Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 111. Ajari Aku, Mbak!

Share

111. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-09-05 05:35:12

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Arga yang diantarkan oleh Dion tiba di kontrakannya.

Ketika sampai di kontrakan, Wulan yang semula menunggunya dan mondar-mandir seperti setrikaan di depan pintu sudah tidak ada. Bahkan, wanita itu tidak keluar untuk menyambut Arga seperti biasanya.

"Sayang, aku pulang!" kata Arga yang turun dari motor Dion dan melangkah menuju pintu.

Mendengar panggilan 'sayang' Arga terhadap Wulan yang begitu lancar, Dion yang sudah mengetahui semuanya itu pun mengulum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   239. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, muka Mbak Mira kenapa?"Arga yang memasuki ruangan pribadi Mira, dibuat terkejut saat melihat wajah wanita pemilik klub Happy Fun tempatnya bekerja.Bagaimana tidak terkejut? Wajah mulus Mira kini terdapat tanda lima jari, bahkan sudut bibirnya mengalami lebam kebiruan."Siapa yang mukulin Mbak Mira? Kenapa sampai biru kayak gini? Ke mana petugas keamanan dan penjaga yang tugas? Bisa-bisanya biarin Mbak Mira dipukulin!" kata Arga sembari menyentuh bahu Mira dan memeriksa bagian tubuh wanita itu.Melihat kecemasan di wajah Arga, Mira tersenyum geli. Lalu, ia mendorong pelan tangan Arga yang memegang bahunya."Aku nggak apa-apa, Ga. Tadi siang abis ribut sama Amelia," kata Mira dengan santai.Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pada pukul satu siang, Amelia mendatangi klub tersebut bersama Gatot dan kedua temannya.Penjaga klub sudah melarang Amelia untuk masuk, tetapi wanita yang menyandang status janda itu keukeuh ingin masuk dan menerobos."Saya mau ketemu Mira. Kalau kalian t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   238. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi gitu ceritanya, Sayang. Aku beneran nggak nyebarin video itu. Cuma Bu Erna yang aku kasih tahu!"Arga yang duduk di atas karpet itu menceritakan semuanya pada Wulan yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya terlihat santai dan tenang, bahkan berbicara sambil mengunyah emping goreng di dalam mulutnya."Bukan aku yang nyebarin, tapi Bu Erna!" lanjut Arga seraya menyengir kuda.Mendengar cerita Arga, Wulan geleng-geleng kepala. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Kamu sengaja kan ngasih tahu Bu Erna, karena kamu tahu kalau dia biang gosip yang nggak bisa jaga rahasia. Huh ... kamu pikir aku nggak tahu apa isi otak kamu itu!"Arga yang semula hanya menyengir kuda kini terkekeh-kekeh. Membenarkan perkataan istrinya.Pemuda itu memang sengaja. Ia ingin membalas Bu Nur yang sudah berkali-kali menyakiti Wulan dan menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata menyakitkan.Sekarang, wanita julid itu mendapatkan balasan, menuai karma atas apa yang pernah ia lakuk

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   237. Ajari Aku, Mbak!

    "Argantara...."Wulan meneriaki Arga yang berlari memasuki rumah lantaran sengaja menjauhinya. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menyusul suaminya itu.Wanita itu ingin tahu, apa yang sudah dilakukan oleh Arga hingga kabar kehamilan putri Bu Nur menyebar dengan begitu cepat."Sayang!" panggil Wulan saat memasuki rumah. Memanggil suaminya yang entah berada di mana."Di dapur, bukan di kamar!" sahut Arga.Mendengar sahutan Arga, Wulan melangkah menuju dapur. Dilihatnya, Arga duduk santai di karpet yang terbentang di lantai. Tangannya memeluk toples plastik berisi emping goreng."Kamu yang nyebarin berita dan video anaknya Bu Nur?" tanya Wulan yang kini berdiri di hadapan Arga dengan kedua tangan terlipat di bawah dada.Mata wanita itu menatap dengan tatapan penuh selidik, hingga membuat Arga memajukan bibir dibuatnya."Iya, kamu yang nyebarin?" tanya Wulan lagi lantaran tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arga.Ditanya secara berulang-ulang, Arga menggelengkan kepalanya. Lalu mencono

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   236. Ajari Aku, Mbak!

