登入"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi."
Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah dibuat panas oleh nasihat Ibu yang tanpa henti. Di Akademi nanti kamu harus begini, jangan begitu, lebih baik seperti ini, jangan coba-coba begitu. Bla, bla, bla. Semuanya hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. "Ridhi! Kamu dengar apa kata Ibu?" "Ck! Iya, iya," Ridhika beranjak dari atas kasur, menarik kasar beberapa selendangnya yang dijemur di luar ambang jendela. "Kalau Ibu cuma mau mengomeli Ridhi, lebih baik Ibu keluar saja, deh!" "Bukan begitu. Ibu cuma-" "Eh! Ridhi," seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah. "Mau siap-siap berangkat ke Akademi, ya?" Ridhika spontan mengangkat sebelah alisnya, lantas memandangi si tetangga dari atas ke bawah dengan ekspresi datar. Sampai kemarin, orang-orang masih tanpa sadar bergidik setiap kali bersitatap dengan dirinya. Seberapa besar dampak selembar undangan dari sebuah Akademi hingga bisa membuat orang-orang tersebut bisa langsung berubah wajah? Mungkin sadar dengan tatapan menusuk yang diarahkan padanya tersebut, si tetangga tidak memperpanjang ramah tamah. Setelah mengangguk sopan, dia segera berlalu, menyisakan seulas senyum canggung di udara. "Bagus! Sepertinya kabarnya sudah menyebar ke semua orang," gerutu Ridhika pelan, "apa aku juga harus mulai bersikap seperti malaikat mulai dari sekarang?" "Ridhika! Apa sih susahnya bersikap lebih ramah sedikit?" Ibu lagi-lagi berseru kesal. Setengah putus asa dengan sinisme Ridhika yang terlalu kentara. "Kamu akan jadi protagonis. Kita sudah tidak perlu takut dengan akhir tragis lagi, Nak. Kenapa kamu masih bersikap begini?" "Karena aku harus pergi meninggalkan Ibu!" Dada Ridhika terasa panas lagi. Mengapa Ibu seperti buta terhadap kegelisahannya? Padahal, dia berharap, jika Ibunya memang tidak bisa membantu, wanita itu bisa setidaknya memberikan dirinya ruang untuk berpikir dengan tenang. Memproses apa yang tiba-tiba terjadi secara perlahan, tanpa merasa ditekan untuk langsung menerima. "Kita punya peran yang berbeda sekarang," sambungnya lirih. "Nak." Ibu mengusap lembut puncak kepala Ridhika. "Tidak usah kamu pikirkan Ibu. Ibu sudah cukup bahagia dengan keberuntunganmu sekarang. Di masa depan nanti, Ibu akan bisa melihat anak perempuan Ibu yang keras kepala ini menjadi protagonis yang dielu-elukan semua orang di dunia." "Ibu ... jangan bicara seperti itu," Ridhika berbalik dan memeluk Ibunya seerat mungkin yang dia bisa. "Aku tidak suka Ibu bicara seolah tidak akan pernah bertemu aku lagi." Dia membenamkan wajahnya di dalam rengkuhan Ibu. Menghirup perpaduan aroma cengkeh dan kayu manis yang menguar dari tubuh wanita itu. Kini, dia sendiri tidak tahu apa yang lebih baik baginya, menjadi antagonis atau protagonis. Keduanya terasa terlalu berat untuk dipikul. Tidak bisakah dia cukup menjadi dirinya sendiri? Bukan siapa-siapa. Hanya Ridhika. "Paket untuk Ridhika Maya!" Teriakan itu menyadarkan baik Ridhika dan Ibunya. Keduanya melepaskan pelukan mereka, lalu masing-masing menghapus air mata menghadap arah yang berbeda. Dari luar, suara bel sepeda tukang pos terus berbunyi, mengundang perhatian para tetangga dan orang yang lewat. "Tunggu sebentar!" Balas Ridhika. "Ibu akan siapkan beberapa kue kering untuk kamu makan di jalan nanti, ya." Ibu tersenyum, meski matanya masih merah. Sekali lagi, dia mengusap wajah Ridhika, lantas bergegas ke luar kamar. Sementara itu, Ridhika sendiri segera melongok ke luar jendela kamar. Melambaikan tangannya pada si tukang pos yang dengan gesit melemparkan sebuah paket berukuran kecil padanya. Setelah berterima kasih, dia tentu saja langsung menutup jendela. Telinganya tadi sudah bisa menangkap bisik-bisik tetangga yang berkumpul di dekat rumah. Membuat gusar. Kini, di tangannya ada