แชร์

Bab 27 Kedua Kalinya

ผู้เขียน: J Shara
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-04 11:15:15

Nathan duduk menyandar di sofa apartemennya, kepalanya rebah pada sandaran, tatapannya kosong menatap lampu kristal yang menggantung elegan di langit-langit. Namun pikirannya jauh dari ruangan ber-AC itu. Ia masih di pesta tadi—pada satu momen ketika Ariel menghadap ke belakang, gaunnya sedikit bergeser, menunjukkan punggung bersih dan mulusnya.

“Ariel…” nada lirih yang lolos dari bibir Nathan terdengar seperti keluh tertahan. Ia menutup mata. Fantasinya menari di sana, membayangkan jemarinya m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 186 Desahan Tiada Henti

    Ariel menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bercinta, Nathan ingin "mengajar" dia seolah dia masih gadis lugu. "Nathan... aku... aku tidak yakin," gumamnya, tapi matanya tak bisa lepas dari tubuh pria itu. Nathan tertawa pelan, mendekat dan berlutut di depan sofa, tangannya merayap naik ke paha Ariel yang tertutup dress. "Takut? Bagus. Itu artinya kamu siap belajar. Buka kakimu lebar-lebar buat aku, Ariel. Biar aku lihat betapa basahnya kamu udah nunggu kontolku."Dengan tangan gemetar, Ariel patuh membuka kakinya, dressnya tersingkap perlahan memperlihatkan paha mulus dan celana dalam tipis berwarna putih yang sudah lembab di tengah. Nathan mendesis puas, jarinya menyusuri garis celana dalam itu, menekan lembut ke liangnya yang sudah bengkak. "Lihat nih, udah basah. Kamu mau menutupinya tapi tubuhmu jujur." Ia menarik kepala Ariel mendekat, menciumnya ganas—lidahnya menyerbu mulut gadis itu, menari liar sambil tangannya meremas pa

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 185 Memulai Pelajaran Panas Lagi

    Ruangan itu terasa semakin menyempit, hanya menyisakan ruang bagi aroma sandalwood yang maskulin dan deru napas yang saling memburu. Nathan tidak memberikan kesempatan bagi Ariel untuk menarik napas dalam-dalam. Ia mengunci pergerakan Ariel dengan dominasi yang tenang, namun mematikan.​"Tidakkah kau merindukan saat kita belajar bercinta, Ariel...?" bisik Nathan. Suaranya rendah, bergetar di dekat daun telinga Ariel, mengirimkan gelombang elektrik yang melumpuhkan saraf-saraf logika wanita itu.​Wajah Ariel merona hebat, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga. Ia menelan ludah yang terasa kering di kerongkongannya. "Be-belajar bercinta?" tanya Ariel malu, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan apartemen yang mewah itu. Matanya yang bulat menatap Nathan dengan campuran antara rasa tidak percaya dan rasa ingin tahu yang terlarang.​Nathan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Ya... belajar. Seperti naskahmu yang butuh revisi, tubuh dan perasaanmu juga bu

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 184 Riset dan Karya

    Ariel merasakan oksigen di paru-parunya seolah menipis. Tawaran Nathan bukan sekadar saran profesional; itu adalah godaan yang dibungkus dengan dalih riset literasi. Mata Ariel bergerak gelisah, menatap kancing kemeja Nathan yang terbuka, lalu kembali ke sepasang mata tajam yang seolah bisa membaca setiap gejolak hasrat dan ketakutannya.​"Riset?" bisik Ariel, suaranya serak. "Dokter, kita bicara tentang naskah, bukan tentang... hal lain. Lagipula, bukankah ini berbahaya bagi kita berdua?"​Nathan terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan penuh otoritas. Ia melangkah satu tindak lagi, hingga lututnya nyaris bersentuhan dengan lutut Ariel yang sedang duduk di sofa. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung tubuh mungil Ariel di antara lengannya.​"Bahaya adalah nama tengahmu, Ariel. Bukankah kau menjadi penulis terkenal karena keberanianmu menabrak norma?" Nathan mendekatkan wajahnya, aroma sandalwood dan sisa kopi hitam dari napasnya menyapa indra penci

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 183 Godaan Untuk Kembali

    Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.​Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.​Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 182 Kawan Lama

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.​Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.​Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 181 Pencerahan

    Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status