan suaminya kembali muncul di pelupuk mata. "Aku tidak datang untuk bicara," jawab Liora dengan nada yang dipaksakan agar tidak bergetar. "Aku membayar untuk sebuah hasil, bukan percakapan."

Arsen bangkit berdiri, perlahan keluar dari bayangan. Tinggi badannya membuat Liora harus mendongak, merasa kecil namun sekaligus terlindungi oleh aura predator pria di depannya. Arsen menatap wanita di depannya dengan rasa ingin tahu; ia bisa melihat kemarahan yang murni di mata Liora, jenis kemarahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah kehilangan segalanya.

"Malam ini akan menjadi rahasia yang paling gelap dalam hidupmu," bisik Arsen sembari melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Liora bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu. "Setelah pintu ini tertutup, tidak ada jalan untuk kembali."

Liora memejamkan mata sejenak, membuang jauh-jauh sisa harga diri sebagai istri seorang Pangeran Agung. "Tutup pintunya," perintahnya lirih namun tajam.

Arsen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan misteri besar kekaisaran. Tangannya yang kasar karena bekas luka perang meraih dagu Liora, memaksa wanita itu menatapnya langsung. "Baiklah. Mari kita ciptakan dosa yang akan membuat suamimu berlutut di bawah kakimu."

Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Liora menyerahkan dirinya pada kegelapan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   PENGUMUMAN YANG MENGGUNCANG

    Kehadiran Arsen di aula itu mengubah segalanya dalam hitungan detik.Semua orang membeku — Robbert dengan tangan yang masih mencengkeram bahu Liora, Elena yang senyumnya membatu di bibirnya, ibu mertua yang mendadak tegak seperti boneka kayu, dan Tabib Kwon yang tangannya masih terulur di udara, tidak jadi meraba nadi Liora.Arsen melangkah masuk dengan kecepatan yang terkendali. Setiap langkahnya adalah pernyataan kekuasaan — dia tidak terburu-buru, tidak panik, dan tidak meminta izin. Putra Mahkota tidak membutuhkan izin untuk memasuki rumah siapa pun di kekaisaran ini, termasuk rumah adiknya sendiri."Kakanda Arsen," kata Robbert, suaranya berubah dari dingin menjadi defensif. Cengkeramannya di bahu Liora sedikit mengendur, sebuah refleks bawah sadar seorang adik yang selalu merasa lebih kecil di hadapan kakaknya. "Ini urusan internal keluargaku. Saya tidak menyangka Kakanda akan —""Urusan internal?" Arsen mengangkat alis. Ia berhenti di tengah aula, tepat di antara Liora dan Tabi

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KECURIGAAN SANG SUAMI

    Dua minggu setelah kepulangan Arsen, kehidupan di kediaman Pangeran Agung berubah menjadi medan perang yang tidak kasat mata. Di permukaan, semuanya tampak normal — Robbert tetap menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Elena tetap memamerkan kehamilannya yang kini memasuki bulan kelima, dan Liora tetap menjadi bayangan pucat yang berjalan tanpa suara di koridor-koridor belakang istana. Namun, di bawah permukaan itu, arus-arus berbahaya saling bertabrakan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan siapa pun yang tidak cukup kuat berenang.Pagi itu, Liora terbangun dengan rasa mual yang sudah menjadi teman setia setiap fajarnya. Ia berlari ke sudut kamar, mencengkeram baskom tembaga yang sudah ia letakkan di samping ranjang sejak seminggu lalu, dan memuntahkan isi perutnya yang kosong. Asam lambung membakar tenggorokannya, air mata refleks mengalir di pipinya, dan tubuhnya bergetar hebat oleh kontraksi perut yang menyiksa. Morning sickness yang ia alami jauh lebih buruk daripada yang pernah

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   PERMAINAN KUCING DAN TIKUS

