首頁 / Young Adult / Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis / Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

分享

Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

作者: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-03 16:33:44

"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi."

Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang.

Sejak pagi, telinganya sudah dibuat panas oleh nasihat Ibu yang tanpa henti. Di Akademi nanti kamu harus begini, jangan begitu, lebih baik seperti ini, jangan coba-coba begitu. Bla, bla, bla. Semuanya hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.

"Ridhi! Kamu dengar apa kata Ibu?"

"Ck! Iya, iya," Ridhika beranjak dari atas kasur, menarik kasar beberapa selendangnya yang dijemur di luar ambang jendela. "Kalau Ibu cuma mau mengomeli Ridhi, lebih baik Ibu keluar saja, deh!"

"Bukan begitu. Ibu cuma-"

"Eh! Ridhi," seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah. "Mau siap-siap berangkat ke Akademi, ya?"

Ridhika spontan mengangkat sebelah alisnya, lantas memandangi si tetangga dari atas ke bawah dengan ekspresi datar. Sampai kemarin, orang-orang masih tanpa sadar bergidik setiap kali bersitatap dengan dirinya. Seberapa besar dampak selembar undangan dari sebuah Akademi hingga bisa membuat orang-orang tersebut bisa langsung berubah wajah?

Mungkin sadar dengan tatapan menusuk yang diarahkan padanya tersebut, si tetangga tidak memperpanjang ramah tamah. Setelah mengangguk sopan, dia segera berlalu, menyisakan seulas senyum canggung di udara.

"Bagus! Sepertinya kabarnya sudah menyebar ke semua orang," gerutu Ridhika pelan, "apa aku juga harus mulai bersikap seperti malaikat mulai dari sekarang?"

"Ridhika! Apa sih susahnya bersikap lebih ramah sedikit?" Ibu lagi-lagi berseru kesal. Setengah putus asa dengan sinisme Ridhika yang terlalu kentara. "Kamu akan jadi protagonis. Kita sudah tidak perlu takut dengan akhir tragis lagi, Nak. Kenapa kamu masih bersikap begini?"

"Karena aku harus pergi meninggalkan Ibu!"

Dada Ridhika terasa panas lagi. Mengapa Ibu seperti buta terhadap kegelisahannya? Padahal, dia berharap, jika Ibunya memang tidak bisa membantu, wanita itu bisa setidaknya memberikan dirinya ruang untuk berpikir dengan tenang. Memproses apa yang tiba-tiba terjadi secara perlahan, tanpa merasa ditekan untuk langsung menerima.

"Kita punya peran yang berbeda sekarang," sambungnya lirih.

"Nak." Ibu mengusap lembut puncak kepala Ridhika. "Tidak usah kamu pikirkan Ibu. Ibu sudah cukup bahagia dengan keberuntunganmu sekarang. Di masa depan nanti, Ibu akan bisa melihat anak perempuan Ibu yang keras kepala ini menjadi protagonis yang dielu-elukan semua orang di dunia."

"Ibu ... jangan bicara seperti itu," Ridhika berbalik dan memeluk Ibunya seerat mungkin yang dia bisa. "Aku tidak suka Ibu bicara seolah tidak akan pernah bertemu aku lagi."

Dia membenamkan wajahnya di dalam rengkuhan Ibu. Menghirup perpaduan aroma cengkeh dan kayu manis yang menguar dari tubuh wanita itu. Kini, dia sendiri tidak tahu apa yang lebih baik baginya, menjadi antagonis atau protagonis. Keduanya terasa terlalu berat untuk dipikul.

Tidak bisakah dia cukup menjadi dirinya sendiri? Bukan siapa-siapa. Hanya Ridhika.

"Paket untuk Ridhika Maya!"

Teriakan itu menyadarkan baik Ridhika dan Ibunya. Keduanya melepaskan pelukan mereka, lalu masing-masing menghapus air mata menghadap arah yang berbeda.

Dari luar, suara bel sepeda tukang pos terus berbunyi, mengundang perhatian para tetangga dan orang yang lewat.

"Tunggu sebentar!" Balas Ridhika.

"Ibu akan siapkan beberapa kue kering untuk kamu makan di jalan nanti, ya."

Ibu tersenyum, meski matanya masih merah. Sekali lagi, dia mengusap wajah Ridhika, lantas bergegas ke luar kamar.

Sementara itu, Ridhika sendiri segera melongok ke luar jendela kamar. Melambaikan tangannya pada si tukang pos yang dengan gesit melemparkan sebuah paket berukuran kecil padanya.

Setelah berterima kasih, dia tentu saja langsung menutup jendela. Telinganya tadi sudah bisa menangkap bisik-bisik tetangga yang berkumpul di dekat rumah. Membuat gusar.

Kini, di tangannya ada sebuah paket dengan bungkus putih tulang berhiaskan kartu nama Akademi Natydharma yang berwarna emas. Apa yang memang sudah dia nanti sejak mengirimkan surat konfirmasi waktu keberangkatannya semalam.