sebuah paket dengan bungkus putih tulang berhiaskan kartu nama Akademi Natydharma yang berwarna emas. Apa yang memang sudah dia nanti sejak mengirimkan surat konfirmasi waktu keberangkatannya semalam. "Denah, kartu penyambutan, undangan orientasi siswa," gumam Ridhika. Dia memilah semua isi paket sambil lalu, sampai matanya menangkap selembar dokumen berjudul Ketentuan Wajib Siswa/i Baru. Berusaha bersikap setenang mungkin, dia sempatkan untuk menarik napas beberapa kali sebelum membaca dokumen tersebut. Isinya tidak panjang. Namun, setiap poin membuat genggamannya pada selembar kertas tersebut lambat laun berubah menjadi remasan. Ketika sudah selesai, ujung-ujung dokumen telah berubah bentuk menjadi gumpalan. "Tidak boleh menghubungi siapa pun dari tempat asal," bisiknya pada diri sendiri. "Sepertinya ... betul-betul tidak bisa bertemu Ibu lagi, ya?" Ridhika menengadahkan wajahnya sambil tertawa pedih, mencegah air mata yang sudah menumpuk agar tidak berjatuhan. Kini, diedarkannya pandangan ke sekeliling kamar yang sederhana. Dia bukan anak yang senang mengkoleksi atau menyimpan barang, jadi hampir tidak ada yang istimewa dari ruangan itu, selain beberapa aksesoris rajut yang dibuatnya sendiri. Dia tidak percaya, sebentar lagi dia harus pergi meninggalkan tempat itu dan mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi. Baik, tidak masalah dengan barang. Kapanpun, bisa dibuatnya lagi. Namun, Ibu? Bagaimana bisa dia meninggalkan Ibu? Mereka hanya memiliki satu sama lain di dunia ini. Dia mana mungkin bisa melepaskannya, bahkan untuk peran yang disebut sebagai kasta tertinggi di dunia cerita. Tanpa sadar, dia meremas selendang-selendang yang tadi diambilnya. Napasnya tersengal dan pandangannya mulai memburam. Ini adalah pertama kalinya, dia merasa begitu tidak berdaya. "Bagaimana?" Bisiknya pada diri sendiri dengan suara serak. "Aku harus bagaimana?" Isakan Ridhika mulai memenuhi ruangan. Dia membenamkan wajahnya di bantal untuk mencoba meredam suaranya. Namun, tindakan itu malah membuat keinginannya untuk menangis menjadi bertambah besar. Pada satu titik, merasa gagal meringankan sesak yang dirasakannya, Ridhika memutuskan untuk meraung saja sekalian. Dia tidak peduli ada yang mendengar. Kalau bisa, dia ingin dianggap sudah gila. Lalu, dibebaskan dari keharusan masuk ke Akademi itu. Hanya dengan begitu, rasanya hidupnya bisa kembali ke keadaan normal."Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!" Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?" Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum. Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian. Terbukti,
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah ista
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa l
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah dibuat panas oleh nasihat Ibu yang tanpa henti. Di Akademi nanti kamu harus begini, jangan begitu, lebih baik seperti ini, jangan coba-coba begitu. Bla, bla, bla. Semuanya hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. "Ridhi! Kamu dengar apa kata Ibu?" "Ck! Iya, iya," Ridhika beranjak dari atas kasur, menarik kasar beberapa selendangnya yang dijemur di luar ambang jendela. "Kalau Ibu cuma mau mengomeli Ridhi, lebih baik Ibu keluar saja, deh!" "Bukan begitu. Ibu cuma-" "Eh! Ridhi," seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah. "Mau siap-siap berangkat ke Akademi, ya?" Ridhika spontan mengangkat sebelah alisnya, lantas memandangi si tetangga dari atas ke bawah dengan ekspr
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!" "Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar. "Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain. "Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja." Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat. Dulu, perla