    Ketakutan terbesar Liora tidak lagi berupa bayang-bayang abstrak, melainkan sesosok pria nyata yang kini memiliki akses penuh untuk menghancurkannya kapan saja. Sejak malam penyambutan di istana agung, tidur Liora tidak pernah nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali mendengar suara berat Arsen yang membisikkan kata-kata mengerikan itu di telinganya.Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Arsen tidak berniat membiarkan Liora bernapas lega. Hanya berselang tiga hari sejak kepulangannya, Sang Putra Mahkota mulai sering mengunjungi kediaman Pangeran Agung Robbert. Alasannya selalu sama dan sangat tak terbantahkan: urusan logistik militer pascaperang dan koordinasi wilayah perbatasan yang membutuhkan masukan dari adik lakinya. Robbert, yang merasa tersanjung karena sang kakak mendadak sering melibatkannya dalam urusan negara, menyambut kunjungan-kunjungan itu dengan tangan terbuka. Ia tidak menyadari bahwa di balik jubah kebesaran sang singa, ada sepasang mata elang y

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEPULANGAN SANG SINGA

    Seluruh ibu kota kekaisaran seolah meledak dalam kemeriahan. Genderang perang digantikan oleh tiupan terompet emas, dan kelopak bunga mawar ditaburkan di sepanjang jalan utama menuju istana agung. Kabar yang telah lama dinanti akhirnya menjadi kenyataan: Putra Mahkota Arsen, Sang Singa dari Utara, telah kembali setelah memenangkan perang perbatasan selama bertahun-tahun. Keberhasilannya mengamankan wilayah kekaisaran menjadikannya sosok yang paling dipuja sekaligus ditakuti. Namun, di kediaman Pangeran Agung, suasana jauh dari kata meriah. Liora dipaksa berdiri di depan cermin besar, sementara tiga orang pelayan bekerja keras menutupi wajah pucatnya dengan riasan tebal. Gaun berwarna burgundy pekat,warna favorit Robbert yang melambangkan kekuasaan, melekat di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang kini terasa begitu asing baginya. "Pastikan kau tersenyum, Liora," desis Robbert yang berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin. "Aku tidak ingin kakakku melihat wajah

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   RAHASIA DI DALAM RAHIM

    Liora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke ujung jari-jarinya. Pengusiran ke paviliun belakang oleh Robbert ternyata menjadi berkah terselubung; di tempat terpencil itu, pengawasan tidak seketat di bangunan utama. Dengan bantuan seorang pelayan setia yang berutang nyawa padanya, Liora berhasil menyelundup keluar untuk menemui Tabib Han, satu-satunya orang yang ia percayai di luar tembok tinggi ini.Suasana di klinik kecil Tabib Han sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Liora. Bau rempah-rempah dan akar-akaran kering memenuhi ruangan kayu yang sempit itu. Tabib tua itu baru saja melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Liora, wajahnya yang penuh keriput tampak serius sekaligus takjub. Liora

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   KEMBALI KE NERAKA

    Fajar baru saja menyingsing ketika kereta kuda sewaan yang membawa Liora berhenti di gerbang samping kediaman Pangeran Agung. Udara pagi yang lembap menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang kembali menyelimuti hatinya begitu melihat tembok tinggi istana itu. Liora merapatkan jubah hitamnya, memastikan cadar dan sisa-sisa aroma dosa semalam tertutup rapat. Ia melangkah masuk melalui pintu kecil para pelayan, menyelinap di antara bayang-bayang pilar batu yang dingin, berusaha kembali ke kamarnya sebelum seluruh penghuni istana terbangun.Setiap langkahnya di atas lantai marmer yang kaku terasa seperti pengingat akan statusnya yang kini telah berubah. Ia bukan lagi istri yang hanya bisa menangis meratapi nasib. Di dalam rahimnya, ia membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan atau justru membebaskannya. Liora merasa seperti membawa bom waktu yang detaknya hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, alih-alih ketakutan, ada ketenangan aneh yang mulai merayap

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   MEMBELI BENIH TAKHTA

    Liora melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, meninggalkan udara malam yang menusuk hanya untuk disambut oleh aroma kemenyan dan parfum murahan yang menyesakkan. Ini adalah *The Velvet Rose*, sebuah rumah bordil paling elit di sudut terlarang ibu kota, tempat di mana moralitas hanyalah

  • Ahli Waris Sang Putra Mahkota   DOSA DI BALIK CADAR

    Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status