"Denah, kartu penyambutan, undangan orientasi siswa," gumam Ridhika.

Dia memilah semua isi paket sambil lalu, sampai matanya menangkap selembar dokumen berjudul Ketentuan Wajib Siswa/i Baru.

Berusaha bersikap setenang mungkin, dia sempatkan untuk menarik napas beberapa kali sebelum membaca dokumen tersebut. Isinya tidak panjang. Namun, setiap poin membuat genggamannya pada selembar kertas tersebut lambat laun berubah menjadi remasan. Ketika sudah selesai, ujung-ujung dokumen telah berubah bentuk menjadi gumpalan.

"Tidak boleh menghubungi siapa pun dari tempat asal," bisiknya pada diri sendiri. "Sepertinya ... betul-betul tidak bisa bertemu Ibu lagi, ya?"

Ridhika menengadahkan wajahnya sambil tertawa pedih, mencegah air mata yang sudah menumpuk agar tidak berjatuhan.

Kini, diedarkannya pandangan ke sekeliling kamar yang sederhana. Dia bukan anak yang senang mengkoleksi atau menyimpan barang, jadi hampir tidak ada yang istimewa dari ruangan itu, selain beberapa aksesoris rajut yang dibuatnya sendiri.

Dia tidak percaya, sebentar lagi dia harus pergi meninggalkan tempat itu dan mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi. Baik, tidak masalah dengan barang. Kapanpun, bisa dibuatnya lagi. Namun, Ibu?

Bagaimana bisa dia meninggalkan Ibu? Mereka hanya memiliki satu sama lain di dunia ini. Dia mana mungkin bisa melepaskannya, bahkan untuk peran yang disebut sebagai kasta tertinggi di dunia cerita.

Tanpa sadar, dia meremas selendang-selendang yang tadi diambilnya. Napasnya tersengal dan pandangannya mulai memburam. Ini adalah pertama kalinya, dia merasa begitu tidak berdaya.

"Bagaimana?" Bisiknya pada diri sendiri dengan suara serak. "Aku harus bagaimana?"

Isakan Ridhika mulai memenuhi ruangan. Dia membenamkan wajahnya di bantal untuk mencoba meredam suaranya. Namun, tindakan itu malah membuat keinginannya untuk menangis menjadi bertambah besar.

Pada satu titik, merasa gagal meringankan sesak yang dirasakannya, Ridhika memutuskan untuk meraung saja sekalian. Dia tidak peduli ada yang mendengar. Kalau bisa, dia ingin dianggap sudah gila. Lalu, dibebaskan dari keharusan masuk ke Akademi itu. Hanya dengan begitu, rasanya hidupnya bisa kembali ke keadaan normal.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 46 =Hukuman Adishra=

    Ketika masih dalam perjalanan menuju ruang Adhyaksa, padahal matahari sudah cukup tinggi. Ridhika tidak sempat melihat jam, tetapi dia yakin pastilah sudah sekitar jam 6 pagi hari itu. Namun, pada saat mereka tiba di ruangan Sang Kepala Sekolah Akademi Natyadharma, pemandangan di luar jendela justru kembali menjadi segelap malam."Ruangan ini berada di dimensi yang berbeda dengan sisa ruangan lainnya di Akademi," jelas Mel karena barangkali melihat tatapan bingung Ridhika. Jawaban yang memang gadis itu sudah duga. Di dalam ruangan tersebut, Ridhika dan Adishra berdiri bersebelahan dengan jarak 5 jengkal di antara mereka. Masing-masing tidak bicara maupun melirik pada satu sama lain. Cukup untuk membuktikan bahwa Adishra sepertinya sudah tahu alasan mengapa mereka ada di sana.Mel sudah keluar, sementara Ibu Berlian berdiri di belakang kursi Adhyaksa yang sedang menatap mereka berdua secara bergantian dengan ekspresi serius. Tangan pria tua itu tertaut di depan dada dengan disangga ol

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 45 =Penentuan=

    Ridhika kembali menelan ludahnya gugup, entah sudah untuk keberapa kalinya dalam 15 menit itu. Tangannya yang terlipat di belakang tubuh bergerak mengelupasi kulit di sekitar kuku jarinya yang memang sudah terkelupas sejak awal. Jika tidak sedang menjadi pusat perhatian dari dua orang yang tengah duduk di depannya, dia mungkin sudah sekalian mengigiti kuku hingga habis.Laporan hasil uji coba sudah beberapa kali dibaca, hamster dan ramuan pun sudah cukup lama diamati, tetapi Ibu Berlian tidak kunjung mengeluarkan sepatah kata. Justru, wanita itu lebih sering melirik dirinya dengan ekspresi datar dan menilai. Hal yang membuat kecemasan Ridhika semakin meningkat."Akademi Natyadharma menugaskan seorang Dokter khusus untuk merawat siswi-siswi di Griya Nayika. Membawa Dokter dari luar untuk menangani apa yang tergolong sebagai peristiwa pribadi di sini sangat dilarang," ujar Ibu Berlian seraya membetulkan kacamatanya dan memasukkan laporan hasil uji coba kembali ke dalam kotak.Namun, bar