    "Ga, lihat deh. Itu kok kayak...."Arga yang sedang mengunyah satenya menoleh dan menatap ke mana arah tunjuk sang istri.Saat melihat orang yang ditunjuk oleh Wulan, Arga justru melongo dan menatap cengo."Anaknya Bu Nur, kan, itu? Yang nomor dua?" tanya Wulan dengan pelan, tetapi tak ditanggapi oleh Arga. "Iya, kan?" lanjut Wulan.Tak mendapatkan tanggapan dan respons dari Arga, Wulan pun menoleh, menatap wajah cengo suaminya itu.Bibirnya seketika tercebik saat melihat ekspresi wajah sang suami yang cengo. Benar-benar seperti orang bodoh."Sayang, kamu denger aku nggak sih? Aku ngomong lho sama kamu!" kata Wulan sambil menepuk pelan pipi tirus Arga."Aku denger, Sayang. Tapi mataku lagi lihatin anak Bu Nur nangis-nangis tuh!" timpal Arga, menunjuk dua orang remaja yang sedang terlibat cekcok menggunakan moncong bibirnya.Mendengar perkataan Arga yang mengatakan jika salah satu dari remaja itu memang benar-benar anak Bu Nur, Wulan pun angguk-angguk kepala."Berarti beneran anaknya B

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   235. Ajari Aku, Mbak!

    "Sekali lagi ngomong buruk ataupun nyindir-nyindir Wulan, saya pastikan kalau hidup Bu Nur dan keluarga nggak akan pernah tenang!"Degh!Mendengar ancaman Arga yang tidak main-main, terkesiap Bu Nur dibuatnya. Bahkan, wanita jelek bertubuh subur itu langsung berbalik dan memasuki kontrakannya.Wajah Arga yang memerah dan mata melotot tajam benar-benar menakutkan untuk dilihat.Setelah Bu Nur memasuki rumah, Arga menoleh dan menatap Wulan yang tertunduk di sampingnya. Ia lalu meraih jemari sang istri dan menggenggamnya dengan amat erat, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan."Omongan perempuan itu nggak usah didengerin, Sayang. Kamu kan tahu sendiri kalau mulutnya emang busuk," kata Arga. Suaranya pelan dan terdengar menenangkan hati Wulan.Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arga, Wulan pun mengangkat wajah dan memaksakan senyumannya. Kepalanya lalu mengangguk pelan."Aku nggak masalah kok denger omongan Bu Nur, aku cuma takut kamu terpengaruh dan pergi ninggalin aku," kata

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   234. Ajari Aku, Mbak!

    Di rumah mewah berlantai dua milik Amelia, tampak ia yang menghabiskan waktu semalaman berhubungan seks dengan ketiga pengawalnya, baru membuka mata saat matahari mulai meninggi.Digangbang semalaman oleh tiga orang pria, membuat tubuh janda seksi itu terasa remuk redam dan energinya terkuras habis.Jika bukan buatan Tuhan, mungkin tubuh Amelia benar-benar remuk dan liang vaginanya sudah robek lantaran digilir oleh para pengawalnya."Ssttt... aww, perihnya."Amelia yang membuka mata, mendesis kala beringsut dari posisinya yang meringkuk di atas sofa.Vaginanya terasa begitu perih, dan mungkin saja lecet karena diobok-obok Gatot dan kedua temannya. Bahkan, kulit tubuhnya yang mengalami merah kebiruan seperti lebam juga terasa sakit."Ugh... sialan. Ke mana Gatot, Rusdi, dan Wanto? Enak banget mereka, setelah puas ngewe malah pergi gitu aja," gerutu Amelia sembari turun dari atas sofa dengan gerakan yang amat perlahan.Wanita itu memungut dress dan pakaian dalamnya yang berserak di lant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status