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 44 =Keputusan=

    "Kamu tidak bisa langsung melapor kepada Adhyaksa. Ada jenjang kekuasaan yang harus diikuti," jelas Widuri dengan serius.Ridhika sudah memutuskan bahwa dia akan melaporkan apa yang terjadi padanya hari itu juga. Tidak peduli sudah gelap gulita di luar sana. Semua harus sudah selesai sebelum matahari terbit besok. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Adishra."Lalu, bagaimana? Jelaskan aku harus apa," balasnya datar.Dia merasakan tangan Amayra menepuk-nepuk pundaknya pelan. Bahkan gadis itu saja tadi terkejut melihat keadaannya yang sempat linglung. Jika setelah mengalami serentetan peristiwa mengerikan itu dia masih bisa menunggu untuk melakukan sesuatu, maka dia pasti sudah tidak waras."Kita harus membuat janji temu dengan Ibu Berlian melalui Mel. Menunggu hingga Ibu Berlian punya waktu untuk mendengarkan ceritamu dan memutuskan bahwa kasus ini pantas dibawa ke depan Adhyaksa, lalu baru kita bisa melanjutkan."Mata Ridhika membulat. Mendengar penjelasan Widuri, beberapa kali dia

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 43 =Laporan Yang Ditunggu=

    "Kupikir, kamu bilang laporannya datang nanti malam!" Keluh Ridhika.Dengan langkah tergesa dia berjalan menjauh dari area aula yang tentu saja masih dipadati oleh para siswa dan siswi. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan."Kamu pikir, aku tidak kaget?" Balas Widuri dengan ekspresi sebal. "Mereka meneleponku di tengah kegiatan belajar! Untung, Guruku tidak galak."Ridhika berdecak. Kecepatan langkahnya bertambah seiring dengan semakin dekatnya dia dan Widuri di tempat staf Nenek Dokter sedang menunggu mereka. Pagar belakang Akademi yang sudah lama tidak digunakan. Naas bagi kedua gadis tersebut, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang Pengawas. Tanpa memiliki kesempatan untuk menghindar, Ridhika terpaksa berpikir cepat untuk mencari-cari alasan."Kenapa kalian berdua di sini?" Tanya si Pengawas, menatap Ridhika dan Widuri dengan ekspresi garang.Widuri menyikut lengan Ridhika, memberi isyarat pada gadis itu untuk memberikan j

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 42 =Kelas Pasangan=

    Bagastya mengangguk ke arah Ridhika yang baru meletakkan jarinya di atas pengait kotak kayu. Gerakan yang dianggap gadis itu sebagai sebuah persetujuan agar dia segera membuka kotaknya dan memang itulah yang Ridhika lakukan.Kotak itu terbuka dengan bunyi klik, menampakkan alas berwarna hitam dan seuntai kalung perak sederhana di dalamnya. Dengan napas tertahan, Ridhika menarik kalung tersebut pelan-pelan, mengelusnya di atas telapak tangannya dengan sentuhan yang teramat ringan hingga nyaris tidak mencapai kalung itu sendiri."Bagaimana ... kau mendapatkan ini?" Bisiknya, entah bisa didengar oleh Bagastya atau tidak.Matanya hanya tertuju pada bandul hijau berbentuk semanggi berdaun empat yang tergantung pada si kalung. Potongannya tidak terlalu halus, tetapi permukaannya berkilat-kilat indah ketika tertimpa cahaya lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula."Aku buat sendiri," jelas Bagastya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Ridhika yang tampak sedang sangat takjub

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 41 =Sweater=

    Tidak terasa, sudah beberapa hari berlalu sejak pertandingan tinju yang dihadiri Ridhika di ruang bawah tanah Kelas Antagonis. Sesuai prediksinya, Bagastya menang. Memang sudah jelas terlihat bahwa pria itu adalah tipe yang tidak pernah kalah. Atau setidaknya, demikianlah citra Bagastya di mata Ridhika.Setelah banyak pertimbangan, dia akhirnya memutuskan untuk membuatkan sweater sebagai hadiah untuk sang pasangan. Berhubung karena area Kelas Antagonis ternyata bersuhu dingin sekali, ditambah lagi dia memberikan hoodie pria itu pada Klarisa, Ridhika merasa baju hangat adalah "kompensasi" yang pas untuk Bagastya."Nenek Dokter bilang, malam ini laporan uji ramuannya akan diantarkan ke sini," ujar Widuri setelah setengah jam berdiri di balkon. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Amayra penasaran."Beliau bilang, kita akan lebih paham kalau membaca laporannya langsung.""Kan bisa setidaknya bertanya apakah ada ramuan yang positif atau tidak.""Sudahlah, tidak apa, kok!" Potong Ridhika tanpa men

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status